3 Macam Tes yang Paling Umum untuk Mendiagnosis Alergi, Plus Persiapan dan Risiko Efek Sampingnya

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/11/2019
Bagikan sekarang

Alergi adalah salah satu masalah kesehatan yang umum. Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh Anda bereaksi berlebihan terhadap sesuatu di lingkungan Anda. Hal-hal yang dapat mencetuskan reaksi alergi pun ada beragam rupa. Maka jika Anda curiga punya alergi terhadap sesuatu, sebaiknya pastikan dengan menjalani tes di rumah sakit. Tes alergi adalah pengujian yang dilakukan oleh seorang dokter spesialis alergi untuk menentukan apakah Anda memiliki reaksi tak biasa terhadap zat tertentu. Pengujian bisa dilakukan dengan cara tes darah, tes kulit, atau eliminasi makanan. Berikut ulasan lengkapnya.

Tes alergi langsung di kulit

Tes kulit adalah pengujian yang paling banyak dilakukan untuk mendiagnosis jenis alergi hirup atau paparan kulit. Misalnya alergi bulu hewan, alergi debu dan tungau, atau alergi serbuk sari tanaman. Tes ini dapat juga dilakukan untuk mendiagnosis alergi makanan, tapi biasanya akan dilanjut dengan tes lainnya.

Proses tes kulit tergolong mudah, cepat, dan minim rasa sakit. Lewat tes ini dokter juga dapat sekaligus menguji beberapa alergen dalam sekali waktu.

Berikut adalah berapa jenis tes kulit yang umum dilakukan dokter:

1. Test prick

Tes tusuk kulit (skin prick test) dilakukan untuk mengidentifikasi alergi terhadap serbuk sari, jamur, bulu hewan peliharaan, tungau debu dan makanan.

Caranya, dokter atau perawat akan lebih dulu membersihkan sebagian area kulit lengan, pinggang, atau punggung Anda dengan pembersih khusus. Pada orang dewasa, tes ini biasanya dilakukan pada lengan bawah sementara anak-anak diuji di punggung atas.

Setelah itu dokter atau perawat menggambar kotak-kotak di atas kulit sebagai “peta”. Setiap kotak dari “peta” kulit tersebut menandakan wilayah untuk satu alergen tertentu. Dokter atau perawat kemudian akan menggores kulit Anda untuk meneteskan ekstrak alergen dalam dosis kecil.

Goresan yang dibuat sangatlah dangkal, hanya sebatas di permukaan kulit saja. Jadi, tidak terasa sakit apalagi sampai mengeluarkan darah.

Alergen yang diteteskan ke dalam kulit biasanya berupa:

  • Histamin. Pada kebanyakan orang, histamin akan menyebabkan reaksi pada kulit.  Namun, jika Anda tidak bereaksi terhadap histamin, tes kulit alergi Anda mungkin tidak bisa menjadi penentu apa Anda punya alergi atau tidak.
  • Gliserin atau saline. Pada kebanyakan orang, zat ini tidak menimbulkan reaksi apa pun. Jika Anda bereaksi terhadap gliserin atau salin, Anda mungkin memiliki kulit sensitif. Hasil tes perlu didiagnosis secara hati-hati untuk menghindari diagnosis alergi palsu.

Setelah 15 menit, dokter akan memeriksa kulit Anda untuk mengamati adanya tanda reaksi alergi. Jika Anda alergi terhadap salah satu zat yang diuji, Anda akan mengalami benjolan (merah) gatal yang mungkin terlihat seperti gigitan nyamuk.

2. Tes suntik

Tes alergi lainnya adalah dengan menyuntikkan dosis kecil ekstrak alergen ke dalam kulit di lengan Anda. Setelah sekitar 15 menit  Anda disuntik, dokter akan menunggu munculnya reaksi alergi. Tes alergi ini umumnya dilakukan bagi Anda yang dicurigai punya alergi serangga dan alergi obat penisilin.

3. Tes patch (tes tempel kulit)

Tes patch adalah metode pengujian alergi dengan menempelkan beberapa ekstrak alergen pencetus pada kulit Anda. Kulit Anda mungkin akan dipapari oleh 20-30 ekstrak alergen berbeda. Ini dapat termasuk zat lateks, obat-obatan, wewangian, pengawet, pewarna rambut, logam dan resin.

Anda akan mengenakan tambalan di lengan atau punggung selama 48 jam. Selama waktu ini, Anda harus menghindari mandi dan aktivitas yang menyebabkan badan berkeringat parah. Setelah 48 jam, Anda harus kembali ke dokter untuk diperiksa apakah kulit iritasi atau tidak di sekitar lokasi tambalan.

Tes alergi dengan uji darah

Tes superfisial di kulit mungkin tidak akan efektif menentukan pencetusnya jika reaksi alergi Anda tergolong parah. Oleh karena itu, dokter dapat memilih untuk mengambil sampel darah Anda untuk kemudian diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Sampel darah akan diteliti untuk diperiksa adanya antibodi yang melawan alergen tertentu. Tes ini umumnya disebut ImmunoCAP dan cukup berhasil untuk mendeteksi kehadiran antibodi terhadap alergen tertentu. 

Tes alergi dengan eliminasi makanan

Eliminasi makanan adalah salah satu tes yang dapat membantu dokter menentukan makanan apa yang menyebabkan Anda memiliki reaksi alergi. Caranya, Anda hanya perlu menghindari makanan tertentu yang dicurigai sebagai penyebab alergi muncul.

Diet eliminasi makanan umumnya berlangsung dua hingga empat minggu. Selama periode ini, Anda akan menghindari makanan yang dicurigai sebagai penyebab alergi. Sementara itu, dokter akan memantau gejala Anda. Apabila Anda memang benar alergi dengan makanan yang sedang dihindari tersebut, kemungkinan gejala akan berkurang.

Dalam beberapa kasus, dokter secara bertahap mungkin akan memperkenalkan kembali makanan yang menyebabkan reaksi alergi muncul. Jika gejala Anda kembali, kemungkinan Anda alergi terhadap makanan itu. Diet eliminasi hanya boleh dilakukan di bawah pengawasan seorang profesional medis yang berpengalaman.

Jadi, tes mana yang paling efektif hasilnya?

Semua tes punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tes kulit umumnya bisa memberikan hasil yang cepat dan biayanya murah. Namun, hasilnya rentan keliru. Selain itu, beberapa obat-obatan dapat mengganggu efektivitas tes alergi di kulit.

Tes darah mungkin lebih dianjurkan dokter untuk Anda yang sedang aktif mengonsumsi obat-obatan tertentu. Obat tidak akan memengaruhi hasil tes darah. Namun, waktu untuk mendapatkan hasilnya agak lebih lama daripada tes langsung di kulit. Tes darah juga dapat menghasilkan hasil palsu dan biayanya lebih mahal daripada tes kulit.

Bagaimana cara membaca hasil tes alergi?

Anda bisa langsung mengetahui hasilnya jika menjalani tes langsung di kulit. Sedangkan hasil dari tes tempel (patch test) mungkin akan keluar dalam beberapa hari setelahnya.

Jika hasil tes kulit Anda positif, berarti Anda mungkin alergi terhadap zat tertentu. Tes kulit negatif berarti menandakan Anda mungkin tidak alergi terhadap alergen tertentu.

Namun, hasil tes saja umumnya tidak dapat mendiagnosis alergi secara langsung. Untuk mendapatkan diagnosis pasti, dokter harus memeriksa semua hasil tes yang dipertimbangkan bersamaan dengan riwayat medis Anda.

Mintalah dokter untuk menjelaskan segala hal tentang hasil diagnosis atau perawatan yang harus dilakukan setelah tes alergi.

Setelah dokter menentukan alergen yang menyebabkan gejala Anda, ia akan menginstruksikan Anda tentang cara menghindari alergen. Dokter Anda juga dapat menyarankan obat yang dapat meringankan gejala Anda.

Selain menggunakan obat-obatan, dokter juga dapat menganjurkan imunoterapi (jika alergi parah), lalu penyesuaian kondisi di tempat kerja atau rumah Anda. Selain itu, tidak lupa juga Anda harus menghindari beberapa makanan yang menyebabkan reaksi alergi muncul.

Apa yang harus disiapkan sebelum tes alergi?

Sebelum melakukan tes, ada beberapa hal yang akan ditanyakan akan ditanyakan atau diperiksa dokter. Umumnya dokter akan bertanya tentang gaya hidup Anda, riwayat keluarga, dan seputar gejala alergi yang Anda alami.

Anda juga akan disarankan untuk berhenti minum beberapa obat tertentu sebelum tes alergi Anda. Pasalnya obat-obatan berikut ini dapat memengaruhi hasil tes:

  • Obat antihistamin yang diresepkan, seperti levocetirizine dan desloratadine
  • Obat antihistamin yang dijual bebas, seperti loratadin,  diphenhydramine, chlorpheniramine, atau cetirizine
  • Obat antidepresan trisiklik, seperti nortriptyline dan desipramine
  • Obat sakit maag tertentu, seperti simetidin dan ranitidin
  • Obat asma omalizuma. Obat ini dapat mengganggu hasil tes selama enam bulan atau lebih lama bahkan setelah Anda berhenti menggunakannya.

Adakah risiko dari tes alergi?

Tes alergi dapat menyebabkan gatal-gatal ringan, kemerahan, atau bengkak pada kulit. Kadang-kadang, benjolan kecil yang disebut bercak muncul pada kulit. Gejala-gejala ini dapat hilang sendiri dalam beberapa jam, namun dapat berlangsung selama beberapa hari. Krim kortison ringan dapat meringankan gejala-gejala tersebut.

Pada kasus langka, tes alergi menimbulkan reaksi alergi langsung yang membutuhkan perhatian medis. Dalam mengantisipasi reaksi seperti itu, tes alergi harus dilakukan paling tidak di klinik yang dilengkapi dengan obat-obatan dan peralatan yang memadai. Hal ini termasuk adanya suntikan obat epinefrin untuk mengobati anafilaksis (reaksi alergi yang mengancam nyawa).

Jika Anda mengalami reaksi alergi parah setelah tes, laporkan ke dokter segera. Jika Anda mengalami gejala-gejala syok anafilaksis, seperti pembengkakan tenggorokan, kesulitan bernapas, atau tekanan darah rendah, segera pergi ke UGD rumah sakit terdekat karena ini adalah keadaan darurat medis.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Saja yang Menyebabkan Anak Sering Muntah?

Gumoh biasa terjadi pada anak dan berbeda dengan muntah-muntah. Penyebab anak sering muntah ini perlu Anda ketahui agar dapat tepat dan cepat mengatasinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki

9 Macam Obat untuk Mengatasi Reaksi Alergi Makanan

Apabila gejala alergi muncul setelah makan makanan tertentu, segera gunakan salah satu atau kombinasi dari obat berikut ini sebelum kondisi semakin gawat.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph

Gejala Alergi Makanan, dari yang Umum Hingga Paling Parah

Gejala alergi makanan bukan hanya berupa gatal-gatal. Ada ciri-ciri alergi makanan lainnya mulai dari yang ringan hingga parah berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph

Bagaimana Cara Mencegah Alergi pada Bahan Pakaian?

Mencegah alergi bahan pakaian diperlukan supaya Anda terhindar dari rasa tidak nyaman pada kulit Anda, seperti kemerahan dan gatal.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin

Direkomendasikan untuk Anda

penyebab hidung meler

Beragam Penyebab Hidung Meler Terus Padahal Tidak Sedang Flu

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020
gejala alergi cat rambut

Ingin Warnai Rambut? Hati-hati, Kenali Dulu Gejala Alergi Cat Rambut

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020
alergi-buah-kiwi

Alergi Buah Kiwi Cukup Umum Terjadi pada Anak, Apa Gejalanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 26/04/2020
alergi parfum

Alasan Mengapa Terjadi Ruam Setelah Anda Menggunakan Parfum

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 23/03/2020