Berbagai Penyebab dan Faktor Risiko yang Meningkatkan Anda Kena PPOK

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah penyakit yang menyerang organ paru-paru dan akhirnya menurunkan kemampuan paru mengikat oksigen. Terdapat sekumpulan kondisi yang pada akan menurunkan kemampuan paru-paru dalam menangkap oksigen. Ketika Anda sudah menderita PPOK, Anda akan selamanya hidup dengan itu karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Mengetahui penyebab PPOK akan membantu Anda mencegah kondisi yang satu ini. Simak ulasannya berikut ini. 

Apa penyebab PPOK?

dampak merokok pada sakit PPOK

Penyebab utama PPOK adalah merokok. Dikutip dari Mayo Clinic, pada negara berkembang, PPOK juga dapat disebabkan oleh asap dari pembakaran bahan bakar, termasuk pembakaran bahan bakar untuk memasak di rumah dengan ventilasi yang buruk.

PPOK merupakan kondisi yang jarang tampak jelas pada perokok kronis. Mereka biasanya mengalami penurunan fungsi paru-paru. Kondisi ini baru akan ketahuan jika melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Terdapat beberapa macam penyebab PPOK:

1. Penyumbatan (obstruksi) jalan napas

Obstruksi atau penyumbatan jalan napas yang dapat menyebabkan PPOK adalah emfisema dan bronkitis kronis. Berikut penjelasannya.

Emfisema

Penyakit paru-paru ini menyebabkan kerusakan dinding kantung-kantung udara (alveoli). Emfisema dapat membuat Anda sesak napas karena saluran udara kecil saat Anda mengembuskan napas runtuh. Hal ini mengganggu aliran udara keluar dari paru-paru. Ketika Anda mengidap PPOK, emfisema sering muncul bersama bronkiolitis, yaitu kondisi peradangan dan penyumbatan pada saluran udara kecil (bronkiolus) pada paru-paru.

Bronkitis kronis

Bronkitis kronis merupakan kondisi peradangan pada saluran udara (saluran bronkus). Kondisi ini membuat Anda memproduksi banyak lendir, sehingga mempersempit saluran udara dan menyebabkan batuk kronis.

2. Merokok dan terpapar polutan

Sebagian kasus PPOK disebabkan oleh merokok jangka panjang. Namun, ada beberapa faktor lain yang mungkin juga bisa menjadi penyebab PPOK, seperti kekebalan terhadap penyakit.

Paparan polutan lain juga dapat menyebabkan PPOK karena tidak semua perokok aktif terkena kondisi ini. Beberapa di antaranya adalah asap curutu, menjadi perokok pasif, polusi udara, dan paparan debu atau asap.

3. Kekurangan alfa-1-antitripsin

Dalam kasus yang langka, PPOK muncul karena kelainan genetik yang menyebabkan rendahnya tingkat protein alpha-1-antitripsin. Alpha-1-antitripsin merupakan protein yang diproduksi di hati dan disebarkan ke aliran darah. Gunanya untuk membantu melindungi paru-paru.

Ketika Anda kekurangan alfa-1-antitripsin, Anda dapat menderita berbagai kondisi, seperti penyakit hati, penyakit paru-paru (seperti PPOK), atau bahkan keduanya sekaligus.

Apa saja yang menjadi penyebab PPOK memburuk?

merawat penderita PPOK

Walaupun tak bisa disembuhkan, Anda tak perlu langsung khawatir mengenai kehidupan Anda sebagai penderita PPOK. Anda tetap dapat hidup dengan nyaman selama Anda menghindari faktor-faktor penyebab yang dapat memperburuk PPOK. Faktor-faktor ini dikenal juga dengan faktor pemicu.

Penyebab seorang pasien PPOK mengalami eksaserbasi alias perburukan gejala berbeda-beda. Namun, umumnya meliputi:

  • asap rokok atau polusi udara
  • penyakit (infeksi saluran pernapasan) seperti pilek, flu, atau pneumonia
  • perlengkapan pembersih atau bahan kimia lainnya
  • gas, partikel, atau debu dari dalam rumah

Ketika terpapar faktor pemicu di atas, mungkin saja paru-paru Anda akan menjadi sulit untuk bekerja seperti seharusnya. Akibatnya, Anda akan mengalami masalah pernapasan, seperti sesak napas, dan gejala PPOK lainnya.

Memburuknya gejala PPOK disebut juga flare-up atau eksaserbasi. Kondisi ini terjadi apabila Anda terpapar faktor pemicu tersebut. Gejalanya mungkin saja ringan, tapi bisa juga muncul gejala parah yang mengharuskan Anda pergi ke rumah sakit.

Mengetahui faktor penyebab yang dapat memperburuk PPOK dapat membantu Anda menjaga kesehatan paru-paru. Hal ini juga berguna untuk mengurangi dan mencegah serangan yang mungkin terjadi.

Disiplin dalam melakukan pengobatan PPOK, seperti mengonsumsi obat-obatan dan tetap aktif secara fisik sesuai anjuran yang dokter juga dapat membantu mencegah kondisi flare-up.

Apa saja yang meningkatkan risiko Anda terkena PPOK?

cara meredakan batuk karena ppok

PPOK terjadi perlahan-lahan dan biasanya memburuk seiring waktu. Pada tahap awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala.

Pencegahan penyakit PPOK dan pengobatan dini dapat membantu menghindari kerusakan paru serius, masalah pernapasan serius, dan bahkan gagal jantung.

Untuk mencegahnya, langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengetahui faktor-faktor risiko yang menjadi penyebab PPOK, antara lain:

1. Merokok

Faktor risiko utama untuk PPOK adalah merokok, yang menjadi penyebab sampai 90% kematian kasus PPOK, menurut American Lung Association (ALA). Perokok memiliki peluang sekitar 13 kali lebih besar untuk mengalami kematian karena PPOK dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok.

Paparan jangka panjang terhadap asap tembakau sangatlah berbahaya. Semakin lama tahun dan semakin banyak bungkus rokok yang Anda isap, semakin besar pula risiko Anda.

Perokok batang dan perokok cerutu memiliki risiko yang sama besar. Bahkan tak hanya mereka yang perokok aktif, perokok pasif (secondhand smoke) juga membuat Anda berisiko.

Asap rokok yang dihirup oleh perokok tak hanya mengandung asap dari tembakau yang dibakar, tetapi juga udara yang diembuskan perokok aktif.

2. Polusi udara

Meskipun merokok sejauh ini adalah faktor risiko utama yang jadi penyebab PPOK, hal ini bukanlah satu-satunya. Polutan di dalam dan luar ruangan juga bisa menjadi salah satu faktor yang membuat Anda berisiko kena PPOK jika terjadi secara intens dan berkepanjangan.

Polusi udara dalam ruangan meliputi partikel dari asap bahan bakar yang digunakan untuk memasak dan memanaskan. Beberapa contohnya, tungku kayu dengan ventilasi yang buruk, pembakaran biomassa atau batubara, atau memasak dengan api.

Paparan terhadap polusi lingkungan dalam jumlah besar adalah faktor risiko penyebab PPOK lainnya. Kualitas udara dalam ruangan memainkan peran penting dalam perkembangan PPOK di negara-negara berkembang.

Namun, polusi udara perkotaan—seperti polusi lalu lintas dan polusi terkait pembakaran—menimbulkan risiko kesehatan yang lebih besar di seluruh dunia.

3. Debu dan bahan kimia

Paparan jangka panjang terhadap debu, bahan kimia, serta gas industri dapat mengiritasi dan mengakibatkan peradangan saluran napas dan paru-paru, sehingga meningkatkan risiko PPOK. Orang-orang dengan profesi yang sering berhadapan dengan paparan debu dan uap kimia, seperti penambang batu bara, pekerja biji-bijian, dan pembuat cetakan logam, memiliki risiko lebih besar untuk terkena penyakit ini.

Satu studi di American Journal of Epidemiology menemukan bahwa orang yang PPOK karena terkait pekerjaan diperkirakan mencapai 19,2% secara keseluruhan. Sebanyak 31,1% di antaranya tidak pernah merokok.

4. Genetika

Dalam kasus yang jarang terjadi, faktor genetik dapat menyebabkan orang yang tidak pernah merokok atau yang pernah terpapar partikulat jangka panjang untuk terkena PPOK. Kelainan genetik menyebabkan kekurangan alpha-1-antitripsin (AAT). Kekurangan AAT juga dapat menyebabkan penyakit paru-paru lain, yaitu bronkietasis

Meskipun kekurangan AAT adalah satu-satunya faktor risiko genetik PPOK yang ada, kemungkinan beberapa gen merupakan faktor risiko tambahan. Para peneliti belum dapat membuktikan hal ini.

5. Usia

PPOK paling sering dialami oleh orang yang berusia minimal 40 tahun yang memiliki riwayat merokok. Kejadian inimeningkat seiring bertambahnya usia. Meskipun tidak ada yang bisa Anda lakukan jika sudah menyangkut usia, Anda bisa mengambil langkah pencegahan dan menerapkan gaya hidup sehat untuk menjaga kesehatan.

Jika Anda memiliki faktor risiko PPOK, penting untuk mendiskusikannya dengan dokter. ALA menganjurkan untuk berkonsultasi pada dokter mengenai PPOK secara proaktif jika Anda berusia di atas 45 tahun, memiliki anggota keluarga yang menderita penyakit ini, atau jika Anda merupakan perokok aktif atau mantan perokok. Deteksi dini PPOK adalah kunci keberhasilan pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

Minum susu biasanya dianjurkan untuk anak-anak. Lalu, jika sudah lanjut usia, apakah masih perlu minum susu? Berapa banyak susu yang harus diminum?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Makanan tinggi garam bukan hanya membuat Anda berisiko mengalami tekanan darah tinggi. Simak berbagai bahaya makanan asin pada tubuh kita.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Tips Sehat 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara mengobati sengatan lebah

Pertolongan Pertama untuk Mengobati Sengatan Lebah

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
gejala leptospirosis

Cara Mengatasi Gejala Leptospirosis, Penyakit Khas di Musim Hujan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bikin kopi yang sehat

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit