Kenapa Perempuan Menopause Berisiko Osteoporosis?

Oleh

Kehawatiran seorang perempuan ketika memasuki usia 40-an adalah menopause. Ini karena saat menopaus, siklus menstruasi dan kesuburan pada perempuan berhenti. Sebagian perempuan juga takut kalau gairah seksnya akan menghilang. Namun, bagi perempuan, menopause adalah suatu fase yang tidak bisa dihindari. Sebelum memasuki fase menopause itu sendiri, ada beberapa fase yang akan dialami oleh perempuan, yaitu fase perimenopause, fase menopause dan fase postmenopause.

Pada fase perimenopause perempuan sudah mengalami gejala menopause, seperti mudah berkeringat dan siklus menstruasi pun akan tidak teratur, tetapi kehamilan masih dapat terjadi pada Anda. Setelah itu ada fase menopause, fase ini di mana Anda akan tidak akan mendapatkan menstruasi lagi.

Menopause terjadi diakibatkan indung telur tidak lagi memproduksi hormon estrogen dan progesteron, keduanya merupakan hormon yang diperlukan untuk kesuburan pada perempuan. Estrogen juga bisa melubrikasi vagina, ini yang membuat Anda tidak merasasakit ketika berhubungan seks. Selain untuk kesuburan, estrogen sendiri memiliki manfaat sebagai salah satu hormon yang membantu pembentukan tulang. Hormon estrogen bekerja sama dengan vitamin D dan hormon lainnya dalam memperbaiki tulang. Mengalami masa menopause, berarti risiko Anda terkena beberapa penyakit tulang seperti osteoporosis dan osteoarthritis juga meningkat.

Apa itu osteoporosis dan osteoarthritis?

Osteoporosis atau dikenal sebagai pengeroposan tulang, adalah penyakit yang dapat membuat tulang menjadi lemah. Ketika mengalami osteoporosis, ada lubang pada bagian tulang yang lama-kelamaan melebar. Setelah melebar, inti struktur utama tulang akan melemah. Osteoporosis tidak dapat dikenali sampai ada gejala nyeri pada tulang belakang dan pinggang. Sedangkan osteoarthritis atau dikenal sebagai pengapuran sendi merupakan sakit sendi yang menyebabkan menjadi nyeri dan kaku, biasanya terjadi pada pinggang, lutut, dan leher.

Apa hubungan menopause dengan osteoporosis dan osteoarthritis?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan osteoporosis dan osteoarthritis, beberapa di antaranya adalah genetik, gender, dan usia. Faktanya, osteoporosis dan osteoarthritis sangat rentan terjadi pada perempuan dibanding dengan laki-laki. Hal ini disebabkan struktur tulang pada perempuan yang lebih tipis dan lebih ringan dibanding laki-laki. Baik osteoporosis dan osteoarthritis sama-sama cenderung lebih rentan dialami oleh perempuan pada usia senja. Sebab pada usia senja, produksi hormon estrogen yang ada pada perempuan mulai berkurang, hingga pada tahap menopause. Berdasarkan Cleveland Clinic, perempuan yang mengalami fase postmenopause akan empat kali lebih rentan terkena osteoporosis.

Berkurangnya hormon estrogen juga mempengaruhi terjadinya osteoarthritis pada perempuan. Menurut Dr. Shikhman yang dikutip Everyday Health, hormon memiliki fungsi untuk mencegah rasa sakit pada tulang rawan yang berada di antara tulang sendi dan bantal tulang. Hormon juga mencegah agar ketika kita bergerak, tidak ada rasa sakit, sehingga kita dapat bergerak dengan lancar. Ketika hormon estrogen pada perempuan mulai berkurang, proteksi terhadap rasa sakit itu pun berkurang, sehingga perempuan semakin rentan terhadap osteoarthritis.

Bagaimana cara menanganinya?

Ada beberapa cara untuk menangani atau memperkecil kemungkinan terjadinya osteoporosis dan osteoarthritis:

  • Olahraga. Selalu aktif dan usahakan untuk selalu bergerak. Olahraga dapat menguatkan tulang dan otot. Olahraga yang direkomendasikan adalah aerobik, olahraga yang memerlukan pergerakan tubuh seperti berjalan, berlari, dan menaiki tangga. Selain itu, juga olahraga yang memerlukan kekuatan tangan atau kaki seperti hiking.
  • Diet. Usahakan memakan makanan yang menyeimbangkan vitamin C, E, D dan kalsium. Anda bisa memilih makanan yang mengandung antioksidan. Selain itu juga, Anda sebaiknya mengkonsumsi kalsium sebesar 1000-1200 mg per hari.
  • Gaya hidup sehat. Hindari meminum minuman yang mengandung alkohol dan tidak merokok.
  • Melakukan terapi hormon. Terapi hormon bisa dilakukan untuk mengurangi gejala menopause. Tetapi terapi ini tidak disarankan untuk beberapa perempuan karena mungkin dapat memicu sel kanker payudara dan darah tinggi. Jika Anda ingin melakukan terapi ini, konsultasi terlebih dahulu pada dokter.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca