home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Penyebab dan Faktor-Faktor yang Bisa Meningkatkan Risiko Emboli Paru

Penyebab dan Faktor-Faktor yang Bisa Meningkatkan Risiko Emboli Paru

Tahukah Anda mengenai penyakit emboli paru? Emboli paru adalah kondisi yang dapat mengancam nyawa jika tidak segera didiagnosis dan diobati. Mengetahui penyebab dan faktor risiko emboli paru dapat membantu Anda mencegah kondisi ini.

Atas dasar itu, mari simak ulasan di bawah ini untuk memahami bagaimana emboli paru bisa terjadi dan kondisi apa saja yang bisa meningkatkan risiko Anda terkena kondisi ini.

Apa penyebab emboli paru?

kriptokosis

Emboli paru terjadi ketika sebuah gumpalan, biasanya berupa gumpalan darah, terjepit di dalam arteri paru-paru Anda.

Gumpalan yang menjadi penyebab emboli paru itu biasanya berasal dari vena dalam kaki, suatu kondisi yang dikenal dengan sebutan deep vein thrombosis (DVT) atau trombosis vena dalam.

Namun, gumpalan juga bisa terbentuk di pembuluh darah dalam di lengan atau panggul.

Stanford Health Care pun menyebutkan ada zat lain yang bisa menyebabkan penyakit paru-paru ini. Zat-zat tersebut termasuk:

  • bagian dari zat yang terinfeksi,
  • lemak yang bisa mengalir ke aliran darah setelah seseorang mengalami beberapa jenis parah tulang, operasi, trauma, atau luka bakar parah.
  • gelembung udara atau zat yang masuk ke dalam darah akibat trauma, operasi, atau prosedur medis,
  • tumor yang disebabkan oleh sel kanker yang tumbuh dengan cepat, hingga
  • air ketuban.

Faktor risiko emboli paru

Gejala emboli paru

Penggumpalan darah dapat terjadi pada siapa saja pada usia berapa pun, tetapi ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena kondisi ini.

Mayo Clinic menyebut salah satunya adalah jika Anda atau anggota keluarga pernah mengalami penggumpalan darah vena atau emboli paru di masa lalu.

Selain itu, berikut ini beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko emboli paru.

1. Kondisi dan perawatan medis

Berbagai kondisi dan perawatan medis di bawah ini dapat menjadi penyebab risiko Anda terkena emboli paru meningkat.

  • Penyakit kardiovaskular, terutama gagal jantung.
  • Beberapa jenis kanker, seperti otak, ovarium, pankreas, usus, lambung, paru-paru, dan kanker yang telah menyebar.
  • Prosedur kemoterapi sebagai salah satu pengobatan untuk mengatasi kanker.
  • Pembedahan merupakan salah satu penyebab utama masalah pembekuan. Oleh karena itu, dokter sering kali memberikan obat pencegah pembekuan darah, sebelum dan sesudah operasi besar.
  • Gangguan kesehatan, seperti kelainan bawaan, penyakit ginjal, hingga COVID-19.

2. Berdiam diri dalam waktu yang lama

Penggumpalan darah cenderung terbentuk ketika seseorang berdiam diri dalam waktu yang lama, seperti ketika beristirahat total atau berada dalam perjalanan panjang.

Berdiam diri di tempat tidur, seperti ketika dokter meminta Anda beristirahat total karena penyakit atau prosedur operasi, membuat Anda lebih rentan terkena penggumpalan darah.

Duduk dalam tempat yang sempit, seperti pesawat atau mobil, dalam waktu yang lama juga bisa menjadi penyebab Anda lebih berisiko mengalami penggumpalan darah yang bisa berujung ke emboli paru.

3. Faktor risiko lain

Selain kondisi kesehatan, perawatan medis, hingga berdiam diri terlalu lama, ada beberapa penyebab yang membuat Anda cenderung mengalami emboli paru.

  • Merokok disebut-sebut menjadi salah satu faktor risiko emboli paru, tetapi penyebabnya kurang diketahui.
  • Memiliki berat badan berlebih juga merupakan penyebab Anda memiliki risiko lebih tinggi terkena emboli paru, apalagi jika mengalami faktor risiko lainnya secara bersamaan.
  • Estrogen tambahan dalam pil KB dan terapi penggantian hormon dapat meningkatkan risiko terkena emboli paru, terutama jika Anda merokok atau kelebihan berat badan.
  • Kehamilan juga bisa menjadi penyebab Anda mengalami emboli paru karena berat bayi yang menekan pembuluh darah di panggul dapat memperlambat aliran darah dari kaki.
  • Usia 60 tahun ke atas dapat membuat Anda lebih berisiko mengalami kondisi ini.

Jika memiliki salah satu faktor risiko yang telah disebutkan di atas dan mengalami penggumpalan darah, sebaiknya segera periksakan kondisi Anda kepada dokter.

Emboli paru adalah kondisi serius yang dapat mengancam nyawa Anda. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan gagal jantung dan menghancurkan organ dalam tubuh.

Anda juga perlu menghubungi dokter atau mengunjungi rumah sakit terdekat jika mengalami gejala khas emboli paru, yaitu sesak napas.

Dokter akan memberikan diagnosis emboli paru berdasarkan gejala yang Anda keluhkan. Selanjutnya, dokter akan memberi tahu pilihan pengobatan sesuai dengan kondisi Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Pulmonary embolism – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 2 June 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pulmonary-embolism/symptoms-causes/syc-20354647

Causes. (2021). Retrieved 2 June 2021, from https://stanfordhealthcare.org/medical-conditions/blood-heart-circulation/pulmonary-embolism/causes.html

What causes a pulmonary embolism? – British Lung Foundation. (2015). Retrieved 2 June 2021, from https://www.blf.org.uk/support-for-you/pulmonary-embolism/causes

Jan Bĕlohlávek, A. (2013). Pulmonary embolism, part I: Epidemiology, risk factors and risk stratification, pathophysiology, clinical presentation, diagnosis and nonthrombotic pulmonary embolism. Experimental & Clinical Cardiology, 18(2), 129. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3718593/

Are You At Risk for Clots? | CDC. (2021). Retrieved 2 June 2021, from https://www.cdc.gov/ncbddd/dvt/features/blood-clot-risk.html

Ma, L., & Wen, Z. (2017). Risk factors and prognosis of pulmonary embolism in patients with lung cancer. Medicine, 96(16), e6638. doi: 10.1097/md.0000000000006638

Pulmonary Embolism (PE): Symptoms, Diagnosis & Treatment. (2021). Retrieved 2 June 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15802-pulmonary-embolism-who-is-at-risk

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fajarina Nurin Diperbarui 19/07/2021
Fakta medis diperiksa oleh Hello Sehat Medical Review Team