Semua yang Perlu Diketahui Seputar Atrofi Otak, Ketika Ukuran Otak Menciut

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Otak manusia terdiri dari berbagai sel saraf yang terhubung yang berfungsi mengatur organ tubuh. Fungsi ini sangat bergantung pada sel saraf otak atau neuron yang saling terhubung. Nah, ketika neuron ataupun sambungan antar neuron mengalami kerusakan atau bahkan hilang, maka otak dapat menyusut dan berubah bentuk. Kondisi ini disebut sebagai atrofi otak, yang dapat berujung pada gangguan kognitif serius, seperti demensia.

Apa itu atrofi otak?

Atrofi otak adalah kondisi rusak atau hilangnya sel otak dan sambungan antar sel otak secara berkelanjutan. Hilangnya sel dan jaringan neuron otak menyebabkan ukuran otak menciut, sehingga lebih kecil daripada ukuran aslinya. Hal tersebut dapat terjadi secara menyeluruh (general) yang menyebabkan otak dapat tampak benar-benar kempis menyusut. 

Kondisi ini cenderung terjadi dalam waktu yang lama. Atrofi otak juga umumnya mendahului atau hadir sebagai gejala berbagai penyakit pada otak seiring waktu.

Namun, kondisi ini bisa juga hanya terjadi pada area otak tertentu (focal) sehingga menyebabkan seseorang dapat kehilangan fungsi organ yang terhubung dengan area otak tersebut dan mengalami atrofi.

Jika kedua lobus otak besar mengalami penyusutan, maka fungsi pikiran sadar, seperti emosi, perasaan, kesadaran dan persepsi dapat terganggu. Begitu pula berbagai fungsi bawah sadar, seperti menggerakan otot, respons terhadap stimulus dan kemampuan mengambil keputusan pada akhirnya juga ikut terganggu.

Apa saja gejala atrofi otak?

Kondisi ini dapat ditandai dengan berbagai penyakit otak, terutama:

Demensia

Demensia ditandai dengan penurunan kemampuan memori dan fungsi inteligensia secara perlahan. Hal ini juga dapat mengganggu kemampuan untuk bekerja dan berinteraksi sosial secara signifikan.

Penyusutan ukuran otak pada demensia menyebabkan penderitanya mengalami gangguan orientasi, kesulitan untuk belajar dan berpikir abstrak, kesulitan mengenali ruang, serta gangguan fungsi eksekutif seperti pengambilan keputusan, mengatur dan mengurutkan benda.

Kejang

Gejala lain yang mungkin muncul saat seseorang mengalami kondisi ini adalah kejang. Gejala ini bisa muncul dalam berbagai tanda, seperti disorientasi, gerakan berulang, kehilangan kesadaran, dan konvulsi atau proses kontraksi dan relaksasi otot yang sangat cepat. 

Aphasia

Aphasia merupakan gangguan yang menyebabkan seseorang kesulitan untuk berkomunikasi, terutama gangguan dalam berbicara dan memahami suatu bahasa.

Aphasia dapat bersifat reseptif yaitu kesulitan untuk memahami percakapan dan ekspresif. Artinya, orang yang mengalami gejala ini akan kesulitan dalam menentukan pemilihan kalimat dan kesulitan untuk mengatakan kalimat atau frasa yang utuh.

Penyebab dan faktor risiko dari atrofi otak

Progres dari pemulihan atrofi otak biasanya ditentukan oleh penyebab dari kondisi itu sendiri. Berikut ini adalah beberapa kondisi medis yang mungkin menjadi penyebab terjadinya atrofi otak, seperti: 

1. Stroke

Stroke terjadi saat aliran darah menuju ke otak terganggu atau berkurang. Hal ini mencegah jaringan otak mendapatkan oksigen dan nutrisi sesuai dengan kebutuhan. Pada saat itu, sel-sel otak akan mati dalam hitungan menit. 

Kondisi ini tentu menyebabkan berbagai fungsi tubuh yang dikendalikan oleh otak tidak bekerja. Pada kondisi ini, seperti yang telah disebutkan di atas, atrofi otak hadir sebagai gejala dari stroke. 

2. Penyakit Alzheimer

Pada penderita penyakit Alzheimer, neuron pada otak mengalami kerusakan dan mati. Kondisi ini menyebabkan sambungan antar neuron juga ikut rusak, sehingga banyak area pada otak yang mulai menyusut. Pada tingkatan yang sudah parah, penyusutan otak dapat menyebabkan berkurangnya volume otak. 

3. Cerebral palsy 

Cerebral palsy adalah gangguan pergerakan yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk bergerak dan menjaga keseimbangan tubuh.

Biasanya, kondisi ini dialami oleh anak-anak dan terjadi karena adanya perkembangan otak yang tidak normal atau kerusakan pada otak yang sedang melalui proses perkembangan. Oleh sebab itu, cerebral palsy bisa menjadi faktor penyebab terjadinya atrofi otak. 

4. Penyakit Huntington

Kondisi ini merupakan salah satu penyakit keturunan yang dapat merusak neuron. Biasanya, kondisi ini terjadi pada paruh baya dan semakin lama penyakit ini dapat menyerang kondisi fisik dan mental penderitanya.

Bahkan, penyakit Huntington bisa menyebabkan depresi dan chorea, yaitu penyakit yang menyebabkan tubuh bergerak seolah sedang menari tanpa bisa dikendalikan. 

5. Multiple sclerosis

Multiple sclerosis merupakan kondisi yang terjadi pada usia muda dan lebih rentan dialami oleh para wanita dibandingkan pria. Kondisi ini adalah gangguan autoimun yang menyebabkan sistem imun menyerang selaput pelindung yang menyelilingi sel saraf. 

Seiring waktu, sel-sel saraf akan mengalami kerusakan, sehingga menyebabkan masalah pada pergerakan dan koordinasi tubuh. Atrofi otak biasanya menjadi bagian dari perkembangan penyakit ini, dan bahkan, menjadi kondisi yang menyebabkan kerusakan paling parah dari multiple sclerosis. 

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengatasi atrofi otak?

Atrofi otak merupakan kondisi yang permanen karena kerusakan dan penurunan volume serta ukuran otak tidak dapat diperbaiki atau tidak bisa kembali seperti sedia kala. Oleh sebab itu, tindakan yang dapat dilakukan adalah pencegahan dan perlambatan dari penyakit atrofi pada sel otak.

Pencegahan terhadap kondisi ini, secara umum, dapat dilakukan dengan menerapkan gaya hidup sehat. Tujuannya, untuk mencegah penyakit pada pembuluh darah otak. Tak hanya itu, Anda juga disarankan untuk menghindari konsumsi alkohol berlebih.

Penanganan untuk faktor penyebab atau penyakit kerusakan sel otak sangat diperlukan untuk menghambat percepatan proses atrofi. Di samping itu, perubahan gaya hidup dengan aktif beraktivitas fisik dan suplementasi vitamin B (vitamin B12, B6 dan folat) diketahui dapat memperlambat proses kerusakan otak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Penderita Depresi Harus Banyak Konsumsi Probiotik?

Makanan probiotik memang baik untuk sistem pencernaan Anda. Namun siapa sangka probiotik ternyata juga bisa meredakan gejala depresi? Ini dia penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Batasan Wajar Menggunakan Media Sosial Dalam Sehari, Menurut Psikolog

Anda tak bisa lepas dari akun media sosial setiap harinya? Awas, Anda mungkin sudah melewati batas wajar menggunakan media sosial sehari-hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Kecanduan 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Hidrosefalus

Hidrosefalus adalah kondisi pembesaran ukuran kepala bayi karena penumpukan cairan. Kenali penyebab, gejala, dan pengobatannya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Penyakit pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 3 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

5 Manfaat Berkebun Bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Meski berpeluh keringat, berkebun ternyata punya segudang manfaat bagi kesehatan tubuh dan juga jiwa. Apa saja manfaat berkebun untuk kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 31 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat sering menangis

Ini Alasan Orang yang Sering Menangis, Justru Mentalnya Sekuat Baja

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
mental illness atau gangguan mental

Mental Illness (Gangguan Mental)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 17 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
serangan panik atau panic attack

Mengenal Perbedaan Panic Attack dan Anxiety Attack

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
depresi pagi hari

Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit