Mendeteksi Gejala Awal HIV yang Mungkin Muncul Setelah Paparan Pertama

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 September 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah jenis virus yang melemahkan daya tahan tubuh manusia dengan menyerang sel darah putih bernama sel CD4. HIV seringkali disamakan dengan AIDS, padahal keduanya berbeda. AIDS merupakan kepanjangan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome, yakni sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena infeksi HIV dalam jangka panjang. Seseorang yang terinfeksi HIV mungkin akan mengalami beberapa gejala awal terlebih dahulu dalam beberapa tahun pertama, sebelum akhirnya berlanjut menjadi AIDS.

Tahap awal infeksi HIV cukup mudah terabaikan karena kadang tak menampakkan gejala yang nyata. Maka dari itu, penting bagi setiap orang untuk mendeteksi gejala HIV sejak dini agar bisa segera mendapatkan pengobatan yang tepat jika diperlukan. Selain itu, memeriksakan gejala HIV sejak awal terpapar dapat membantu mempersempit peluang penularan penyakit kepada orang lain di sekitar. 

Gejala awal HIV

HIV tidak akan langsung merusak organ tubuh Anda. Virus tersebut perlahan menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkannya secara bertahap sampai kemudian tubuh Anda menjadi rentan diserang penyakit, terutama infeksi.

Infeksi HIV umumnya dapat memakan waktu sekitar 2 sampai 15 tahun sampai benar-benar menampakkan gejala khas. Pada tahap awal, gejala HIV biasanya baru mulai muncul paling lambat 1 sampai 2 bulan setelah virus masuk ke dalam tubuh. Bahkan menurut US Department of Health and Human Services, gejala awal HIV sudah dapat mungkin terlihat sedini dua minggu pasca-paparan.

Gejala HIV di awal mula masa inkubasi virus umumnya terlihat mirip seperti gejala flu umum, yang meliputi:

  • Demam (biasanya lebih tinggi dari demam biasa; bahkan mungkin disertai dengan sensasi meriang yang hebat.
  • Sakit kepala
  • Kelelahan terus menerus
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Sakit tenggorokan
  • Ruam pada kulit
  • Nyeri pada otot dan sendi
  • Luka pada mulut
  • Luka pada organ intim
  • Sering berkeringat di malam hari
  • Diare

Namun, tidak  semua orang pasti akan menunjukkan gejala HIV di awal masa penyakitnya. Ada beberapa orang yang justru tidak menunjukkan gejala sama sekali semenjak awal meski ternyata terinfeksi HIV. Itu sebabnya setiap orang yang berisiko tinggi tertular wajib menjalani tes HIV.

Gejala awal AIDS

Teorinya, Anda dapat saja terkena HIV dan AIDS sekaligus. Namun demikian, tidak semua pengidap HIV otomatis pasti memiliki AIDS di kemudian hari. Kebanyakan penderita HIV bisa hidup selama bertahun-bertahun lamanya tanpa mengalami AIDS. Sebaliknya, Anda yang terdiagnosis positif AIDS sudah pasti memiliki infeksi HIV.

Peluang seseorang pengidap HIV untuk mengidap AIDS dapat terbuka lebar jika infeksinya dibiarkan terus dalam jangka panjang tanpa pengobatan yang tepat. Jika demikian, lama kelamaan infeksinya akan berlanjut menjadi kronis dan berkembang menjadi AIDS yang merupakan stadium akhir dari HIV.

Gejala awal AIDS yang muncul dapat berbeda-beda pada masing-masing individu penderita. Biasanya berbagai macam infeksi serius mulai menyerang penderita AIDS karena sistem imun pada fase ini sudah sangat lemah.

Beberapa gejala awal AIDS yang umum terlihat pada penderita HIV stadium akhir adalah:

  • Penurunan berat badan yang cepat dan tidak direncanakan
  • Demam yang turun naik atau hilang timbul
  • Berkeringat berlebihan terutama di malam hari
  • Merasa sangat lelah padahal tidak melakukan aktivitas berat
  • Pembengkakan kelenjar getah bening yang berkepanjangan (biasanya kelenjar di ketiak, selangkangan, atau leher)
  • Diare yang berlangsung selama lebih dari seminggu
  • Timbul luka-luka di mulut, anus, dan organ genital
  • Mengalami pneumonia
  • Timbul ruam atau bisul berwarna kemerahan, cokelat, atau keunguan di bawah kulit atau di dalam mulut, hidung, bahkan kelopak mata
  • Gangguan saraf seperti kehilangan ingatan, depresi, dan lain-lain.
  • Pelvic Inflammatory Disease atau radang panggul. Peradangan ini menyerang bagian reproduksi wanita seperti rahim, leher rahim, tuba fallopi, dan indung telur.
  • Perubahan terhadap siklus haid, menjadi lebih sering atau bahkan jarang, darah yang keluar sangat banyak, atau mengalami amenorrhea (tidak haid) selama lebih dari 90 hari.

Masing-masing gejala awal HIV AIDS bisa berbeda atau berkaitan dengan gejala penyakit infeksi yang diderita oleh penderita AIDS.

Gejala awal HIV dapat berubah menjadi lebih parah seiring dengan perkembangan infeksi. Jenis penyakit infeksi yang merupakan komplikasi HIV misalnya TBC, herpes simplex, kanker serviks invasif, hingga ensefalopati.

Fase-fase infeksi HIV

1. Fase pertama HIV

Gejala awal HIV dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Periode singkat ini disebut infeksi akut, infeksi HIV primer atau dikenal juga dengan sindrom retroviral akut.

Jika Anda menjalani tes HIV, indikasi infeksi mungkin tidak akan terbaca pada hasil tes. Hal ini cukup berbahaya karena penderita yang sebenarnya terinfeksi tetap dapat menyebarkan virus ke orang lain.

Pada tahap ini, kebanyakan orang mengalami gejala mirip flu. Gejala HIV awal yang ditunjukkan juga sering kali mirip dengan infeksi saluran cerna atau saluran pernapasan.

2. Fase kedua HIV

Ini adalah tahap laten klinis atau infeksi HIV kronis. Pada saat memasuki periode laten, penderita infeksi HIV bisa jadi tidak merasakan gejala apapun. HIV masih aktif, namun bereproduksi sangat lamban. Anda bisa saja tidak mengalami gejala awal HIV apapun saat virus berkembang. Periode laten ini bisa bertahan satu dekade atau lebih.

Dalam periode laten yang bisa berlangsung hingga sepuluh tahun ini banyak orang tidak menunjukkan gejala awal HIV apapun. Tahap inilah yang patut diwaspadai karena virus akan terus berkembang tanpa disadari.

Meskipun berada dalam periode laten dan tidak ada gejala awal HIV yang muncul, penderita HIV masih dapat menularkan HIV kepada orang lain.

Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh masih mampu mengontrol aktivitas virus. Sistem imun tidak dapat mengeliminasi HIV sepenuhnya tetapi dapat mengontrol infeksi HIV dalam waktu yang lama.

Bagi yang tidak mengonsumsi obat untuk mengontrol gejala awal HIV dan perkembangan infeksi, periode laten ini dapat berlangsung selama 10 tahun atau lebih tetapi bisa juga lebih cepat.

Sementara mereka yang rutin mengonsumsi obat bisa bertahan dalam periode laten hingga beberapa dekade.

Selain itu, mereka yang rutin mengonsumsi obat dan memiliki kadar virus dalam darah yang sangat rendah cenderung tidak akan menularkan HIV dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi obat.

3. Fase terakhir HIV

Fase terakhir HIV adalah AIDS. Di fase akhir ini, sistem imun mengalami kerusakan parah dan rentan terhadap infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik ialah infeksi yang menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk.

Ketika HIV sudah berkembang menjadi AIDS, gejala awal HIV AIDS seperti mual, muntah, kelelahan, dan demam baru bisa terlihat. Selain itu, gejala awal HIV AIDS seperti penurunan berat badan, infeksi kuku, sakit kepala serta sering berkeringat di malah hari juga menandai tahapan awal AIDS.

Seberapa penting melakukan tes HIV?

Diagnosis HIV dan AIDS sendiri tidak dapat dilakukan hanya dengan mengamati gejala awal HIV AIDS saja, butuh pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah seseorang benar-benar menderita HIV AIDS atau tidak.

Jika gejala awal HIV dan AIDS ini terjadi pada Anda, jangan panik, periksakan diri Anda ke dokter terutama jika Anda berada dalam golongan yang rentan terhadap HIV dan AIDS.

Mengajukan tes HIV sangat penting karena orang yang terinfeksi HIV, tetapi tidak menunjukkan gejala awal HIV apapun dan tidak menyadari bahwa dia terinfeksi. Orang tersebut akan dengan mudah menularkan virusnya pada orang lain. Misalnya melalui darah dan air liur.

Melakukan tes darah HIV dan tes lainnya merupakan satu-satunya cara untuk menentukan apakah Anda positif terinfeksi atau tidak. Jika Anda merasa aktif secara seksual, pernah menggunakan jarum suntik secara bersamaan, atau apalagi sampai mengalami gejala awal HIV setelah terinfeksi, maka lakukan tes HIV demi melindungi diri dan orang lain.

Didiagnosis HIV bukanlah “hukuman mati”

Penderita HIV memerlukan pengobatan dengan Antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV dalam tubuh agar tidak masuk fase akhir, yakni AIDS. Obat-obatan HIV yang diberikan di awal terjadinya infeksi bisa mengendalikan hingga memperlambat perkembangan virus.

Selain mengendalikan gejala awal HIV, pengobatan ini terbukti mempunyai peran dalam pencegahan HIV karena menghentikan replikasi virus yang secara bertahap menurunkan jumlah virus dalam darah.

Penting juga untuk disadari bahwa penurunan jumlah virus dengan terapi ARV harus disertai dengan perubahan perilaku tetap berisiko. Misalnya, pengendalian perilaku seks dan menghentikan penggunaan jarum suntik secara bersamaan serta penggunaan kondom.

Jika Anda atau orang terdekat terdeteksi HIV dan mengalami gejala awal HIV, segera konsultasikan ke dokter. Anda tak perlu panik ketika mengalami gejala awal HIV karena dengan deteksi dini dan pengobatan ARV, virus HIV masih bisa dikendalikan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Selain Infeksi Menular Seksual, Ini Dampaknya Jika Sering Gonta-ganti Pasangan

Kecenderungan gonta-ganti pasangan dapat menimbulkan sejumlah dampak bagi kesehatan fisik dan psikis. Berikut di antaranya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Seks & Asmara 6 April 2019 . Waktu baca 4 menit

Penyebab Orang dengan HIV/AIDS Susah Gemuk, Plus Solusi Ampuh Naikkan Berat Badan

Orang dengan HIV/AIDS memang cenderung berbadan kurus. Selain karena virus itu sendiri, ada banyak faktor lain yang membuat ODHA susah gemuk.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
HIV/AIDS, Health Centers 30 Maret 2019 . Waktu baca 6 menit

Bukan Hanya Ibu, Ayah Pun Berisiko Menularkan HIV Pada Bayi yang Baru Lahir

Meski ibu negatif,penularan HIV/AIDS pada bayi juga bisa terjadi akibat sang ayah yang terinfeksi. Lalu, dari mana HIV ini bias menular ke sang bayi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 13 November 2018 . Waktu baca 5 menit

Pasangan Positif HIV, Apakah Saya Perlu Minum Obat PrEP Agar Tidak Tertular?

Salah satu cara mencegah diri sendiri dari ketularan pasangan positif HIV adalah dengan minum obat PrEP. Seberapa manjur obat ini untuk mencegah HIV?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
HIV/AIDS, Health Centers 26 Agustus 2018 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Apakah HIV Bisa Sembuh dengan Sendirinya? Ini Jawabannya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 29 April 2020 . Waktu baca 6 menit

Pasien Kedua yang Dinyatakan Sembuh dari HIV, Ini Faktanya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 14 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit
anak terkena hiv

Cara Menyampaikan Bahwa Anak Anda Terkena HIV

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 22 November 2019 . Waktu baca 4 menit
ruam kulit HIV

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Ruam Pada Kulit Pengidap HIV

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 16 Agustus 2019 . Waktu baca 7 menit