Bukan Karena Gen, Ini Penyebab Obesitas Pada Anak yang Ortunya Juga Obesitas

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12/12/2019
Bagikan sekarang

Sebagian besar orang biasanya akan menjawab “faktor genetik” ketika ditanya mengenai penyebab obesitas pada anak. Tidak salah memang, karena genetik dan riwayat keluarga yang bertubuh gemuk turut menjadi penentu kondisi tubuh seorang anak. Akan tetapi, faktanya, genetik bukanlah satu-satunya faktor pemicu obesitas. Lantas, selain genetik, mengapa kebanyakan anak  obesitas memiliki orangtua yang obesitas pula?

Apakah obesitas pada anak diturunkan dari orangtua?

Genetik alias keturunan bisa dikatakan sebagai faktor risiko yang cukup erat kaitannya terhadap kejadian obesitas pada anak. Seorang anak yang memiliki riwayat keluarga dengan bobot tubuh obesitas, punya risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami obesitas dibandingkan dengan anak dari orangtua yang berat badannya ideal.

Atas dasar inilah, banyak beredar anggapan di masyarakat bahwa ketika ada satu atau kedua pasangan yang obesitas, pasti akan melahirkan anak yang obesitas pula. Hal ini seolah sudah harga mati dan tidak bisa ditangani lagi, karena alasan faktor keturunan adalah penyebab obesitas pada anak. Padahal, genetik bukan lah satu-satunya faktor penentu peluang seorang anak mengalami obesitas.

obesitas pada anak

Kebiasaan makan orangtua juga bisa “diturunkan” pada anak

Sadar atau tidak, gaya hidup orangtua, kebiasaan makan yang diterapkan pada anak sedari kecil, serta kecenderungan anak untuk meniru perilaku orangtuanya menjadi sekian faktor penyebab obesitas pada anak yang sering dikesampingkan.

Teori tersebut disimpulkan setelah para peneliti dari UCLA Center for Health Policy Research menemukan bahwa anak dan remaja di rentang usia 2-17 tahun lebih memilih untuk makan buah dan sayuran karena melihat orangtua mereka melakukannya.

Sebaliknya, anak dan remaja yang orangtuanya sering mengonsumsi makanan cepat saji serta minuman bersoda cenderung untuk meniru perilaku tersebut, dilansir dari laman Live Science.

Singkatnya begini, apa yang menjadi kegemaran orangtua secara tidak langsung akan dijadikan panutan oleh anak, entah itu baik atau buruk. Anak hanya berpikir bahwa semua yang dilakukan dan diterapkan oleh orangtuanya merupakan suatu hal yang pantas untuk ditiru.

Susan H. Babey, selaku salah satu peneliti menambahkan bahwa gaya hidup, pola makan anak, beserta semua jenis makanan adalah kebiasaan harian keluarga yang dimulai dari dalam rumah.

Tak heran, apa yang dilakukan dan diajarkan orangtua dalam keseharian anak, akan terus terbawa hingga keluar rumah bahkan sampai sang anak tumbuh dewasa. Itulah mengapa, lingkungan sekitar turut menempati salah satu penyebab obesitas pada anak. Jadi penyebab obesitas pada anak itu tidak sesederhana “karena keturunan” saja.

Kuncinya, terapkan pola hidup sehat

Sekarang Anda mungkin sudah lebih memahami kalau genetik bukanlah faktor utama penyebab obesitas pada anak. Pasalnya, semua makanan dan minuman yang dikonsumsi, serta pola hidup sehari-hari dapat berpengaruh secara langsung sehingga kemudian berkembang menjadi obesitas. Terutama bila Anda mewarisi gen pemicu obesitas dalam keluarga.

Gaya hidup yang kurang sehat akan dengan mudah berkolaborasi bersama gen obesitas tersebut. Akibatnya, Anda dan si kecil memiliki peluang berkali-kali lipat lebih besar untuk mengalami obesitas. Anda tentu tidak ingin kebiasaan buruk ini semakin bertambah parah, bukan?

Sebaiknya, jangan serta-merta langsung mengubah kebiasaan sehari-hari anak, karena toh mereka juga akan tetap meniru perilaku Anda. Sebagai solusinya, mulailah dari diri Anda dan pasangan terlebih dahulu. Dengan begitu, anak jadi lebih terpacu ketika melihat ada peran orangtuanya yang ikut mendukung perubahan positif ini.

Usahakan untuk memilah-milah mana makanan yang baik, mana yang harus dikurangi, hingga mana yang harus dihilangkan sama sekali.

Berikan porsi yang sesuai dengan kebutuhan anak, jangan terlalu banyak maupun sedikit. Selain itu, tetapkan batas aturan ngemil dalam sehari jika anggota keluarga Anda gemar ngemil.

Bahkan, Anda bisa menjadwalkan olahraga bersama paling tidak seminggu sekali. Tidak hanya sekadar menjaga tubuh tetap bugar, seluruh anggota keluarga juga akan merasa lebih bersemangat untuk mencapai berat badan ideal.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Anak Obesitas Masih Boleh Makan Makanan Berlemak?

Lemak identik dengan berat badan yang bertambah. Jika demikian, bolehkah anak yang mengalami obesitas makan makanan mengandung lemak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu

3 Manfaat Penting Buah dan Sayur Bagi Anak yang Sayang Jika Dilewatkan

Makanan tinggi serat penting untuk tumbuh kembang anak. Memang, apa saja manfaatnya makan sayur dan buah untuk bayi yang perlu orangtua tahu?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Cara Mengukur Lingkar Perut yang Benar

Kesehatan tubuh bisa dideteksi lewat seberapa lebar lingkar perut Anda, lho! Yuk, cari tahu cara mengukur lingkar perut yang benar di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Mengatur Kebiasaan Makan yang Sehat untuk Mencegah Obesitas

Kebiasan makan yang buruk sering kali menjadi biang kerok dari obesitas. Lalu apa saja kebiasaan makan yang perlu diatur kembali untuk cegah obesitas?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji

Direkomendasikan untuk Anda

dampak obesitas terhadap kesehatan mental anak

Obesitas pada Anak Berisiko Terhadap Depresi dan Stres Saat Dewasa

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 09/05/2020
bahaya bubble tea

Benarkah Ada Bahaya Minum Bubble Tea untuk Kesehatan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 11/03/2020
perkembangan otak anak obesitas

Obesitas Pada Anak Bisa Memengaruhi Perkembangan Otaknya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 22/01/2020
anak kebanyakan makan cokelat

Si Kecil Gila Cokelat di Hari Natal? Batasi Asupannya ya, Bu!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 25/12/2019