home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Dampak Merokok pada Penderita PPOK

Dampak Merokok pada Penderita PPOK

Banyak yang mengamini bahwa merokok adalah suatu kebiasaan buruk. Meski begitu, banyak pula tak tak dapat meninggalkan kebiasaan ini, sekalipun sudah memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). PPOK adalah penyakit paru serius yang secara bertahap akan semakin membuat penderitanya kesulitan bernapas. Seberapa bahaya dampak merokok pada penderita PPOK?

Apa dampak merokok pada penderita PPOK?

Penyebab utama penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah asap tembakau, baik mereka yang merokok aktif maupun pasif. WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2005, terdapat 5,4 juta orang yang meninggal akibat penggunaan tembakau. Kematian terkait tembakau diperkirakan akan meningkat menjadi 8,3 juta kematian per tahun pada 2030.

Kebiasaan merokok dituding sebagai penyebab kematian 9 dari 10 orang karena PPOK. Penyakit ini paling sering terjadi pada orang di atas usia 40 tahun yang punya riwayat merokok, baik merokok aktif maupun mantan perokok. Ini menunjukkan bahwa salah satu dampak merokok ternyata berkontribusi pada kondisi kesehatan seperti PPOK.

Meski merupakan salah satu dampak dari merokok, penyakit PPOK juga bisa diderita oleh orang tak pernah merokok. Namun, persentasenya jauh lebih kecil. Hanya sekitar satu dari enam orang penderita PPOK yang tidak pernah merokok. Dampak merokok sejak kanak-kanak dan remaja juga dapat memperlambat pertumbuhan dan perkembangan paru-paru. Hal itu dapat meningkatkan risiko terkena PPOK di usia dewasa.

Bagaimana caranya rokok merusak paru-paru orang PPOK?

Udara yang Anda hirup akan bergerak turun melalui batang tenggorok dan mencapai saluran bronkus (pernapasan). Saluran bronkus bercabang menjadi saluran yang lebih kecil yang disebut bronkiolus, yang masing-masing berakhir pada kantung-kantung atau gelembung udara yang dikenal dengan alveolus.

Di dalam kantung-kantung udara ini terdapat pembuluh darah kecil, yaitu pembuluh darah kapiler. Ketika Anda menarik napas, oksigen akan bergerak ke kantung udara menuju ke darah dalam kapiler yang terletak di dinding alveolus. Secara bersamaan, karbondioksida dipindahkan dari pembuluh darah ke kantung udara. Proses ini disebut dengan pertukaran udara.

Tubuh, atau dalam hal ini peran utama paru-paru, dapat melakukan pertukaran udara karena sifat elastisitas yang dimiliki oleh alveolus.

Nah, perokok biasanya memiliki kerusakan paru yang membuat tubuh sulit mengalirkan dan mengeluarkan udara dalam saluran napas. Beberapa dampak merokok pada penderita PPOK yang menyumbang kerusakan paru, antara lain:

  • Kekakuan kantung udara (alveolus kehilangan elastisitasnya)
  • Degradasi dinding di antara kantung udara
  • Penebalan dan peradangan dinding saluran udara
  • Peningkatan produksi lendir di saluran udara, yang menyebabkan penumpukan lendir dan menyumbat jalan masuk udara

Asap rokok mengandung racun berbahaya yang memengaruhi fungsi paru. Racun yang dihirup langsung ke paru-paru untuk jangka waktu lama dapat menyebabkan tingginya tingkat iritasi paru abnormal. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya PPOK. Dengan berlanjutnya paparan jangka panjang terhadap asap rokok, paru-paru mengalami lebih banyak kerusakan, termasuk peradangan dan kerusakan sistem penyaringan paru.

Sayangnya, PPOK tidak bisa disembuhkan. Apabila paru-paru Anda telah mengalami kerusakan, kerusakan yang terjadi akan bersifat permanen. Usaha yang dapat Anda lakukan hanyalah mencegah kerusakan terjadi lebih parah melalui obat-obatan, gaya hidup sehat, serta menjauhi faktor pemicunya.

Perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat adalah cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan paru-paru meluas. Berhenti merokok adalah cara utama untuk menghilangkan dampak merokok pada tubuh penderita PPOK jika Anda merokok. Menghindari asap rokok juga dapat membantu Anda untuk mencegah memburuknya kondisi Anda akibat PPOK.

Bagaimana mencegah dampak merokok pada penderita PPOK?

Berikut cara yang dapat Anda lakukan untuk terhindari dari dampak merokok jika Anda seorang penderita PPOK:

1. Berhenti merokok

Berhenti merokok jelas merupakan hal terbaik yang bisa Anda lakukan untuk melindungi paru-paru dan menghindari dampak merokok yang membuat gejala PPOK semakin memburuk.

Berhenti merokok bukan hanya menjadi salah satu pengobatan untuk PPOK, melainkan merupakan langkah pencegahan agar kondisi tidak semakin parah. Langkah ini dapat membantu Anda menjaga kesehatan paru-paru secara umum, menjadi lebih aktif, dan menikmati hidup.

Umumkan kepada teman dan keluarga bahwa Anda hendak berhenti merokok sehingga mereka juga bisa membantu mengawasi dan mengingatkan.

Jika Anda merasa amat kesulitan, konsultasikanlah ke dokter mengenai cara untuk berhenti merokok. Dokter mungkin akan menyaran beberapa hal, seperti:

  • Obat-obatan
  • Terapi pengganti nikotin
  • Kelompok dukungan, konseling, atau kelas berhenti merokok (tatap muka atau online)

Tentu ini tidak mudah, tapi keinginan kuat akan membuat Anda berhasil menjalankannya. Obat-obatan dan program yang baru bisa sangat membantu. Menghitung biaya yang Anda habiskan untuk merokok juga bisa menjadi pertimbangan Anda berhenti melakukan kebiasaan buruk tersebut.

2. Hindari asap rokok

Dampak asap dari orang yang merokok adalah memicu lebih banyak flare-up alias perburukan gejala pada penderita PPOK dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada paru-paru. Jadi, Anda harus menghindari asap rokok.

Beberapa cara yang bisa Anda ikuti untuk mencegah dampak merokok pasif, antara lain:

  • Buat rumah dan mobil Anda menjadi zona bebas asap rokok. Beri tahu orang lain untuk mengikuti aturan ini. Buang asbak dari rumah Anda.
  • Pilihlah restoran, bar, dan tempat kerja (jika mungkin) yang bebas asap rokok.
  • Hindari tempat umum yang memperbolehkan merokok.

Jika ada perokok di tempat kerja Anda, beberapa tips untuk mengatasinya adalah:

  • Pastikan bahwa ada area merokok yang tepat untuk para perokok
  • Mintalah rekan kerja yang merokok untuk menyimpan jaket mereka jauh dari area kerja, terutama area kerja Anda.
  • Gunakan kipas angin dan biarkan jendela terbuka, jika memungkinkan.
  • Gunakan jalan keluar lainnya untuk menghindari perokok di luar gedung.

Ketika melakukan beberapa hal di atas, mungkin saja orang akan menganggap Anda menyebalkan. Untuk itu, menjelaskan kondisi Anda yang memiliki PPOK merupakan sebuah langkah yang baik agar tercipta kesepahaman antara Anda dan rekan kerja Anda. Dengan begitu, Anda bisa berusaha menghindari dampak merokok yang dapat memperburuk kondisi Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Smoking and COPD. (2020). Retrieved 12 June 2020, from https://www.cdc.gov/tobacco/campaign/tips/diseases/copd.html

COPD, S. (2020). Smoking and COPD: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved 12 June 2020, from https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000696.htm

WHO | Causes of COPD. (2020). Retrieved 12 June 2020, from https://www.who.int/respiratory/copd/causes/en/

COPD – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2020). Retrieved 12 June 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/copd/diagnosis-treatment/drc-20353685

Nutrition and COPD. (2020). Retrieved 12 June 2020, from https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/copd/living-with-copd/nutrition

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Lika Aprilia Samiadi
Tanggal diperbarui 02/11/2018
x