Apakah Anda terbiasa mandi setelah makan? Beberapa orang memang terkadang terbiasa makan sebelum mandi terutama jika sedang terburu-buru. Namun, apakah boleh mandi setelah makan? Simak jawabanya dalam ulasan berikut ini.
Apakah Anda terbiasa mandi setelah makan? Beberapa orang memang terkadang terbiasa makan sebelum mandi terutama jika sedang terburu-buru. Namun, apakah boleh mandi setelah makan? Simak jawabanya dalam ulasan berikut ini.

Mandi setelah makan tidak dianjurkan. Pasalnya, kebiasaan tersebut berpotensi mengganggu proses pencernaan.
Saat makan, suhu tubuh akan sedikit meningkat dari biasanya karena tubuh sedang mengalirkan banyak darah ke sistem pencernaan untuk membantu proses pencernaan makanan.
Nah, jika Anda mandi setelah makan, terutama menggunakan air hangat, suhu tubuh akan semakin meningkat.
Hal ini mengakibatkan suplai darah yang seharusnya berperan membantu proses pencernaan justru dialihkan ke kulit untuk mendinginkan tubuh.
Akibatnya, proses pencernaan makanan menjadi terganggu, sehingga perut Anda mungkin akan terasa tidak nyaman setelah mandi.
Namun, jika memang Anda harus makan sebelum mandi, sebaiknya tunggu selama 20 menit atau 1 jam setelah makan agar tidak mengganggu proses pencernaan makanan.
Mandi setelah makan memang tidak dianjurkan. Namun, ada beberapa tips sehat yang bisa Anda terapkan setelah makan, seperti berikut ini.

Anda dianjurkan untuk minum air putih yang cukup setelah makan. Hal ini karena air putih yang masuk ke tubuh dapat membantu memecah makanan dan melembutkannya.
Dengan begitu, tubuh akan lebih mudah untuk menyerap zat gizi di dalam makanan tersebut dengan baik.
Selain itu, minum air putih setelah makan dapat membantu meningkatkan laju metabolisme dan dan mencegah konstipasi.
Selain minum air putih, berjalan-jalan sebentar di sekitar rumah setelah makan dianjurkan karena dapat bermanfaat untuk kesehatan.
Mengutip Cleveland Clinic, berjalan kaki setelah makan dapat mencegah glukosa atau gula darah melonjak drastis dan dapat berpotensi mengurangi risiko penyakit diabetes.
Jalan kaki setelah makan juga dapat membakar kalori yang bisa berdampak pada penurunan berat badan.
Selain mandi, kebiasaan merokok setelah makan tidak dianjurkan. Pasalnya, kebiasaan ini justru dapat menyebabkan asam lambung naik.
Merokok dapat melemahkan otot sfingter esofagus, yakni katup di kerongkongan yang berfungsi menjaga agar cairan asam lambung tidak naik ke kerongkongan.
Jika otot tersebut melemah, hal ini dapat memungkinakn asam lambung naik hingga ke kerongkongan, kondisi ini disebut dengan gastroesophageal reflux disease (GERD).

Beberapa orang memiliki kebiasaan orang makan larut malam dan langsung pergi tidur setelahnya. Namun, sebaiknya hindari tidur setelah makan. Pasalnya, hal ini bisa memicu heartburn.
Ketika berbaring dengan perut yang penuh, asam lambung dapat mengalir kembali ke kerongkongan.
Hal ini mengakibatkan Anda merasakan nyeri pada ulu hati yang terkadang disertai dengan sensasi terbakar di dada. Anda juga mungkin akan merasa mual dan tidak nyaman.
Mandi segera setelah makan memang tidak dianjurkan. Hal ini juga berlaku jika Anda langsung menyikat gigi setelah makan.
Terlebih lagi, jika Anda habis makan atau minum yang mengandung asam, seperti soda, permen asam, jeruk, atau lemon.
Pasalnya, saat makan atau minum mengandung asam, enamel gigi atau lapisan terluar pada gigi akan melunak.
Nah, jika Anda langsung menggosok gigi setelah makan, enamel gigi rentan mengalami kerusakan. Oleh sebab itu, sebaiknya berikan jeda waktu paling tidak 30 menit setelah makan sebelum menggosok gigi.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Perry, R. J., Lyu, K., Rabin-Court, A., Dong, J., Li, X., Yang, Y., Qing, H., Wang, A., Yang, X., & Shulman, G. I. (2020). Leptin mediates postprandial increases in body temperature through hypothalamus-adrenal medulla-adipose tissue crosstalk. The Journal of Clinical Investigation, 130(4), 2001–2016.
Versi Terbaru
19/06/2024
Ditulis oleh Zulfa Azza Adhini
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes.
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala