4 Jenis Tes HIV yang Mungkin Dianjurkan Dokter, Plus Siapa Saja yang Perlu

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 23/03/2020 . 15 mins read
Bagikan sekarang

HIV atau human inmmunodeficiency virus adalah penyakit infeksi yang bisa menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Jika Anda termasuk orang yang berisiko tinggi tertular atau menularkan penyakit ini, wajib hukumnya untuk melakukan tes HIV sedini mungkin. Pemeriksaan secara medis dapat membantu Anda cepat mendapatkan pengobatan yang tepat sekaligus mencegah penularan HIV semakin meluas. Tes apa yang dapat dilakukan untuk pemeriksaan HIV dan AIDS?

Tujuan pemeriksaan HIV dan AIDS

HIV/AIDS harus diobati sejak dini karena penyakit ini dapat berpengaruh besar pada hidup Anda seterusnya. Pengidap HIV yang sudah sampai pada tahap AIDS umumnya hanya memiliki harapan hidup untuk 3 tahun ke depan.

Namun sebelum mulai pengobatan, dokter biasanya akan menganjurkan orang-orang yang berisiko tinggi untuk menjalani tes diagnostik terlebih dahulu. Hasil tes dapat membantu dokter menentukan diagnosis pada stadium mana Anda saat ini, dan kemudian merencanakan rejime pengobatan HIV yang tepat sasaran sesuai dengan kondisi Anda.

Setelah dokter mengatakan bahwa Anda positif HIV, Anda dapat memulai perawatan dengan antiretovirus. Obat ini tidak akan menyembuhkan HIV, akan tetapi dapat membantu Anda menjalani hidup yang lebih lama, juga lebih sehat.

Secara tidak langsung, Anda jugua dapat melindungi orang lain dari penyebaran HIV. Anda dapat menurunkan risiko penularan HIV kepada orang lain sebesar 96% jika rutin minum obat ARV.

Apabila hasil pemeriksaan menyatakan Anda tidak memiliki HIV maupun AIDS, ini juga dapat menguntungkan diri sendiri dan orang lain. Hasil tes HIV yang negatif dapat menjadi pengingat bagi Anda atau pasangan Anda mengenai pentingnya menerapkan langkah pencegahan penyakit dengan prinsip hubungan seks yang aman, seperti selalu memakai kondom, dan tidak bergonta-ganti pasangan seks.

Siapa saja yang perlu tes HIV?

Berdasarkan Peraturan dari Kementerian Kesehatan Indonesia, ada beberapa kondisi yang mengharuskan seseorang melakukan tes HIV dan AIDS. Prasyarat tersebut adalah:

  • Setiap orang dewasa, anak, dan remaja dengan kondisi medis yang diduga mengalami tanda-tanda terjadi infeksi HIV. Terutama yang memiliki riwayat tuberkulosis (TB) dan penyakit kelamin.
  • Asuhan antenatal pada ibu hamil dan ibu bersalin.
  • Laki-laki dewasa yang meminta sunat sebagai tindakan pencegahan HIV.

Bayi dan anak dengan kondisi di bawah ini juga memerlukan tes HIV:

  • Anak dengan kondisi penyakit yang berhubungan dengan HIV seperti TB berat, minum obat TB rutin, mengalami malnutrisi,  pneumonia, dan diare kronis.
  • Bayi yang baru lahir dari ibu terinfeksi HIV, meskipun sudah mendapatkan tindakan pencegahan penularan semasa hamil. 
  • Anak yang riwayat keluarganya tidak diketahui.
  • Orang yang berpotensi memiliki infeksi HIV melalui jarum suntik yang terkontaminasi, menerima transfusi berulang, dan sebab lainnya.
  • Anak yang mengalami kekerasan seksual.

Selain itu, tes HIV juga harus ditawarkan secara rutin kepada:

  • Pekerja seks komersil, pengguna NAPZA suntik (penasun), homoseksual (gay), dan transgender. Mereka setidaknya harus mengulang pemeriksaan HIV dan AIDS minimal setiap 6 bulan sekali.
  • Apabila Anda punya pasangan ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS) 
  • Ibu hamil atau ibu rumah tangga di wilayah epidemi (area yang punya banyak kasus HIV dan AIDS)
  • Pasien TB atau tuberkulosis.
  • Semua orang yang berkunjung ke rumah sakit, puskemas, atau balai kesehatan di daerah yang banyak kasus HIV
  • Pasien penyakit kelamin.
  • Pasien hepatitis
  • Warga binaan permasyarakatan.

Di luar dari yang sudah disebutkan di atas, tetap penting bagi Anda untuk menjalani pemeriksaan HIV maupun tes penyakit kelamin tahunan jika merasa tergolong sebagai kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi.

Kapan waktu yang tepat untuk tes HIV pertama kali?

Jika Anda tahu atau ingat betul bahwa paparan virus pertama terjadi kurang dari tiga bulan, tes HIV biasanya dianjurkan pada tiga bulan setelah paparan.

Namun, Avert, sebuah pusat informasi dan edukasi global tentang HIV, menyarankan bahwa bila seseorang pernah melakukan aktivitas yang berisiko HIV sebaiknya segera lakukan pemeriksaan kesehatan. Lebih cepat lebih baik daripada Anda harus menunggu dan terus merasa khawatir.

Kesimpulannya, bila Anda habis melakukan hal yang berisiko HIV jangan tunggu muncul gejala atau keluhan. Sebisa mungkin dalam waktu tiga bulan setelah Anda melakukan hal yang berisiko, pergi ke rumah sakit lagi untuk dites kembali untuk menguji keakuratan diagnosis awal.

Soal tes apa yang terbaik, tentunya dokter akan memberikan saran sesuai kondisi Anda. Dokter juga dapat memberikan mengenai tindakan pencegahan HIV yang harus Anda lakukan setelahnya.

Jenis-jenis tes HIV dan AIDS

Dalam banyak kasus, diagnosis HIV dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan beberapa tes diagnostik yang dilakukan dokter. Pemeriksaan HIV pada umumnya melibatkan tes darah karena jumlah virus terkandung paling banyak dalam darah.

Berikut adalah pilihannya:

1. Tes antibodi

Tes antibodi adalah metode pemeriksaan HIV dan AIDS paling umum. Tes HIV ini tujuannya bukan untuk mencari penyakit atau virus HIV, namun mencari protein penangkal penyakit (antibodi). Protein ini dapat ditemukan di dalam darah, urin, atau air liur.

Untuk melakukan pemeriksaan HIV ini, biasanya dokter atau perawat akan mengambil sedikit darah Anda sebagai sampel. Setelah itu, sampel akan dikirimkan ke laboratorium untuk pengujian. 

Antibodi khusus tersebut akan muncul dalam darah, atau dihasilkan tubuh, hanya jika Anda memang memiliki HIV. Umumnya butuh waktu sekitar 3-12 minggu bagi tubuh untuk menghasilkan antibodi HIV yang cukup sampai bisa terdeteksi dalam tes.

Beberapa dokter kemungkinan juga dapat menganjurkan pemeriksaan HIV lewat urin atau membran mulut Anda (bukan air liur). Namun, cairan-cairan tersebut biasanya tidak begitu banyak mengandung antibodi. Jadi, tes HIV lewat cairan urin atau mulut kemungkinan dapat menampakkan hasil negatif palsu atau positif palsu

2. Tes antibodi-antigen (ab-ag)

Tes HIV ab-ag adalah pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi yang ditujukan terhadap HIV-1 atau HIV-2. Pemeriksaan HIV ini juga bertujuan untuk menemukan protein p24, yang merupakan bagian dari inti virus (antigen dari virus). 

Pemeriksaan ab-ag penting karena biasanya memerlukan waktu mingguan sampai antibodi terbentuk setelah infeksi awal meski virus (dan protein p24) sudah ada dalam darah. Dengan demikian, pengujian ab-ag memungkinkan deteksi dini infeksi HIV.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa diagnosis HIV dapat ditegakkan rata-rata satu minggu lebih cepat lewat pemeriksaan Ab-Ag dibandingkan dengan tes antibodi saja. 

Cara kera tes ini menggunakan reaksi yang dikenal sebagai “chemiluminescence”. Reaksi chemilumenescene berguna untuk mendeteksi antibodi dan p24 protein antigen. Dengan kata lain, jika ada antibodi atau antigen, reaksi uji memancarkan cahaya yang tampil pada detektor.

Hanya ada satu tes antibodi-antigen yang disetujui saat ini, yaitu tes Arsitek HIV Ag/Ab Combo. Jika hasil tes ini positif, dokter akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, yaitu tes Western blot.

3. Tes serologi

Ada tiga jenis tes serologi yang umum direkomendasikan sebagai pemeriksaan HIV dan AIDS, yaitu:

Tes cepat

Tes cepat dengan reagen sudah dievaluasi dan direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan. Tes ini dapat mendeteksi baik antibodi terhadap HIV-1 maupun HIV-2.

Tes cepat dapat dijalankan meskipun hanya menggunakan jumlah sampel yang lebih sedikit. Selain itu, tes cepat hanya butuh sekitar 20 menit untuk mengetahui hasilnya.

Tes ini hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis yang sudah terlatih. 

Tes ELISA

Tes HIV ini mendeteksi antibodi untuk HIV-1 dan HIV-2 yang dilakukan dengan ELISA (enzyme-linked immunisorbent assay), atau dikenal juga dengan EIA (enzyme immunoassay). Antibodi adalah protein yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respon terhadap kehadiran zat asing, seperti virus.

Untuk melakukan tes ELISA, sampel darah akan diambil dari permukaan kulit Anda kemudian dimasukkan ke dalam tabung khusus. Sampel darah dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Di laboratorium, sampel darah dimasukkan ke cawan petri yang berisi antigen HIV. Antigen adalah zat asing, seperti virus, yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh merespon.

Jika darah Anda mengandung antibodi terhadap HIV, darah akan mengikat antigen. Kemudian ini akan diperiksa dengan menambahkan enzim ke cawan petri tersebut, untuk membantu mempercepat reaksi kimia. Jika isi cawan petri berubah warna, Anda mungkin terinfeksi HIV.

Hasil dari tes HIV dengan ELISA bisa didapatkan dalam waktu satu sampai tiga hari. Namun, seberapa cepat hasilnya keluar akan bervariasi tergantung pada banyak hal.

Jika tes Anda menunjukkan ELISA positif, dokter akan menyarankan tes lanjutan yang lebih spesifik. dengan Western bolt untuk memastikan diagnosis HIV. Tes lanjutan dianjurkan karena masih ada kemungkinan kecil bahwa antibodi akan salah menempel pada protein non-HIV selama tes pertama., maka diperlukan tes kedua.

Tes Western blot

Tes Western blot hanya dilakukan untuk menindaklanjuti tes skrining awal yang menunjukkan positif HIV. Biasanya ini disarankan jika tes ELISA menunjukkan hasil positif HIV. Terkadang, tes ELISA dapat menunjukkan hasil false positive

Pemeriksaan ini juga diperlukan jika Anda memiliki hasil positif HIV dari tes sebelumnya, tapi diketahui memiliki kondisi lain, seperti penyakit Lyme, sifilis, atau lupus yang mungkin dapat memengaruhi hasilnya.

Nah, agar hasil akurat dan lebih pasti, diperlukan konfirmasi lewat tes Western blot. Tes HIV ini merupakan tes antibodi untuk memastikan apakah Anda benar terinfeksi virus HIV atau tidak. Dalam tes ini, protein HIV dipisahkan oleh ukuran dan muatan listrik serta serum yang dilapisi pada strip tes. 

Jika hasil pemeriksaan HIV lewat Western blot menunjukkan hasil positif, serangkaian pita (band) yang terdeteksi menandakan adanya pengikatan spesifik antibodi terhadap protein virus HIV tertentu. Tes Western blot hanya membutuhkan satu hari untuk pengujian.

Namun perlu diingat, ini adalah tes atau pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan ini tidak membantu bila dilakukan sendiri.

4. Tes virologis dengan PCR

Tes virologis adalah salah satu jenis pemeriksaan HIV dan  AIDS yang dilakukan dengan metode polymerase chain reaction (PCR). 

Tes virologis penting bagi ibu hamil yang positif memiliki HIV. Selain itu, bayi yang baru lahir dari ibu positif HIV juga wajib melakukan pemeriksaan ini.  

Bayi yang positif memiliki HIV sejak lahir dianjurkan untuk periksa dengan tes virologis ini minimal di usia enam minggu. Selain bayi, tes ini juga direkomendasikan untuk mendiagnosis anak berumur kurang dari 18 bulan, apabila dicurigai terpapar HIV.

Tes ini mungkin juga membantu dalam mendeteksi infeksi HIV dalam empat minggu pertama setelah terpapar virus. 

Jika pada pemeriksaan pertama hasil tes virologis bayi dilaporkan positif HIV, maka terapi antiretroviral (ARV) harus segera dimulai. Terapi akan dimulai tepat pada pengambilan sampel darah kedua untuk pemeriksaan tes virologis kedua.

Tes virologis yang dianjurkan yaitu:

HIV DNA kualitatif (EID)

Tes HIV DNA kualitatif dari darah lengkap atau Dried Blood Spot (DBS adalah pemeriksaan yang fungsinya mendeteksi keberadaan virus HIV, bukan pada antibodi penangkalnya. Tes ini digunakan untuk diagnosis pada bayi. 

HIV RNA kuantitatif

Tes HIV RNA kuantitatif dilakukan dengan menggunakan plasma darah. Pemeriksaan HIV ini dilakukan untuk memeriksa jumlah virus di dalam darah (viral load). Terapi ART dilakukan untuk membuat viral load berkurang, kira-kira sampai pada tingkat yang tidak terdeteksi.

Metode tes HIV dengan PCR dilakukan dengan bantuan enzim untuk menggandakan virus HIV dalam darah. Kemudian reaksi kimia akan menandai seberapa banyak virus. Penanda ini berbentuk pita (band) yang diukur dan digunakan untuk menghitung jumlah virus. Hasil pengujian RNA biasanya memakan waktu beberapa hari sampai seminggu.

Pada umumnya, viral load Anda akan dinyatakan “tak terdeteksi” jika berada di bawah 40 sampai 75 kopi dalam 1 cc sampel darah. Jika viral load tinggi, tandanya Anda memiliki lebih banyak virus HIV dalam tubuh Anda. Ini dapat menandakan bahwa sistem kekebalan tubuh Anda gagal melawan HIV dengan baik.

Apakah tes HIV akurat?

Tes HIV modern sangat akurat. Namun, keakuratan tes harus mempertimbangkan masa jendela. Misalnya, tes generasi ke-4 dapat memastikan 95 persen infeksi pada 28 hari setelah terpapar.

Tes konfirmasi setelah tiga bulan paparan virus selalu disarankan. Ini karena lima persen orang mengambil waktu lama ini untuk menunjukkan hasil positif.

Hasil tes positif secara rutin dikonfirmasi menggunakan jenis tes yang berbeda yang disebut western blot. Tes western blot mencari respon imun terhadap protein HIV spesifik dan 100 persen akurat sebagai tes konfirmasi.

Hal-hal yang bisa memengaruhi tes HIV

Tes atau pemeriksaan HIV dan AIDS umumnya tidak terpengaruh oleh keadaan lain. Hal ini termasuk infeksi yang sedang Anda alami, obat-obatan yang sedang Anda konsumsi, atau angka berat badan Anda. 

Bahkan apabila Anda mengonsumsi alkohol atau narkoba sebelum pemeriksaan HIV, asupan tambahan itu tetap tidak mempengaruhi hasil tes HIV.

Anda juga tidak perlu berpuasa sebelum melakukan tes HIV layaknya tes kesehatan pada umumnya, karena makanan dan minuman tidak akan memengaruhi hasil tes.

Cara membaca hasil tes HIV

Ada banyak kemungkinan hasil yang terbaca dari mana pun tes HIV yang Anda jalani.

1. Hasil tes HIV negatif

Hasil pemeriksaan HIV negatif bukan berarti Anda pasti terbebas dari infeksi. Hasil negatif mungkin saja menandakan bahwa Anda terinfeksi tapi sedang dalam masa inkubasi.

Masa inkubasi atau masa jendela adalah rentang waktu yang dibutukan oleh virus HIV untuk membentuk antibodi dalam darah sampai mulai menginfeksi dan memunculkan gejala. Lama waktu periode jendela dapat bervariasi dari orang ke orang dan juga berbeda tergantung pada jenis tes HIV.

Tanyakan kepada penyedia perawatan kesehatan Anda tentang periode jendela untuk tes yang Anda ikuti. Jika Anda mendapatkan tes HIV setelah paparan HIV dan hasilnya negatif, lalu melakukan tes HIV lagi setelah periode jendela untuk memastikan.

Misalnya, jika dokter Anda menggunakan tes antigen atau antibodi yang dilakukan oleh laboratorium, Anda harus diuji kembali 45 hari setelah paparan terakhir Anda. Untuk tes HIV lain, Anda harus mengujinya kembali setidaknya 90 hari setelah paparan terakhir Anda untuk memastikan dengan pasti apakah Anda terkena HIV.

Jika Anda mengetahui bahwa Anda HIV-negatif pada terakhir kali melakukan tes HIV, Anda hanya dapat memastikan bahwa Anda masih negatif jika belum memiliki potensi paparan HIV sejak tes terakhir.

2. Hasil tes HIV positif

Hasil pemeriksaan HIV yang positif berarti benar terdapat virus HIV dalam darah. Namun, beberapa pemeriksaan juga dapat menafsirkan hasil tes false positive.

False positive atau positif palsu artinya hasil tes menunjukkan bahwa Anda memiliki HIV, padahal sebenarnya tidak. Jika dokter mencurigai hasil tes Anda positif palsu, ia dapat menganjurkan Anda melakukan tes lanjutan.

Harus bagaimana setelah tes HIV?

Siapa pun bisa terkena virus HIV. Apalagi orang-orang yang rentan terhadap risiko penularan.

Sebagai salah satu tindakan pencegahan, tes HIV perlu dilakukan secara rutin. Perlu tidaknya Anda menjalani tes HIV secara berkala sebenarnya tergantung pada kapan terakhir Anda melakukan tes pertama. Namun, tes setidaknya disarankan rutin setahun sekali pada orang yang aktif secara seksual.

Jika dari tes pertama dan susulan benar-benar melaporkan Anda HIV positif murni, jangan khawatir. Ada berbagai macam strategi pengobatan HIV yang akan membuat Anda tetap sehat. Pada orang yang merasa terpapar dan menunjukkan hasil tes positif HIV dalam 72 jam kemudian, dokter akan memberikan PEP (profilaksis pasca paparan).

Memulai pengobatan dengan segera dapat memastikan bahwa Anda tetap sehat dan mengurangi peluang Anda menyebarkan HIV ke orang lain. Jangan lupa juga untuk terus menerapkan tindak pencegahan penularan HIV Jika Anda aktif secara seksual. Misalnya dengan menggunakan kondom dengan benar dan minum obat untuk mencegah HIV jika Anda berisiko tinggi.

Lakukan tindakan pencegahan jika hidup dengan atau bepergian di tempat-tempat dengan prevalensi tuberkulosis (TB) tinggi.

Jika setelah menjalani tes HIV Anda kemudian hamil, mulailah konsultasi ke dokter. Dengan begitu, dokter bisa merekomendasikan tindakan pengobatan atau pencegahan supaya kondisi tidak bertambah buruk demi mencegah penularan ke bayi Anda. Dokter kemungkinan juga akan menyarankan Anda memilih persalinan sesar untuk menurunkan risiko penularan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Menyampaikan Bahwa Anak Anda Terkena HIV

Bila anak terkena HIV dari orang tuanya, perlukah orang tua memberi tahu hal tersebut ke anak? Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan pada anak?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
HIV/AIDS, Health Centers 22/11/2019 . 4 menit baca

Infeksi HIV pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mengobati, dan Mencegahnya

Banyak orangtua yang belum terlalu memahami tentang infeksi virus HIV pada anak. Penyakit menular ini bisa dideteksi dengan mengenali gejala HIV pada anak.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
HIV/AIDS, Health Centers 23/10/2019 . 10 menit baca

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Ruam Pada Kulit Pengidap HIV

Ruam kulit kemerahan muncul pada sekitar 90% orang yang terinfeksi HIV dalam beberapa bulan pertama setelah terdiagnosis. Apakah ini berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
HIV/AIDS, Health Centers 16/08/2019 . 7 menit baca

Tips Hidup Sehat dan Panjang Umur untuk Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)

Ada banyak hal yang bisa dilakukan para ODHA atau penderita HIV supaya tetap segar dan fit. Simak berbagai tips sehat untuk ODHA berikut ini. 

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
HIV/AIDS, Health Centers 30/04/2019 . 10 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

penyakit berisiko pada ODHA

Penyakit yang Paling Berisiko Dialami oleh Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020 . 4 menit baca

Apakah HIV Bisa Sembuh dengan Sendirinya? Ini Jawabannya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 29/04/2020 . 6 menit baca
merawat anak HIV AIDS

Cara Merawat Anak yang Terkena HIV/AIDS

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 21/03/2020 . 3 menit baca

Pasien Kedua yang Dinyatakan Sembuh dari HIV, Ini Faktanya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 14/03/2020 . 6 menit baca