Semua yang Perlu Anda Tahu Tentang Kanker Usus Besar (Kanker Kolorektal)

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/11/2019
Bagikan sekarang

Berdasarkan informasi yang didapat dari Komite Penanggulangan Kanker Nasional Kemenkes RI, angka kejadian kanker usus besar di Indonesia adalah 12,8 per 100.000 penduduk usia dewasa, dengan tingkat kematian mencapai 9,5% dari total seluruh kasus kanker. Berikut adalah semua informasi yang wajib Anda ketahui seputar kanker usus besar, yang juga sering disebut kanker kolorektal — penyebab, gejala, risiko, serta cara mengobatinya.

Apa itu kanker usus besar (kolorektal)?

Kanker usus besar adalah kanker ketiga yang paling sering terjadi di dunia, dengan hampir 1,4 juta kasus baru didiagnosis pada tahun 2012.

Usus besar adalah bagian terakhir dari sistem pencernaan yang berfungsi sebagai saluran pembuangan kotoran tubuh. Usus besar bisa berukuran hingga sepanjang 1,5 m. Di bagian ujung ujung besar terdapat rektum. Kanker kolorektal terjadi ketika adanya pertumbuhan sel kanker pada bagian akhir sistem pencernaan ini, termasuk usus, anus (rektum), dan usus buntu. Kanker usus dan kanker rektum terjadi di posisi yang berbeda, namun sering menimbulkan gejala yang sama sehingga dikelompokkan bersama sebagai kanker kolorektal.

Apa penyebab kanker kolorektal?

Seperti kebanyakan kanker lainnya, kanker kolorektal terjadi saat adanya pertumbuhan sel abnormal di area usus besar dan rektum sehingga menyebabkan tumor atau polip. Sebagian polip kemudian mengganas menjadi kanker seiring waktu. Ini disebut sebagai kanker primer. Kanker kolorektal bisa juga terjadi akibat sel kanker dari bagian tubuh lainnya yang menyebar ke usus besar atau rektum. Ini disebut dengan metastasis.

Kebanyakan kanker kolorektal merupakan adenokarsinoma, yaitu kanker yang dimulai di sel-sel penghasil dan pelepas lendir dan cairan lainnya. Adenokarsinoma menyebabkan lebih dari 95% kasus kanker kolorektal. Kanker ini dimulai di sel-sel yang membentuk kelenjar penghasil lendir yang melumasi bagian dalam dinding usus besar dan rektum.

Siapa saja yang berisiko terkena kanker usus besar?

Siapa saja dapat terkena kanker, termasuk juga kanker usus besar. Skrining kanker lebih direkomendasikan bagi sebagian besar orang yang berusia lebih dari 50 tahun. Tapi ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko Anda terkena kanker usus besar. Menurut data GLOBOCAN 2012, kanker usus besar di Indonesia sekarang menempati urutan nomor 3, karena mengalami peningkatan tajam yang diakibatkan oleh perubahan pola makan orang Indonesia yang lebih tinggi lemak serta rendah serat.

Selain itu, jika Anda memiliki faktor-faktor risiko berikut ini, maka Anda harus mulai melakukan skrining lebih dini sejak usia muda.

  • Anda pernah terkena kanker kolorektal atau polip di masa lalu
  • Anda memiliki riwayat keluarga terkait kanker kolorektal atau polip
  • Anda memiliki kolitis ulseratif atau penyakit Crohn
  • Anda memiliki warisan sindrom kanker usus besar

Apa saja tanda dan gejala kanker kolorektal?

Di tahap awal, polip kolorektal bisa tidak terdeteksi dan tidak menimbulkan gejala. Namun, seiring polip berkembang menjadi tumor kanker yang besar, Anda bisa mengalami beberapa gejala yang meliputi:

  • Diare atau sembelit
  • Perasaan bahwa buang air besar Anda tidak sepenuhnya tuntas
  • Feses berdarah (baik merah terang atau sangat gelap)
  • Feses yang lebih pendek dari biasanya
  • Sering mengalami nyeri atau kram perut akibat gas, atau perasaan kenyang atau kembung
  • Berat badan turun tanpa diketahui alasannya
  • Kelelahan 
  • Mual atau muntah

Rangkaian gejala di atas mungkin saja disalahpahami sebagai gejala dari kondisi kesehatan lainnya. Oleh karena itu, Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami:

  • Keluar darah dari anus
  • Darah di feses atau di toilet setelah Anda buang air besar
  • Perubahan pada bentuk atau konsistensi feses (seperti diare atau sembelit yang berlangsung selama beberapa minggu)
  • Nyeri kram di perut bagian bawah
  • Perasaaan ketidaknyamanan atau dorongan untuk buang air besar saat tidak butuh untuk buang air besar
  • Kelemahan atau kelelahan
  • Penurunan berat badan yang tidak disengaja

Setiap orang bisa mengalami kanker dengan cara yang berbeda. Anda bisa tidak mengalami gejala sama sekali atau mengalami gejala dengan tingkat keparahan yang berbeda dengan orang lain. Salah satu gejala umum pada penderita kanker kolorektal adalah perasaan sakit umum dan kesulitan buang air besar.

Komplikasi apa yang mungkin terjadi akibat kanker usus besar?

Komplikasi paling umum dari kanker kolorektal adalah kanker yang menjalar ke bagian tubuh lainnya. Pengobatan kanker kolorektal juga menyebabkan beberapa komplikasi seperti:

  • Retensi urin 
  • Kebocoran dari lokasi bedah
  • Nyeri
  • Reaksi alergi kulit atau sensasi terbakar
  • Penyumbatan mekanis (penyempitan)
  • Perdarahan dan radionekrosis (kerusakan jaringan akibat energi radiasi)
  • Mual, muntah
  • Diare
  • Ketidakmampuan untuk melawan infeksi
  • Reaksi alergi

Bagaimana kanker kolorektal didiagnosis oleh dokter?

Kebanyakan orang baru mendapatkan diagnosis saat muncul gejala. Namun, kanker kolorektal stadium awal sering tidak menimbulkan gejala, sehingga kebanyakan pasien baru mendapatkan diagnosis saat kanker mereka telah mencapai stadium lanjut. Inilah mengapa Anda harus menjalani tes skrining yang dianjurkan secara rutin untuk memeriksakan kondisi Anda.

1. Pemeriksaan rektum secara digital

Dokter akan meraba untuk memeriksa adanya polip atau pertumbuhan di usus besar Anda dengan memasukkan satu jari bersarung ke dalam rektum Anda.

2. Enema barium

Enema barium dilakukan dokter untuk menyuntikkan cairan ke dalam rektum Anda (enema) guna membuat usus besar tampak lebih jelas pada foto rontgen. Dokter akan memeriksa hasil pemindaiannya untuk menemukan adanya kelainan.

3. Tes darah samar

Dokter akan memberikan alat pada Anda untuk mengambil sampel feses di rumah. Setelahnya, Anda bisa membawanya ke dokter untuk diperiksa apakah ditemukan darah di feses. Anda mungkin harus puasa makanan dan obat-obatan tertentu untuk membuat tes ini efektif.

4. Tes DNA feses

Ini adalah tes feses lain untuk memeriksa sel kanker di feses. Jika tes darah sebelumnya menunjukkan hasil positif, dokter kemungkinan akan meminta Anda menjalani tes ini.

5. Kolonoskopi

Kolonoskopi dilakukan menggunakan selang tipis dan fleksibel yang dimasukkan ke dalam rektum untuk memeriksa seluruh usus besar. Kolonoskopi bisa terasa tidak nyaman, tetapi biasanya tidak menyakitkan.

6. Kolonoskopi virtual

Tes baru ini menggunakan CT scan untuk membuat model usus besar Anda di komputer. Jika dokter menemukan polip atau kelainan lainnya, Anda akan harus menjalani kolonoskopi tradisional untuk memeriksanya secara lebih rinci atau untuk mengangkatnya.

Apa saja pengobatan untuk kanker kolorektal?

Jika Anda terkena kanker usus besar, dokter akan menjelaskan berbagai pilihan pengobatan pada Anda. Biasanya pengobatan kanker akan termasuk:

Operasi

Operasi umumnya adalah pengobatan utama untuk kanker usus besar dan kanker rektum. Dokter akan menggunakan metode ini untuk mengangkat tumor.

Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga Anda harus menjalani imunoterapi untuk mencegah infeksi selama pengobatan. Kombinasi pengobatan ini terbukti mengurangi penyebaran kanker secara lebih efektif daripada hanya menggunakan kemoterapi secara independen.

Terkadang dokter akan menganjurkan kemoterapi setelah operasi untuk membunuh sel-sel kanker yang tidak bisa diangkat sepenuhnya. Metode ini juga sering digunakan jika ada kemungkinan kekambuhan.

Tersedia banyak obat-obatan yang berbeda untuk pengobatan kemoterapi dan imunoterapi. Dokter akan membantu Anda menentukan obat apa yang tepat untuk kebutuhan Anda.

