Definisi

Apa itu kusta (lepra)?

Kusta alias lepra atau penyakit Morbus Hansen adalah infeksi menular kronis yang menyerang sistem saraf, kulit, selaput lendir hidung, dan mata. Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium leprae, bakteri tahan asam berbentuk batang. Bakteri penyebab lepra ini tumbuh sangat lambat dan membutuhkan waktu setidaknya 6 bulan atau bahkan 40 tahun untuk menunjukkan tanda-tanda infeksi.

Lepra merupakan penyakit tertua di dunia. Berbagai refrensi menjelaskan bahwa penyakit ini sudah ada sejak tahun 600 sebelum masehi. Orang dahulu juga percaya bahwa lepra merupakan penyakit kutukan Tuhan dan sering dihubungkan dengan dosa. Bahkan, sejak zaman kuno penyakit ini menjadi sebuah momok paling menakutkan karena dapat menyebabkan kecacatan, mutilasi (misalnya terputusnya salah satu anggota gerak seperti jari), luka borok, dan masih banyak lain. 

Meski penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan parah dan cacat signifikan, namun sebenarnya lepra bisa sembuh total jika penderita mendapatkan pengobatan yang tepat. Ya, orang dengan penyakit ini bisa menjalankan kembali kehidupan normalnya, seperti bekerja, bersekolah, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. 

Sayangnya, masih ada banyak stigma dan prasangka buruk tentang penyakit ini.

Jenis-jenis kusta

Di Indonesia. ada dua jenis penyakit lepra yang umum ditemukan, di antaranya:

  • Kusta kering atau pausi basiler (PB). Penyakit kepra jenis ini ditandai dengan kemunculan sekitar 1-5 bercak putih di kulit. Bercak putih yang muncul tampak mirip sekali dengan panu.
  • Kusta basah atau multi basiler (MB). Gejala penyakit ini yang paling ketara adalah munculnya bercak kemerahan dan disertai penebalan pada kulit yang mirip dengan kadas. Bercak kemerahan ini bisa muncul dan menyebar lebih dari lima buah.

Seberapa umumkah kusta (lepra)?

Setiap dua menit seseorang terdiagnosis penyakit lepra. Penyakit ini umum di banyak negara, terutama yang beriklim tropis atau subtropis.

Pada tahun 2014, terdapat 121 negara yang dilaporkan memiliki kasus kepras berdasarkan laporan WHO, termasuk Indonesia. Penyakit ini dapat dialami oleh semua kalangan, tanpa memandang jenis kelamin maupun usia. 

Silakan berkonsultasi ke dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala kusta (lepra)?

Secara umum, gejala kusta yang paling khas adalah sensasi mati rasa atau baal pada area kulit yang menampakkan bercak. Sensasi mati rasa ini menyebabkan penderitannya tidak bisa merasakan perubahan suhu. Akibatnya, mereka yang mengalami penyakit ini kehilangan sensasi sentuhan dan rasa sakit pada kulitnya. Nah, hal ini juga lah yang membuat penderita tidak merasakan sakit sekalipun jari mereka putus.

Selain yang sudah disebutkan di atas, berikut beberapa tanda dan gejala kusta lainnya yang harus Anda wasapdai:

  • Kulit kering dan berisisik.
  • Di area yang sebelumnya ditumbuhi rambut atau bulu bisa terkadang bisa rontok.
  • Kelemahan atau kelumpuhan otot di tangan atau kaki.
  • Mutilasi, atau sensasi mati rasa yang menyebabkan penderita tidak menyadari ketika memiliki luka di bagian tubuhnya. Luka yang dibiarkan tanpa pengobatan bisa menyebabkan borok.
  • Muncul lepuhan atau ruam kemerahan pada kulit.
  • Pembesaran saraf tepi, biasanya di sekitar siku dan lutut
  • Muncul benjolan seperti bisul tapi tidak sakit ketika disentuh.
  • Penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab yang jelas
  • Ginekomastia (payudara yang tumbuh membesar pada pria), akibat gangguan keseimbangan hormon

Sering kali gejala penyakit ini menyerupai penyakit lain sehingga menyebabkan terlambatnya mendapatkan pengobatan yang tepat. Beberapa penyakit yang sering dikira mirip dengan kusta adalah psoriasis, panu, kadas, vitiligo, dan masih banyak lagi.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda merasa memiliki salah satu atau beberapa gejala kusta seperti yang sudah tercantum di atas, segeralah melakukan konsultasi ke dokter. Ingat, setiap tubuh orang berfungsi berbeda satu sama lain.

Jadi, selalu konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik sesuai dengan kondisi yang Anda alami.

Penyebab

Apa penyebab kusta?

Kusta adalah penyakit kronis karena bakteri basilus, Mycobacterium leprae (M. leprae). Bakteri M. leprae sendiri berkembang biak dengan sangat lambat dan periode inkubasi penyakit diperkirakan sekitar 5 tahun.Sebenarnya, sampai saat ini para ahli belum begitu mengerti bagaimana kusta menyebar.

Namun, para ahli menduga bahwa Anda bisa tertular penyakit ini dari percikan air liur orang yang terinfeksi ketika mereka sedang bersin, batuk, atau berbicara dengan Anda. Dalam kebanyakan kasus, bakteri tersebar melalui kontak jangka panjang dengan seseorang yang memiliki penyakit tapi belum diobati.

Meski merupakan penyakit menular kronis, tapi beberapa orang mungkin tidak pernah terkena penyakit ini sekalipun mereka terpapar bakteri. Pasalnya, sekitar 95% populasi dunia memiliki kekebalan alami terhadap kusta.

Faktor risiko

Siapa saja yang berisiko tinggi terkena kusta?

Penyakit ini memang bisa menyerang siapa saja. Namun, faktor risiko terbesar untuk tertular penyakit ini adalah melakukan kontak langsung dalam waktu lama dengan orang yang terinfeksi.

Mereka yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk, seperi rumah yang tidak memadai dan tidak memiliki sumber air bersih juga berisiko terkena penyakit ini. Selain itu, auspan gizi yang buruk (malnutrisi) dan memiliki sistem imun yang lemah akibat kondisi medis tertentu seperti HIV juga bisa meningkatkan risiko Anda terkena penyakit ini.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana kusta didiagnosis?

Hal pertama yang bisa dilakukan dokter untuk mendiagnosis penyakit ini adalah dengan menanyakan seputar riwayat medis Anda dan mengecek kondisi kesehatan Anda secara menyeluruh. Pemeriksaan fisik maupun laboratorium juga diperlukan untuk memantabkan diagnosis.

Jika dari hasil pemeriksaan dokter menemukan bahwa Anda memiliki kelainan kulit yang mencurigakan, beliau mungkin akan mengambil sejumlah sampel kecil kulit yang tidak normal dan mengirimkannya ke laboratorium untuk diperiksa. Prosedur ini disebut biopsi kulit.

Pada kusta pausibasiler, tidak ada bakteri yang akan terdeteksi. Sebaliknya, bakteri mungkin akan ditemukan di tes hapusan kulit dari orang dengan kusta multibasiler.

Bisakah kusta disembuhkan?

Banyak orang mengira kalau kusta merupakan penyakit kutukan yang tidak bisa diobati. Padahal, seiring dengan kemajuan dunia medis, penyakit ini bisa diobati dan orang yang mengalaminya bisa sembuh totak. Kuncinya satu, orang yang terkena penyakit ini harus segera mencari bantuan medis dan disiplin dalam melakukan pengobatan.

Pasalnya, semakin cepat pengobatan dilakukan, maka risiko penderita mengalami kecacatan permanen jadi lebih rendah. Tak hanya itu, pengobatan awal juga dapat mencegah kerusakan jaringan, menghentikan penyebaran penyakit, dan mencegah komplikasi kesehatan serius.

Obat-obatan untuk kusta

Guna mengatasi penyakit lepra, dokter biasanya akan melakukan terapi obat multiple (multi-drug therapy/MDT) yang membutuhkan waktu dari 6 bulan sampai 2 tahun, atau bahkan terkadang lebih lama. Terapi ini diyakini efektif untuk memperpendek masa pengobatan, memutuskan rantai penularan lepra, serta mencegah komplikasi yang serius. 

Beberapa obat-obatan yang sering diresepkan dokter dalam melakukan terapi MDT di antaranya:

  • Rifampicin

Rifampicin adalah antibiotik yang bekerja menghambat pertumbuhan bakteri kusta di dalam tubuh. Obat ini berbentuk kapsul dan dikonsumsi secara oral, alias melalui mulut. Minumlah obat ini dengan segelas air putih 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan.

Meski terbilang efektif mengobati kusta, obat ini juga memiliki sejumlah efek samping seperti perubahan warna urin menjadi merah, sakit perut, demam, dan menggigil. Efek samping obat ini umumnya bersifat sementara dan dapat hilang sendiri tanpa pengobatan lainnya.

  • Clofazimine

Clofazimine juga merupakan obat yang umum digunakan untuk mengatasi penyakit lepra. Dokter mungkin akan meresepkan obat ini dengan obat lain seperti kortison untuk mengobati luka dari penyakit lepra. Obat ini bisa diminum bersamaan dengan makanan atau susu.

Minumlah obat sesuai dengan resep dokter. Jangan mengonsumsi obat ini terlalu sedikit ataupu berlebihan karena hal tersebut mungkin bisa memperparah kondisi Anda. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi setelah minum obat ini di antaranya, perubahan warna feses dan urin, produksi belek (kotoran mata) dan air mata berlebih, serta berkeringat terus-terusan.

  • Dapsone

Dapsone adalah antibiotik golongan sulfona. Antibiotik ini bekerja dengan cara mengurangi peradangan (inflamasi) dan menghentikan pertumbuhan bakteri penyebab lepra. Anda bisa mengonsumsi obat ini dengan/atau tanpa makan.

Biasanya, obat ini diminum sehari sekali atau sesuai yang diresepkan dokter. Gunakan obat ini secara teratur dan usahakan pada jam yang sama agar mendapatkan manfaat yang optimal. Mual, muntah, telinga berdengung, sakit kepala, penglihatan kabur merupakan beberapa efek samping obat Dapsone yang paling sering dikeluhkan orang.

Pembedahan untuk kusta

Dalam kasus tertentu, pembedahan juga bisa dilakukan sebagai proses lanjutan setelah pengobatan antibiotik. Pembedahan ini dilakukan untuk membantu memperbaiki saraf yang rusak atau bentuk tubuh penderita yang cacat, supaya penderita bisa beraktivitas normal seperti sedia kala.

Rutin minum obat kunci kesembuhan pasien lepra

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, lepra adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Dengan catatan, Anda rutin minum obat yang sudah diresepkan dokter.

Tidak disiplin minum obat justru membuat bakteri penyebab lepra menjadi lebih kuat dan kebal terhadap pengobatan saat ini dan selanjutnya. Jika kondisi ini terjadi dalam waktu yang lama, maka gejala yang akan Anda alami pun bisa semakin parah. Pasalnya, bakteri penyebab lepra terus berkembang biak semakin banyak di dalam tubuh Anda.

Tak hanya itu, sering lupa minum obat atau bahkan menghentikan pengobatan secara asal juga dapat meningkatkan risiko penularan kusta ke orang lain. Bukan hanya membuat kondisi Anda semakin buruk, bakteri yang resisten ini juga bisa berpindah dan menginfeksi tubuh orang lain.

Pada akhirnya, orang-0rang terdekat Andalah yang bakal jadi sasaran penularan penyakit ini. Ya, orang-orang yang setiap hari berinteraksi dengan Anda bisa saja tertular penyakit ini di kemudian hari jika Anda tidak rutin minum obat kusta.

Komplikasi

Apa saja komplikasi kusta yang perlu diwasapdai?

Lepra yang dibiarkan tanpa pengobatan atau bahkan terlambat terdeksi bisa menyebabkan cacat fisik yang bersifat sementara maupun selamanya. Orang dengan penyakit ini juga berisiko tinggi mengalami kerusakan saraf permanen pada lengan dan kaki, kerusakan septum hidung, galukoma, kebutaan, disfungsi ereksi, dan gagal ginjal 

Menurut Pedoman Nasional program Pengendalian Penyakit Kusta yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan Nasional, cacat fisik akibat penyakit ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Cacat primer

Cacat primer bisa menyebabkan penderitanya mengalami baal, alias mati rasa d. Kulit kering, bersisik, serta claw hand alias tangan dan jari-jari membengkok juga bisa terjadi.

Pada cacat primer bercak kulit mirip panu biasanya muncul secara cepat dalam waktu yang singkat. Lama-lama bercak ini berubah menjadi meradang, membengkak, dan membuat Anda mengalami demam.

  • Cacar sekunder

Kondisi ini merupakan tahap lanjut dari cacat primer, terutama yang diakibatkan karena kerusakan saraf. Jika bakteri penyebab lepra sudah menyebar ke sistem saraf, maka fungsi saraf dalam tubuh Anda akan terus menurun atau bahkan tidak bekerja sama sekali. Akibatnya, Anda mungkin akan mengalami kelumpuhan di bagian tangan, kaki, jari-jari tangan dan kaki membengkok, atau refleks kedip jadi berkurang.

Anda juga mungkin akan mengalami kulit yang kering dan bersisik yang parah karena adanya kerusakan pada kelenjar minyak dan aliran darah.

Pengobatan di rumah

Apa saja pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kusta?

Selain harus minum obat secara teratur, orang dengan kusta juga harus memperhatikan asupan nutrisinya. Hal ini dilakukan untuk membantu mempercepat penyembuhan kusta. Berikut beberapa pilihan nutrisi yang harus dipenuhi oleh orang dengan penyakit lepra/

  • Vitamin E. Kacang-kacangan dan biji-bijian mentah, seperti almond, kuaci, dan kacang tanah merupakan sumber vitamin E yang baik dikonsumsi orang dengan penyakit kusta.
  • Vitamin A. Anda bisa mendaptkan asupan vitamin A dari worterl, ubi jalar, bayam, pepaya, hati sapi, serta produk olahan susu dan telur.
  • Vitamin D.  Selain dari paparan sinar matahari langsung, Anda juga bisa mendapatkan asupan vitamin ini dari minyak ikan cod, salmon, sarden, makarel, telur, dan sereal yang diperkaya vitamin D.
  • Vitamin C. Vitamin C bisa ditemukan pada buah sitrus (jeruk dan lemon), mangga, stroberi, hingga sayuran seperti tomat, dan brokoli.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber

Direview tanggal: April 9, 2019 | Terakhir Diedit: April 9, 2019

Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan