8 Pilihan Obat dari Dokter untuk Mengatasi Gejala Osteoporosis

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update Maret 23, 2020
Bagikan sekarang

Dokter biasanya akan melakukan tes kepadatan tulang (bone densitrometri test) untuk mendiagnosis apakah pasiennya mengalami osteoporosis atau tidak. Tes ini juga sekaligus untuk memprediksi respon tubuh terhadap pengobatan osteoporosis yang direncanakan. Hasil tes Anda nanti dapat membantu dokter menentukan jenis obat yang tepat, untuk meringankan gejala osteoporosis dan memperbaiki kondisi tulang Anda yang keropos.

Pilihan obat untuk mengatasi osteoporosis

suplemen kalsium

Pada kebanyakan kasus, tulang yang sudah keropos dan rentan patah karena osteoporosis dapat diperkuat dengan pemilihan obat yang tepat. Beberapa jenis obat yang biasa diresepkan dokter dalam rejime pengobatan osteoporosis adalah:

1. Alendronate

Alendronate adalah obat golongan bifosfonat yang bekerja memperlambat laju pengeroposan tulang dan mencegah patah tulang.

Alendronate banyak digunakan sebagai pengobatan osteoporosis yang disebabkan oleh menopause, penggunaan steroid berlebih, atau kegagalan gonad. Obat ini juga sering diresepkan untuk orang yang berisiko tinggi mengalami patah tulang karena sudah keropos akibat osteoporosis.

Setiap orang mungkin mendapat dosis obat yang berbeda, sesuai keparahan gejala dan kondisi tubuh. Namun seperti obat-obatan pada umumnya, alendronate memiliki berbagai efek samping umum, seperti:

  • Asam lambung naik (heartburn)
  • Sakit perut
  • Mual
  • Diare atau sembelit
  • Nyeri tulang
  • Nyeri otot atau sendi

2. Risedronate

Risedronate adalah obat golongan bifosfonat untuk mencegah patah dan menambah massa tulang yang keropos. Sebagai pengobatan osteoporosis, risedronate bekerja memperlambat kerusakan tulang yang terjadi berkelanjutan.

Obat osteoporosis ini memiliki berbagai efek samping seperti:

  • Asam lambung naik (heartburn)
  • Masalah pencernaan
  • Sakit perut
  • Diare
  • Sakit punggung
  • Nyeri sendi
  • Nyeri otot
  • Gejala flu seperti demam, sakit kepala, dan lainnya

3. Ibandronate

Ibandronate juga termasuk obat golongan bifosfonat untuk mencegah dan mengobati pengeroposan tulang. Cara kerjanya adalah dengan memperlambat kerusakan tulang dan mempertahankan tulang agar tetap kuat.

Ibandronate umum digunakan untuk mengobati atau mencegah osteoporosis pada wanita setelah menopause.

Adapun efek samping ibandronate yang biasa muncul yaitu:

  • Asam lambung naik (heartburn)
  • Sakit perut
  • Diare
  • Nyeri punggung
  • Nyeri tulang
  • Nyeri sendi atau otot
  • Nyeri di lengan atau kaki
  • Sakit kepala
  • Muncul gejala flu seperti demam, kelelahan, meriang

4. Asam zoledronat

Asam zoledronat adalah jenis obat bifosfonat yang membantu memperlambat pengeroposan dan mencegah patah tulang. Obat ini umumnya tersedia dalam dua merek berbeda, yaitu Reclast dan Zometa.

Reclast banyak digunakan untuk mengobati osteoporosis yang disebabkan oleh menopause, penggunaan steroid, atau kegagalan produksi hormon seks. Reclast juga digunakan untuk mengobati penyakit Paget tulang.

Obat Zometa digunakan untuk menstabilkan kadar kalsium dalam darah yang terlalu tinggi akibat kanker. Selain sebagai obat osteoporosis, Zometa juga dipakai untuk mengobati multiple myeloma (sejenis kanker sumsum tulang) atau kanker tulang yang telah menyebar.

Reclast dan Zometa tidak boleh dikonsumsi secara bersamaan. Maka dari itu, dokter akan meresepkan hanya satu yang lebih sesuai dengan kondisi tubuh Anda.

Asam zoledronat merupakan obat osteoporosis yang punya berbagai efek samping seperti:

  • Mual dan muntah
  • Diare atau sembelit
  • Nyeri tulang
  • Nyeri sendi atau otot
  • Nyeri di tangan atau kaki
  • Gejala flu seperti demam, meriang, dan lain sebagainya
  • Mata merah atau bengkak
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Sesak napas

5. Denosumab

Denosumab (Prolia, Xgeva) adalah obat baru yang terbukti mengurangi risiko patah tulang akibat osteoporosis pada wanita dan pria.

Denosumab dapat digunakan oleh orang yang tidak bisa mengonsumsi bifosfonat, seperti beberapa orang yang mengalami gangguan fungsi ginjal.

6. Teripatide

Teriparatide (Forteo) biasa diperuntukkan bagi pria dan wanita menopause yang kepadatan tulangnya sangat rendah. Kondisi ini biasanya dipicu atau disebabkan oleh penggunaan obat steroid jangka panjang.

Teriparatide termasuk obat yang berpotensi untuk membangun kembali kekuatan tulang keropos.

7. Abaloparatide

Abaloparatide (Tymlos) adalah obat osteoporosis terbaru. Seperti teriparatide, obat ini berpotensi untuk membangun kembali kekuatan tulang.

Dalam sebuah uji coba perbandingan, abaloparatide tampak sama efektifnya dengan teriparatide sebagai pengobatan osteoporosis. Namun, kemungkinan abaloparatide untuk menyebabkan kelebihan kalsium lebih kecil ketimbang teriparatide.

8. Suplemen vitamin D dan kalsium

Hampir setiap obat yang diresepkan dokter untuk melindungi tulang Anda akan dibarengi juga dengan pemberian suplemen kalsium dan vitamin D. Kombinasi antara obat resep dan suplemen kedua vitamin ini dibutuhkan untuk memaksimalkan efek pengobatan osteoporosis.

Orang dewasa muda memerlukan asupan sekitar 1.000 miligram kalsium per hari untuk menjaga tulang tetap sehat dan kuat. Apabila Anda saat ini berusia 51 ke atas dan memiliki osteoporosis, Anda perlu mengonsumsi suplemen kalsium berdosis 1.200 miligram per hari.

Meski begitu, penggunaan suplemen kombinasi kalsium dan vitamin D tentu saja harus berdasar resep dokter. Jika tidak, suplemen ini dikhawatirkan dapat mengganggu kerja obat osteoporosis yang lainnya.

Suplemen yang berisi kombinasi kalsium dan vitamin D memiliki efek samping, yaitu:

  • Detak jantung yang tidak teratur
  • Badan lemah
  • Sakit kepala
  • Mulut kering atau sensasi rasa logam di mulut
  • Nyeri tulang atau otot

Suplemen baik dikonsumsi ketika Anda tidak bisa mendapatkan cukup asupan kalsium dan vitamin D harian. Namun, akan selalu lebih baik untuk mengutamakan perolehan kalsium dan vitamin dari makanan. Sumber kalsium dan vitamin D bisa didapat dari makanan dan minuman seperti ikan, brokoli, bayam, kacang almond, susu dan buah jeruk.

Berapa lama obat osteoporosis harus dikonsumsi?

cara menggunakan obat

Seberapa lama jangka waktu pengobatan osteoporosis akan tergantung pada jenis obat, kondisi tubuh pasien, keparahan kondisi tulang yang keropos, dan seberapa besar risiko patah tulangnya. Oleh karenanya, lama waktu pengobatan tidak bisa disamaratakan antara satu orang dengan yang lain.

Namun dari semua jenis obat osteoporosis di atas, hanya teriparatide dan abaloparatide yang memiliki jangka waktu pengobatan pasti.

Badan pengawas obat di Amerika Serikat Food and Drug Administration (FDA), yang setara dengan BPOM RI, merekomendasikan batas durasi pengobatan osteoporosis dengan dua obat ini tidak lebih dari dua tahun.

Bagaimana cara tahu bahwa obat bekerja dengan baik di tubuh?

osteoporosis

Obat osteoporosis berfungsi untuk memperkuat tulang dan mencegahnya makin keropos, serta mengurangi risiko patah tulang di kemudian hari.

Guna mencari tahu apakah obat osteoporosis Anda bekerja baik, dokter akan secara rutin memeriksa tulang Anda selama pengobatan untuk memastikan kepadatannya tidak malah berkurang. Indikator lainnya yaitu saat tulang yang patah tidak bertambah parah selama pengobatan osteoporosis masih berlangsung.

Sebagai catatan: efek beberapa obat seperti raloxifene dan denosumab diketahui dapat hilang setelah dosis dihentikan. Sementara sebagian obat lainnya bisa terus melindungi tulang meski telah berhenti dikonsumsi.

Agar lebih jelas, silakan konsultasikan segala pertanyaan dan kekhawatiran Anda terkait efek obat atau durasi pengobatan osteoporosis dengan dokter yang biasa menangani Anda.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Cara Menjaga Tubuh Agar Tetap Fit Saat Puasa

Jangan sampai karena puasa Anda jadi lemas, lesu, dan mudah sakit. Simak rutinitas yang bisa dilakukan agar tetap fit saat puasa.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Hari Raya, Ramadan Mei 9, 2020

Kenapa Saya Sakit Perut Setelah Buka Puasa?

Pernahkah Anda sakit perut setelah buka puasa? Bisa jadi ini karena pengaruh makanan yang Anda konsumsi saat berbuka. Apa lagi sebab lainnya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Hari Raya, Ramadan Mei 7, 2020

4 Tips Mencegah Maag Kambuh Saat Puasa

Puasa menjadi tantangan tersendiri untuk Anda yang memiliki maag. Namun, jangan khawatir, berikut tips-tips mencegah maag saat puasa.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Hari Raya, Ramadan Mei 7, 2020

Fakta di Balik 4 Mitos Osteoporosis yang Banyak Dipercayai

Anda mungkin sudah sering mendengar berbagai mitos yang beredar mengenai osteoporosis. Namun, bagaimana fakta yang sebenarnya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari

Direkomendasikan untuk Anda

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal tayang Mei 17, 2020
Hati-hati, Tulang Bisa Keropos Selama di Rumah Saja karena Tak Banyak Aktivitas

Hati-hati, Tulang Bisa Keropos Selama di Rumah Saja karena Tak Banyak Aktivitas

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh Roby Rizki
Tanggal tayang Mei 14, 2020
3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Monika Nanda
Tanggal tayang Mei 14, 2020
5 Makanan dan Minuman Pantangan Penderita Osteoporosis

5 Makanan dan Minuman Pantangan Penderita Osteoporosis

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu
Tanggal tayang Mei 14, 2020