Radioterapi

Pengobatan ini menggunakan radiasi untuk membunuh sel-sel kanker. Radioterapi bisa digunakan sebelum operasi untuk mengurangi ukuran tumor kanker. Terkadang baik radioterapi dan kemoterapi digunakan setelah operasi.

Bagaimana cara mengatasi kanker kolorektal?

Meksipun tidak ada jaminan bahwa Anda akan kebal dari kanker kolorektal, Anda bisa menjalani gaya hidup sehat untuk mengurangi risiko kanker dan mengatasi kanker dengan lebih baik jika Anda dinyatakan positif kanker. Anda bisa mulai dengan hal yang mendasar terlebih dahulu, yaitu dengan:

Skrining rutin

Menjalani pemeriksaan kesehatan rutin bisa mendeteksi tanda-tanda kanker usus besar secara dini dan meningkatkan kemungkinan keberhasilan pengobatan. Jika Anda saat ini menderita kanker kolorektal, Anda membutuhkan pemeriksaan rutin untuk memeriksa jika ada pertumbuhan baru atau metastasis ke area lain. Beberapa tes yang umum adalah tes darah CEA (carcinoembryonic antigen), CT scan (computed tomographic).

Ubah pola makan

Pengobatan kanker bisa menjadi sangat melelahkan dan makan mungkin adalah hal terakhir yang Anda pikirkan. Anda bisa mengalami gejala yang membuat sulit makan, seperti mual dan muntah. Efek samping pengobatan ini bisa membuat Anda sering mengalami penurunan berat badan. Anda mungkin merasa bahwa makan dengan porsi lebih kecil setiap 2 sampai 3 jam sangat membantu sampai Anda merasa lebih baik. Anda mungkin juga ingin bertanya pada tim kanker Anda perihal mengunjungi ahli gizi, seorang ahli nutrisi yang bisa memberikan Anda ide cara untuk mengatasi efek samping pengobatan ini.

Rutin olahraga

Salah satu efek samping dari pengobatan kanker adalah rasa kelelahan, yang bisa menyebabkan penurunan tingkat aktivitas. Tapi Anda harus tetap rajin berolahraga meski sedang sibuk melawan kanker. Aktivitas fisik yang rutin justru bisa membantu Anda mengurangi kelelahan. Jika Anda tidak bergerak aktif selama pengobatan, akibatnya tingkat kebugaran tubuh serta ketahanan dan kekuatan otot pun menurun. Jika Anda tidak pernah terbiasa berolahraga sebelumnya, mulailah perlahan, misalnya dengan jalan kaki keliling komplek rumah. Diskusikan dengan dokter setiap rencana olahraga anda, agar dapat disesuaikan dengan kondisi Anda saat ini. 

Perbanyak istirahat

Jika Anda merasa sangat lelah, jangan paksakan untuk berolahraga dan imbangi aktivitas fisik Anda dengan istirahat. Anda boleh saja beristirahat saat Anda memang membutuhkannya. Terkadang sangat sulit bagi seseorang untuk membiarkan dirinya beristirahat saat ia terbiasa bekerja sepanjang hari atau mengurus pekerjaan rumah tangga, tetapi ini bukanlah waktu untuk memaksakan diri Anda. Dengarkan tubuh Anda dan beristirahatlah saat Anda membutuhkannya.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

3 Cara Jitu Mencegah Mimpi Basah Saat Puasa

Baik laki-laki remaja maupun pria dewasa sama-sama bisa mengalami mimpi basah. Lantas, adakah cara untuk mencegah mimpi basah saat puasa?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 24/04/2020

Kanker Usus Besar

Kanker usus besar adalah penyakit yang menyerang sistem pencernaan. Yuk, pelajari lebih dalam mengenai gejala, penyebab, dan cara mengatasiny berikut ini.

Ditulis oleh: Aprinda Puji

Maag (Dispepsia)

Sakit maag adalah penyakit yang tak boleh disepelekan. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, obat, serta cara mencegahnya di Hello Sehat.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Berbagai Pilihan Pengobatan Efektif untuk Kanker Ginjal

Pertumbuhan sel kanker dari ginjal tergolong cepat, pengobatan harus segera dilakukan jika sudah terdiagnosis. Simak berbagai pilihan pengobatannya.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Direkomendasikan untuk Anda

mulut terasa pahit saat puasa

5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 19/05/2020
air mani keluar saat puasa

4 Cara Mencegah Keluar Air Mani Saat Puasa

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020
tips jogging saat puasa

5 Tips Aman Tetap Jogging Saat Puasa

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020
tips puasa untuk penderita maag

Panduan Berpuasa Bagi Penderita Maag

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Dipublikasikan tanggal: 30/04/2020