home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengapa Kita Tidak Boleh Minum Air Laut?

Mengapa Kita Tidak Boleh Minum Air Laut?

Minum air laut tidak diperbolehkan, bahkan ketika Anda berada dalam kondisi bertahan hidup di laut sekalipun. Air garam adalah air yang telah terkontaminasi dengan garam dan mineral lainnya, seperti merkuri atau arsen. Dan air laut adalah contoh air yang memiliki kandungan garam tinggi. Konsentrasi garam dalam tubuh adalah sekitar 75 persen lebih sedikit daripada yang dikandung oleh air laut. Meskipun air garam yang telah dipersiapkan dengan benar dapat menjadi sumber air minum atau sebagai bagian dari objek pembersih, dan membantu pasien pasca-gegar otak yang menderita peningkatan tekanan darah, namun dalam banyak kasus, minum air garam tidak sehat untuk Anda.

Efek minum air laut untuk kesehatan

1. Dehidrasi

Garam dapat membuat tubuh dehidrasi, sehingga semakin banyak air garam yang Anda minum akan semakin banyak cairan tubuh Anda yang hilang. Menurut Marine Knowledge, ketika Anda minum air laut, air yang sudah ada di tubuh Anda akan dialihkan untuk membantu tubuh mencairkan kelebihan garam. Akibatnya, fungsi tubuh lainnya akan mulai menderita karena kurangnya air dalam sistem tubuh Anda. Dehidrasi menyebabkan peningkatan rasa haus, dan juga menyebabkan Anda lebih sering buang air kecil. Ini terjadi karena tubuh Anda sedang mencoba untuk menyingkirkan kelebihan garam. Dengan kekurangan cairan dan pengeluaran urin berlebih, maka masalah dehidrasi akan semakin buruk.

2. Gagal ginjal

Ginjal Anda bertanggung jawab untuk menyaring kelebihan bahan kimia dari darah Anda. Ketika Anda menelan air garam, Anda akan meningkatkan jumlah garam pada ginjal yang menyaring darah. Dengan begitu, ginjal harus membuang garam dengan bantuan sejumlah besar air. Air dan garam disaring, dan dibuang melalui urin Anda. Selama periode panjang konsumsi air laut, kelebihan air akan membanjiri ginjal, dan ginjal akan mulai rusak. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi serius dan bahkan kematian.

3. Gejala akut

Dalam beberapa jam setelah minum air garam, Anda mungkin akan mengalami gejala yang terkait dengan tingginya kadar garam yang ada di tubuh Anda, menurut Western Journal of Medicine. Gejala awal bisa ditandai dengan diare berat dan tak kunjung hilang. Usus Anda hanya dapat menyerap sejumlah garam dalam jangka waktu tertentu. Air laut menyebabkan kelebihan garam sering tersisa di saluran usus, sehingga air mengalir keluar dari sel dan masuk ke saluran usus. Kondisi itu menyebabkan isi usus menjadi encer, dan mengakibatkan diare.

Peningkatan jumlah urin yang keluar juga merupakan gejala akut dari menelan air garam. Garam disaring oleh ginjal dengan sejumlah besar air untuk dibuang dengan benar. Volume besar air ini secara signifikan akan meningkatkan pengeluaran urin Anda. Kedua gejala ini dapat menyebabkan hilangnya cairan yang sangat fatal.

4. Gejala kronis

Asupan jangka panjang dari air garam menyebabkan dehidrasi berat, yang bisa memicu efek yang serius. Tubuh Anda cenderung kehilangan sejumlah besar air secara kronis dalam mencerna air garam. Anda dapat mengalami halusinasi dan mengigau. Sering kali, Anda akan kehilangan kesadaran dan menderita kejang. Tubuh Anda tidak dapat berfungsi tanpa air, dan pada saat Anda kehilangan 15% dari total air dalam tubuh, Anda berada pada risiko tinggi untuk mengalami koma, kerusakan otak, dan bahkan kematian.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What are the Side Effects of Drinking Sea Water? http://www.livestrong.com/article/156036-what-are-the-side-effects-of-drinking-sea-water/. Accessed November 17, 2016.

Why Don’t We Get Our Drinking Water from the Ocean by Taking the Salt Out of Seawater.? https://www.scientificamerican.com/article/why-dont-we-get-our-drinking-water-from-the-ocean/. Accessed November 17, 2016.

Why is Drinking Salt Water Not Healthy for You? http://livewell.jillianmichaels.com/drinking-salt-water-not-healthy-you-4844.html. Accessed November 17, 2016.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Adinda Rudystina Diperbarui 09/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan