home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pilihan Kontrasepsi Non Hormonal yang Bisa Anda Gunakan

Pilihan Kontrasepsi Non Hormonal yang Bisa Anda Gunakan

Jika membicarakan tentang metode kontrasepsi, Anda mungkin mengetahui banyak jenis alat kontrasepsi yang dapat mencegah kehamilan. Secara umum, alat kontrasepsi pun terbagi ke dalam dua jenis, yaitu KB hormonal dan non hormonal. KB hormonal termasuk seperti pil KB kombinasi dan suntik KB. Lalu, apa saja jenis KB yang tergolong non hormonal? Apa keunggulan dari KB non hormonal? Yuk, simak penjelasan berikut ini.

KB non hormonal, metode kontrasepsi tanpa kandungan hormon

Sesuai dengan jenisnya, ada beberapa KB yang tidak mengandung hormon, sehingga tergolong menjadi kontrasepsi non hormonal. Namun, bukan berarti penggunaannya tidak memiliki keunggulan tertentu.

Kontrasepsi non hormonal bisa sangat bermanfaat bagi wanita yang tidak bisa menggunakan hormon sintetis. Bahkan, sebagian besar dari KB non hormonal termasuk murah dibanding jenis kontrasepsi lainnya. Berikut adalah beberapa jenis kontrasepsi non hormonal yang bisa Anda pilih.

1. Kondom

Salah satu jenis KB non hormonal yang mungkin sudah Anda ketahui sejak lama adalah kondom. Terdapat dua jenis kondom yang berbeda, yaitu kondom yang digunakan oleh pria dan wanita. Menurut Center of Disease Control and Prevention, kedua jenis kondom sama-sama berfungsi untuk mencegah sel sperma yang keluar saat penetrasi tidak masuk ke dalam tubuh wanita melalui vagina.

Kontrasepsi non hormonal ini tergolong mudah digunakan karena Anda hanya perlu menggunakannya saat sedang berhubungan seks. Artinya, kontrasepsi non hormonal ini tidak perlu ‘menetap’ di dalam tubuh Anda, atau Anda konsumsi setiap hari. Efektivitas kondom tergolong tinggi, selama Anda tahu cara memasang kondom dengan benar.

Pasalnya, kondom sering kali gagal melindungi Anda dari kehamilan karena Anda melakukan kesalahan pakai kondom, sehingga kondom tidak bisa berfungsi dengan baik. Selain itu, KB non hormonal ini juga bisa mencegah Anda dari HIV dan berbagai penyakit menular seksual lainnya.

2. Diafragma

Diafragma adalah salah satu KB non hormonal yang juga bisa Anda gunakan. Kontrasepsi non hormonal ini berbentuk seperti setengah lingkaran yang berukuran kecil dan terbuat dari silikon. Seorang wanita memasukkan diafragma ke dalam vagina sehingga bisa menutupi leher rahim atau serviks.

Berikan spermisida pada diafragma sebelum memasukkannya ke dalam vagina. Tingkat efektivitas dari penggunaan diafragma adalah 88 persen. Artinya, 12 dari 100 wanita yang menggunakan diafragma masih memiliki kemungkinan untuk mengalami kehamilan. Perlu diingat bahwa diafragma harus berada di dalam vagina hingga 6 jam setelah berhubungan seksual, namun tidak boleh lebih dari 24 jam.

Salah satu penyebab dari menurunnya tingkat efektivitas dari penggunaan KB non hormonal yang satu ini adalah diafragma tidak digunakan sesuai dengan aturan. Sebagai contoh, saat diafragma dimasukkan ke dalam vagina, Anda tidak menambahkan spermisida pada sisi-sisi diafragma. Padahal, adanya spermisida dapat membantu meningkatkan efektivitasnya.

3. Spermisida

Spermisida ternyata termasuk ke dalam KB non hormonal yang bisa Anda gunakan tanpa harus menggunakan diafragma. Spermisida adalah bahan kimia yang dapat membunuh sel sperma. Biasanya, kontrasepsi non hormonal ini berbentuk krim, foam, atau gel.

Saat digunakan, spermisida sendiri atau tidak bersamaan dengan kontrasepsi non hormonal lainnya, spermisida memiliki potensi gagal mencegah kehamilan hingga 28 persen. Oleh sebab itu, lebih baik Anda menggunakan spermisida bersamaan dengan kondom atau kontrasepsi non hormonal lainnya.

Penggunaan KB non hormonal yang satu ini sangat minim efek samping. Hanya saja, beberapa orang yang menggunakannya mengalami iritasi pada kulitnya. Di samping itu, terdapat kandungan Nonoxynol-9 pada spermisida yang beredar di pasaran. Zat ini dapat menyebabkan perubahan pada kulit di sekitar area genital Anda dan meningkatkan potensi Anda mengalami HIV.

Maka itu, Anda disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memutuskan untuk menggunakan kontrasepsi non hormonal ini.

4. Spons

Mungkin beberapa di antara Anda masih belum akrab dengan kontrasepsi non hormonal yang satu ini. Spons adalah kontrasepsi yang terbuat dari busa plastik dan mengandung spermisida. Jika Anda ingin menggunakannya sebagai metode kontrasepsi pilihan Anda, Anda bisa memasukkannya ke dalam vagina sebelum melakukan hubungan intim dengan pasangan.

Setelah Anda berhubungan seksual, Anda bisa mengeluarkannya dari vagina dengan bantuan alat yang disebut nylon loop. Anda bisa membelinya di apotek terdekat. Spons ini membantu Anda mencegah kehamilan dengan cara menghalangi serviks sehingga tidak ada sel sperma yang bisa masuk. Selain itu, KB non hormonal ini juga melepaskan spermisida untuk membunuh sperma yang terlanjur masuk ke dalam vagina.

Sebenarnya, spons tergolong kurang efektif pada wanita yang sudah pernah hamil sebelumnya. Namun, pada wanita yang belum pernah mengalami kehamilan, KB non hormonal ini tergolong efektif, hingga memiliki tingkat efektivitas hingga 91 persen.

Meski begitu, Anda harus memerhatikan efek samping yang mungkin ditimbulkan dari penggunaan KB non hormonal ini. Pasalnya, spons dapat meningkatkan risiko Anda mengalami infeksi jamur dan alat kontrasepsi ini tidak disarankan untuk dibiarkan berada di dalam vagina lebih dari 30 jam. Sama halnya seperti kondom, KB ini hanya boleh digunakan satu kali pemakaian. Artinya, Anda harus membuangnya setelah selesai digunakan.

5. IUD tembaga

Terdapat dua jenis IUD atau KB spiral, salah satunya adalah IUD yang dilapisi dengan tembaga. Berbeda dengan KB IUD hormonal, IUD tembaga tidak mengandung hormon sama sekali. Lapisan tembaga pada badan IUD itu sendiri ternyata cukup dalam membantu Anda menunda kehamilan.

Jika Anda ingin menggunakannya, Anda harus berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter. Selain itu, penggunaan IUD tembaga ini harus dilakukan dengan bantuan dokter atau ahli medis profesional lainnya. IUD tembaga termasuk KB non hormonal yang mudah digunakan untuk jangka panjang.

Pasalnya, saat Anda memasang IUD, Anda bisa menggunakannya hingga 10 tahun lamanya. Tentu KB ini cocok untuk penggunaan jangka panjang. Tingkat efektivitas dari KB IUD tembaga ini juga sangat tinggi, mencapai angka 99 persen.

Namun, Anda harus tetap memerhatikan efek samping yang mungkin ditimbulkan. Sebagai contoh, menstruasi Anda bisa lebih deras. Anda mungkin juga mengalami perdarahan pada vagina saat sedang tidak haid. Selain itu, penggunaan IUD tembaga juga tidak dapat melindungi Anda dari penularan penyakit menular seksual.

Maka itu, selalu diskusikan terlebih dahulu pilihan-pilihan kontrasepsi yang tersedia. Hindari penggunaan alat kontrasepsi tanpa pengawasan dari dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Contraception | Reproductive Health | CDC. Retrieved 12 March 2020, from https://www.cdc.gov/reproductivehealth/contraception/index.htm

Barhum, L. (2017). Non-hormonal birth control: 8 choices for you. Retrieved 12 March 2020, from https://www.medicalnewstoday.com/articles/320213#long-term-and-permanent-solutions

Marcin, A. (2017). Nonhormonal Birth Control: 7 Options. Retrieved 12 March 2020, from https://www.healthline.com/health/birth-control/non-hormonal-birth-control#barrier-methods

Non-hormonal Birth Control Methods. (2018). Retrieved 12 March 2020, from https://www.drugs.com/article/non-hormonal-birth-control.html

 

Foto Penulis
Ditulis oleh Annisa Hapsari pada 12/03/2020
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
x