Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Jenis dan Cara Kerja Terapi Inhalasi untuk Penyakit Saluran Pernapasan

Jenis dan Cara Kerja Terapi Inhalasi untuk Penyakit Saluran Pernapasan

Terapi inhalasi atau uap dapat diartikan sebagai cara pemberian obat dalam bentuk aerosol ke dalam saluran napas untuk melegakan pernapasan. Berdasarkan penelitian terbitan Canadian Respiratory Journal, efektivitas terapi bisa berbeda di setiap pasien. Hal ini bergantung pada jenis obat yang diberikan dan komposisi dari aerosol. Baik secara fisik, kimia, alat penghasil aerosol, pola napas pasien, anatomi dan fisiologi paru.

Alat terapi inhalasi untuk pernapasan

Berdasarkan penelitian dari International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research, terapi inhalasi sendiri merupakan terapi terbaik untuk kondisi:

Keunggulan terapi aerosol adalah dosisnya yang kecil daripada terapi sistemik, tetapi efektif dan tepat pada organ sasaran.

Hal tersebut membuat terapi aerosol dapat mengurangi efek samping, terutama yang ditimbulkan oleh terapi sistemik (melalui infus).

Alat yang digunakan untuk membuat aerosol tersebut beberapa macamnya adalah nebulizer, pressurized metered-dose inhaler (pMDI) dan dry powder inhalers (DPIs).

Untuk pMDI dan DPI lebih dikenal dengan istilah inhaler. Alat-alat tersebut memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.

Nebulizer

genose alat deteksi covid-19 dari embusan napas

Alat terapi uap nebulizer pada pernapasan merupakan alat yang mengubah cairan menjadi aerosol, yang dapat Anda hirup ke dalam saluran napas sampai ke saluran napas bagian bawah.

Alat terapi uap menjadi pilihan pengobatan penyakit pernapasan akut yang biasanya berhubungan dengan sesak napas berat, seperti PPOK ekserbasi akut dan asma ekserbasi akut.

Mengutip dari Kids Health, nebulizer terbagi menjadi tiga berdasarkan cara kerjanya, yaitu jet nebulizer, ultrasonic nebulizer, dan mesh nebulizer.

Dalam kondisi pandemi, penggunaan nebulizer harus diperhatikan karena ada risiko menyebabkan aerosol berupa partikel virus hingga jarak 1 meter.

Inhaler

ventolin inhaler nebules

Berbeda dengan nebulizer yang mengubah cairan menjadi aerosol, inhaler adalah alat dengan bentuk obat yang dihirup di dalamnya.

Mengutip dari Astma + Lung UK, ketika menghirup inhaler, zat aktif obat akan cepat mencapai saluran napas bawah dan paru.

Cara kerja tersebut membuat hanya sedikit obat yang terserap ke dalam sirkulasi sistemik (sirkulasi darah yang mencakup seluruh tubuh).

Partikel aerosol yang dihasilkan dari obat ini idealnya kurang dari 5 μm (mikrometer), bila tidak, akan mengendap di orofaring.

Pemilihan alat inhaler biasanya disesuaikan dengan penggunanya, beberapa jenis inhaler adalah:

  • metered-dose inhalers (MDIs),
  • dry-powder inhalers (DPIs),
  • soft mist inhalers (SMIs), dan
  • small volume nebulizers (SVNs).

Pada anak yang usianya kurang dari 5 tahun dan orang tua, MDI dan DPI lebih sulit digunakan, sehingga biasanya dapat dibantu dengan spacer.

Spacer adalah tabung yang memiliki ujung yang satu disambungkan dengan inhaler pMDI dan ujung lainnya disambungkan dengan mouthpiece.

Jenis alat terapi inhalasi untuk pernapasan ini merupakan tabung tertutup dapat mencegah adanya penyebaran partikel aerosol ke lingkungan sekitar.

Berikut ini tabel untuk menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari jenis inhaler yang tersedia di pasaran.

terapi uap pernapasan

Efektivitas terapi inhalasi

Literatur-literatur mengatakan bahwa terapi inhalasi merupakan pilihan utama pada beberapa penyakit paru seperti asma dan PPOK.

Bila dibandingkan dengan terapi yang diberikan dengan cara lain, terapi inhalasi memberikan keunggulan berupa langsung mengenai organ target.

Cara kerja obat yang cepat dan langsung menuju organ target, membuat efikasinya baik dan efek samping lebih sedikit daripada terapi sistemik (lewat infus).

Agar terapi inhalasi bisa efektif, sesuaikan dengan kondisi dan penyakit yang ada karena efektivitasnya berbeda di setiap penyakit.

Bila ingin memilih terapi inhalasi tetap harus dikonsultasikan dengan dokter agar bisa disesuaikan dengan kondisi.

Terapi inhalasi untuk pernapasan ini biasanya digunakan anak-anak dengan normal saline (NaCl 0.9%) untuk meredakan pilek dan common cold.

Namun, menurut penelitian European Journal Of Pediatrics, dibandingkan dengan placebo, tidak ada perbedaan signifikan dalam pencegahan atau pengobatan common cold.

Penelitian dari Canadian Medical Association Journal, terapi inhalasi normal saline pada pasien sinus, tidak meningkatan kesembuhan tetapi mengurangi gejala nyeri kepala.

Cara melakukan terapi inhalasi untuk pernapasan

nebulizer dan inhaler

Untuk melakukan terapi inhalasi atau uap pada pernapasan, Anda perlu konsultasi dengan dokter agar bisa disesuaikan dengan kondisi kesehatan.

Bila sudah menemukan terapi yang tepat, berikut ini langkah melakukan terapi inhalasi untuk pernapasan, sesuai dengan jenis alatnya.

Nebulizer

  • Persiapkan alat terlebih dahulu.
  • Set nebulizer biasanya berisi mesin nebulizer, masker nebulizer, selang penghubung mesin nebulizer dan masker dan wadah tempat obat.
  • Persiapkan obat atau cairan yang akan digunakan.
  • Bersihkan masker yang sudah dipakai atau gunakan masker baru.
  • Cuci tangan pakai sabun dan bilas hingga bersih.
  • Masukkan obat atau cairan yang akan digunakan ke dalam wadah.
  • Sambungkan wadah dengan masker.
  • Sambungkan wadah dengan selang penghubung ke mesin nebulizer.
  • Posisikan tubuh dengan duduk tegak.
  • Pasang masker kepada pasien, pastikan terpasang dengan erat.
  • Nyalakan alat nebulizer. Bila terpasang dengan benar akan dihasilkan uap.
  • Hirup uap yang dihasilkan, bisa menarik napas lewat hidung dan dikeluarkan dari mulut.
  • Setelah uap habis maka prosedur dihentikan.

Inhaler

Penggunaan alat terapi inhalasi untuk pernapasan jenis inhaler dapat berbeda-beda tergantung jenis inhaler yang akan digunakan, berikut penjelasannya.

MDI

  • Cabut penutup mouth piece inhaler, posisikan inhaler tegak lurus.
  • Kocok inhaler.
  • Posisikan kepala sedikit mengangkat dan bernapas dengan perlahan sekitar 3-5 detik.
  • Taruh mouthpiece ke dalam mulut dan pastikan rapat.
  • Secara bersamaan bernapas perlahan, tarik napas dalam lewat mulut dan tekan inhaler 1x untuk melepaskan obat.
  • Jika memungkinkan, tahan napas dengan menghitung sampai 10 perlahan, agar obat mencapai paru-paru dengan sempurna.
  • Buang napas.

DPI

Untuk DPI terdapat beberapa jenis yaitu diskus, aerolizer, dan handihaler. Secara garis besar, terapi inhalasi untuk pernapasan ini sama.

Namun, perbedaannya adalah obat yang keluar berupa serbuk kering dan cara pemakaiannya tergantung mekanisme yang ada.

Bila obat inhaler yang digunakan adalah steroid, pastikan berkumur setelah menggunakan inhaler.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Virchow, J., Crompton, G., Dal Negro, R., Pedersen, S., Magnan, A., Seidenberg, J., & Barnes, P. (2008). Importance of inhaler devices in the management of airway disease. Respiratory Medicine, 102(1), 10-19. doi: 10.1016/j.rmed.2007.07.031

NEBULIZED DRUG DELIVERY: AN OVERVIEW | INTERNATIONAL JOURNAL OF PHARMACEUTICAL SCIENCES AND RESEARCH. (2019). Retrieved 29 March 2022, from http://ijpsr.com/bft-article/nebulized-drug-delivery-an-overview/?view=fulltext

Little, P., Stuart, B., Mullee, M., Thomas, T., Johnson, S., & Leydon, G. et al. (2016). Effectiveness of steam inhalation and nasal irrigation for chronic or recurrent sinus symptoms in primary care: a pragmatic randomized controlled trial. Canadian Medical Association Journal, 188(13), 940-949. doi: 10.1503/cmaj.160362

What’s the Difference Between a Nebulizer and an Inhaler? (for Kids) – Nemours KidsHealth. (2022). Retrieved 29 March 2022, from https://kidshealth.org/en/kids/nebulizer-inhaler.html

Borghardt, J., Kloft, C., & Sharma, A. (2018). Inhaled Therapy in Respiratory Disease: The Complex Interplay of Pulmonary Kinetic Processes. Canadian Respiratory Journal, 2018, 1-11. doi: 10.1155/2018/2732017

Use of Metered Dose Inhalers, Spacers, and Nebulizers: Practice Essentials, Overview, Preparation. (2022). Retrieved 29 March 2022, from https://emedicine.medscape.com/article/1413366-overview#a2

Butz, A., Tsoukleris, M., Donithan, M., Hsu, V., Zuckerman, I., & Mudd, K. et al. (2006). Effectiveness of Nebulizer Use–Targeted Asthma Education on Underserved Children With Asthma. Archives Of Pediatrics & Adolescent Medicine, 160(6), 622. doi: 10.1001/archpedi.160.6.622

Grüber, C., Riesberg, A., Mansmann, U., Knipschild, P., Wahn, U., & Bühring, M. (2003). The effect of hydrotherapy on the incidence of common cold episodes in children: a randomised clinical trial. European Journal Of Pediatrics, 162(3), 168-176. doi: 10.1007/s00431-002-1138-y

Spacer, H. (2022). Spacers | Asthma + Lung UK. Retrieved 29 March 2022, from https://www.asthma.org.uk/advice/inhalers-medicines-treatments/inhalers-and-spacers/spacers/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh dr. Satya Setiadi Diperbarui Mar 30