home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Awas! Kenali 7 Penyebab Kebotakan Pria pada Usia Dini

Awas! Kenali 7 Penyebab Kebotakan Pria pada Usia Dini

Saat rambut mulai sering rontok, kebanyakan pria mungkin khawatir akan mengalami kebotakan. Dikutip dari Mayo Clinic, normalnya rambut Anda akan rontok sebanyak 50-100 helai per hari. Hal ini bukanlah penyebab kebotakan, karena rambut baru akan tumbuh lagi.

Masalah akan muncul jika banyak rambut rontok namun tidak dibarengi dengan tumbuhnya rambut baru. Kondisi tersebut dapat semakin parah jika folikel rambut mulai rusak dan digantikan dengan jaringan parut.

Jika hal ini terjadi, Anda mungkin akan memiliki kepala botak yang biasanya ditakuti oleh pria, khususnya mereka yang berusia relatif muda. Lantas, hal apa saja yang bisa jadi penyebab kebotakan pada pria?

Berbagai penyebab kebotakan pada pria

Kebotakan dimulai dari kerontokan rambut yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kebotakan adalah faktor keturunan, perubahan hormon, kondisi medis, atau ketika Anda dalam masa pengobatan.

1. Faktor keturunan

genetik manusia

Sebagian besar kebotakan pria pada usia dini disebabkan oleh faktor keturunan atau genetik. Pola kebotakan pria (pattern baldness) berbeda dengan pola kebotakan wanita. Kebotakan pada pria bisa terjadi secara bertahap dan dalam pola yang dapat diprediksi.

Kebotakan biasanya diawali dengan garis rambut di dahi yang makin mundur, disertai titik atau daerah lingkaran kebotakan kecil pada kulit kepala. Pada wanita, kebotakan umumnya diawali dengan kondisi rambut yang semakin menipis.

Kebotakan pria dan wanita dapat disebabkan oleh androgenetik alopecia yang merupakan faktor keturunan dan dipengaruhi oleh hormon androgen, yakni dihydrotestosterone (DHT).

Setiap rambut pada kepala Anda memiliki siklusnya masing-masing. Rambut rontok kemudian akan digantikan dengan rambut baru. Folikel rambut rontok digantikan dengan rambut baru dalam ukuran yang sama.

Namun, yang terjadi pada awal kebotakan adalah folikel rambut menyusut sehingga rambut baru tumbuh lebih tipis dan lebih halus pada wanita. Sedangkan pada pria rambut tumbuh lebih pendek dan lebih halus. Folikel rambut makin menyusut dan siklus pertumbuhan rambut berakhir hingga akhirnya tidak ada rambut baru lagi yang tumbuh.

Pria secara umum lebih cepat mengalami kebotakan dibanding wanita. Pada pria, kebotakan bisa terjadi pada masa awal pubertas. Faktor keturunan dapat memengaruhi di usia berapa Anda mulai mengalami kebotakan dan juga tingkat kebotakan rambut.

2. Perubahan hormon

hormon testosteron pria

Perubahan atau ketidakseimbangan hormon tubuh dapat menyebabkan Anda mengalami rambut rontok yang berujung kepada kebotakan rambut. Salah satu hormon yang berhubungan dengan pertumbuhan rambut adalah hormon androgen atau hormon seks pria.

Salah satu fungsi hormon androgen adalah untuk mengatur pertumbuhan rambut. Penelitian menunjukkan bahwa pola kebotakan pada pria berhubungan dengan hormon androgen.

Pada wanita, perubahan hormon androgen biasanya terjadi setelah menopause, sehingga dapat menyebabkan rambut rontok dan kebotakan pada usia paruh baya. Namun, beberapa ahli mengatakan bahwa hal ini tidak berhubungan langsung.

Selain saat menopause, perubahan hormon pada wanita juga bisa terjadi saat kehamilan dan kelahiran. Pada saat kehamilan dan kelahiran, wanita biasanya juga mengalami kerontokan rambut. Selain itu, karena beberapa hormon dipengaruhi oleh kelenjar tiroid maka timbulnya masalah pada kelenjar tiroid juga dapat menyebabkan rambut rontok.

3. Kondisi medis dan penyakit tertentu

anemia pada pria

Jika seluruh folikel rambut berukuran sama atau rambut rontok tiba-tiba, hal ini mungkin disebabkan oleh faktor selain keturunan, misalnya kondisi medis atau penyakit tertentu yang Anda alami.

Kondisi ini dapat menyebabkan ruam, kemerahan, nyeri, kulit kepala mengelupas, rambut patah, kebotakan sebagian, atau pola yang tidak biasa dari rambut rontok yang menyertai rambut rontok sehingga berujung pada kebotakan.

Ada berbagai macam kondisi medis yang dapat menyebabkan rambut rontok sehingga berujung kepada kebotakan, seperti di bawah ini.

  • Gangguan kelenjar tiroid
  • Anemia
  • Penyakit autoimun, seperti lupus
  • Infeksi menular seksual, seperti sifilis
  • Tinea capitis, infeksi jamur pada kulit kepala
  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS), umumnya terjadi pada wanita

Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh dapat menyerang folikel rambut. Hal ini menyebabkan rambut rontok tiba-tiba, meninggalkan bekas halus pada kulit kepala, serta menghasilkan kebotakan seperti lingkaran kecil di kulit kepala. Kerontokan rambut yang disebabkan sistem imun ini biasa disebut dengan alopecia areata.

4. Efek samping pengobatan dan terapi

obat kemoterapi picu kebotakan

Rambut rontok hingga kebotakan juga bisa disebabkan oleh pengobatan atau perawatan yang sedang dilakukan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh pengaruh obat-obatan yang digunakan oleh penderita kanker, arthritis (radang sendi), depresi, gangguan jantung dan pembuluh darah, tekanan darah tinggi (hipertensi), serta alat kontrasepsi.

Terapi kanker, seperti kemoterapi atau radioterapi yang dilakukan di sekitar area leher dan kepala juga berpotensi menimbulkan kerontokan rambut hingga kebotakan beberapa minggu setelah perawatan dilakukan.

Temui dokter jika Anda mengalami rambut rontok setelah minum obat atau menjalani terapi tertentu, terlebih apabila kondisi tersebut disertai dengan keluhan kesehatan lainnya.

5. Stres berat

stres berat

Kebotakan pada usia muda akibat rambut rontok juga bisa terjadi karena stres ekstrem yang dialami, seperti berpisah dengan pasangan atau meninggalnya anggota keluarga. Pada beberapa kondisi, stres berat juga dapat menimbulkan gangguan psikologis yang dikenal sebagai trikotilomania.

Selain itu, trauma fisik seperti operasi, pemulihan pasca sakit, atau masalah kesehatan yang berkelanjutan juga dapat mempercepat proses kerontokan rambut.

Umumnya, tubuh akan kembali normal setelah faktor penyebab stres hilang dan mencegah rambut rontok kembali. Setidaknya beberapa kalangan membutuhkan 6-9 bulan agar kondisi rambut kembali normal.

6. Penggunaan produk perawatan rambut

keramas berisiko kebotakan

Walaupun jarang dilakukan pria, namun keramas terlalu sering, bleaching, mewarnai rambut, dan perawatan rambut lainnya berkontribusi pada penipisan rambut yang membuatnya cepat rapuh. Untuk pria berambut panjang, kebiasaan mengikat rambut terlalu ketat juga rentan merusak dan mematahkan rambut.

Jika Anda memiliki kebiasaan yang membuat rambut rusak, segera hentikan. Dalam beberapa kasus, rambut dapat tumbuh kembali secara normal apabila sumber masalah dihilangkan.

7. Kekurangan nutrisi tertentu

protein hewani dan protein nabati

Dikutip dari American Academy of Dermatology Association, rendahnya kadar vitamin B—khususnya vitamin B7 atau biotin, protein, zat besi, dan seng dalam tubuh dapat berisiko mengalami kerontokan rambut. Hal ini disebabkan oleh pola makan buruk atau sedang menjalani diet rendah protein.

Mengonsumsi jenis makanan, seperti daging, ikan, produk susu, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan tertentu dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh sehingga rambut dapat tumbuh normal kembali. Sementara jika Anda sedang mengalami program diet, hal ini sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.

Berbagai metode mengatasi kebotakan pada pria perlu Anda lakukan, karena kondisi ini tentu akan memengaruhi kepercayaan diri Anda. Konsultasikan ke dokter apabila mengalami kerontokan rambut yang berpotensi menyebabkan kebotakan.

Dokter akan melakukan diagnosis untuk mencari tahu penyebab rambut botak, untuk selanjutnya menentukan perawatan sesuai, misalnya dengan obat-obatan (minoxidil atau finasteride) atau transplantasi rambut.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hair loss: Who gets and causes. (2020). Retrieved 28 January 2021, from https://www.aad.org/public/diseases/hair-loss/causes/18-causes 

Hair loss – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 28 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hair-loss/symptoms-causes/syc-20372926

Hair loss – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2020). Retrieved 28 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hair-loss/diagnosis-treatment/drc-20372932 

Kivi, R., & Murrell, D. (2019). Male Pattern Baldness: Causes, Identification, and Prevention. Retrieved 28 January 2021, from https://www.healthline.com/health/male-pattern-baldness#causes

Hair Loss – Harvard Health. (2018). Retrieved 28 January 2021, from https://www.health.harvard.edu/a_to_z/hair-loss-a-to-z 

Male pattern baldness: MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2019). Retrieved 28 January 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/001177.htm

Female pattern baldness: MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2019). Retrieved 28 January 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/001173.htm

The Basics of Hair Loss. (2020). Retrieved 28 January 2021, from https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/hair-loss/understanding-hair-loss-basics#1

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Arinda Veratamala Diperbarui 22/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan