Obat-obatan yang Digunakan untuk Penderita HIV

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

HIV adalah kondisi yang disebabkan oleh infeksi human immunodeficiency virus. Virus ini dapat merusak sistem kekebalan tubuh. Sedangkan AIDS adalah tahap akhir HIV. AIDS dapat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh akibat HIV sudah sangat rendah jumlahnya. 

Untuk mengobati HIV dan AIDS, dokter akan menganjurkan pengobatan yang disebut antiretroviral therapy (ART).

Namun, sebelum pengobatan HIV, Anda dianjurkan untuk menjalankan banyak tes untuk memastikan terdapatnya antibodi dalam darah yang melawan HIV. Pada orang HIV, sistem kekebalan tubuh akan lemah sehingga tidak dapat melindungi dari infeksi penyakit apapun. 

HIV juga dapat menyalin diri dan berkembang biak di dalam tubuh dengan cepat, sehingga sel sehat di dalam tubuh Anda semakin lama menipis. Sebelum dilakukan berbagai rangkaian pengobatan, dokter juga akan melakukan tes viral load

Viral load ini adalah jumlah partikel virus HIV dalam beberapa mililiter (mL) darah Anda. Viral load HIV dan AIDS ini dapat dites setiap tiga sampai enam bulan sebelum memulai pengobatan HIV. Viral load juga diuji untuk menentukan seberapa baik pengobatan bekerja setiap beberapa jangka waktu pemeriksaan.

Setelah tes dan diagnosis dilakukan, apa saja obat HIV dan AIDS yang dapat diresepkan dokter?

Pengobatan HIV dengan antiretroviral (ARV)

Ada banyak macam jenis obat antiretroviral. Setiap obat punya fungsi tersendiri dalam mengobati  HIV dan AIDS. Sebelum diberikan obatnya, dokter akan memeriksa kondisi Anda dulu. Setelah itu, pemberian jenis dan dosis obat antiretroviral akan diberikan tergantung pada kondisi berikut:

  • Seberapa banyak jumlah viral load orang tersebut
  • Seberapa banyak jumlah sel T mereka
  • Jenis HIV yang diidap penderita
  • Seberapa parah kondisi HIV penderita
  • Sejauh mana HIV telah menyebar
  • Apa penderita memiliki kondisi kesehatan kronis lainnya, dikenal sebagai komorbiditas
  • Obat lain yang mereka gunakan untuk menghindari interaksi dengan obat HIV 

Setidaknya, HIV dapat diobati dengan dua obat yang berbeda. Malah terkadang dalam satu pil, terdiri dua kandungan obat HIV. Cara pengobatan ini digunakan untuk menyerang HIV dan AIDS dari berbagai arah. 

Menggunakan 1 sampai dua obat saat terapi HIV juga berfungsi untuk mengurangi jumlah viral load di dalam tubuh Anda. Selain itu, mengonsumsi lebih dari satu obat antiretroviral juga membantu mencegah resistensi terhadap salah satu obat yang digunakan.

1. Integrase strand transfer inhibitors (INSTIs)

Obat INSTIs adalah obat yang menghentikan aksi integrase. Integrase adalah enzim virus yang digunakan HIV untuk menginfeksi sel T dengan memasukkan DNA HIV ke dalam DNA manusia.

Obat Integrase inhibitor biasanya diberikan pertama kali sejak seseorang didiagnosis tertular HIV. Obat ini diberikan karena diyakini cukup ampuh mencegah viral load HIV bertambah banyak dengan risiko efek samping yang sedikit. 

Obat-obatan berikut ini adalah integrase inhibitor:

  • Bictegravir (tidak ada obat tunggalnya, namun tersedia dalam kombinasi obat)
  • Dolutegravir 
  • Elvitegravir (tidak tersedia sebagai obat yang berdiri sendiri, tetapi tersedia dalam kombinasi obat Genvoya dan Stribild)
  • Raltegravir 

2. Nucleoside/Nucleotide Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI)

 NRTI adalah salah satu dari enam golongan obat antiretroviral yang digunakan dalam pengobatan HIV dan AIDS. 

Obat antiretroviral ini mengganggu kemampuan virus HIV untuk berkembang biak lebih banyak lagi di dalam tubuh ANA. 

Untuk mengobati HIV, NRTI bekerja dengan menghalangi enzim HIV untuk berkembang biak lebih banyak. Biasanya, virus HIV akan memasuki sel-sel dari sistem kekebalan tubuh. Sel-sel ini disebut sel CD4, atau sel T.

Setelah HIV memasuki sel CD4, virus mulai menyalin dirinya sendiri. Normalnya, sel sehat akan mengubah materi genetik dari DNA ke RNA. Sedangkan pada virus HIV, ia mengubah materi genetik menjadi abnormal yaitu dari RNA menjadi DNA. menyalin Proses ini disebut transkripsi terbalik dan membutuhkan enzim yang disebut reverse transcriptase.

Obat NRTI mencegah enzim reverse transcriptase virus dari menyalin RNA  ke dalam DNA. Tanpa DNA, HIV dan AIDS tidak dapat membuat salinannya sendiri atau tidak dapat berkembang biak.

Obat NRTI untuk HIV dan AIDS biasanya terdiri dari 2 sampai 3 kombinasi obat bertikut

  • Abacavir, lamivudine, dan zidovudine
  • Abacavir dan lamivudine 
  • Emtricitabine dan tenofovir alafenamide fumarate 
  • Emtricitabin dan tenofovir disoproxil fumarate 
  • Lamivudine dan tenofovir disoproxil fumarate 
  • Lamivudine dan zidovudine

3. Cytochrome P4503A (CYP3A) inhibitors

Cytochrome P4503A adalah enzim dalam organ hati yang membantu beberapa fungsi tubuh. Enzim ini dapat memecah atau memetabolisme obat-obatan. 

Cytochrom P4503A pada pengobatan antiretroviral ini dapat meningkatkan fungsi kadar obat HIV , serta obat non-HIV lainnya yang masuk dalam tubuh. Sehingga manfaat obat bisa lebih terasa dan manjur dirasakan

Berikut adalah beberapa contoh obat HIV dan AIDS dari jenis CYP3A:

  • cobicistat (Tybost)
  • ritonavir (Norvir)

Obat cobicistat yang diminum tunggal atau tanpa campuran obat lain tidak mampu bekerja sebagai anti-HIV yang maksimal. Maka dari itu, ia selalu dipasangkan dengan obat ARV lain, misalnya dengan obat ritonavir.

Obat ritonavir pada dasarnya dapat bekerja sebagai anti-HIV bila digunakan sendiri. Namun, untuk itu kedua obat tersebut harus digunakan dalam dosis yang jauh lebih tinggi Maka tak jarang, keduanya sering digabung untuk pengobatan HIV dan AIDS yang maksimal.

4. Protease inhibitor (PI)

Protease inhibitor adalah salah satu obat HIV dan AIDS yang bekerja dengan mengikat enzim protease. 

Untuk berkembang biak atau menyalin virus di dalam tubuh, HIV membutuhkan enzim protease. Ketika protease diikat, lantas ia tidak akan bisa membuat salinan virus HIV. Hal ini berguna untuk mengurangi jumlah virus HIV yang berkembangbiak dan menginfeksi lebih banyak sel sehat.

Obat-obatan berikut adalah PI yang digunakan untuk mengobati HIV dan AIDS antara lain sebagai berikut:

  • Atazanavir 
  • Darunavir 
  • Fosamprenavir 
  • Lopinavir (tidak tersedia sebagai obat yang berdiri sendiri, tetapi tersedia dengan ritonavir dalam kombinasi obat Kaletra)
  • Ritonavir 
  • Tipranavir 

Protease inhibitor hampir selalu digunakan bersamaan dengan cobicistat atau ritonavir yang termasuk golongan obat CYP3A. Sebetulnya obat PI dapat diberikan sebagai obat tunggal, namun dokter selalu meresepkan dengan dengan obat HIV dan AIDS lainnya (antiretroviral) agar lebih ampuh. 

5. Entry inhibitors

Ada 3 jenis obat entry inhibitor yang juga dapat membantu meredakan HIV dan AIDS.  Pengobatan menggunakan entry inhibitors rata-rata bekerja dengan menghalangi virus HIV dan AIDS memasuki sel T yang sehat. Namun obat ini jarang digunakan sebagai pengobatan lini pertama untuk HIV.

Fusion inhibitor

Fusion inhibitor adalah jenis obat lain yang termasuk dalam terapi HIV. 

HIV membutuhkan inang sel T untuk bisa menyalin virusnya sendiri dan berkembang biak. 

Nah, obat fusion inhibitor ini bekerja menghalangi virus HIV dan AIDS memasuki sel T inang. Di mana secara tidak langsung ini mencegah virus HIV untuk berkembang biak menyalin dirinya sendiri. Hanya satu inhibitor fusi yang saat ini tersedia, yaitu  enfuvirtide (Fuzeon)

Post-attachment inhibitors 

Ibalizumab-uiyk (Trogarzo) adalah obat yang termasuk dalam jenis post attachment inhibitor. Obat ini sudah digunakan di Amerika melalui beberapa penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh BPOM negara tersebut. 

Obat ini bekerja dengan cara mencegah virus berkembang biak menjadi banyak. 

Obat ibalizumab-uiyk juga bekerja dengan mencegah HIV memasuki sel kekebalan tertentu. Obat ini harus digunakan dengan ARV lainnya sebagai bagian dari terapi HIV dan AIDS yang optimal.

Chemokine coreceptor antagonists (CCR5 antagonis)

CCR5 antagonis adalah obat HIV dan AIDS yang bekerja dengan  menghalangi virus HIV memasuki sel kekebalan di dalam tubuh. Meski demikian, obat ini belum pasti diresepkan dalam pengobatan HIV. Masih dibutuhkan uji atau penelitian lebih lanjut. 

Obat antagonis CCR5 yang saat ini tersedia berupa  maraviroc (Selzentry).

Ketahui juga efek samping dari terapi obat HIV dan AIDS

Meskipun wajib diminum setiap hari agar virus tidak aktif menginfeksi tubuh Anda, pengobatan HIV dan AIDS dapat menyebabkan efek samping. Biasanya efek samping akan timbul setelah pertama kali obat digunakan. Berikut adalah beberapa efek samping yang bisa terjadi:

  • Diare 
  • Pusing 
  • Sakit kepala
  • Kelelahan 
  • Demam 
  • Mual 
  • Ruam 
  • Muntah 

Obat-obatan ini dapat menyebabkan efek samping selama beberapa minggu pertama. Jika efek samping bertambah buruk atau bertahan lebih lama dari beberapa minggu, kembali ke dokter untuk konsultasui. 

Dokter mungkin akan menyarankan beberapa tips dan juga cara untuk meringankan efek samping pengobatan HIV dan AIDS. Dokter juga dapat meresepkan obat HIV yang berbeda sama sekali.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca