Apakah Pria yang Tidak Disunat Lebih Berisiko Tertular HIV?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Sunat biasanya memang tidak diwajibkan secara medis, namun dapat dilakukan untuk berbagai alasan — dari tradisi budaya, keyakinan agama, hingga untuk menjaga kebersihan diri. Menariknya, beberapa negara seperti di Afrika juga menggalakkan sunat dewasa sebagai program pencegahan HIV.

Apa fakta di balik manfaat sunat ini? Benarkah sunat bisa mencegah penularan HIV pada pria dewasa?

Manfaat sunat untuk melindungi pria dari penularan HIV

Sunat adalah prosedur operasi pengangkatan kulit kulup penis, alis preputium.  Ada tiga bukti medis yang mengatakan bahwa sunat dapat mengurangi risiko pria terkena HIV hingga 60 persen.

Hal yang sama juga dikumandangkan oleh Lembaga Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, CDC. CDC menemukan bahwa secara medis, selain untuk mencegah penularan HIV, manfaat sunat juga sekaligus membantu mengurangi risiko penyakit kelamin lainnya yang dapat ditularkan lewat hubungan seks tanpa kondom.

Prosedur sunat juga dilaporkan dapat mengurangi risiko pria tertular herpes genital dan infeksi HPV, yang  diyakini menjadi faktor risiko kanker penis. Bahkan, sunat semasa kecil diketahui dapat memberikan perlindungan dari kanker penis, yang hanya terjadi di kulit kulup.

Meski demikian, sunat belum terbukti bisa mengurangi risiko infeksi HIV yang didapat melalui seks oral atau anal, maupun mengurangi risiko penularan HIV pada pasangan wanitanya.

Bagaimana HIV bisa menular lewat kulup penis?

Memiliki kulup adalah faktor risiko nomor satu untuk infeksi HIV pada pria heteroseksual. Pria yang tidak disunat berisiko terinfeksi HIV sampai 2-8 kali lipat lebih tinggi daripada laki-laki yang sudah disunat.

Virus HIV itu sendiri dapat menyebar lewat penetrasi seks tanpa kondom. Ketika penetrasi terjadi tanpa kondom (penis masuk vagina atau penis masuk anus), maka akan ada gesekan langsung antara kulit penis dan dinding vagina (atau anus). Gesekan ini rentan menyebabkan luka lecet.

Luka ini dapat menjadi jalur masuk bagi virus dan bakteri penyebab penyakit, yang berasal dari air mani atau cairan vagina partner seks Anda yang terinfeksi oleh penyakit itu.

Tak hanya itu. Ketika seorang pria tidak disunat, uap air dapat terjebak antara penis dan kulit kulupnya, sehingga menciptakan lingkungan yang ideal bagi patogen penyebab penyakit untuk berkembang biak. Terlebih, ada beberapa masalah lain yang terkait dengan kulit kulup penis yang tidak disunat, seperti sulit ditarik kembali atau bahkan macet/keset, juga dapat menimbulkan luka sekaligus menjebak virus dan bakteri di sekitarnya.

Pria yang tidak disunat juga lebih mungkin untuk menularkan setiap infeksi yang mereka miliki, termasuk infeksi ragi, infeksi saluran kencing (ISK), dan penyakit kelamin (terutama HPV dan HIV), misalnya herpes genital, bisul genital, chancroid, dan sifilis pada pasangan seksnya.

Penis yang tidak disunat bahkan juga bisa membuat pasangan wanita Anda memiliki risiko penyakit kelamin hingga lima kali lebih tinggi, termasuk herpes genital, trichomonas vaginalis, bacterial vaginosis, HPV menular seksual (yang menyebabkan kanker serviks), dan mungkin klamidia, daripada wanita yang berhubungan seks dengan pria yang sudah disunat.

Disunat atau tidak, tetap pakai kondom

Disunat atau tidak adalah pilihan pribadi masing-masing pria. Kedua tipe penis ini bisa berfungsi sama baiknya pada pria yang disunat maupun yang tidak disunat. Bahkan, masalah seputar penis seperti impotensi, ejakulasi dini, hingga penularan penyakit kelamin pun  sama-sama dapat terjadi baik pada pria yang disunat maupun tidak — tergantung dari faktor risiko yang Anda miliki.

Oleh karena itu, penting untuk dipahami bahwa sunat bukanlah metode perlindungan jaminan yang membebaskan Anda dari HIV dan dan penyakit menular seksual lainnya, apalagi sebagai pengganti kondom. Memakai kondom masih merupakan cara terbaik dan paling efektif untuk melindungi diri dari HIV dan penyakit kelamin jika Anda aktif berhubungan seksual.

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Manfaat Menakjubkan Kunyit untuk Kecantikan dan Kesehatan Tubuh

Anda mungkin cukup familier dengan manfaat kunyit untuk meredakan mual. Nah, ternyata masih ada khasiat lain dari kunyit yang mungkin belum Anda tahu!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 25 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Wabah Kesepian, Fenomena Kekinian yang Menghantui Kesehatan Masyarakat

Rasa kesepian banyak dialami oleh masyarakat modern. Bahkan, kondisi psikologis ini bisa dianggap sebagai salah satu ancaman kesehatan yang serius.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 25 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Perbedaan Mentega dan Margarin: Mana yang Lebih Sehat?

Tahukah Anda bahwa mentega dan margarin tidaklah sama? Salah satunya ternyata berisiko bagi jantung, kolesterol, dan berat badan Anda. Yang mana?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Fakta Gizi, Nutrisi 25 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Penyakit pada Kuku yang Perlu Diwaspadai

Penyakit kuku, mulai dari penampakannya yang aneh atau sekadar mudah patah, bisa berarti ada masalah juga pada kesehatan Anda.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Tiara Putri
Kesehatan Kulit, Perawatan Kuku 23 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara mengusir semut

9 Cara Jitu untuk Mengusir Semut Bandel di Rumah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
lidah terasa pahit saat sakit

Kenapa Lidah Terasa Pahit saat Anda Sedang Sakit?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Seks setelah haid

Berhubungan Seks Sehari Setelah Haid, Apakah Bisa Hamil?

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 2 menit
menguji keperawanan wanita

Bisakah Mengetahui Keperawanan Wanita Lewat Ciri Fisiknya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit