Bagaimana Anda Bisa Terkena HIV dari Narkotika dan Obat-obatan Terlarang

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Menurut laporan WHO tahun 2014, ada sekitar 36,9 juta orang yang hidup dengan HIV. Salah satu faktor risiko Anda untuk terkena HIV adalah konsumsi narkotika dan obat-obatan terlarang, alias narkoba.

Bagaimana bisa konsumsi narkoba menyebabkan seseorang terkena HIV?

Konsumsi obat-obatan terlarang lebih berperan penting dalam penularan HIV daripada penggunaan obat melalui suntikan. Alasannya, seseorang yang berada di bawah pengaruh obat tertentu lebih cenderung melakukan perilaku berisiko, seperti melakukan seks tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi dan berbagi obat atau alat suntik dengan orang yang memiliki HIV.

Faktanya, darah yang terinfeksi HIV juga dapat masuk ke larutan obat dengan berbagai cara. Di antaranya:

  • Menggunakan alat suntik yang terkontaminasi darah untuk menyiapkan obat
  • Menggunakan kembali air untuk melarutkan obat
  • Menggunakan kembali tutup botol, sendok, atau wadah lainnya untuk melarutkan obat dalam air dan untuk memanaskan larutan obat
  • Menggunakan kembali sebagian kecil kapas atau filter rokok untuk menyaring partikel yang dapat menyumbat jarum

Bandar narkoba dapat mengemas kembali alat suntik bekas dan menjualnya sebagai alat suntik yang steril. Untuk alasan ini, orang yang perlu menyuntikkan obat harus mendapatkan alat suntik dari sumber terpercaya, seperti apotek atau program resmi pertukaran jarum.

Penting diketahui bahwa berbagi jarum atau alat suntik untuk keperluan apapun, seperti skin popping atau menyuntikkan steroid, hormon atau silikon, dapat berisiko terhadap HIV dan infeksi yang ditularkan melalui darah.

Selain itu, penyalahgunaan dan kecanduan obat juga dapat memperburuk gejala HIV, seperti menyebabkan cedera saraf dan kerusakan kognitif. Selain itu, mengonsumsi alkohol atau obat-obatan lain dapat mempengaruhi sistem imun dan mempercepat perkembangan penyakit.

Perawatan untuk penyalahgunaan obat dapat efektif untuk mencegah penyebaran penyakit, akibat kaitan kuat antara penyalahgunaan obat dan penyebaran HIV. Perawatan untuk penyalahgunaan obat meliputi pengurangan risiko HIV, seperti menghentikan atau mengurangi penggunaan obat dan perilaku yang berisiko.

Zat dan obat-obatan yang sering disalahgunakan

Alkohol

Apabila Anda menenggak banyak alkohol sekaligus, seperti di pesta miras, ada beberapa konsekuensi yang terkait dengan kesehatan dan sosial seperti seks bebas tanpa kondom. Karena alkohol dapat sangat mengaburkan fungsi kognitif otak dalam membuat keputusan, seks di bawah pengaruh alkohol lebih cenderung minim penggunaan kondom, dan dilakukan jumlah pasangan seksual yang berbeda-beda. Inilah mengapa konsumsi alkohol dapat menjadi faktor risiko penting terhadap infeksi HIV.

Kokain

Kokain dapat menghabiskan tenaga Anda dengan cepat dan jadi mendorong Anda untuk melakukan 1001 cara demi kembali mendapatkan obat. Penyalahgunaan kokain meningkatkan risiko infeksi HIV dengan perilaku berisiko, seperti pasangan seksual yang berbeda, minim penggunaan kondom, meningkatnya gairah seks, serta penggunaan lebih dari satu zat.

Methamphetamine

Mirip dengan dua zat di atas, penyalahgunaan methamphetamine (atau meth) juga meningkatkan risiko aktivitas seks bebas tanpa kondom. Selain itu, zat ini dapat menyebabkan ketagihan dan digunakan lewat jarum suntik. Seseorang yang menggunakan meth cenderung memiliki kekeringan pada kulit penis dan jaringan lendir pada anus dan vagina. Organ genital yang kering dapat memudahkan terjadinya luka dan lecet saat seks di mana virus HIV dapat masuk ke dalam tubuh. Beberapa pria gay dan biseksual mengombinasikan meth dengan obat kuat yang terkait dengan seks anal yang tidak terlindungi.

Inhalansia (solven)

Inhalansia nitrit terkait dengan perilaku seksual berisiko, penggunaan obat terlarang, dan infeksi menular seksual pada pria homoseksual dan biseksual. Inhalansia juga kerap digunakan oleh remaja, seperti untuk meningkatkan kepuasan seksual, membantu seks anal dengan meningkatkan sensitivitas dan merilekskan otot anus, yang menyebabkan lebih banyak hubungan seksual yang tidak terproteksi.

Obat-obatan lain juga terkait dengan peningkatan risiko infeksi HIV, seperti:

  • Penggunaan obat bius “rape drugs” seperti ekstasi, ketamine, dan GHB dapat mengaburkan logika dan keputusan Anda terhadap seks dan penggunaan obat. Anda akan cenderung memiliki hubungan seks yang tidak terencana atau terlindungi, atau menggunakan obat lain, seperti obat suntikan atau meth. Perilaku tersebut dapat meningkatkan risiko terhadap paparan HIV. Apabila Anda memiliki HIV, hal ini juga dapat meningkatkan risiko penyebaran HIV.
  • Penggunaan amyl nitrite (inhalansia yang dikenal juga sebagai “poppers”) telah terkait dengan risiko HIV. Poppers, yang kadang digunakan untuk seks anal karena merilekskan otot anus, telah dikaitkan dengan perilaku seksual berisiko, penggunaan obat ilegal, dan penyakit menular seksual di antara pria gay dan biseksual. Penggunaan obat tersebut juga baru-baru ini dikaitkan dengan peningkatan penggunaan pada remaja.

Banyak pengidap HIV mengalami infeksi karena kondisi sistem imunnya yang melemah. Cara terbaik untuk mencegah penularan dan penyebaran HIV adalah dengan mencari perawatan medis dan menggunakan obat HIV sesuai petunjuk.

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

2 Jenis Hepatitis Berdasarkan Penyebabnya, Apa Saja?

Hepatitis mengacu pada peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus. Namun, ada juga jenis hepatitis yang tidak disebabkan infeksi virus.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 6 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Penyakit Hepatitis

Penyakit hepatitis adalah salah satu ancaman kesehatan utama di dunia. Ketahuai apa saja penyebab, gejala, dan pengobatannya pada artikel berikut.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 6 Januari 2021 . Waktu baca 13 menit

Panduan Menjalani 30 Hari Diet Bebas Gula

Konsumsi gula berlebih meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, hingga kanker. Untuk memerangi risiko mengerikan ini, satu solusinya: diet bebas gula.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Tips Makan Sehat, Nutrisi 4 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

5 Pilihan Obat Cacing yang Direkomendasikan untuk Orang Dewasa

Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga bisa terkena cacingan. Simak rekomendasi obat cacing untuk orang dewasa berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Penyakit Infeksi, Infeksi Jamur dan Parasit 2 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara menghilangkan rasa cemas

8 Cara Jitu untuk Menghilangkan Rasa Cemas Berlebihan

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
manfaat sering menangis

Ini Alasan Orang yang Sering Menangis, Justru Mentalnya Sekuat Baja

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
kanker anus

Kanker Anus

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
bagaimana cara menghilangkan stres

9 Makanan yang Membantu Menghilangkan Stres

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit