home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenal Parasomnia, Pemicu Gangguan Tidur Berjalan Hingga 'Ketindihan'

Mengenal Parasomnia, Pemicu Gangguan Tidur Berjalan Hingga 'Ketindihan'

Pola tidur Anda bisa berantakan akibat gangguan tidur yang membuat kualitas waktu beristirahat menjadi berkurang. Selain insomnia yang dapat menyebabkan Anda sulit tidur, ada pula gangguan tidur yang menyebabkan perubahan perilaku yang abnormal selama Anda tertidur. Kondisi ini disebut sebagai parasomnia. Simak penjelasannya berikut ini.

Apa itu parasomnia?

Parasomnia adalah gangguan tidur yang menunjukkan perilaku tak biasa yang terjadi saat Anda baru tertidur, sudah terlelap, atau saat terbangun dari tidur. Perilaku-perilaku yang tergolong parasomnia cenderung variatif, mulai dari karakteristik, tingkat keparahan, hingga frekuensinya.

Parasomnia dapat berupa berbagai hal yang dialami oleh seseorang, seperti gerakan, perilaku, emosi, persepsi, hingga mimpi yang tidak wajar. Meski demikian, biasanya penderita parasomnia tetap dalam keadaan tertidur sepanjang kejadian tersebut berlangsung.

Pada umumnya parasomnia terjadi setelah fase tidur terlelap. Namun, kondisi ini juga bisa terjadi di antara fase tertidur dan terbangun. Pada saat transisi ini, Anda membutuhkan stimulus yang cukup kuat agar terbangun. Akan tetapi, setelah terbangun, Anda mungkin tidak akan menyadari perilaku yang muncul saat tidur tadi.

Bahkan, Anda mungkin tidak mengingat apa mimpi yang tadi muncul dalam tidur, atau perilaku apa yang Anda lakukan selama tidur. Anda pun akan kesulitan untuk tidur kembali jika terbangun pada malam hari karena perilaku tersebut.

Meski menunjukkan perilaku yang tak wajar, Anda tidak perlu merasa khawatir. Pasalnya, kondisi ini umum terjadi dan tidak terkait dengan penyakit atau gangguan mental tertentu. Hanya saja, parasomnia dapat terjadi berulang kali dalam waktu yang lama, sehingga dapat menjadi gangguan tidur yang kompleks.

Parasomnia bisa terjadi pada siapa saja, tetapi kelompok usia anak-anak yang paling sering mengalami gejala dari gangguan tidur yang satu ini.

Berbagai bentuk gangguan parasomnia yang paling sering terjadi

Parasomnia dapat berupa berbagai bentuk gejala abnormal saat seseorang tertidur, yaitu:

1. Tidur sambil berjalan

Bentuk gangguan parasomnia yang juga bisa Anda sebut sebagai somnambulisme ini muncul saat Anda keluar dari tempat tidur dalam kondisi masih tidur. Meski begitu, Anda tetap bisa menyadari dan bisa merespons dengan baik lingkungan sekitar.

Saat mengalaminya, Anda bisa jadi melakukan suatu aktivitas, misalnya melipat pakaian. Meskipun tidak berbahaya secara langsung, gejala ini bisa menempatkan Anda dalam bahaya karena tidak bisa melihat objek sekitar. Artinya, Anda bisa saja tertabrak, terjatuh, atau tertimpa sesuatu saat sedang tidur sambil berjalan.

2. Confusional arousals

Sementara itu, bentuk parasomnia yang satu ini merupakan kebingungan saat terbangun. Saat mengalaminya, Anda akan melalui proses berpikir yang sangat lama untuk menyadari dan mengenali keadaan sekitar.

Tak hanya itu, Anda akan memberikan reaksi yang lambat terhadap perintah atau pertanyaan yang diajukan sesaat setelah bangun dari tidur. Biasanya, orang yang mengalami kondisi ini juga berpotensi mengalami jantung berdetak cepat hingga napas tak beraturan.

3. Mimpi buruk

Pernahkah Anda mengalami mimpi buruk? Nah, ini adalah salah satu bentuk gangguan parasomnia yang mungkin Anda alami. Mimpi buruk adalah kondisi yang dapat mengganggu waktu tidur dan membuat Anda terbangun dari tidur.

Mimpi buruk dapat terjadi berulang kali, sehingga berpotensi menyebabkan Anda mengalami kecemasan dan kesulitan untuk tertidur. Anda mungkin juga kesulitan untuk tidur kembali setelah terbangun dari mimpi buruk.

4. Night terror

Jika sering berteriak dalam tidur, bisa jadi Anda mengalami night terror. Ini adalah salah satu gangguan parasomnia yang membuat Anda merasa takut dan berperilaku abnormal saat tidur. Selain berteriak, Anda mungkin saja memukul atau menendang dalam tidur.

Kondisi ini bisa bertahan mulai dari 30 detik hingga tiga menit lamanya. Namun, saat terbangun dari tidur, Anda mungkin tidak menyadari telah melakukan perilaku-perilaku abnormal tersebut saat sedang tidur.

5. Mengigau

Kondisi ini merupakan salah satu gangguan parasomnia yang terjadi saat Anda dalam kondisi setengah sadar. Meskipun tidak ada efek buruk secara langsung terhadap kesehatan Anda, gangguan parasomnia ini dapat mengganggu orang sekitar yang mendengarnya.

Biasanya, mengigau dapat terjadi akibat stres yang sedang Anda alami, demam tinggi, atau saat mengalami berbagai gangguan tidur lainnya.

6. Sleep paralysis

Sleep paralysis merupakan gangguan parasomnia yang sering disalahartikan sebagai “ketindihan” makhluk halus. Padahal, ini adalah kondisi medis yang ditandai dengan kesulitan menggerakkan tubuh saat baru mulai tertidur atau saat terbangun. Bahkan, kondisi ini bisa terjadi beberapa kali dalam waktu satu kali tidur.

Gejala ini tidak terlalu berbahaya, tetapi dapat menimbulkan ketakutan bagi Anda yang pernah mengalaminya. Sleep paralysis juga dapat terjadi karena faktor keturunan dalam keluarga. Akan tetapi, penyebab dari kondisi ini masih belum dapat diketahui secara pasti.

7. Enuresis

Siapa bilang hanya anak-anak saja yang mengompol? Kondisi ini juga mungkin terjadi pada orang dewasa akibat tidak dapat mengontrol aktivitas urinasi saat tertidur. Ini adalah gangguan parasomnia yang terjadi akibat gagal bangun saat kandung kemih sudah terasa penuh.

Anda bisa jadi mengalaminya karena ada faktor keturunan dalam keluarga. Namun, bisa juga Anda mengalaminya karena mengalami diabetes, infeksi saluran kencing, sleep apnea, serta beberapa gangguan kesehatan mental seperti stres.

8. Bruksisme

Ini adalah gangguan parasomnia yang ditandai dengan gerakan menggesekkan gigi pada rahang atas dan bawah secara berlebihan dalam keadaan tak sadar. Kondisi ini dapat mengakibatkan rasa lelah dan tak nyaman pada otot gigi dan rahang.

Bahkan, kondisi ini dapat menyebabkan luka pada bagian gusi jika Anda tidak menghentikannya. Akan tetapi, penggunaan alat mouth guard dapat membantu Anda mengurangi frekuensi dan dampak buruk dari bruksisme saat tidur.

9. REM Sleep Behavior Disorder

Rapid Eye Movement (REM) atau fase bermimpi saat tertidur dapat menyebabkan seseorang memiliki perilaku abnormal dengan menggerakkan anggota badan. Sebagai contoh, menggerakkan tangan dan kaki Anda.

Berbeda dengan tidur sambil berjalan atau mengalami night terror, Anda dapat mengingat jelas detail dari mimpi yang muncul saat tidur. Hal ini bisa menjadi sebuah pertanda gangguan saraf yang harus segera mendapatkan penanganan medis.

10. Exploding Head Syndrome (EHS)

Ini adalah gangguan parasomnia yang terjadi dengan persepsi mendengar suara keras seperti ledakan saat akan mulai tertidur atau saat terbangun dari tidur. Suara yang terdengar bisa seperti suara bom, suara simbal, atau ledakan yang kencang.

Kondisi ini tentu akan sangat mengganggu Anda. Apalagi, Anda mungkin salah mengartikannya sebagai gangguan otak atau stroke. Untuk meringankan gejalanya, cobalah untuk mendapatkan tidur yang cukup setiap malam.

Faktor-faktor yang memicu parasomnia

sleepwalking

Menurut Sleep Education, berikut adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalami parasomnia, yaitu:

1. Usia

Beberapa jenis gangguan parasomnia, seperti berjalan saat tidur dan mengompol, cenderung lebih sering terjadi pada anak-anak. Meski begitu, sebagian anak yang mengalaminya bisa mengatasi kondisi ini. Jika kondisi semakin parah seiring pertambahan usia, cobalah untuk berkonsultasi dengan dokter.

2. Faktor genetik

Parasomnia juga bisa terjadi karena adanya faktor keturunan dalam keluarga. Artinya, jika salah satu saudara atau orangtua mengalami kondisi ini, bisa jadi Anda juga mengalami hal yang sama.

3. Stres

Saat berada dalam tekanan atau sedang merasa stres, Anda rentan mengalami gangguan parasomnia. Biasanya, yang paling sering muncul adalah tidur sambil berjalan. Meski begitu, kondisi ini akan berhenti saat Anda berhasil mengelola stres dengan baik.

4. Post-traumatic stress disorder (PTSD)

Biasanya, orang yang mengalami gangguan mental yang satu ini cenderung sering mengalami mimpi buruk. Bahkan, hampir 80% pasien PTSD mengalami mimpi buruk selama tiga bulan lamanya. Oleh sebab itu, Anda akan rentan mengalami gangguan parasomnia ini saat mengalami PTSD.

5. Penggunaan obat-obatan

Mimpi buruk adalah salah satu efek samping yang mungkin muncul akibat penggunaan obat-obatan tertentu. Oleh sebab itu, Anda mungkin saja mengalami gangguan parasomnia lainnya jika mengonsumsi obat-obatan tersebut.

6. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan

Tidur sambil berjalan kaki, night terror dan berbagai gangguan parasomnia lainnya mungkin Anda alami jika melakukan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan tertentu. Bahkan, mengonsumsinya juga dapat memperparah gejala dari gangguan parasomnia yang sedang Anda alami.

Bagaimana cara mengatasi parasomnia?

Gejala parasomnia yang bervariasi memerlukan penanganan yang sesuai dengan gejala yang muncul pada masing-masing penderita. Diagnosis parasomnia akan mempertimbakan riwayat gangguan tidur lainnya, kondisi medis, penggunaan obat sebelumnya, kondisi kejiwaan, dan penyalahgunaan obat dan alkohol.

Beberapa gangguan yang melibatkan aktivitas REM pada seseorang perlu ditangani dengan pemeriksaan untuk mencari tahu adanya potensi gangguan pada sistem saraf pusat. Penanganan parasomnia secara serius juga mungkin diperlukan apabila aktivitas akibat parasomnia dapat membahayakan penderita dan orang sekitar.

Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan untuk menciptakan lingkungan yang aman jika mengalami parasomnia adalah:

  • Gunakan tempat tidur yang tidak terlalu tinggi.
  • Pakai kunci pada pintu kamar tidur.
  • Hilangkan benda yang berpotensi menyebabkan seseorang terjatuh atau tertimpa sesuatu.

Efek parasomnia juga dapat diminimalkan dengan cara:

  • Pastikan memperoleh waktu tidur yang cukup dan teratur.
  • Konsumsi obat yang dianjurkan oleh dokter dengan sesuai.
  • Sesuaikan waktu tidur jika Anda memiliki pekerjaan dengan waktu bergantian atau shift.
  • Hindari penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Confusional Arousals – Overview and Facts. Retrieved 8 April 2021, from http://www.sleepeducation.org/sleep-disorders-by-category/parasomnias/confusional-arousals/overview-and-facts

Parasomnias – Risk Factors. Retrieved 8 April 2021, from http://www.sleepeducation.org/essentials-in-sleep/parasomnias/risk-factors

Exploding Head Syndrome. Retrieved 8 April 2021, from https://www.sleepassociation.org/patients-general-public/exploding-head-syndrome/

Parasomnias. Retrieved 8 April 2021, from https://www.sleepfoundation.org/parasomnias

Parasomnias. Retrieved 8 April 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12133-parasomnias–disruptive-sleep-disorders

Parasomnia Risk Factors. Retrieved 8 April 2021, from http://sleepeducation.org/essentials-in-sleep/parasomnias/risk-factors

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 28/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri