home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bahaya yang Ditimbulkan Akibat Suntik Silikon

Bahaya yang Ditimbulkan Akibat Suntik Silikon

Sementara beberapa dari kita merasa cemas dan khawatir soal pekerjaan, kesehatan, atau anggota keluarga kita, sebagian besar orang merasakan ketakutan yang sangat mendalam tentang anggota tubuhnya. Disibukkan oleh penampilan fisik, seluruh perhatian kita bisa menjadi teralihkan dari apa yang benar-benar penting dalam hidup, dan justru malah mengkhawatirkan bagian tubuh yang itu-itu saja.

Mungkin ini sebabnya mengapa tren dan permintaan untuk memperbesar bagian tubuh tertentu — mulai dari bibir, payudara, bokong, hingga penis — tampak tidak akan pernah padam dalam waktu dekat. Sayangnya, dalam perjalanan meraih tubuh ideal, beberapa orang lebih memilih “berhemat” mendapatkan implan atau suntik silikon ilegal daripada harus merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkan perawatan dari ahli bedah plastik profesional. Rata-rata, operasi pembesaran payudara di Jakarta saja berkisar antara 40-50 juta rupiah — dua kali lipat dari biaya operasi di pasar gelap pada umumnya.

Padahal, suntik silikon ilegal dapat menyebabkan sejumlah komplikasi kesehatan serius. Masalah berkisar dari pengerasan jaringan, nyeri kronis hingga infeksi, masalah pernapasan, bahkan pembekuan darah yang mengancam nyawa.

Semua masalah di atas dikaitkan dengan suntik silikon cair, salah satu zat yang paling kontroversial dalam bidang bedah kosmetik. Silikon cair telah lama beredar di dunia bedah kosmetik tanpa ada sanksi resmi sebelumnya dan sempat dilarang oleh Food and Drugs Association (FDA US), kini silikon cair akhirnya disetujui sejak tahun 1997 dan dibatasi hanya untuk penggunaan medis tertentu, salah satunya untuk menahan retina yang melonggar agar tidak kembali lolos.

FDA tidak menyetujui penggunaan suntik silikon cair atau gel untuk memperbesar anggota tubuh

Semenjak persetujuan awal FDA, popularitas suntik silikon kembali menanjak. Di saat yang bersamaan, sejumlah dokter menggunakannya untuk mengisi keriput di wajah dan memperbaiki garis senyum, hingga menambah volume bibir dan pipi.

Pengisi jaringan lunak yang terbuat dari bahan-bahan mudah diserap (seperti kolagen, hyaluronic acid, calcium hydroxylapatite, dan Poly-L-lactic acid/PLLA) yang bersifat temporer telah disetujui oleh FDA untuk koreksi sederhana hingga berat pada kasus kerutan wajah dan lipatan kulit, seperti garis senyum. Beberapa pengisi jaringan lunak telah mendapatkan persetujuan untuk prosedur restorasi dan/atau koreksi dari kondisi hilangnya lemak wajah (lipoatrofi) pada orang-orang yang mengidap HIV.

Sementara itu, materi pengisi jaringan lunak bersifat non-menyerap (permanen) hanya disetujui untuk koreksi garis senyum. FDA hanya menyetujui dua materi pengisi jaringan temporer untuk prosedur augmentasi bibir, satu untuk menambah volume pipi, pada pasien yang berusia lebih dari 21 tahun. FDA juga telah menyetujui satu materi pengisi untuk prosedur penambahan volume punggung tangan.

FDA tidak menyetujui penggunaan suntik silikon cair atau gel untuk mengisi kerutan atau memperbesar anggota tubuh manapun. FDA membatasi hanya pada penggunaan implan silikon untuk wanita yang menjalankan prosedur rekonstruksi payudara setelah operasi kanker payudara dan pembesaran payudara dengan alasan kosmetik.

Pro kontra suntik silikon

Praktisi suntik silikon mengatakan bahwa mereka lebih memilih untuk menggunakan silikon cair karena harganya yang lebih terjangkau daripada pengisi jaringan lain, seperti kolagen atau Restylane (gel terbuat dari hyaluronic acid), mudah untuk digunakan, dan efek samping hanya terjadi pada kurang dari 1 persen pasien. Tetapi, pada umumnya mereka menyukai silikon karena efek permanennya.

Filler seperti kolagen dan Restylane hanya dapat bertahan hingga enam bulan, sehingga pasien diharuskan untuk melakukan injeksi ulang, berkali-kali. Dengan silikon, begitu kerut dan keriput diratakan, efeknya akan berlangsung seumur hidup. Tapi ini artinya, efek samping suntik silikon, meskipun jarang terjadi, juga bisa permanen.

Silikon cair, juga dikenal sebagai minyak silikon, memiliki konsistensi yang mirip dengan oli motor. Ketika disuntikkan ke dalam kulit, hal ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap masuknya zat asing tersebut dengan cara membungkusnya dengan kolagen alami tubuh. Kolagen baru ini, pada akhirnya, akan menebalkan kulit.

Pihak yang pro terhadap penggunaan suntik silikon menganggap bahwa prosedur ini aman dilakukan jika dilakukan di bawah pengawasan dokter profesional dengan menggunakan filler silikon cair murni kualitas top. Mereka yang meragukan keamanan suntik silikon berargumen bahwa komplikasi kesehatan dari prosedur ini pada dasarnya tidak terelakkan dan tidak terduga, serta mengalahkan manfaatnya.

Sifat permanen dari suntik silikon tidak memperhitungkan kemajuan hilangnya lemak wajah dan/atau tubuh, baik dari faktor usia maupun perubahan gaya hidup yang dilakukan. Jadi, besar kemungkinannya bahwa Anda akan mengalami benjolan tidak merata di sana-sini akibat ”benturan” dari residu silikon cair yang menetap bentuknya dengan tekstur kulit yang menipis dan pengurangan volume lemak tubuh dari waktu ke waktu. Efek samping lainnya termasuk nyeri dan infeksi, peradangan, migrasi silikon, hingga disfigurasi anggota tubuh yang terpengaruh.

Benjolan, tonjolan, dan efek samping “superfisial” lain dapat disiasati dengan operasi korektif, namun dapat meninggalkan bekas luka yang terlihat lebih buruk daripada kondisi sebelumnya.

Dr David M. Duffy, seorang dokter kulit di Torrance, California, dikutip dari NY Times, menemukan bahwa suntik silikon cair dapat menyebabkan masalah bahkan ketika dilakukan oleh dokter yang berpengalaman sekalipun. Salah satu komplikasi yang ditakutkan adalah pembentukan granuloma silikon, alias siliconoma.

Pembentukan granuloma sebagai efek samping suntik silikon

Granuloma adalah penggumpalan sel-sel peradangan yang terlokalisasi sebagai akibat dari kegigihan produk non-daur ulang (seperti silikon cair yang bersifat permanen) atau sebagai reaksi hipersensitivitas.

Kebocoran silikon pada jaringan tubuh menghasilkan reaksi peradangan. Respon imunologi terhadap suntik silikon murni sampai saat ini tidak diketahui. Yang pasti, semua banda asing yang masuk ke dalam tubuh akan mendapatkan reaksi tertentu dari sistem imun tubuh, dan granuloma diduga sebagai salah satu respon umumnya. Granuloma adalah hasil dari mekanisme pelindung dan terbentuk ketika proses inflamasi akut tidak dapat menghancurkan agen asing tersebut.

Presentasi klinis dari granuloma akibat silikon dapat menyerupai tumor kanker, terutama jika mempengaruhi kelenjar aksila atau pembesaran getah bening. Pembentukan granuloma akibat kebocoran silikon juga telah dikaitkan dengan demam, hiperkalsemia termediasi kalsitriol, dan amiloidosis reaktif.

Magnetic Resonance Imaging (MRI) biasanya dianjurkan selain mammogram dan ultrasonogram (USG) untuk mengevaluasi keparahan perluasan lesi dan konfirmasi pemeriksaan onkologi. Bedah pengangkatan jaringan yang terpengaruh umumnya diwajibkan untuk tujuan terapi. Mastektomi total dengan atau tanpa pelestarian kulit/puting kompleks areola merupakan pilihan utama pada payudara yang sangat rusak akibat kebocoran silikon parah. Prosedur rekonstruksi segera atau tertunda harus dimasukkan sebagai bagian dari rencana terapi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Injecting Silicone, and Risk http://www.nytimes.com/2006/01/26/fashion/thursdaystyles/injecting-silicone-and-risk.html?register=google accessed 31 August 31, 2016

Low-grade liquid silicone injections as a penile enhancement procedure: Is bigger better? http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3519113/ accessed 31 August 31, 2016

Soft Tissue Fillers (Dermal Fillers) http://www.fda.gov/medicaldevices/productsandmedicalprocedures/cosmeticdevices/wrinklefillers/default.htm accessed 31 August 31, 2016

Zumla, Alimudin, D. Geraint James. 1996. Granulomatous Infections: Etiology and Classification. University College London Medical School. London. https://cid.oxfordjournals.org/content/23/1/146.full.pdf accessed 31 August 31, 2016

Breast implant-related silicone granulomas: the literature and the litigation. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11932626 accessed 31 August 31, 2016

 

Foto Penulis
Ditulis oleh Ajeng Quamila pada 04/09/2016
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x