home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Spermisida, Alat Kontrasepsi untuk Membunuh Sperma

Mengenal Spermisida, Alat Kontrasepsi untuk Membunuh Sperma

Spermisida adalah produk kimia berbentuk gel, busa, atau krim yang berfungsi untuk mencegah kehamilan. Zat kimia pada spermisida dirancang untuk membunuh sperma sebelum mencapai rahim sehingga menghalangi pembuahan.

Terdapat beberapa keuntungan dalam menggunakan alat kontrasepsi ini. Meski begitu, Anda juga perlu mengetahui efek samping dari penggunaan spermisida, terutama dampaknya terhadap kesehatan seksual.

Cara kerja spermisida dalam mencegah kehamilan

Gel spermisida

Spermisida mengandung bahan kimia nonoxynol-9 yang dapat mencegah pembuahan sperma pada sel telur.

Melansir Planned Parenthood, spermisida berkerja dengan dua metode. Pertama zat kimia menghalangi masuknya sperma ke bagian serviks (leher rahim), lalu menghentikan pergerakan sperma yang berenang menuju uterus (rahim).

Alat kontrasepsi ini umumnya tersedia dalam bentuk krim, gel, dan foam. Dalam penggunaannya, jenis spermisida ini perlu disemprotkan ke dalam vagina menggunakan aplikator khusus sebelum berhubungan intim.

Ada pun jenis spermisida lainnya, yaitu vagina supositori dan vaginal contraceptive film (VCF) yang berupa lembaran tipis.

Berbeda dengan spermisida pada umumnya, VCF harus ditempelkan di belakang vagina, sedangkan vagina supositori dimasukkan langsung ke dalam vagina.

Tak perlu khawatir kesulitan dalam menggunakan alat kontrasepsi ini, Anda bisa mengikuti instruksi yang terdapat dalam kemasan setiap produk, termasuk mengenai kapan waktu yang tepat untuk memakainya.

Umumnya alat kontrasepsi ini baru mulai bekerja 15-20 menit setelah dipakai pada vagina sehingga Anda harus menunggu setidaknya 30 menit sebelum memulai penetrasi.

Namun, ada juga beberapa produk yang memperbolehkan Anda langsung berhubungan seks setelah memakainya.

Efektifkah spermisida mencegah kehamilan?

efek samping spermisida

Meski begitu, hampir semua jenis alat kontrasepsi ini hanya efektif berkerja selama satu jam setelah pemakaian pertama.

Jika Anda sudah memasukkannya ke dalam vagina, tapi ternyata hubungan seks Anda baru terjadi satu jam setelahnya, Anda perlu memakainya kembali sebelum memulai.

Bagi wanita, Anda juga tidak dianjurkan untuk membersihkan organ vital dengan sabun pencuci vagina (douche) selama 6 jam setelah berhubungan seks memakai spermisida.

Untuk fungsinya dalam mencegah kehamilan, spermisida bukanlah alat kontasepsi yang paling efektif. Menurut data American Pregnancy, tingkat kegagalan penggunaan spermisida mencapai 28% per tahun.

Artinya, sebanyak 28 dari 100 pasangan yang hanya menggunakan alat ini selama setahun mengalami kehamilan yang tak direncanakan. Tentu saja angka ini juga dipengaruhi dengan kemungkinan cara penggunaan yang kurang tepat.

Akan tetapi, para ahli lebih menyarankan spermisida digunakan bersamaan dengan alat kontrasepsi lain seperti kondom guna lebih efektif. Dengan melakukan proteksi ganda, tingkat kegagalan dalam mencegah kehamilan berkurang menjadi 3-10% saja.

Selain kondom, alat kontrasepsi lain yang bisa Anda gunakan bersamaan dengan spermisida adalah diafragma dan kondom wanita (cervical cap).

Selain itu, alat ini juga perlu ditempatkan di dekat leher rahim sehingga peluang mencegah sperma masuk ke dalam uterus lebih besar.

Dengan menggunakan alat kontrasepsi lainnya, spermisida dapat menjadi pilihan KB nonhormonal yang aman untuk Anda yang tidak bisa menggunakan KB hormon.

Adakah efek samping dari penggunaannya?

Penting diketahui bahwa spermisida yang digunakan tanpa kondom tidak efektif untuk mencegah penularan penyakit kelamin. Pasalnya, zat kimia ini tidak menghalangi kontak antara kulit ataupun antara cairan tubuh.

Untuk benar-benar menghindari penularan penyakit seksual, Anda tetap perlu menggunakan kondom sekalipun telah memakai spermisida.

Disamping itu, penggunaan spermisida bisa menimbullkan efek samping seperti berikut ini.

Efek samping tersebut lebih berisiko terjadi saat alat kontrasepsi ini digunakan terlalu sering.

Pada beberapa orang, alat kontrasepsi ini bisa memicu reaksi alergi pada kelamin seperti gatal-gatal, sensansi terbakar di kulit, dan kemerahan.

Sementara kondisi infeksi bisa terjadi karena spermisida dapat mengganggu keseimbangan bakteri di sekitar kelamin.

Sebagai alat kontrasepsi, spermisida memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika ingin menggunakan alat ini untuk menunda rencana kehamilan, pastikan penggunaannya tepat dan sesuai dengan preferensi serta kondisi kesehatan Anda dan pasangan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Planned Parenthood. (2021). Spermicide and Contraceptive Gel | Spermicidal Lube, Gel & Foam. Retrieved 27 April 2021, from https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/spermicide

Planned Parenthood. (2021). Is spermicide a good birth control choice? And where can I get it?. Retrieved 27 April 2021, from https://www.plannedparenthood.org/learn/teens/ask-experts/is-vaginal-spermicide-a-safe-and-efficient-way-to-prevent-pregnancy-and-is-it-easy-for-a-teen-to-find-at-her-local-drug-store

American Pregnancy Association. (2017). Spermicide and Condoms. Retrieved 27 April 2021, from https://americanpregnancy.org/unplanned-pregnancy/birth-control-pills-patches-and-devices/spermicide-5056/

American College of Obstetricians and Gynecologists. (2021). Barrier Methods of Birth Control: Spermicide, Condom, Sponge, Diaphragm, and Cervical Cap. Retrieved 27 April 2021, from https://www.acog.org/store/products/patient-education/pamphlets/contraception/barrier-methods-of-birth-control-spermicide-condom-sponge-diaphragm-and-cervical-cap

Office on Women’s Health. (2016). What birth control method is right for you?. Retrieved 27 April 2021, from https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/birth-control-methods

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Fidhia Kemala
Tanggal diperbarui 13/03/2017
x