Data Prevalensi Kanker Paru di Indonesia, Perokok Kelompok Paling Berisiko

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Kanker paru merupakan jenis kanker dengan prevalensi terbesar di Indonesia setelah kanker payudara dan kanker serviks. Data dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menunjukkan peningkatan prevalensi kanker paru dari angka kunjungan hingga 10 kali lipat dalam 15 tahun terakhir.

Dalam konferensi pers Harapan dan Tantangan Penatalaksaaan Kanker Paru di Indonesia di Jakarta (11/2/2020), PDPI menyebut situasi kanker paru di Indonesia ini telah memasuki zona serius sehingga diperlukan perhatian khusus dalam hal kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit ini.

Peningkatan kasus kanker paru di Indonesia dipicu oleh berbagai hal, mulai dari kurangnya kesadaran akan penyakit, sulitnya deteksi medis terhadap kanker paru hingga faktor risiko utama yaitu rokok.

Siapa penderita kanker paru terbesar di Indonesia?

Kanker paru adalah penyakit paling mematikan nomor satu di Indonesia yang telah membunuh hampir 1,8 juta orang setiap tahunnya. Kanker paru bisa menyebabkan penderitanya meninggal lebih cepat dibandingkan waktu harapan hidup yang ditentukan oleh diagnosis medis.

Insiden tertinggi penyakit ini dialami oleh laki-laki dan 11,2 persen di antaranya adalah perempuan. Sementara laki-laki yang memiliki faktor risiko kanker paru jumlahnya mencapai 80 persen dan kelompok perempuan dengan faktor risiko adalah 40 persen.

Berdasarkan prevalensi di Indonesia, faktor risiko terbesar dari kanker paru adalah rokok. Laki-laki menjadi kelompok penyintas dan pemilik faktor risiko terbesar karena mayoritas perokok aktif di Indonesia adalah laki-laki.

Kendati demikian, perokok pasif yang terkena paparan asap rokok secara rutin juga berpeluang untuk terjangkit kanker paru.

“Asap rokok yang terhisap dan masuk ke paru-paru merupakan pemicu utama dari kanker paru. Munculnya sel kanker tidak hanya disebabkan oleh karsinogen yang terkandung dalam asap rokok, tapi juga kemampuan asap rokok mengiritasi paru,” ujar Ketua Pokja Kanker Paru PDPI dr. Elisna Syahruddin.

Selain asap rokok, dr. Elisna juga memaparkan beberapa kondisi lain yang juga menjadi faktor risiko kanker paru seperti polusi udara di lingkungan, paparan material asbes, penyakit tuberkulosis paru, dan  pengaruh faktor genetik.

Tantangan mengendalikan prevalensi kanker paru di Indonesia

Kanker paru merupakan salah satu jenis kanker yang paling sulit dideteksi sejak dini. Hampir 80 persen penderita memperoleh diagnosis pasti ketika sudah sampai pada stadium lanjut. Padahal terlambatnya penanganan terhadap kanker paru berimbas pada menurunya mortalitas (kemampuan hidup) penderita.

Menurut dr. Elisna, hal ini disebabkan gejala kanker paru yang baru muncul ketika sel kanker telah berkembang pesat. Bagian paru yang terdampak oleh sel kanker juga memengaruhi waktu kemunculan gejala.

“Sangat sulit memprediksi kapan gejala kanker paru muncul. Paru-paru manusia itu luas sehingga sulit untuk mendeteksi keberadaan sel kanker. Namun, sel kanker yang menyerang bagian tengah paru lebih cepat memunculkan gejala yang kentara dibandingkan sel kanker yang berkembang dari bagian sisi paru,” jelas dr. Elisna.

Kondisi ini menjadi tantangan utama dalam pengendalian prevalensi kanker paru di Indonesia. Hingga saat ini, keterlambatan pengobatan kanker paru menjadi penyebab utama mengapa penderita meninggal lebih cepat dari estimasi waktu harapan hidup yang ditentukan secara medis.

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran tinggi terhadap keberadaan penyakit ini terutama dari kelompok orang yang berisiko terkena kanker paru, yaitu perokok.

“Sayangnya, tidak ada proses skrining yang bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker paru secara dini, tapi deteksi bisa dilakukan melalui pemeriksaan medis oleh spesialis pulmonologi di rumah sakit,” lanjut dr. Elisna.

Mengenali gejala awal juga bisa menjadi cara mewaspadai keberadaan sel kanker di paru-paru. Gejala kanker paru yang biasanya muncul pada kelompok berisiko meliputi batuk menerus dalam jangka waktu lama, batuk berdarah, dan kesulitan bernapas.

Pengobatan menurunkan prevalensi kanker paru di Indonesia

Selain melalui edukasi, PDPI juga menekankan pengobatan sebagai upaya lain dalam pengendalian prevalensi kanker paru di Indonesia. Pengobatan kanker paru menurunkan angka kesakitan (morbiditas) sekaligus meningkatkan peluang kesembuhan.

Peluang kesembuhan dari kanker paru cukup terbuka. Dengan pengobatan, meski belum sepenuhnya pulih dari kanker penderita tetap bisa menjalani hidup dengan normal.

Dokter Elisna menjelaskan bahwa standar pengobatan kanker paru di Indonesia sudah maju dan setara dengan pengobatan internasional.

Selama ini terdapat beberapa metode terapi dalam pengobatan kanker paru yang efektif dilakukan yaitu imunoterapi dan targeting treatment, yaitu pengobatan yang berfokus menghentikan perkembangan sel kanker pada bagian paru yang terdampak.

Jenis-jenis pengobatan kanker paru lainnya yang tersedia di Indonesia dalam upaya menurunkan prevalensi meliputi:

Pengobatan bisa menghilangkan sel kanker, tapi risiko kembalinya serangan sel kanker di paru tetap ada. Oleh karenanya, dibutuhkan pemantauan medis secara menerus terhadap perkembangan penyakit.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 11, 2020 | Terakhir Diedit: Februari 11, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca