Mengenal Peak Flow Meter dan Cara Pakainya untuk Penderita Masalah Pernapasan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Peak flow meter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa lancar aliran udara yang mengalir dari paru-paru. Tes ini memeriksa fungsi paru-paru, dan sering digunakan oleh pasien yang memiliki asma. Sederhananya, alat ini mengukur kemampuan Anda untuk mengeluarkan udara dari paru-paru. Dengan bentuk yang kecil dan mudah digenggam, peak flow meter mudah dibawa ke mana-mana.

Bagaimana cara kerja peak flow meter, aturan penggunaan, serta cara membaca hasil tesnya? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Mengenal apa itu peak expiratory flow rate

Pada dasarnya, peak flow meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur peak expiratory flow rate (PEFR), atau disebut juga dengan aliran puncak. PEFR adalah tes untuk mengukur seberapa cepat seseorang bisa mengembuskan napas.

Biasanya, orang dengan penyakit asma kerap melakukan pemeriksaan ini. Bukan hanya asma, peak flow meter adalah tes yang juga dapat membantu proses diagnosis penyebab kondisi sesak napas, seperti:

Tes ini dapat Anda lakukan sendiri di rumah menggunakan alat yang bernama peak flow meter. Namun, penggunaan alat ini sebaiknya dilakukan dengan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Kenapa perlu melakukan tes dengan peak flow meter?

Melakukan tes dengan peak flow meter dan mencatat hasilnya sangat penting. Dari hasil pengukuran dengan peak flow meter, dapat diketahui apakah kondisi sesak napas terkendali atau justru memburuk.

Agar tes PEFR menjadi bermanfaat, pasien harus rutin mencatat hasil dari peak flow meter. Jika tidak, pasien tidak akan melihat pola yang terjadi ketika laju aliran pernapasannya rendah atau menurun.

Selain itu, catatan tersebut juga penting bagi dokter untuk menentukan pengobatan sesak napas yang sesuai. Hasil pengukuran biasanya akan digunakan sebagai patokan untuk mengevaluasi pengobatan yang dijalani. Misalnya, apakah obat perlu ditambah dosisnya atau justru dihentikan konsumsinya.

Meski begitu, tak semua penderita penyakit pernapasan perlu melakukan pengukuran menggunakan alat ini. Mereka yang dianjurkan biasanya merupakan penderita penyakit pernapasan kronis, seperti asma dan PPOK.

Menurut MedlinePlus, melakukan tes dengan peak flow meter dan mencatat hasilnya bagi penderita asma sangat penting. Hal ini dapat mencegah terjadinya asma kambuh di lain waktu. Dari hasil pengukuran itu dapat diketahui apakah kondisi asma terkendali atau justru memburuk.

Selain itu, Asthma and Allergy Foundation of America juga menyebutkan bahwa pengukuran kekuatan pernapasan melalui alat ini berguna bagi dokter dan penderita asma untuk:

  • Mengetahui faktor pemicu yang menjadi penyebab masalah pernapasan
  • Menentukan apakah memerlukan pertolongan darurat
  • Memahami dengan baik seberapa parah kondisi sesak napas yang diderita

Pengukuran alat ini juga sangat direkomendasikan untuk penderita PPOK. Dilansir dari situs Lung Health Institute, tes dengan peak flow meter dinilai lebih membantu dokter dalam memantau kondisi pernapasan harian penderita dibanding dengan hanya melakukan tes spirometri.

Ditambah lagi, manfaat lain dari tes ini untuk penderita PPOK adalah:

  • Mengetahui kinerja pengobatan PPOK yang diberikan dokter
  • Mengetahui adanya gejala-gejala PPOK yang memburuk
  • Membantu mengurangi jumlah kunjungan ke dokter dan RS

Selain itu, sebuah penelitian dari Emergency Medicine International juga menyatakan bahwa tes peak flow meter mungkin berguna untuk membedakan gejala-gejala PPOK dengan penyakit gagal jantung kongestif.

Bagaimana cara menggunakan peak flow meter?

Berikut adalah langkah-langkah menggunakan peak flow meter:

  • Sebelum digunakan, pastikan jarum pengukur (indikator) menunjuk angka nol atau angka terendah pada skala peak flow meter yang digunakan. Skala yang digunakan pada alat ini adalah satuan liter per menit (lpm).
  • Berdirilah tegap. Ambillah napas sedalam mungkin lalu tahan dan biarkan udara mengisi paru-paru Anda.
  • Pastikan mulut Anda kosong.
  • Dalam keadaan masih menahan napas, tempatkan corong di antara kedua bibir. Tempelkan bibir serapat mungkin pada corong.
  • Dalam satu embusan napas, keluarkanlah udara sebanyak dan secepat mungkin. Pastikan Anda mengeluarkan seluruh udara yang tersimpan di paru-paru.
  • Dorongan udara yang keluar dari paru-paru membuat jarum indikator bergerak, sampai berhenti pada angka tertentu.
  • Anda telah mendapatkan hasil pengukuran pertama. Catatlah hasil tersebut dengan mencantumkan tanggal dan waktu.

Ulangilah seluruh langkah di atas sebanyak 3 kali. Pengukuran yang akurat menunjukkan angka peak flow rate yang berdekatan. Catatlah angka tertinggi dari hasil pengukuran tersebut.

Menggunakan alat ini tidak membutuhkan banyak persiapan. Anda mungkin sebaiknya tidak mengenakan pakaian ketat yang mungkin bisa membuat Anda kesulitan untuk bernapas dalam. Cobalah untuk berdiri atau duduk tegak, dan fokus.

Kapan waktu terbaik untuk mengukur peak flow rate?

Untuk mengetahui angka peak flow rate terbaik, lakukan pembacaan pengukuran pada saat:

  • Setelah bangun tidur atau siang hari
  • Setelah atau sebelum meminum obat
  • Memperoleh nilai peak flow baru, walaupun sama dengan yang ditunjukkan pada pengukuran di hari-hari sebelumnya.
  • Sebagaimana yang diinstruksikan dokter
  • Melakukan pengukuran paling tidak dua kali dalam sehari selama 2-3 minggu

Akan tetapi, setiap orang dengan masalah pernapasan biasanya memiliki kondisi yang berbeda-beda, sehingga peak flow rate terbaik yang bisa dicapai pun berbeda.

Maka itu, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tim medis untuk mengetahui waktu terbaik pengukuran peak flow rate yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan Anda.

Bagaimana cara membaca hasil tes dengan peak flow meter?

Hasil tes yang normal biasanya bervariasi tergantung usia, jenis kelamin, dan tinggi badan. Maka itu, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui hasil normal yang Anda miliki.

Setelah melakukan pengukuran, tempatkan angka tersebut pada diagram yang terbagi dalam tiga zona, yaitu hijau, kuning, dan merah. Diagram tersebut biasanya diberikan langsung oleh dokter. Namun, pada beberapa jenis alat, indikator ketiga zona biasanya telah tertera langsung pada alat.

Setiap zona ini menandakan perkembangan penyakit pernapasan Anda, yaitu:

  • Zona hijau, tandanya adalah stabil, Anda mampu menjalani kegiatan sehari-hari.
  • Zona kuning, tandanya Anda harus berhati-hati, terlebih jika terdapat gejala, seperti batuk, bersin, atau napas pendek.
  • Zona merah, adalah yang cukup parah. Anda mungkin mengalami batuk terus-menerus, napas sangat pendek, dan sebaiknya menjalani perawatan.

Jika berada dalam zona hijau (80-100%),  Anda sebaiknya melanjutkan konsumsi obat yang telah diberikan dokter. Pengukuran yang berada di zona kuning (50-80%) menandakan kondisi sesak napas memburuk dan membutuhkan pengobatan tambahan.

Zona merah (di bawah 50%) mengindikasikan Anda membutuhkan penanganan darurat. Anda bisa meminum obat yang dianjurkan dokter sebagai langkah pertolongan pertama sesak napas.

Bagaimana jika hasil peak flow meter saya tergolong tidak normal?

Jika Anda menderita penyakit pernapasan dan memiliki tingkat aliran puncak kurang dari 80 persen dari jumlah terbaik, Anda harus menggunakan obat inhaler darurat Anda.

Jika laju aliran puncak Anda kurang dari 50 persen dari jumlah terbaik Anda, Anda harus mendapatkan pertolongan medis segera.

Segeralah pergi ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat jika terjadi gejala berikut:

  • kesulitan bernapas ekstrem
  • warna kebiruan pada wajah dan/atau bibir
  • kecemasan berat atau panik yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk bernapas
  • berkeringat
  • nadi cepat

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Pilihan Obat Asma Alami yang Aman untuk Anak-anak

Asma anak dapat diredakan dengan menggunakan obat-obatan herbal yang ada di dapur. Ssst.. obat asma anak tradisional ini sudah dikenal sejak zaman dulu lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Asma, Health Centers 19 Desember 2019 . Waktu baca 6 menit

5 Prinsip Pola Hidup Sehat yang Harus Dijalani Penderita Asma

Selain pakai obat, penderita asma juga disarankan untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat guna mencegah gejala sering kambuh. Bagaimana memulainya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kebugaran, Tips Sehat 8 Desember 2019 . Waktu baca 6 menit

Mengenal Jenis-Jenis Inhaler Asma Beserta Efek Samping dan Cara Pakai yang Benar

Tidak semua pengidap asma perlu pakai inhaler. Anda mungkin juga membutuhkan jenis obat semprot asma yang berbeda dengan pengidap asma lain.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Asma, Kesehatan Pernapasan 4 Desember 2019 . Waktu baca 11 menit

Penyebab Asma Pada Anak, dan 8 Pencetus Gejalanya yang Perlu Orangtua Tahu

Faktor penyebab asma pada anak ada banyak. Penelitian menyebut bahwa berat badan berlebih adalah salah satu faktor risiko yang jadi penyebabnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Anak, Parenting 1 Desember 2019 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

efek samping salep obat kortikosteroid

Hati-hati Penggunaan Obat Kortikosteroid Berlebihan

Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Dipublikasikan tanggal: 28 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit
penderita asma covid-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit
asma kambuh saat udara dingin

Apa Benar Cuaca Dingin Dapat Memicu Asma Kambuh?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 13 April 2020 . Waktu baca 4 menit
gejala asma pada anak ke dokter

Curiga Anak Kena Asma, Kapan Waktu yang Tepat Mengajaknya Berobat ke Dokter?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2020 . Waktu baca 4 menit