5 Macam Obat Antiretroviral (ARV) yang Digunakan Dalam Rejimen Pengobatan HIV/AIDS

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update Mei 20, 2020
Bagikan sekarang

HIV/AIDS adalah kondisi kronis yang disebabkan oleh infeksi human immunodeficiency virus. Untuk mengobati HIV dan AIDS, dokter akan menganjurkan rejimen pengobatan yang disebut antiretroviral therapy (ARV) yang meliputi lebih dari satu kombinasi obat antivirus. Berikut penjelasan lebih lengkapnya.

Diagnosis sebelum memulai pengobatan HIV

Pada orang yang terinfeksi HIV, sistem kekebalan tubuh akan melemah sehingga tidak dapat melindungi dari infeksi penyakit apa pun. HIV juga dapat berkembang biak dengan sangat cepat sehingga sel CD4 pelindung kekebalan tubuh jadi semakin menipis.

Maka sebelum memulai rejimen pengobatan, orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) dianjurkan untuk menjalani banyak tes medis lebih dulu. Salah satunya adalah tes viral load untuk memastikan berapa tepatnya jumlah antibodi dalam darah yang dapat bekerja melawan infeksi. 

Viral load adalah perbandingan jumlah partikel virus HIV per mililiter (mL) darah Anda. Viral load HIV dapat dites setiap tiga sampai enam bulan sebelum mulai mengonsumsi obat. Viral load juga diuji untuk menentukan seberapa baik obat HIV bekerja per jangka waktu rejimen terapi pengobatan.

Manfaat terapi dengan obat ARV untuk orang dengan HIV dan AIDS (ODHA)

Dalam rejimen pengobatan HIV dan AIDS, Anda butuh menggunakan obat-obatan antiretroviral atau ARV. Terapi obat ARV adalah salah satu cara untuk membantu meningkatkan kualitas hidup sembari memastikan orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) memiliki harapan hidup yang sama dengan orang sehat lainnya. 

Obat antiretroviral (ARV) bekerja mengurangi jumlah viral load HIV dalam darah Anda sampai ke kadar yang sangat rendah, bahkan mungkin tidak lagi terdeteksi. Semakin sedikit virus HIV di dalam tubuh Anda, semakin baik kerja kekebalan tubuh Anda.

Bagi kebanyakan orang, minum obat ARV sangat efektif untuk mengendalikan gejala HIV. Selain itu, obat ARV dapat melindungi sisa sel-sel sehat agar tidak menjadi target virus HIV. Alhasil, rejimen pengobatan ini dapat membantu pengidap HIV dan AIDS tetap sehat serta terhindar dari risiko penyakit infeksi oportunis.

Ada juga manfaat pencegahan yang utama. Menurut laman informasi HIV.gov yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan Amerika Serikat, pengidap HIV/AIDS yang rutin menggunakan obat ARV setiap hari sesuai resep memiliki risiko sangat rendah untuk menularkan penyakit mereka secara seksual pada pasangannya yang HIV-negatif.

Syarat menjalani pengobatan HIV dengan obat antiretroviral (ARV)

Rejimen pengobatan dengan obat ARV dianjurkan untuk semua orang yang memiliki HIV, terlepas dari seberapa lama mereka telah memiliki virus tersebut atau seberapa sehatnya mereka.

Obat ART tidaklah menyembuhkan HIV. Namun, pengobatan dapat mengendalikan virus sehingga Anda dapat hidup lebih lama, lebih sehat, dan mengurangi risiko penularan HIV kepada orang lain.

Terlebih jika tidak menjalani pengobatan dengan obat ARV, HIV akan semakin merusak sistem kekebalan tubuh sehingga kondisi pada akhirnya berkembang menjadi AIDS.

Namun sebelum diberikan obat, dokter akan memeriksa kondisi Anda dulu. Setelah itu, pemberian jenis dan dosis obat antiretroviral akan diberikan tergantung pada kondisi berikut:

  • Seberapa banyak jumlah viral load dalam tubuh
  • Seberapa banyak jumlah sel T mereka
  • Jenis HIV yang diidap penderita
  • Seberapa parah kondisi HIV penderita
  • Sejauh mana HIV telah menyebar
  • Apa penderita memiliki kondisi kesehatan kronis lainnya, dikenal sebagai komorbiditas
  • Obat lain yang mereka gunakan untuk menghindari interaksi dengan obat HIV 

Pedoman pengobatan dari Kementerian Kesehatan Amerika Serikat merekomendasikan pengidap HIV untuk memulai pengobatan ARV sesegera mungkin setelah diagnosis. Mulai minum obat secepatnya memperlambat perkembangan HIV dan dapat membuat Anda tetap sehat selama bertahun-tahun setelahnya.

Rejimen pengobatan HIV dan AIDS dengan obat antiretroviral (ARV)

Kebanyakan regimen pengobatan HIV terdiri dari dua atau tiga obat berbeda, yang sering kali dapat dikombinasikan menjadi satuan pil harian.

Cara pengobatan HIV ini digunakan untuk menyerang HIV dan AIDS dari berbagai arah. Kombinasi terapi pengobatan ARV menyerang virus HIV di titik-titik berbeda di siklus hidupnya sehingga akan menekan jumlah virus secara keseluruhan.

Selain itu, mengonsumsi lebih dari satu obat antiretroviral juga membantu mencegah efek samping antiretroviral dan resistensi terhadap salah satu obat yang digunakan.

1. Integrase strand transfer inhibitors (INSTIs)

Obat INSTIs adalah obat yang menghentikan aksi integrase. Integrase adalah enzim virus yang digunakan HIV untuk menginfeksi sel T dengan memasukkan DNA HIV ke dalam DNA manusia.

Obat Integrase inhibitor biasanya diberikan pertama kali sejak seseorang didiagnosis tertular HIV. Obat ini diberikan karena diyakini cukup ampuh mencegah viral load HIV bertambah banyak dengan risiko efek samping yang sedikit. 

Obat-obatan berikut ini adalah integrase inhibitor:

  • Bictegravir (tidak ada obat tunggalnya, namun tersedia dalam kombinasi obat)
  • Dolutegravir 
  • Elvitegravir (tidak tersedia sebagai obat yang berdiri sendiri, tetapi tersedia dalam kombinasi obat Genvoya dan Stribild)
  • Raltegravir 

2. Nucleoside/Nucleotide Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI)

 NRTI adalah salah satu dari enam golongan obat antiretroviral yang digunakan dalam pengobatan HIV dan AIDS. 

Obat antiretroviral ini mengganggu kemampuan virus HIV untuk berkembang biak lebih banyak lagi di dalam tubuh. 

Untuk mengobati HIV, NRTI bekerja dengan menghalangi enzim HIV untuk berkembang biak lebih banyak. Biasanya, virus HIV akan memasuki sel-sel dari sistem kekebalan tubuh. Sel-sel ini disebut sel CD4, atau sel T.

Setelah HIV memasuki sel CD4, virus mulai menyalin dirinya sendiri. Normalnya, sel sehat akan mengubah materi genetik dari DNA ke RNA. Sementara itu virus HIV mengubah materi genetik menjadi abnormal, dari RNA menjadi DNA. Proses ini disebut transkripsi terbalik dan membutuhkan enzim yang disebut reverse transcriptase.

Obat NRTI mencegah enzim reverse transcriptase virus dari menyalin RNA  ke dalam DNA. Tanpa DNA, HIV dan AIDS tidak dapat membuat salinannya sendiri atau tidak dapat berkembang biak.

Obat NRTI untuk HIV dan AIDS biasanya terdiri dari 2 sampai 3 kombinasi obat bertikut

  • Abacavir, lamivudine, dan zidovudine
  • Abacavir dan lamivudine 
  • Emtricitabine dan tenofovir alafenamide fumarate 
  • Emtricitabin dan tenofovir disoproxil fumarate 
  • Lamivudine dan tenofovir disoproxil fumarate 
  • Lamivudine dan zidovudine

3. Cytochrome P4503A (CYP3A) inhibitors

Cytochrome P4503A adalah enzim dalam organ hati yang membantu beberapa fungsi tubuh. Enzim ini dapat memecah atau memetabolisme obat-obatan. 

Cytochrom P4503A pada pengobatan antiretroviral ini dapat meningkatkan fungsi kadar obat HIV , serta obat non-HIV lainnya yang masuk dalam tubuh. Sehingga manfaat obat bisa lebih terasa dan manjur dirasakan

Berikut adalah beberapa contoh obat HIV dan AIDS dari jenis CYP3A:

Obat cobicistat yang diminum tunggal atau tanpa campuran obat lain tidak mampu bekerja sebagai anti-HIV yang maksimal. Maka dari itu, ia selalu dipasangkan dengan obat ARV lain, misalnya dengan obat ritonavir.

Obat ritonavir pada dasarnya dapat bekerja sebagai anti-HIV bila digunakan sendiri. Namun, untuk itu kedua obat tersebut harus digunakan dalam dosis yang jauh lebih tinggi Maka tak jarang, keduanya sering digabung untuk pengobatan HIV dan AIDS yang maksimal.

4. Protease inhibitor (PI)

Protease inhibitor adalah salah satu obat HIV dan AIDS yang bekerja dengan mengikat enzim protease. 

Untuk berkembang biak atau menyalin virus di dalam tubuh, HIV membutuhkan enzim protease. Ketika protease diikat, lantas ia tidak akan bisa membuat salinan virus HIV. Hal ini berguna untuk mengurangi jumlah virus HIV yang berkembangbiak dan menginfeksi lebih banyak sel sehat.

Obat-obatan berikut adalah PI yang digunakan untuk mengobati HIV dan AIDS antara lain sebagai berikut:

  • Atazanavir 
  • Darunavir 
  • Fosamprenavir 
  • Lopinavir (tidak tersedia sebagai obat yang berdiri sendiri, tetapi tersedia dengan ritonavir dalam kombinasi obat Kaletra)
  • Ritonavir 
  • Tipranavir 

Protease inhibitor hampir selalu digunakan bersamaan dengan cobicistat atau ritonavir yang termasuk golongan obat CYP3A. Sebetulnya obat PI dapat diberikan sebagai obat tunggal, namun dokter selalu meresepkan dengan dengan obat HIV dan AIDS lainnya (antiretroviral) agar lebih ampuh. 

5. Entry inhibitors

Ada 3 jenis obat entry inhibitor yang juga dapat membantu meredakan HIV dan AIDS.  Pengobatan menggunakan entry inhibitors rata-rata bekerja dengan menghalangi virus HIV dan AIDS memasuki sel T yang sehat. Namun obat ini jarang digunakan sebagai pengobatan lini pertama untuk HIV.

Fusion inhibitor

Fusion inhibitor adalah jenis obat lain yang termasuk dalam terapi HIV. 

HIV membutuhkan inang sel T untuk bisa menyalin virusnya sendiri dan berkembang biak. 

Nah, obat fusion inhibitor ini bekerja menghalangi virus HIV dan AIDS memasuki sel T inang. Di mana secara tidak langsung ini mencegah virus HIV untuk berkembang biak menyalin dirinya sendiri. Hanya satu inhibitor fusi yang saat ini tersedia, yaitu  enfuvirtide (Fuzeon)

Post-attachment inhibitors 

Ibalizumab-uiyk (Trogarzo) adalah obat yang termasuk dalam jenis post attachment inhibitor. Obat ini sudah digunakan di Amerika melalui beberapa penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh BPOM negara tersebut. 

Obat ini bekerja dengan cara mencegah virus berkembang biak menjadi banyak. 

Obat ibalizumab-uiyk juga bekerja dengan mencegah HIV memasuki sel kekebalan tertentu. Obat ini harus digunakan dengan ARV lainnya sebagai bagian dari terapi HIV dan AIDS yang optimal.

Chemokine coreceptor antagonists (CCR5 antagonis)

CCR5 antagonis adalah obat HIV dan AIDS yang bekerja dengan  menghalangi virus HIV memasuki sel kekebalan di dalam tubuh. Meski demikian, obat ini belum pasti diresepkan dalam pengobatan HIV. Masih dibutuhkan uji atau penelitian lebih lanjut. 

Obat antagonis CCR5 yang saat ini tersedia berupa  maraviroc (Selzentry).

Efek samping dari terapi obat HIV dan AIDS

Meskipun wajib diminum setiap hari agar virus tidak aktif menginfeksi tubuh Anda, pengobatan HIV dan AIDS dapat menyebabkan efek samping. Biasanya efek samping akan timbul setelah pertama kali obat digunakan. Berikut adalah beberapa efek samping yang bisa terjadi:

Obat-obatan ini dapat menyebabkan efek samping selama beberapa minggu pertama. Jika efek samping bertambah buruk atau bertahan lebih lama dari beberapa minggu, kembali ke dokter untuk konsultasui. 

Dokter mungkin akan menyarankan beberapa tips dan juga cara untuk meringankan efek samping pengobatan HIV dan AIDS. Dokter juga dapat meresepkan obat HIV yang berbeda sama sekali.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tips Hidup Sehat dan Panjang Umur untuk Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)

Ada banyak hal yang bisa dilakukan para ODHA atau penderita HIV supaya tetap segar dan fit. Simak berbagai tips sehat untuk ODHA berikut ini. 

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
HIV/AIDS, Health Centers April 30, 2019

3 Jenis Obat Tradisional yang Umum Dikonsumsi Orang Indonesia

Selain obat dari dokter, penggunaan obat tradisional (OT) sering dimanfaat untuk membantu mengatasi masalah kesehatan. Sebenarnya, aman atau tidak, ya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik April 7, 2019

Selain Infeksi Menular Seksual, Ini Dampaknya Jika Sering Gonta-ganti Pasangan

Kecenderungan gonta-ganti pasangan dapat menimbulkan sejumlah dampak bagi kesehatan fisik dan psikis. Berikut di antaranya.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Diah Ayu
Hidup Sehat, Seks & Asmara April 6, 2019

Penyebab Orang dengan HIV/AIDS Susah Gemuk, Plus Solusi Ampuh Naikkan Berat Badan

Orang dengan HIV/AIDS memang cenderung berbadan kurus. Selain karena virus itu sendiri, ada banyak faktor lain yang membuat ODHA susah gemuk.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Widya Citra Andini
HIV/AIDS, Health Centers Maret 30, 2019

Direkomendasikan untuk Anda

Cara Merawat Anak yang Terkena HIV/AIDS

Cara Merawat Anak yang Terkena HIV/AIDS

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Ihda Fadila
Tanggal tayang Maret 21, 2020
Pasien Kedua yang Dinyatakan Sembuh dari HIV, Ini Faktanya

Pasien Kedua yang Dinyatakan Sembuh dari HIV, Ini Faktanya

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Maret 14, 2020
Cara Menyampaikan Bahwa Anak Anda Terkena HIV

Cara Menyampaikan Bahwa Anak Anda Terkena HIV

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Shylma Na'imah
Tanggal tayang November 22, 2019
Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Ruam Pada Kulit Pengidap HIV

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Ruam Pada Kulit Pengidap HIV

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Agustus 16, 2019