Mengenal Tes IVA, Salah Satu Pemeriksaan Medis untuk Deteksi Dini Kanker Serviks

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Kanker serviks adalah satu dari sekian banyak jenis kanker yang kerap menyerang wanita. Dengan melakukan deteksi sejak dini, peluang kesembuhan kanker serviks dapat meningkat. Ada beberapa cara untuk mendeteksi kanker serviks, salah satunya dengan melakukan IVA test alias pemeriksaan IVA.

Apa itu IVA test?

tes pap smear

Terdapat berbagai macam jenis pemeriksaan untuk kanker serviks. Selain pap smear—yang paling populer untuk kanker serviks— IVA test juga menjadi salah satu cara mendeteksi kanker serviks.

IVA test adalah metode inspeksi visual dengan asam asetat, atau dikenal juga dengan sebutan visual inspection with acetic acid (VIA).

Seperti namanya, IVA test adalah suatu cara mendiagnosis dini kemungkinan adanya kanker serviks dengan menggunakan asam asetat. Hasil pemeriksaan yang muncul dapat melihat apakah terdapat pertumbuhan sel prakanker di dalam serviks alias leher rahim atau tidak.

Bagaimana prosedur melakukan IVA test?

berhubungan seks setelah pap smear

Pemeriksaan IVA bertujuan sebagai skrining awal untuk mendeteksi gejala-gejala kanker serviks serta mencegah terjadinya komplikasi.

Sekilas, proses pemeriksaan pap smear dan IVA tampak sama. Sebelum mulai IVA test, Anda akan diminta untuk berbaring dengan posisi kedua kaki terbuka lebar atau mengangkang.

Selanjutnya, dokter atau bidan memasukkan alat berupa spekulum ke dalam vagina. Alat spekulum bertujuan untuk membuat vagina terbuka lebar, sehingga memudahkan untuk mengamati bagian serviks atau leher rahim.

Setelahnya, asam asetat atau asam cuka dengan kadar sekitar 3-5% diusapkan pada dinding serviks.

Tak seperti pap smear yang harus menunggu beberapa hari untuk mengetahui hasilnya, hasil IVA test bisa langsung terlihat beberapa saat setelah pemeriksaan berlangsung.

Biasanya, sel-sel dinding serviks yang normal tidak akan mengalami perubahan apa pun (warna) ketika dioleskan asam asetat.

Sebaliknya, apabila terdapat masalah pada sel-sel dinding serviks, misalnya merupakan sel prakanker atau sel kanker, otomatis warna serviks akan berubah menjadi putih.

Oleh karena itulah, IVA test termasuk salah satu pemeriksaan dini kanker serviks yang bisa mengetahui hasilnya dengan cepat.

Pemeriksaan ini umumnya tidak menyakitkan dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit .

Pemeriksaan yang cenderung singkat dan tanpa melalui pemeriksaan laboratorium yang kompleks membuat IVA test relatif terjangkau ketimbang metode deteksi dini kanker serviks lainnya, seperti pap smear.

Kelebihan pemeriksaan IVA

kanker serviks stadium 1

Sebagaimana dilansir dari Situasi Penyakit Kanker dari Pusat Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan RI, beberapa kelebihan IVA test untuk kanker serviks dibandingkan metode lainnya, antara lain:

  • Pemeriksaan lebih sederhana, cepat, dan mudah.
  • Tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium yang rumit sehingga hasilnya bisa langsung diketahui.
  • Tidak harus di rumah sakit, tapi bisa juga di puskesmas dengan dokter umum ataupun bidan.
  • Dinilai lebih efektif karena bisa dilakukan dengan sekali datang (kunjungan tunggal).
  • Deteksi dini dengan IVA test memiliki cakupan sekitar 80 persen dalam kurun waktu sekitar 5 tahun, dan diperkirakan dapat menurunkan kemungkinan kanker serviks secara signifikan.
  • IVA test memiliki sensitivitas sekitar 77% persen (rentang antara 56-94 persen), dan spesifitas kurang lebih 86 persen (rentang antara 74-94 persen).

Bagaimana cara membaca hasil IVA test?

dideteksi lewat pap smear

Hasil dari IVA test bisa segera Anda ketahui setelah pemeriksaan selesai. Sebagai gambaran, berikut penjelasan masing-masing hasil dari IVA test:

Tes IVA negatif

IVA test yang menunjukkan hasil negatif merupakan sebuah kabar baik. Artinya, tidak ditemukan adanya pertumbuhan sel prakanker ataupun sel kanker di dalam serviks atau leher rahim Anda. Hasil pemeriksaan ini berarti normal.

Tes IVA radang

IVA test yang hasilnya menunjukkan radang menandakan adanya peradangan di leher rahim atau serviks.  Peradangan ini bisa termasuk temuan jinak, seperti adanya polip.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya Anda akan diberi pengobatan tertentu terlebih dahulu, sampai sekiranya polip telah hilang dan serviks kembali normal.

Setelah itu, IVA test baru bisa diulangi kembali untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Tes IVA positif

Berkebalikan dengan IVA test dengan hasil negatif, hasil positif pada pemeriksaan IVA justru menunjukkan adanya kelainan pada serviks.

Hasil IVA bisa dikatakan positif ketika ditemukan adanya warna putih (acetowhite) pada serviks setelah dioleskan dengan cairan asam asetat atau asam cuka. Kondisi ini bisa menandakan adanya pertumbuhan sel-sel prakanker.

Tes IVA kanker serviks

Hasil IVA test ini menandakan kalau ada kelainan pada pertumbuhan sel di dalam serviks. Hal ini bisa diakibatkan karena adanya pertumbuhan sel kanker.

Kapan IVA test bisa dilakukan?

kanker serviks stadium 3

Mengutip dari laman Kementerian Kesehatan RI, data Globocan 2018 menunjukkan bahwa jumlah kasus kanker baru di Indonesia, yakni sekitar 348.809.

Peringkat tertinggi dari jumlah kasus penyakit kanker tersebut diduduki oleh kanker payudara, dan diikuti oleh kanker serviks di urutan kedua.

Angka kasus kejadian kanker serviks diperkirakan sekitar 23 orang per 100.000 penduduk. Atas dasar inilah, para wanita disarankan untuk melakukan deteksi dini.

IVA test bisa menjadi salah satu pilihan untuk deteksi dini kanker serviks. Lantas, kapan waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan IVA?

Salah satu kelebihan IVA test ketimbang pemeriksaan lainnya adalah aman dilakukan kapan pun. Sebelum, saat, dan sesudah menstruasi tak jadi masalah.

Perlukah melakukan pemeriksaan lainnya setelah IVA test?

tes biopsi hati

Melakukan deteksi dini kanker serviks, salah satunya dengan menggunakan IVA test, memang langkah paling awal untuk mengetahui kemungkinan perkembangan sel kanker.

Jika hasil dari IVA test memperkirakan adanya perkembangan sel kanker di dalam serviks, dokter biasanya tidak langsung mengambil tindakan pengobatan kanker serviks.

Sebelum sampai ke tahap tersebut, dokter bisa saja melakukan pemeriksaan lainnya lebih dulu guna mencari tahu kebenaran dari perkembangan sel kanker serviks tersebut. Memastikan adanya pertumbuhan sel kanker bisa dilakukan dokter dengan tes pap smear.

Jika sel di dalam kanker serviks masih tampak abnormal, ada beberapa pemeriksaan lain yang bisa dilakukan guna memastikan kondisi Anda. Berikut contohnya:

Kolposkopi

Proses pemeriksaan kolposkopi sebenarnya hampir serupa dengan IVA test. Dokter akan meminta Anda untuk berbaring dengan posisi kedua kaki terbuka lebar, sehingga alat spekulum bisa dimasukkan dengan mudah.

Bedanya, pada pemeriksaan kolposkopi ini dokter menggunakan alat berupa kolposkop yang akan membantu memeriksa kondisi serviks Anda. Dokter tidak akan akan memasukkan kolposkop ke dalam vagina, tetapi tetap akan berada di luar tubuh.

Alat kolposkop memiliki kaca pembesar yang berguna untuk memudahkan dalam mengamati permukaan serviks atau leher rahim. Sama pula seperti pemeriksaan IVA, tes kolposkopi juga akan menggunakan asam asetat tapi dalam kadar yang lemah.

Cairan tersebut dioleskan ke dalam leher rahim atau serviks, sehingga bisa menimbulkan perubahan pada area abnormal yang kemungkinan ditumbuhi oleh sel kanker. Jaringan abnormal yang terdeteksi selanjutnya diambil dan diteliti lebih jauh di laboratorium.

Biopsi serviks

Biopsi serviks bisa jadi pilihan pemeriksaan lanjutan selain kolposkopi. Biopsi bukan selalu mengenai prosedur pembedahan untuk mengambil benjolan pada tubuh.

Sebenarnya, ada dua jensi biopsi, yakni insisi dan eksisi. Proses pembedahan yang mengambil benjolan tergolong ke dalam jenis biopsi eksisi.

Sementara itum biopsi insisi lebih mengarah pada mengambil sampel jaringan yang dicurigai berisiko berkembang menjadi penyakit.

Jadi, biopsi yang berguna sebagai pemeriksaan lanjutan dari deteksi dini dengan IVA test adalah jenis biopsi insisi.

Pemeriksaan biopsi ini akan membantu mencari tahu kemungkinan adanya sel prakanker dan sel kanker di dalam serviks. Tiga cara yang bisa dilakukan dalam proses biopsi serviks meliputi biopsi kolposkopi, biopsi cone, dan kuretase endoserviks (pengikisan endoserviks).

Cegah kanker serviks sedini mungkin

vaksin TORCH

Kanker serviks menjadi satu-satunya jenis kanker yang bisa dicegah secara nyata.

Ya, Anda bisa menghindari penularan kanker serviks yang diakibatkan oleh virus HPV. Virus HPV adalah penyebab kanker serviks.

Mendapatkan vaksin bisa membuat tubuh Anda menciptakan sistem kekebalan untuk virus tersebut.

Caranya dengan vaksin kanker serviks alias vaksin HPV. Vaksin HPV terbukti dapat menghindarkan kaum wanita dari kanker serviks.

National Cancer Institute, Amerika Serikat menyebutkan bahwa vaksin HPV dapat mencegah 97 persen kasus kanker serviks pada wanita.

Maka dari itu, sebaiknya segera lakukan vaksinasi HPV dengan mengunjungi pelayanan kesehatan terdekat. Saat ini sudah banyak pelayanan kesehatan yang menyediakan fasilitas vaksin HPV.

Tak hanya wanita dewasa, Anda juga dapat mengajak anak Anda untuk mendapatkan vaksin HPV. Vaksin ini dinilai efektif saat dilakukan pada anak berusia 9-10 tahun.

Selain melakukan vaksin untuk mencegah infeksi HPV seperti kanker serviks, Anda juga dianjurkan untuk melakukan skrining secara rutin.

Melakukan skrining kanker serviks dengan frekuensi 5 tahun sekali dapat menurunkan angka kejadian kasus kanker serviks.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 28, 2018 | Terakhir Diedit: Januari 22, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca