Daftar Pantangan Makanan untuk Penderita Stroke

Oleh

Menjaga asupan makanan yang sehat setelah stroke dapat menurunkan tiga faktor risiko penyebab stroke, yakni kadar kolesterol yang berlebih, tekanan darah yang tinggi, dan kegemukan atau obesitas. Untuk itu, mematuhi berbagai pantangan makanan untuk penderita stroke diperlukan untuk mencegah kambuhnya stroke. Berikut ini saya akan mengulas makanan apa saja yang perlu dihindari dan juga dianjurkan untuk dikonsumsi orang setelah stroke plus tips mengatasi nafsu makan yang menurun pascastroke.

Apa saja makanan untuk penderita stroke yang perlu dibatasi?

Pada dasarnya, pantangan makanan untuk penderita stroke tergantung dari kondisi masing-masing orang. Namun, ada baiknya membatasi, bahkan menghindari, beberapa jenis makanan berikut:

1. Makanan instan dalam kemasan

daging olahan

Pantangan makanan untuk penderita stroke yang pertama yaitu makanan instan. Makanan instan tidak dianjurkan untuk penderita stroke. Pasalnya, kebanyakan makanan instan dalam kemasan mengandung natrium nitrat dan nitrit. Kedua bahan ini sering digunakan sebagai zat pewarna dan pengawet pada daging olahan seperti sosis, daging kemasan, dan produk lainnya. Begitu juga dengan makanan kemasan lain seperti mi instan, kentang, dan camilan kemasan.

Natrium nitrat dan nitrit dapat merusak pembuluh darah karena bisa membuat arteri mengeras dan menyempit yang mengakibatkan penyakit jantung dan meningkatkan risiko stroke kambuh.

2. Makanan tinggi gula

Setelah serangan stroke sebaiknya Anda membatasi makanan dan minuman yang tinggi gula. Konsumsi gula berlebih dapat merusak pembuluh darah serta mengakibatkan obesitas. Jika kedua hal ini terjadi, bukan tidak mungkin stroke kembali menyerang.

Untuk itu, batasi asupan gula harian Anda. Batas konsumsi gula maksimal per hari adalah 4 sendok makan.

3. Makanan tinggi garam

membatasi makan garam bikin kekurangan yodium?

Makanan tinggi garam mengandung natrium yang dapat memicu lonjakan tekanan darah. Bila tidak dikendalikan, Anda rentan mengalami hipertensi yang bisa memicu stroke datang kembali. Untuk itu, Anda perlu membatasi garam dan natrium dalam setiap masakan.

Usahakan untuk tidak mengonsumsi natrium lebih dari 1.500 miligram setiap harinya yang setara dengan satu sendok teh garam.

4. Makanan yang mengandung lemak jenuh dan lemak trans

masak ayam selain digoreng

Lemak jahat terdiri dari lemak jenuh dan lemak trans. Lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) di dalam tubuh. LDL yang berlebih di dalam tubuh dapat mengakibatkan penumpukan lemak di arteri. Ini bisa menghambat aliran darah ke jantung dan otak sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Selain lemak jenuh, golongan lemak yang sebaiknya dihindari yaitu lemak trans. Lemak trans adalah lemak yang diolah dengan menambahkan hidrogen pada minyak sayur untuk membuatnya lebih padat. Lemak trans terbukti meningkatkan berbagai risiko penyakit, salah satunya stroke.

Berikut ini berbagai makanan yang mengandung lemak jenuh dan lemak trans yang perlu dihindari, yaitu:

Lemak trans

  • Biskuit
  • Makanan beku olahan
  • Makanan ringan (seperti keripik kentang, keripik singkong kemasan, dan camilan sejenis)
  • Gorengan
  • Makanan siap saji (ayam goreng, kentang goreng, atau burger)
  • Margarin
  • Donut

Lemak jenuh

  • Daging merah
  • Kulit ayam
  • Produk susu

5. Minuman beralkohol

mitos tentang minuman beralkohol

Alkohol dapat meningkatkan tekanan darah yang menjadi salah satu faktor risiko stroke. Untuk itu, selalu konsultasikan ke dokter kapan Anda boleh mengonsumsi alkohol setelah serangan stroke.

Umumnya, orang yang pernah mengalami stroke hanya boleh mengonsumsi minuman beralkohol sebanyak satu gelas per hari untuk perempuan dan dua gelas per hari untuk pria. Namun, ini tergantung juga pada jenis minuman beralkohol yang Anda minum.

Jika terdapat kondisi lain selain stroke seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol yang tinggi ada baiknya untuk mengonsultasikannya langsung ke dokter gizi untuk mendapatkan panduan makan untuk penderita stroke yang paling tepat.

Makanan yang dianjurkan untuk penderita stroke

Mengingat pentingnya menjaga pola makan setelah stroke, berbagai makanan untuk penderita stroke yang direkomendasikan oleh The American Heart Association dan American Stroke Association adalah:

  • Sayuran dan buah-buahan seperti jeruk, apel, pir, bayam, dan brokoli.
  • Biji-bijian, kacang-kacangan, dan makanan tinggi serat seperti roti gandum, wortel, dan kacang merah.
  • Daging ikan, minimal dua kali seminggu. Asam lemak omega-3 dalam ikan terbukti mampu menurunkan risiko stroke. Contohnya tuna, teri basah, lele, dan nila.
  • Daging sapi dan unggas tanpa lemak dan kulitnya.
  • Produk susu rendah lemak seperti yogurt bebas lemak untuk membantu menurunkan tekanan darah.

Selain itu, makanan yang kaya akan asam folat; vitamin B6, B12, C, dan E; serta makanan yang tinggi kalium dan magnesium dapat menurunkan risiko stroke dan memperbaiki fungsi tubuh setelah stroke. Contoh makanannya yaitu kacang almond, biji labu, tomat, jeruk, sereal, ubi jalar, bawang putih, dan pisang.

Mengatasi nafsu makan yang menurun setelah serangan stroke

Setelah serangan stroke, selera makan biasanya menurun drastis. Untuk mengatasinya, Anda perlu menerapkan berbagai strategi agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi.

  • Memasak makanan sehat dengan bumbu masak yang aromanya sedap seperti daun jeruk dan bumbu masak lainnya sebagai pengganti garam.
  • Sajikan makanan agar terlihat menarik, misalnya masak sup dengan sayuran beraneka warna seperti wortel, sayuran hijau, dan tomat.
  • Memotong makanan dalam ukuran kecil agar lebih mudah dikunyah.
  • Pilih makanan yang lunak dan mudah dikunyah seperti pisang, yogurt, dan oatmeal.

Memerhatikan asupan makanan untuk penderita stroke bisa mencegah komplikasi dan kemungkinan stroke kambuh. Sedangkan jika Anda makan sembarangan, Anda juga berisiko mengalami penyakit lainnya seperti jantung, kolesterol, hipertensi, obesitas, diabetes, hingga gagal ginjal.

Selain memerhatikan makanan, Anda juga perlu menjalani serangkaian pola hidup sehat lainnya seperti olahraga rutin untuk menjaga kondisi tetap sehat dan bugar setelah serangan stroke.

Baca Juga:

dr. Raissa Edwina Djuanda, M. Gizi, Sp.GK. Gizi Klinik

Dokter Raissa menamatkan studi dokter umum, magister gizi, dan spesialis gizi klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ...

Selengkapnya
dr. Raissa Edwina Djuanda, M. Gizi, Sp.GK. Gizi Klinik

Dokter Raissa menamatkan studi dokter umum, magister gizi, dan spesialis gizi klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dokter yang pernah mendapatkan penghargaan dari Rektor Universitas Indonesia sebagai mahasiswa berprestasi ini, pernah menjabat sebagai Manager Gizi Atlet di Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas.

Untuk memperdalam ilmunya, beliau selalu aktif mengikuti pelatihan mengenai gizi dan nutrisi hingga asupan nutrisi untuk penderita penyakit metabolik dan degeneratif. Pada tahun 2019, beliau mendapatkan sertifikasi dari Harvard Medical School dalam mengikuti pelatihan mengenai “Obesity Medicine.”

Beberapa kali beliau juga aktif menjadi narasumber acara mengenai gizi di televisi, radio, surat kabar, sosial media, hingga seminar. Di tengah aktivitasnya, beliau kini menjadi tim medis di Persatuan Atletik Seluruh Indonesia.

Dokter Raissa bisa ditemui di tempat praktik pribadinya di Sawo 15 Menteng, atau di RS Pondok Indah - Puri Indah dan di RS Metropolitan Medical Center.

Selengkapnya