Diet Ketogenik, Cara Tepat untuk Mencegah Epilepsi Agar Tidak Kumat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Penyakit epilepsi atau ayan menyebabkan tubuh kejang hingga hilang kesadaran yang bisa muncul kapan saja. Untungnya, gejala ini bisa dikurangi frekuensinya dengan minum obat. Di samping itu, para ahli kesehatan juga meminta pasien epilepsi untuk menjalani diet ketogenik agar pengobatan menjadi lebih efektif. Namun, benarkah efektif? Lantas, bagaimana panduan untuk menjalani diet ini? Penasaran dengan jawabannya? Mari simak ulasannya berikut ini.

Diet ketogenik bagian perawatan untuk pasien epilepsi

epilepsi boleh puasa

Kejang yang menjadi gejala epilepsi dapat muncul lebih dari sekali. Sebagian penderitanya, mungkin akan kehilangan kesadaran sepenuhnya saat gejala ini berlangsung. Namun jenis epilepsi tertentu, gejala kejang yang muncul mungkin sangat singkat sehingga kadang tidak disadari oleh penderitanya.

Nah, cara tepat untuk mengurangi frekuensi kejang dan gejala epilepsi lainnya adalah mengharuskan pasien untuk minum obat antiepilepsi. Contoh obat yang digunakan antara lain sodium valproate, carbamazepine, lamotrigine, levetiracetam, atau topiramate. Sayangnya, tidak semua pasien merespons obat-obatan tersebut.

Jika hal ini terjadi, biasanya dokter akan meminta pasien epilepsi untuk menjalani terapi, salah satunya adalah diet ketogenik. Marcelo Campos, MD, dari Harvard Health Publishing menyebutkan bahwa diet ketogenik sudah digunakan sejak lama untuk mengobati epilepsi untuk pasien yang resisten dengan obat-obatan, terutama anak-anak. Diet ini juga menjadi pengobatan alternatif untuk pasien yang tidak bisa menjalani operasi epilepsi.

Seberapa efektif diet ketogenik untuk pasien epilepsi?

anak sakit saat pandemi

Tanpa pengobatan, epilepsi yang tidak bisa disembuhkan dapat membahayakan jiwa. Pasalnya, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi berupa kerusakan otak atau kematian mendadak.

Itulah sebabnya, jika pasien tidak merespons pengobatan epilepsi, dokter akan merekomendasikan terapi diet ketogenik. Diet ketogenik sendiri adalah diet rendah karbohidrat tapi tinggi lemak. Pada diet ini, sumber energi utama yang biasanya berasal dari karbohidrat diubah menjadi lemak.

Kondisi ini menyebabkan terjadinya ketosis, yakni kondisi tubuh yang kekurangan karbohidrat sebagai bahan bakar energi. Kekurangan karbohidrat membuat kadar glukosa turun sehingga tubuh mulai memecah lemak untuk dijadikan sebagai energi. Proses ini kemudian menghasilkan zat keton. Semakin banyak lemak yang digunakan, maka makin banyak pula zat keton yang dihasilkan.

Menurut studi pada jurnal Frontiers in neuroscience tahun 2019, penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 70% pasien epilepsi mendapatkan manfaat dari diet ini. Manfaatnya adalah frekuensi gejala epilepsi, seperti kejang dapat berkurang.

Mekanisme manfaat diet ketogenik untuk pasien epilepsi sebenarnya tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, beberapa teori menyebutkan bahwa kejang berkurang kemungkinan karena adanya perubahan metabolisme dalam darah dan cairan cerebrospinal ketika diet dilakukan. Teori lain menyebutkan bahwa hasil zat keton yang dihasilkan ketika diet dapat membantu menormalkan aktivitas listrik otak.

Panduan menjalani diet ketogenik untuk pasien epilepsi

tidak boleh diet keto

Meskipun menunjukkan manfaat, tidak semua pasien epilepsi berhasil menjalani terapi diet ini. Contohnya, orang yang memiliki gangguan makan atau kondisi yang bisa mengakibatkan masalah jika mengonsumsi diet dalam jumlah tinggi mungkin tidak dianjurkan menjalani diet keto. Begitu juga pada pasien epilepsi dengan penyakit pankreas, masalah hati, gangguan tiroid, dan yang tidak memiliki kantong empedu.

Supaya tidak salah langkah, ikuti beberapa panduan menjalani diet keto untuk penderita ayan berikut ini.

1. Patuhi aturan diet keto dengan benar

Diet ketogenik diterapkan pada pasien epilepsi dengan aturan 70% hingga 80% lemak, 20% protein, dan 5% hingga 10% karbohidrat. 

Pada keadaan yang normal, lemak hanya diperlukan sekitar 25-40% dari kebutuhan kalori per hari. Sementara, pada anak yang mengalami epilepsi, pemberian lemak dalam sehari bisa mencapai 80-90% dari kebutuhannya.

Tentu, karena rendah karbohidrat, makanan untuk pasien epilepsi seperti nasi, jagung, atau kentang, sudah tidak ada lagi di dalam menu makanan. Sebagai penggantinya, anak dengan epilepsi akan diberikan lauk-pauk penuh lemak. Ini biasanya mencakup banyak daging, telur, sosis, keju, ikan, kacang-kacangan, mentega, minyak, biji-bijian, dan sayuran berserat.

2. Penerapan diet harus diawasi dokter atau ahli gizi

Penerapan diet ketogenik untuk pasien epilepsi, sebaiknya dilakukan dibawah pengawasan ahli gizi. Alasanya, perhitungan zat gizi pada diet ini harus dilakukan dengan tepat. Apalagi jika pasien memiliki alergi pada makanan tertentu, dokter atau ahli gizi akan membantu menentukan pilihan makanan yang aman untuk dikonsumsi. 

Tidak hanya anak-anak, diet ini juga bisa diterapkan pada bayi. Hanya saja proses penerapan diet harus diawasi ketat. Pertama, si kecil akan berikan cairan bebas gula. Dalam waktu 24 jam, diet baru dimulai.

Gula darah akan dipantau secara ketat dalam 48 jam pertama setelah memulai diet dan hipoglikemia dapat terjadi selama memulai diet keto. Kebutuhan suplemen, seperti kalsium dan vitamin juga akan dipenuhi selama proses pengawasan.

Efek samping diet ketogenik pada pasien dengan epilepsi

Menjalani diet ini membuat pasien tidak mengonsumsi makanan yang tidak seimbang. Akibatnya, akan ada efek samping yang mungkin terjadi. Beberapa efek samping yang mungkin dialami, antara lain:

  • Kepadatan tulang rendah sehingga berisiko mengalami patah tulang.
  • Sembelit (susah buang air besar) karena kurangnya asupan serat dari buah maupun sayur.
  • Memiliki kadar kolesterol yang tinggi.
  • Sakit perut, sakit kepala, kelelahan, dan pusing. Kondisi ini disebut dengan “flu keto”.
  • Mengalami gangguan tidur.
  • Berat badan tidak naik, atau justru berat badan turun.
  • Pertumbuhan anak jadi lebih lambat dari anak seusianya.
  • Berisiko mengalami batu ginjal.

Adanya efek samping ini, membuat dokter atau ahli kesehatan perlu mengevaluasi dan mempertimbangkan mana yang banyak manfaatnya ataukah efek sampingnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Masalah Pada Kaki yang Umum Terjadi Seiring Bertambahnya Usia

Penyakit kaki merupakan masalah kesehatan yang banyak dikeluhkan oleh lansia. Selain nyeri telapak kaki karena asam urat, ini dia penyebab lainnya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Kesehatan Lansia, Perawatan Lansia 27 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

3 Fakta Tentang Hati (Liver) Manusia yang Ternyata Menakjubkan

Sebagai organ vital manusia, hati (liver) berperan penting dalam menjaga kesehatan. Cari tahu fakta tentang hati manusia berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 27 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

7 Trik Jitu Agar Tak Mudah Tergoda Makan Junk Food

Anda tidak bisa berhenti makan junk food? Tenang, ada siasat khusus untuk menghindari godaan makan makanan tak sehat. Intip caranya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Tips Makan Sehat, Nutrisi 27 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Habis Makan, Gula Darah Malah Turun Drastis? Apa Sebabnya?

Lemas habis makan mungkin masih wajar. Tapi kalau Anda gemetaran atau berkeringat, bisa jadi tanda gula darah turun. Hal ini disebut hipoglikemia reaktif.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Angelina Yuwono
Penyakit Diabetes, Gula Darah Normal 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat kuat alami

11 Pilihan Obat Kuat Alami yang Bikin Pria Lebih Tahan Lama di Ranjang

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
menelan sperma

Apakah Bisa Hamil Jika Kita Menelan Sperma?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
radiasi wi-fi

Benarkah Radiasi dari Wi-Fi Bisa Memicu Kanker Anak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
tremor bisa sembuh

Apakah Tremor Bisa Disembuhkan? Apa Saja Pengobatannya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit