Terapi Oksigen untuk Mengatasi Masalah Sesak Napas

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 3 September 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Oksigen adalah komponen di udara yang penting untuk keberlangsungan hidup manusia. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki kondisi yang beruntung untuk menghirup oksigen dengan normal. Beberapa orang memerlukan pengobatan dan perawatan tambahan agar dapat bernapas dengan lega. Salah satu metode yang dapat membantu adalah terapi oksigen agar orang-orang dengan masalah pernapasan tetap bertahan dengan kondisi stabil. Seperti apa terapi oksigen tersebut?

Apa itu terapi oksigen?

Terapi oksigen adalah pengobatan yang dapat membantu orang bernapas dan mendapatkan asupan oksigen cukup. Terapi ini diperlukan oleh orang-orang yang mengalami kesulitan bernapas atau memiliki kadar oksigen rendah dalam darahnya.

Ketika Anda mengalami masalah paru, organ pernapasan Anda akan berjuang untuk mendapatkan oksigen. Hal ini karena kemampuan paru yang mungkin menurun karena gangguan yang dialami. Oksigen yang berada di udara bebas pun tak mampu mencukupi kebutuhan Anda. Pada saat ini, terapi oksigen akan menjadi pilihan.

Terapi oksigen biasanya diberikan dengan menggunakan resep dokter untuk meningkatkan kadar oksigen dalam darah. Artinya, Anda harus berkonsultasi dengan dokter sebelum mendapatkan terapi ini.

Siapa saja yang membutuhkan terapi oksigen?

sesak napas

Tujuan utama dari terapi oksigen adalah mengembalikan kadar normal oksigen di dalam tubuh. Maka itu, terapi ini ditujukan untuk orang-orang yang mengalami kesulitan mendapatkan oksigen sendiri. Pengobatan ini juga digunakan mengobati orang yang memiliki kadar oksigen yang rendah dalam darah mereka akibat kondisi kesehatan tertentu.

Beberapa penyakit dan kondisi kesehatan yang mungkin memerlukan penanganan dengan terapi oksigen adalah:

Apa saja jenis-jenis terapi oksigen yang tersedia?

alat bantu pernapasan

Secara umum, terapi oksigen tersedia dalam bentuk gas, cair, hingga konsentrat. Cara pemberian dan alat bantu pernapasan yang digunakan pun berbeda-beda, tergantung kebutuhan serta kondisi pasien.

1. Oksigen dalam bentuk gas

Oksigen yang tersedia dalam bentuk gas biasanya disimpan dalam tangki berbagai ukuran. Untuk tangki berukuran besar, Anda bisa menyimpannya di rumah. Jika Anda aktif berkegiatan di luar rumah, Anda dapat menggunakan tangki oksigen yang berukuran lebih kecil.

Biasanya, tangki oksigen kecil dilengkapi dengan alat konservasi oksigen yang berfungsi mengatur suplai oksigen. Dengan demikian, kemungkinan oksigen untuk habis saat Anda masih di luar rumah dapat dihindari.

2. Oksigen cair

Oksigen berbentuk cair juga bisa disimpan di dalam tangki. Bentuknya yang cair membuat kadar oksigen di dalamnya jauh lebih tinggi. Maka itu, kandungan oksigen cair di dalam tangki biasanya lebih banyak dibanding dengan bentuk gas.

Namun, penggunaannya harus dilakukan dengan hati-hati karena tangki oksigen cair lebih mudah menguap.

3. Konsentrator oksigen

Konsentrator oksigen bekerja dengan cara mengambil udara dari luar, memprosesnya menjadi oksigen utuh, dan membuang gas atau komponen lain dari udara yang diambil. Keuntungan dari alat ini adalah lebih murah dan penggunanya tidak perlu mengisi ulang tangki oksigen.

Namun, berbeda dengan kedua pilihan sebelumnya, terapi dengan konsentrator oksigen kurang nyaman digunakan untuk pasien yang sering beraktivitas di luar. Pasalnya, alat konsentrator oksigen yang berbentuk portabel pun masih terlalu besar untuk dibawa ke mana-mana.

4. Terapi oksigen hiperbarik

Terapi ini dilakukan dengan cara memberikan oksigen murni di dalam ruangan bertekanan tinggi. Pada ruangan tersebut, tekanan udara akan ditambah 3-4 kali lebih tinggi dibanding tekanan udara normal. Metode ini dapat mengantarkan oksigen lebih banyak ke dalam jaringan-jaringan tubuh.

Terapi jenis ini biasanya dilakukan untuk mengobati luka, infeksi parah, atau gangguan pada pembuluh darah pasien. Prosesnya pun harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mencegah kadar oksigen jadi berlebih di dalam darah.

Masing-masing terapi dapat dijalankan di rumah ataupun di rumah sakit. Sekalipun dilakukan di rumah, Anda tetap membutuhkan arahan dari dokter mengenai dosis dan metode yang Anda butuhkan.

Cara pemberian oksigen ke dalam paru-paru dapat dilakukan melalui 3 cara, yaitu:

  • Nasal cannula, terdiri atas dua selang plastik berukuran kecil, yang dipasang pada kedua lubang hidung.
  • Masker wajah, yang menutupi hidung dan mulut.
  • Selang kecil, yang dimasukkan ke dalam batang tenggorok dari leher depan. Dokter akan menggunakan jarum atau sayatan kecil untuk memasang selang tersebut. Oksigen yang diantarkan dengan cara ini disebut dengan terapi oksigen transtrakeal.

Bagaimana terapi oksigen dilakukan?

terapi oksigen

Berikut adalah tahap-tahap yang akan Anda jalani dalam prosedur terapi:

Persiapan sebelum menjalani terapi

Sebelum menjalankan pengobatan ini, dokter atau perawat akan melakukan tes untuk mengukur kadar oksigen dalam darah Anda. Jika kadar oksigen Anda kurang dari 90 persen, Anda mungkin membutuhkan terapi oksigen. Ada dua tes yang biasanya digunakan untuk mengukur oksigen darah, yaitu oksimetri dan tes gas darah arteri.

Melalui pemeriksaan di atas, dokter dapat mengetahui apa yang menjadi pemicu kesulitan bernapas. Setelah itu, dokter akan menentukan jenis terapi dan pengobatan sesak napas seperti apa yang sesuai dengan kondisi Anda.

Proses terapi oksigen

Pastikanlah bahwa sambungan antara selang dan suplai oksigen Anda tidak bocor. Kebocoran akan membuat oksigen tidak mengalir dengan benar. Akibatnya, dosis yang Anda dapatkan akan kurang dari yang telah ditentukan.

Jika Anda menggunakan nasal cannula, selang yang terpasang di belakang telinga terkadang dapat menyebabkan rasa sakit, seperti ketika Anda belum terbiasa menggunakan kacamata. Untuk menyiasatinya, Anda dapat menggunakan kain kasa sebagai bantalan selang Anda.

Apabila Anda menggunakan masker untuk melakukan terapi oksigen, hal ini bisa saja menyebabkan mulut, bibir, dan hidung Anda menjadi kering. Untuk mencegahnya, Anda bisa:

  • Menggunakan pelumas berbahan dasar air untuk menambahkan kelembapan
  • Menggunakan gel lidah buaya

Yang harus diperhatikan saat menggunakan tangki oksigen

Penting untuk mengetahui bahwa oksigen adalah zat yang harus disimpan dan digunakan dengan hati-hati. Berikut adalah beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam menggunakan dan menyimpan oksigen di rumah berdasarkan informasi dari San Diego Hospice and National Fire Protection Administration:

  • Letakkan tabung oksigen di atas troli khusus untuk mencegah kemungkinan terjatuh.
  • Jika Anda menyimpan tangki oksigen cadangan, simpan dalam posisi dibaringkan di lantai.
  • Jangan menyimpan tangki oksigen di tempat tertutup rapat tanpa celah udara, seperti lemari atau laci.
  • Jangan menutupi tangki oksigen dengan kain.
  • Hindari menyimpan tangki oksigen di bagasi mobil.
  • Hindari menggunakan petroleum jelly (vaseline), losion, atau produk pelembap berbahan dasar minyak lainnya di bagian bibir atau hidung. Oksigen dapat bereaksi dengan produk berbahan dasar minyak dan memicu luka bakar.
  • Ketika menggunakan terapi oksigen, pastikan bahwa Anda tidak berada dekat dengan sumber api untuk menghindari terjadinya kebakaran.

Jika Anda tidak mendapatkan cukup oksigen bahkan dengan terapi oksigen, mintalah agar dokter mengubah dosis Anda. Jangan menambah atau menguranginya sendiri.

Apakah saya masih perlu ke dokter setelah menjalani terapi oksigen di rumah?

Hasil rontgen paru TBC

Apabila terapi yang dijalani di rumah berjalan lancar, Anda mungkin saja tidak perlu mengunjungi dokter. Namun, segera periksakan diri Anda ke dokter jika selama menjalani terapi di rumah mengalami gejala berikut ini:

  • Anda sangat sering mengalami sakit kepala
  • Anda merasa lebih gugup daripada biasanya
  • Bibir atau kuku Anda berwarna biru
  • Anda merasa mengantuk atau bingung
  • Napas Anda lambat, pendek, tidak teratur, atau Anda menjadi sulit bernapas

Terapi oksigen sangat penting bagi orang yang memiliki penyakit kronis mengingat oksigen adalah hal penting bagi tubuh untuk menjalankan aktivitasnya. Jangan berinisiatif untuk melakukan perubahan dosis oksigen sekalipun Anda merasa lebih baik. Tetap berkonsultasi dengan dokter merupakan langkah terbaik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

Minum susu biasanya dianjurkan untuk anak-anak. Lalu, jika sudah lanjut usia, apakah masih perlu minum susu? Berapa banyak susu yang harus diminum?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Makanan tinggi garam bukan hanya membuat Anda berisiko mengalami tekanan darah tinggi. Simak berbagai bahaya makanan asin pada tubuh kita.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Tips Sehat 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara mengobati sengatan lebah

Pertolongan Pertama untuk Mengobati Sengatan Lebah

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
gejala leptospirosis

Cara Mengatasi Gejala Leptospirosis, Penyakit Khas di Musim Hujan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bikin kopi yang sehat

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit