Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Efek Samping Benzoil Peroksida, Kenali Tanda dan Pencegahannya

Efek Samping Benzoil Peroksida, Kenali Tanda dan Pencegahannya

Benzoil peroksida adalah kandungan produk perawatan kulit untuk mengatasi jerawat. Bahan ini membunuh bakteri penyebab jerawat. Meski terbukti efektif, kandungan ini bisa menimbulkan keluhan lain bagi kulit. Apa saja efek samping benzoil peroksida?

Efek samping benzoil peroksida

Ada beberapa efek samping benzoil peroksida yang bisa timbul pada kulit Anda. Berikut tanda-tandanya.

1. Kulit kering

Cara kerja utama benzoil peroksida adalah membunuh bakteri penyebab jerawat, yakni Cutibacterium acnes.

Akan tetapi, kandungan ini juga mampu mengurangi minyak alami kulit atau sebum yang berlebih.

Pada dasarnya, salah satu penyebab jerawat adalah timbulnya sebum yang berlebih. Nah, minyak ini dapat menjadi tempat pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes.

Karena membasmi bakteri penyebab jerawat, tak jarang sebum pun ikut berkurang. Sayangnya, ini justru menimbulkan efek samping berupa kulit kering.

2. Kulit mengelupas

Efek samping benzoil peroksida kulit kering

Efek samping benzoil peroksida ini biasanya muncul akibat kulit yang semakin kering. Saat kulit mengering, kadar sebum berkurang drastis.

Padahal, minyak ini berfungsi untuk menahan kadar air pada kulit agar tidak menguap. Hal ini mengakibatkan kelenturannya berkurang sehingga kulit tampak mengelupas dan pecah-pecah.

Kondisi ini biasanya muncul pada minggu pertama pemakaian produk. Ketika sudah terbiasa dengan benzoil peroksida, kondisi ini akan pulih secara bertahap.

3. Iritasi

Kondisi ini biasanya ditandai dengan kulit kemerahan. Iritasi yang dialami cenderung ringan, jarang sekali kulit mengalami iritasi berat akibat benzoil peroksida.

Efek samping benzoil peroksida ini biasanya muncul sesaat setelah mengoleskannya. Iritasi akan mereda dalam rentang waktu beberapa menit hingga beberapa jam.

Iritasi kulit juga diikuti dengan sensasi tidak nyaman, seperti:

  • panas,
  • perih, dan
  • gatal.

4. Dermatitis kontak alergi

Efek samping benzoil peroksida yang satu ini relatif jarang ditemukan.

Meski demikian, ada beberapa orang mengalami reaksi alergi kulit atau dermatitis kontak alergi setelah menggunakan produk ini.

Studi kasus yang diterbitkan dalam jurnal Dermatologic Therapy (2015) menyatakan bahwa dermatitis kontak alergi yang timbul ditandai dengan:

  • bentol-bentol gatal,
  • kulit kemerahan yang meluas, dan
  • lepuhan berisi cairan.

Studi ini juga menemukan bahwa efek samping ini lebih sering muncul setelah menggunakan benzoil peroksida 10% dengan sediaan krim atau losion.

Cara mencegah dan mengatasi efek samping benzoil peroksida

Cara mencegah efek samping benzoil peroksida

Untuk mengurangi risiko efek samping atau tidak membuatnya semakin parah, ada beberapa cara yang bisa Anda coba, apa saja?

1. Mulai perlahan

Cara ini berguna untuk mengukur seberapa baik kulit bisa menoleransi benzoil peroksida. Pasalnya, semakin tinggi konsentrasinya, semakin rentan kulit mengalami efek samping.

Untuk itu, mulai pakai benzoil peroksida dengan konsentrasi yang paling rendah, yakni 2,5 persen.

Oles tipis-tipis hanya di bagian berjerawat sebanyak sekali sehari. Naikkan jumlah pemakaian maksimal dua kali sehari jika kulit bisa menoleransi dengan baik.

Apabila kulit tampak membaik jika Anda menggunakan konsentrasi 2,5% sekali sehari, Anda tidak perlu menambah konsentrasi atau jumlah pemakaiannya dalam sehari.

2. Hindari paparan matahari langsung

Riset yang diterbitkan pada jurnal Anais Brasileiros de Dermatologia (2019) menyatakan bahwa benzoil peroksida bersifat fotosensitif.

Artinya, kulit Anda akan lebih mudah bereaksi seperti terbakar akibat sengatan matahari.

Untuk itu, pastikan Anda selalu mengoles tabir surya dengan SPF minimal 30 jika memakai obat jerawat benzoil peroksida pada pagi hari.

Perlu diingat, tabir surya harus selalu dioles paling terakhir pada urutan pemakaian skincare. Ini berguna untuk memberikan perlindungan maksimal.

Jangan lupa lindungi kulit dengan mengenakan pakaian lengan panjang, payung, topi, atau kacamata hitam.

3. Gunakan pelembap berbahan dasar air

Segera gunakan pelembap berbahan dasar air sesaat setelah benzoil peroksida sudah meresap. Ini berguna untuk mencegah efek samping kulit kering.

Bahan pelembap berbahan dasar air ini umumnya tidak mengandung minyak. Jadi, bisa mengurangi risiko komedo dan kulit berminyak berlebihan yang justru menimbulkan jerawat.

Anda bisa memilih pelembap bersifat humektan atau yang mampu mengumpulkan air dari udara dan menyalurkannya ke permukaan kulit.

Beberapa pelembap humektan biasanya mengandung:

  • asam hialuronat atau hyaluronic acid,
  • gliserin,
  • panthenol atau provitamin B5, dan
  • propylene glycol.

4. Hindari skincare yang picu kulit kering

Sudah menggunakan rangkaian produk perawatan kulit dengan rutin, tapi Anda masih saja menggunakan produk berikut?

  • Pembersih berbahan dasar minyak.
  • Toner astringent.
  • Salicylic acid.
  • Retinoid.

Sebaiknya hentikan dulu pemakaian produk di atas karena justru bisa memperparah efek samping benzoil peroksida, yakni kulit kering dan iritasi.

Hindari juga semua obat jerawat maupun produk untuk kulit berminyak sementara waktu.

Jika kulit Anda berangsur-angsur membaik dan tidak kering lagi, barulah Anda bisa kembali menggunakan skincare harian Anda secara bertahap.

5. Hindari produk dengan scrub

Produk dengan scrub memang efektif mengangkat kotoran dan minyak di wajah. Sayangnya, ini tidak berlaku untuk mengatasi kulit kering dan mengelupas.

Menggunakan scrub pada kulit wajah yang kering dapat memicu iritasi dan membuat kulit tampak lebih kusam.

Sebagai solusinya, rendam handuk lembut ke dalam air hangat, lalu tepuk-tepuk wajah untuk membersihkan sisa-sisa kotoran yang menempel.

Ingat, jangan menggosoknya terlalu keras supaya kulit wajah Anda tidak semakin memerah. Oleskan krim pelembap setelahnya supaya kulit lebih segar.

Efek samping benzoil peroksida yang paling umum ditemukan adalah kulit kering dan iritasi. Dalam kondisi yang lebih parah, Anda juga rentan mengalami reaksi alergi atau dermatitis kontak alergi.

Jika kulit tidak kunjung membaik setelah menggunakan benzoil peroksida dengan konsentrasi 5% sebanyak dua kali sehari, segera temui dokter untuk mendapatkan pengobatan yang lebih tepat.

Hentikan pemakaian jika muncul reaksi alergi atau iritasi yang tak tertahankan.

Verifying...


Pernah alami gangguan menstruasi?

Gabung bersama Komunitas Kesehatan Wanita dan dapatkan berbagai tips menarik di sini.


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Benzoyl peroxide | DermNet NZ. (2022). Retrieved 30 March 2022, from https://dermnetnz.org/topics/benzoyl-peroxide

Borrel, V., Gannesen, A., Barreau, M., Gaviard, C., Duclairoir‐Poc, C., & Hardouin, J. et al. (2019). Adaptation of acneic and non acneic strains of Cutibacterium acnes to sebum‐like environment. Microbiologyopen, 8(9). doi: 10.1002/mbo3.841

Gade, A., Matin, T., & Rubenstein, R. (2021). Xeroderma. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK565884/

Foti, C., Romita, P., Borghi, A., Angelini, G., Bonamonte, D., & Corazza, M. (2015). Contact dermatitis to topical acne drugs: a review of the literature. Dermatologic Therapy, 28(5), 323-329. doi: 10.1111/dth.12282

Bagatin, E., Freitas, T. H. P. de, Rivitti-Machado, M. C., Ribeiro, B. M., Nunes, S., & Rocha, M. A. D. da. (n.d.). Adult female acne: A guide to clinical practice. Anais Brasileiros de Dermatologia. doi: 10.1590/abd1806-4841.20198203

Sunscreen FAQs. (2022). Retrieved 30 March 2022, from https://www.aad.org/public/everyday-care/sun-protection/sunscreen-patients/sunscreen-faqs

Purnamawati, S., Indrastuti, N., Danarti, R., & Saefudin, T. (2017). The Role of Moisturizers in Addressing Various Kinds of Dermatitis: A Review. Clinical Medicine & Research, 15(3-4), 75-87. doi: 10.3121/cmr.2017.1363

Rodan, K., Fields, K., & Falla, T. (2017). Efficacy of a twice-daily, 3-step, over-the-counter skincare regimen for the treatment of acne vulgaris. Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology, Volume 10, 3-9. doi: 10.2147/ccid.s125438

Leena Chularojanamontri, K. (2014). Moisturizers for Acne: What are their Constituents?. The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology, 7(5), 36. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4025519/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Apr 26
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro