Apa itu Intoleransi Laktosa (Lactose Intolerance)?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu intoleransi laktosa?

Intoleransi laktosa adalah gangguan pencernaan yang terjadi ketika usus tidak mampu mencerna laktosa.

Laktosa adalah jenis gula yang banyak terdapat dalam susu hewani dan produk olahannya, seperti keju, es krim, yogurt, dan mentega (butter).

Normalnya, usus kecil butuh enzim yang disebut laktase untuk memecah laktosa menjadi gula dalam bentuk lebih sederhana, yaitu glukosa dan galaktosa. Tubuh kemudian menyerap gula sederhana ini ke dalam aliran darah untuk dijadikan energi.  

Ketika tidak bisa dicerna dan diserap tubuh, laktosa akhirnya berubah menjadi gas yang menyebabkan munculnya berbagai gejala masalah pencernaan.

Orang yang intoleran terhadap laktosa perlu membatasi asupan hidangan apa pun yang terbuat atau mengandung susu. Misalnya:

  • Susu, milkshakes, smoothies yang dibuat dengan susu atau yogurt, dan minuman berbahan dasar susu hewani lainnya
  • Whipped cream (krim kocok) dan krimer dairy 
  • Es krim, es susu, gelato, yogurt, puding susu, atau camilan dingin apa pun yang mengandung susu
  • Keju
  • Mentega (butter)
  • Sup krim atau saus dan krim dari susu (misalnya saus pasta carbonara)
  • Makanan-makanan lainnya yang dibuat dari susu

Makanan lain nono-susu yang mungkin mengandung laktosa dalam jumlah sedikit yaitu:

  • Roti dan kue-kue kering
  • Permen cokelat
  • Salad dressing dan saus
  • Sereal dan produk kreasinya
  • Daging
  • Permen dan makanan ringan
  • Adonan pancake dan biskuit
  • Margarin
  • Jeroan, (seperti hati)
  • Gula bit, kacang polong, dan kacang lima

Laktosa juga sering terdapat pada beberapa obat-obatan seperti pil KB, dan obat-obatan bebas seperti obat sakit perut atau obat maag.

Seberapa umumkah intoleransi laktosa?

Intoleransi laktosa bisa dialami siapa saja. Namun, kondisi ini lebih sering terjadi di kawasan Afrika, Amerika, Asia, dan Meksiko.

Kondisi ini juga lebih sering terjadi pada anak-anak. 

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-­tanda dan gejala intoleransi laktosa?

Gejala intoleransi laktosa biasanya dapat mulai muncul dalam waktu 30 menit hingga 2 jam setelah makan hidangan mengandung susu.

Ada beberapa orang yang sangat sensitif terhadap laktosa sehingga gejalanya bisa langsung muncul cepat dan berat. Namun, ada juga sebagian orang yang masih bisa mengonsumsi laktosa dalam jumlah sedikit, sehingga gejala yang muncul mungkin terasa ringan atau samar.

Gejala umumnya termasuk: 

1. Perut sakit, kembung, dan/atau kram

Laktosa susu yang masuk ke dalam tubuh selanjutnya akan dicerna dan difermentasi. Selama proses fermentasi ini, laktosa akan melepaskan asam lemak dan sekumpulan gas berupa hidrogen, metana, dan karbon dioksida.

Kandungan asam dan gas yang berlebihan dapat menyebabkan perut terasa kembung, sakit, dan bahkan kram.

2. Diare

Tubuh yang tidak bisa mencerna laktosa rentan mengalami diare. Diare muncul sebagai reaksi tubuh yang justru meningkatkan volume air di usus besar.

Semakin banyak cairan yang dialirkan ke usus, semakin banyak pula air yang ikut terbawa bersama feses. 

3. Gejala lainnya

Selain tiga gejala di atas, ada beberapa gejala intoleransi laktosa lainnya yang lebih jarang terjadi. Berikut adalah yang harus Anda waspadai:

  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Kehilangan konsentrasi
  • Nyeri otot dan sendi
  • Masalah buang air kecil
  • Eksim
  • Ada suara gemuruh di perut 

Namun, gejala-gejala ini belum ditetapkan sebagai gejala sebenarnya dari intoleransi laktosa dan mungkin memiliki penyebab lain. 

Sementara itu, anak-anak memiliki gejala yang sedikit berbeda, seperti:

  • Diare berbuih
  • Ruam gatal pada kulit
  • Pertumbuhan dan perkembangan yang melambat
  • Kadang-kadang muntah.

Kemungkinan ada tanda-­tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran tentang gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda memiliki tanda-­tanda atau gejala-­gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter. Tubuh masing­-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

Penyebab

Apa penyebab intoleransi laktosa?

Penyebab utama dari intoleransi laktosa adalah tubuh yang tidak memiliki cukup enzim laktase untuk mencerna gula di susu. 

Namun, ada beberapa hal lain yang bisa menyebabkan kondisi ini, yang dibagi berdasarkan jenisnya, yaitu:

1. Intoleransi laktosa primer

Jenis intoleransi ini umumnya dimiliki oleh orang-orang yang sebelumnya pernah dan bisa mengonsumsi produk susu tanpa masalah apa pun.

Hampir setiap tubuh orang yang lahir ke dunia akan menghasilkan cukup laktase untuk mencerna laktosa dalam ASI dan susu formula untuk bayi. Namun bagi beberapa orang, intoleransi laktosa dapat berkembang seiring bertambahnya umur.

Umumnya setelah konsumsi susu sempat lama dihentikan, usus halus akan memproduksi lebih sedikit enzim laktase. Perubahan ini membuat mereka lebih rentan mengalami intoleransi seiring waktu.

2. Intoleransi laktosa sekunder

Ini adalah intoleransi laktosa yang terjadi sementara akibat pengaruh penyakit di sistem pencernaan, efek samping operasi, atau selama mengonsumsi obat tertentu.

Salah satu penyakit yang sering menyebabkan orang menjadi intoleran terhadap susu adalah muntaber (gastroenteritis) akut. Infeksi ini menyebabkan kerusakan sementara pada lapisan usus selama masih sakit.

Orang yang terkena muntaber cenderung akan mengalami mual, muntah, dan diare saat mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa. Namun setelah sembuh, tubuhnya kembali bisa mencerna laktosa seperti biasa.

3. Intoleransi laktosa bawaan

Seseorang dikatakan mengalami intoleransi ini jka tubuhnya sama sekali tidak dapat menghasilkan enzim laktase sejak lahir. Penyebabnya adalah kelainan genetik yang diturunkan. Namun, kedua sisi orangtua harus sama-sama memiliki gen mutasi untuk dapat menurunkan kondisi ini kepada sang bayi.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk intoleransi laktosa?

Faktor-faktor tertentu yang meningkatkan risiko Anda mengalami intoleransi laktosa  yaitu:

  • Usia. Kondisi ini bisa dialami siapa saja, tapi gejalanya cenderun lebih tampak jelas seiring bertambahnya usia.
  • Keturunan etnis Afrika, Asia, Latin, dan kulit putih.
  • Lahir prematur. Bayi yang lahir prematur dapat mengalami kekurangan laktase karena usus kecilnya belum terbentuk sempurna. Usus bayi belum membentuk sel-sel yang menghasilkan laktase sampai akhir trimester ketiga.
  • Penyakit yang menyerang usus kecil dapat mengganggu jumlah enzim di usus, termasuk enzim laktase. Contohnya penyakit Celiac atau Crohn.
  • Pengobatan kanker tertentu, seperti terapi radiasi atau kemoterapi yang terfokus pada bagian perut (usus khususnya).

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang bisa terjadi akibat intoleransi laktosa?

Intoleransi laktosa mengharuskan Anda menghinidari asupan susu dan produk susu lainnya.

Laktosa pada dasarnya berfungsi membantu pencernaan untuk menyerap zat gizi lain dalam makanan. Sementara itu, semua hidangan yang berbahan susu umumnya mengandung kalsium, magnesium, seng, protein, serta vitamin A, vitamin B12, dan vitamin D.

Semua mineral dan vitamin ini penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Kalsium, magnesium, dan seng, contohnya, penting untuk perkembangan tulang yang kuat dan sehat.

Jika tubuh tidak dapat menyerap laktosa, Anda akan berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan gizi maupun beberapa kondisi berikut:

  • Osteopenia adalah kepadatan tulang yang sangat rendah.
  • Osteoporosis adalah kondisi tulang yang sudah keropos dan sangat berisiko patah tulang.

Apabila Anda intoleran terhadap laktosa dan khawatir tentang komplikasi yang mungkin ditimbulkannya, berkonsultasilah dengan ahli gizi.

Spesialis gizi dapat merancang rencana saran untuk menyesuaikan pola makan Anda, atau menyarankan Anda menambah asupan gizi lewat suplemen untuk mencegah dampak dari intoleransi laktosa.

Diagnosis

Bagaimana cara dokter mendiagnosis kondisi ini?

Ada tiga tes yang paling umum digunakan untuk mendiagnosis intoleransi laktosa, yaitu tes toleransi laktosa, tes napas hidrogen dan tes keasaman tinja.

1. Tes intoleransi laktosa 

Tes ini dapat digunakan untuk anak-anak dan orang dewasa.

Anda biasanya akan diminta untuk puasa makan dan minum apa pun selama beberapa jam sebelum tes dimulai. Kemudian, darah Anda akan untuk dicek berapa kadar glukosa darah saat ini. 

Selanjutnya, Anda akan diminta minum cairan yang mengandung  50 gram laktosa. Sampel darah yang kedua akan diambil untuk melihat apakah ada perubahan pada kadar glukosa darah. 

Jika laktosa bisa dicerna oleh tubuh, kadar glukosa darah akan naik. Jika kadar glukosa terbukti tidak naik, ini menandakan bahwa laktosa tidak dipecah karena Anda memiliki intoleransi laktosa.

2. Tes napas hidrogen

Prosedur tes ini sangat mirip dengan tes intoleransi laktosa.

Setelah berpuasa beberapa jam, Anda akan diminta menghembuskan napas ke corong yang terhubung ke kantong foil seperti balon. Selanjutnya, pasien akan minum cairan yang dapat mengandung hingga 50 gram laktosa. Proses ini kemungkinan akan diulang terus beberapa kali secara bertahap dalam kurun waktu 6 jam.

Normalnya, napas tidak mengandung hidrogen. Jika setelah diperiksa ternyata napas Anda mengandung hidrogen, dokter dapat mendiagnosis kemungkinan penyebabnya adalah intoleransi laktosa.

Hidrogen hadir dalam napas ketika usus tidak bisa mencerna dan mengolah laktosa sebagai energi.

3. Tes keasaman feses

Tes ini biasanya dilakukan pada bayi dan anak kecil.

Sampel feses nantinya akan dikumpulkan dan diuji dengan asam laktat, glukosa, dan asam lemak rantai pendek lainnya. Jika dari hasilnya ditemukan laktosa yang tidak tercerna oleh tubuh, dokter dapat memastikan penyebabnya adalah intoleransi.

Tes ini terbilang cukup aman tanpa menimbulkan masalah seperti dehidrasi akibat  diare, karena menelan laktosa dalam jumlah besar. 

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan untuk intoleransi laktosa?

Intoleransi laktosa tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan gejala dan faktor pemicunya. Kebanyakan orang dapat mengatasi gejalanya dengan mengubah pola makan dan membatasi jumlah laktosa yang mereka konsumsi.

Beberapa orang melakukan lebih baik dengan mengurangi asupan laktosa dari diet mereka sama sekali.

1. Mengonsumsi nutrisi yang cukup 

Membatasi minum atau makan produk yang terbuat dari susu tidak berarti Anda tidak bisa mendapatkan cukup kalsium. Kalsium dapat ditemukan dalam banyak makanan lain, seperti:

  • Brokoli
  • Produk yang diperkaya kalsium, seperti roti dan jus
  • Ikan salmon
  • Alternatif susu lain, seperti susu kedelai dan susu beras
  • Jeruk
  • Bayam

Pastikan juga Anda mendapat cukup vitamin D, yang biasanya ada di dalam susu. Anda bisa mengonsumsi, telur, hati, dan yogurt yang mengandung vitamin D. Tubuh secara alami juga dapat menghasilkan vitamin D saat Anda terkena sinar matahari.

Anda juga bisa konsultasi dan minta dokter meresepkan suplemen kalsium atau yang mengandung vitamin D

2. Batasi produk susu

Anda bisa membatasi mengonsumsi produk susu berlebih saat mengalami intoleransi laktosa dengan cara berikut ini:

  • Batasi minum susu, maksimal 118 ml saja. Semakin kecil jumlah banyak susunya, semakin kecil kemungkinan menyebabkan masalah pencernaan.
  • Coba minum susu dengan makanan lain. Ini dapat memperlambat proses pencernaan dan dapat mengurangi gejala intoleransi laktosa
  • Pilih produk susu yang mengandung laktosa rendah, misalnya seperti keju cheddar dan yoghurt. 
  • Beli produk atau bahan makanan yang jumlah laktosanya sedikit atau bahkan bebas laktosa. 
  • Mengonsumsi tablet atau tetes obat yang mengandung enzim laktase. Ini dapat membantu Anda mencerna produk susu. Anda bisa minum tablet sebelum makan atau ngemil. Namun, tidak semua orang dengan intoleransi laktosa bisa terbantu oleh produk-produk ini.

3. Mengonsumsi probiotik

Probiotik adalah bakteri baik yang dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Probiotik dapat meningkatkan jumlah bakteri baik dalam usus untuk membantu meredakan gejala intoleransi. 

Probiotik biasanya banyak terkandung dalam yogurt. namun, Anda bisa mengonsumsi versi yang lebih amannya dari tempe atau suplemen kapsul. 

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi intoleransi laktosa?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi kondisi ini:

  • Konsumsilah cukup kalsium dan vitamin D dari makanan atau suplemen. 
  • Beritahu dokter Anda tentang semua obat-obatan yang Anda gunakan. 
  • Pertimbangkan lagi jika ingin menyusui bayi Anda dengan susu formula, jika Anda memiliki riwayat keluarga yang mengalami intoleransi laktosa. 
  • Konsumsi susu formula berbahan dasar kedelai dan bukan susu murni. 
  • Hubungi dokter jika diet bebas susu tidak membantu menghilangkan gejala. 
  • Hubungi dokter jika berat badan anak Anda tidak bertambah atau anak Anda menolak makanan atau susu formula.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber

Direview tanggal: September 22, 2016 | Terakhir Diedit: September 18, 2019

Yang juga perlu Anda baca