4 Penyebab Sakit Kepala di Belakang Telinga yang Umum, Serta Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Setiap orang pasti pernah mengalami sakit kepala. Ada lebih dari 300 jenis sakit kepala, mulai dari migrain sampai sakit kepala di belakang telinga. Anda mungkin termasuk orang yang sering mengalami kepala terasa nyut-nyutan, hingga rasa sakitnya menjalar ke belakang telinga. Kondisi ini membuat Anda bertanya-tanya apa penyebabnya. Simak penjelasan mengenai berbagai penyebab dan cara mengatasi sakit kepala yang muncul hingga belakang telinga.

Berbagai penyebab sakit kepala di belakang telinga

Rasa sakit di yang menjalar dari kepala hingga belakang telinga bisa disebabkan oleh kondisi kesehatan tertentu. Berikut adalah beberapa masalah kesehatan yang dapat memicu terjadinya sakit kepala di belakang telinga, di antaranya:

1. Neuralgia oksipital

Salah satu penyebab paling umum dari sakit kepala di belakang telinga adalah kondisi yang disebut dengan neuralgia oksipital. Kondisi ini adalah peradangan saraf oksipital yang ada di atas sumsum tulang belakang hingga dasar leher. 

Neuralgia oksipital bisa disebabkan oleh saraf terjepit atau kekakuan otot leher. Namun, hal ini juga bisa terjadi karena cedera pada kepala maupun leher.

Meski begitu, neuralgia oksipital bisa jadi muncul karena adanya penyakit lain yang memicu terjadinya kondisi ini. Sebagai contoh osteoarthritis, asam urat, diabetes, peradangan pembuluh darah, dan infeksi.

Neuralgia oksipital sering menimbulkan sakit kepala kronis yang menusuk dan berdenyut. Beberapa orang juga menggambarkan kondisi ini seperti terkena sengatan listrik di leher atas, belakang kepala, dan di belakang telinga.

Biasanya neuralgia oksipital hanya muncul di satu sisi kepala saja. Namun, kondisi ini ini juga bisa menyebar ke bagian kepala lainnya.

2. Mastoiditis

Mastoiditis adalah infeksi pada tonjolan tulang di belakang telinga (tulang mastoid), yang terjadi akibat peradangan atau infeksi telinga yang tidak diobati dengan cara yang tepat. Biasanya, infeksi ini disebabkan oleh bakteri dan tergolong cukup serius. 

Salah satu gejala mastoiditis adalah kondisi ini dapat menimbulkan sakit kepala pada belakang telinga, demam, telinga bengkak dan memerah, telinga terasa nyeri, dan bahkan kehilangan pendengaran.

Menurut National Health Service, Selain menimbulkan gejala sakit kepala di belakang telinga, mastoiditis juga bisa menyebabkan komplikasi serius jika dibiarkan begitu saja. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi akibat kondisi ini termasuk, penggumpalan darah, meningitis, hingga abses pada otak

Pada dasarnya, kondisi ini bisa dialami oleh semua orang dari berbagai kalangan usia. Meski begitu,  infeksi ini jauh lebih umum dan sering terjadi pada anak-anak. Tak hanya itu, orang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah juga memiliki kecenderungan untuk mengalami kondisi yang satu ini. 

3. Nyeri rahang (gangguan temporomandibular joint/TMJ)

Sendi temporomandibular adalah sendi yang membantu rahang Anda terbuka dan menutup saat berbicara, makan, serta menelan. Gangguan pada sendi ini akan menyebabkan rasa sakit luar biasa yang bisa menjalar hingga ke wajah dan telinga.

Meski begitu, penyebab dari penyakit ini sering kali tidak dapat diketahui. Pasalnya, rasa sakit yang muncul bisa jadi berasal dari berbagai faktor, misalnya genetik, arthritis, atau cedera rahang. Bahkan, ada pula yang merasakan sakit karena memiliki kebiasaan menggesek-gesekkan gigi atas dengan gigi bawah terlalu sering. 

Kondisi ini bisa menyebabkan suara klik atau sensasi kesat/kasar saat Anda menggerakkan rahang untuk membuka mulut ataupun mengunyah. Bahkan dalam beberapa kasus, sendi bisa terkunci sehingga Anda tidak bisa membuka atau menutup mulut.

4. Masalah gigi

Masalah dengan mulut dan gigi Anda bisa menyebabkan rasa sakit yang menjalar hingga ke bagian kepala dan telinga. Nah, itu sebabnya sangat mungkin jika sakit kepala yang sedang Anda alami disebabkan karena adanya masalah gigi. 

Dokter gigi Anda akan dapat memastikan apakah sakit kepala di belakang telinga yang Anda alami disebabkan oleh masalah gigi atau tidak saat pemeriksaan. Dengan begitu, dokter akan lebih mudah menentukan pengobatan dan perawatan apa yang tepat untuk mengatasi kondisi Anda. 

Cara yang dapat meredakan sakit kepala di belakang telinga

Penyebab utama sakit kepala yang muncul pada belakang telinga sering kali tumpang tindih. Artinya, kondisi ini bisa muncul akibat berbagai kondisi kesehatan yang terjadi secara bersamaan. Itu sebabnya, sangat penting bagi Anda agar mendapatkan diagnosis yang tepat.

Dalam kasus yang lebih serius dan sebagai upaya diagnosis lebih lanjut, dokter mungkin akan melakukan berbagai pemeriksaan, termasuk MRI atau cek darah. 

Sementara menunggu janji konsultasi dokter, ada beberapa cara sederhana yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi sakit kepala di belakang telinga, di antaranya:

  • Perbanyak istirahat atau tidur siang di tempat yang sepi.
  • Konsumsi obat pereda nyeri seperti ibuprofen.
  • Kendalikan stres.
  • Letakkan bantal pemanas atau kompres hangat pada belakang leher.
  • Berhenti melakukan kebiasaan menggemeretak gigi.

Jika kondisi Anda tidak juga membaik dan cenderung semakin parah, Anda sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter. Ini dilakukan agar Anda bisa mendapatkan penanganan yang tepat sesuai dengan kebutuhan Anda.

Setelah menjalani berbagai tes untuk diagnosis kondisi yang sedang dialami dan melakukan berbagai metode pertolongan pertama untuk meredakan gejala dari kondisi yang sedang dialami, dokter akan menemukan penyebab dari sakit kepala yang muncul pada belakang telinga.

Baru setelah itu, dokter akan menentukan metode pengobatan yang tepat untuk mengatasi kondisi yang sedang dialami. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Sakit Kepala Belakang

Sakit kepala bagian belakang adalah keluhan yang dapat dialami setiap orang. Penyebabnya bisa jadi hal yang ringan, bisa juga penyakit serius.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 14 Januari 2021 . Waktu baca 16 menit

Gegar Otak

Gegar otak adalah kondisi yang bisa menyebabkan seseorang hilang ingatan. Penasaran dengan kondisi ini? Yuk, baca selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Otak dan Saraf 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Benarkah Makanan Pedas Bisa Mengatasi Sakit Kepala Migrain?

Makanan pedas sering kali diandalkan untuk mengatasi rasa sakit kepala atau migrain. Tapi benarkah makanan itu dapat menyembuhkan sakit kepala Anda?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi 1 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Nyeri Kronis

Nyeri kronis adalah jenis penyakit yang menyebabkan kerusakan jaringan yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga menahun. Simak Info Selengkapnya Hanya di Hello Sehat

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 29 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
obat tetes telinga

Cari Tahu Jenis Obat Tetes Telinga Beserta Cara Pakainya Agar Tak Salah

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
mengobati sakit kepala

5 Jenis Minyak Esensial untuk Meringankan Sakit Kepala dan Migrain

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
sakit kepala setelah keramas

Tiba-tiba Sakit Kepala Setelah Keramas, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit