home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Ciri-Ciri Andropause atau Menopause pada Pria, Apa Saja?

Mengenal Ciri-Ciri Andropause atau Menopause pada Pria, Apa Saja?

Saat seorang pria memasuki usia kepala lima, biasanya mereka mulai memperlihatkan sejumlah perubahan perilaku ataupun sikap. Mereka misalnya jadi sering mengeluh sakit, rewel, serta mengalami penurunan kemampuan seksual. Apakah hal tersebut merupakan gejala andropause. Lantas, apa itu andropause? Simak ulasannya berikut ini.

Mengenal andropause, gejala menopause pada pria

Andropause adalah kondisi menurunnya kadar hormon testosteron seiring dengan proses penuaan. Kondisi ini digolongkan sebagai penyakit degeneratif pria.

Andropause sering disebut menopause pada pria, walaupun kenyataannya tidak demikian. Terdapat sejumlah perbedaan antara menopause pada wanita dan andropause pada pria.

Pada wanita, menopause terjadi saat ovulasi berakhir dan produksi hormon menurun selama waktu yang relatif singkat. Pada pria, produksi hormon dan penurunan bioavailabilitas hormon testosteron ini terjadi selama bertahun-tahun dengan konsekuensi tidak selalu jelas.

Penyebab andropause pada pria

andropause pada pria

Andropause dikaitkan dengan berkurangnya kadar hormon testosteron dalam tubuh. Testosteron adalah hormon reproduksi yang penting bagi pria yang berperan dalam perkembangan penis dan testis, pertumbuhan rambut tubuh, perubahan suara, pembentukan otot dan tulang, serta produksi sperma. Hormon ini juga berperan dalam meningkatkan dorongan seks (libido).

Testosteron mulai berperan sejak pria memasuki masa pubertas. Puncak keberadaan hormon pertumbuhan pria ini terjadi saat pria memasuki usia sekitar 20 tahun dan jatuh sekitar 14 persen setiap 10 tahun sesudahnya. Umumnya, proses penurunan kadar testosteron pria dimulai pada usia 35 tahun dan terus berlangsung sampai testosteron benar-benar habis di usia sekitar 70 tahun.

Di usia 40 tahun akhir hingga 50 tahun awal ini gejala andropause biasanya muncul. Di masa ini, hormon testosteron telah hilang hampir setengahnya. Sementara pada usia 80 tahun, pria umumnya hanya memiliki sisa beberapa persen saja. Berkurangnya kadar hormon ini menyebabkan tanda-tanda penuaan semakin terlihat.

Bukan hanya terjadi pada usia lanjut, penurunan hormon ini juga bisa terjadi pada usia lebih muda yang disebut dengan andropause dini. Kondisi ini dapat timbul akibat beberapa prosedur medis yang memengaruhi kadar testosteron dalam tubuh seperti operasi pengangkatan testis pada penderita kanker testis atau terapi hormon pada penderita kanker prostat.

Berbagai ciri dan gejala andropause

Umumnya, pria harus waspada terhadap masalah ketidakseimbangan hormon tubuh sebelum gejala yang ditimbulkan semakin memburuk. Gejala-gejala berkaitan dengan andropause biasa disebut testosterone deficiency syndrome atau TDS.

Beberapa ciri dan gejala andropause yang harus Anda ketahui seperti di bawah ini.

  • Kekurangan energi dan cepat merasa lelah
  • Libido rendah
  • Disfungsi ereksi alias impotensi
  • Berkeringat cukup banyak setiap malam
  • Mood mudah berubah dan sensitif
  • Depresi
  • Bertambahnya berat badan walaupun nafsu makan berkurang
  • Banyak rambut yang rontok
  • Melemahnya daya ingat
  • Denyut jantung yang tidak teratur
  • Susah tidur atau insomnia
  • Ginekomastia atau pembesaran puting payudara pada pria seiring bertambahnya usia

Menurut pakar endokrinologi di The Endocrine Clinic Mount Elizabeth Novena Hospital, jika seorang pria mengalami sejumlah gejala tersebut, kemungkinan pria itu tengah mengalami ketidakseimbangan endokrin.

Biasanya, endokrinologis dapat melakukan pengetesan dan melakukan sejumlah diagnosis dan latihan untuk memperbaiki ketidakseimbangan tersebut.

Bagaimana cara mengobati andropause?

terapi hormon untuk mengobati andropause

Wanita bisa menjalani terapi sulih hormon estrogen, estrogen replacement therapy (ERT), untuk meningkatkan kualitas hidup pasca menopause.

Sementara pria yang mengalami andropause bisa menjalani terapi sulih hormon testosteron, tesstosterone replacement therapy (TRT), yang kini mudah dilakukan di berbagai klinik dan rumah sakit di Indonesia.

Sebelum melakukan prosedur ini, dokter terlebih dulu akan melakukan tes darah untuk mengetahui kadar testosteron dalam darah. Terapi hormon testosteron ini dapat dilakukan melalui berbagai metode, seperti melalui tablet, patch, gel, atau suntik hormon testosteron. Hasil pengobatan ini umumnya dapat mengurangi gejala andropause dalam 3-6 minggu.

Sayangnya, metode pengobatan andropause ini masih menuai kontroversi. Dikutip dari jurnal Reviews in Urology, terapi hormon testosteron dapat meningkatkan risiko kanker prostat, meskipun kondisi ini perlu diteliti lebih mendalam lagi.

Pengobatan ini juga tidak bisa dilakukan pria yang mengalami masalah kesehatan, seperti penyakit hati dan jantung. Pengawasan dokter diperlukan selama proses pengobatan, pasalnya penanganan yang tidak tepat dapat memicu impotensi dan gangguan kesuburan pria.

Adakah langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan?

Jika Anda atau pasangan Anda mulai menunjukkan gejala menopause pada pria, hal itu adalah wajar. Kondisi ini seringnya tidak bisa dicegah dan datang seiring dengan bertambahnya usia. Langkah pencegahan andropause dilakukan untuk mengurangi gejala sekaligus komplikasi yang ditimbulkan.

Di bawah ini beberapa perubahan gaya hidup yang dapat Anda lakukan.

  • Menjaga pola makan yang lebih teratur dibarengi dengan asupan makanan sehat dan bergizi seimbang.
  • Hindari mengonsumsi makanan berpengawet, berkalori, dan berlemak tinggi.
  • Kurangi atau hentikan kebiasaan buruk, seperti merokok dan minum alkohol.
  • Olahraga teratur, misalnya berjalan 30 menit setiap pagi.
  • Menjaga istirahat dan tidur yang cukup.
  • Mengelola stres, depresi, dan gangguan kecemasan yang dialami.

Beberapa pria mungkin lebih sensitif dan mudah marah pada masa ini, karena itu sabar dan menerima kenyataan adalah kunci menghadapi kondisi andropause. Bila gejala yang ditimbulkan mulai sulit ditangani, konsultasikan ke dokter Anda untuk solusi penanganan yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Male menopause: Myth or reality?. (2017). Retrieved 23 March 2017, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/mens-health/in-depth/male-menopause/art-20048056

Male Menopause. (2017). Retrieved 20 March 2017, from https://www.webmd.com/men/guide/male-menopause

Krans, B., & Graham Rogers, M. (2016). Male Menopause: Overview, Symptoms, and Treatment. Retrieved 20 March 2017, from https://www.healthline.com/health/menopause/male 

Andropause or Male Menopause: What Causes It?. (2020). Retrieved 4 February 2021, from https://www.healthxchange.sg/men/prostate-health/andropause-what-causes-it 

The ‘male menopause’. (2019). Retrieved 4 February 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/male-menopause/ 

Centre for Health Protection, Department of Health – Men’s Health Line – Andropause. (2019). Retrieved 4 February 2021, from https://www.chp.gov.hk/en/static/80026.html 

Brawer M. K. (2004). Testosterone replacement in men with andropause: an overview. Reviews in urology, 6 Suppl 6(Suppl 6), S9–S15.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Yuliati Iswandiari Diperbarui 13/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x