Kehamilan pada dasarnya menyebabkan banyak perubahan pada tubuh wanita, termasuk penurunan tekanan darah alias hipotensi. Ya, selama kehamilan tekanan darah wanita biasanya mengalami penurunan sebanyak 15 persen. Banyak wanita hamil mengalami kondisi ini, terutama pada trimester pertama dan kedua kehamilan. Namun dalam beberapa kasus tertentu, seorang wanita juga dapat mengalami gangguan hipotensi supine.

Apa itu hipotensi supine?

Syndorme hipotensi supine (SHT) alias ganggun hipotensi teletang adalah penurunan tekanan darah sistolik sebesar 30 persen (sekitar 15-30 mmHG) pada ibu hamil ketika mereka berada dalam posisi telentang. Tekanan darah sistolik atau angka atas tekanan darah menunjukkan tingkat tekanan saat jantung sedang memompa darah untuk dialirkan ke seluruh bagian tubuh.

Kondisi ini disebabkan karena uterus (rahim) yang membesar seiring bertambahnya usia kehamilan. Pembesaran uterus akan menekan vena kava (vena terbesar dari batang tubuh) dan aorta bawah ketika berada dalam posisi terletang. Penekanan vena cava ini membatasi aliran darah kembali ke jantung. Akibatnya, terjadilah penurunan aliran balik vena yang menimbulkan gejala darah rendah. Dalam keadaan yang cukup berat, kondisi ini akan mengakibatkan ibu kehilangan kesadaran.

Hipotensi telentang biasanya terjadi mulai usia kehamilan trimester 2. Namun, kondisi ini juga dapat terjadi pada wanita pada trimester 3 atau usia kehamilan 36-38 minggu. Faktor risiko dari gangguan ini meliputi kehamilan kembar dan obesitas. Pasalnya kedua hal tersebut dapat memengaruhi ukuran, bentuk, dan berat uterus wanita.

Apa saja gejala hipotensi supine?

Ketika tekanan darah turun cukup rendah, seorang wanita mungkin akan memunculkan gejala seperti:

  • Takikardia, detak jantung cepat atau lemah saat istirahat
  • Mual
  • Muntah
  • Wajah pucat pasi
  • Keluar keringat dingin
  • Lemah
  • Pusing dan merasa sangat tidak nyaman
  • Kesulitan bernapas
  • Kliyengan
  • Pingsan

Gejala biasanya terjadi sementara dalam 3 sampai 10 menit setelah wanita berada dalam posisi berbaring atau terlentang.

Apakah kondisi ini berbahaya?

Ada teori yang menyatakan bahwa tekanan berkepanjangan atau berulang pada vena juga bisa mengurangi aliran darah ke plasenta, yang dapat berakibat negatif pada perkembangan janin. Dampak yang ditimbulkan pada janin ini termasuk distres janin, alias gawat janin. Sementara pada ibu akan menimbulkan berkurangnya suplai darah ke otak yang dapat menyebabkan syok.

Dalam kasus yang parah, kondisi ini juga dapat menyebabkan kematian ibu dan/atau janin.

Lantas, bagaimana cara mengatasi kondisi ini?

Banyak ahli menyarankan wanita hamil di usia kandungan lebih dari 20 minggu untuk tidur dengan posisi miring ke kiri atau duduk. Penting bagi Anda untuk menghindari berdiri terlalu lama. Pasalnya berdiri terlalu lama, terutama pada trimester ketiga, secara drastis dapat mengurangi aliran darah kembali ke jantung. Hal ini pada akhirnya menyebabkan pusing, pingsan, dan bahkan cedera karena jatuh.

Bolehkah wanita hamil dengan kondisi ini berolahraga?

Untuk mencegah gangguan hipotensi telentang, American College of Obstetricians dan Gynecologists (ACOG) menyarankan wanita agar tidak melakukan olahraga dengan posisi terlentang setelah trimester pertama. Jika Anda merasakan pusing setiap kali olahraga dengan posisi berbaring, maka berhentilah melakukan olahraga dengan posisi tersebut.

Belum ada penelitian yang mendukung dugaan bahwa berolahraga dengan posisi terlentang dapat berakibat negatif pada perkembangan janin. Tak hanya itu, sampai saat ini juga belum ada bukti yang cukup kuat bahwa beristirahat atau tidur telentang dapat membatasi aliran darah.

Silakan konsultasi ke dokter kandungan untuk informasi lebih lanjut. Dokter akan memberikan saran medis dan pengobatan yang sesudai dengan kondisi Anda.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca