Pernahkah Anda merasa nyeri di area selangkangan atau ketiak karena gesekan berlebihan? Nah, kondisi ini disebut dengan intertrigo. Kondisi ini sangat umum terjadi terutama di area lipatan terutama terjadi pada orang gemuk.
Pernahkah Anda merasa nyeri di area selangkangan atau ketiak karena gesekan berlebihan? Nah, kondisi ini disebut dengan intertrigo. Kondisi ini sangat umum terjadi terutama di area lipatan terutama terjadi pada orang gemuk.

Dermatitis intertriginosa atau intertrigo adalah ruam yang menyerang area lipatan kulit.
Gesekan dan kelembapan berlebih pada lipatan kulit membuat lapisan atas kulit pada area ini lebih mudah rusak. Akibatnya, timbul ruam kulit kemerahan disertai peradangan.
Kulit yang telah kehilangan lapisan pelindungnya lebih rentan terserang pertumbuhan bakteri, virus, dan jamur yang tidak terkendali. Hal ini membuat penderita intertrigo lebih berisiko mengalami infeksi pada kulit.
Gejala awal penyakit kulit ini adalah ruam merah atau kecokelatan yang muncul pada lipatan kulit. Ruam ini terkadang disertai rasa gatal atau panas seperti terbakar.
Jika kondisinya parah atau sudah terjadi infeksi, kulit mungkin akan berdarah, retak, atau berbau.
Kondisi ini lebih banyak dialami oleh penderita diabetes atau orang-orang dengan berat badan berlebih. Orang yang menggunakan bidai/bebat, rangka penunjang badan, dan anggota tubuh buatan juga lebih rentan mengalaminya.
Intertrigo yang ringan dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup untuk menjaga kulit tetap sehat.
Sementara itu, kasus yang parah biasanya turut memerlukan penggunaan obat-obatan guna mencegah infeksi, mengurangi keparahan, dan menghindari kerusakan kulit lebih lanjut.
Interigo merupakan kondisi yang sangat umum terjadi pada siapa saja dan usia berapa pun. Kondisi ini dapat terjadi pada bayi, remaja, dewasa, hingga lansia. Pada bayi, intertrigo sering muncul sebagai ruam popok.

Gejala intertrigo bisa terjadi dalam bentuk akut (muncul dengan cepat), kambuhan, atau kronis (muncul dalam waktu enam minggu atau lebih). Ciri-ciri, durasi, dan keparahan gejala biasanya bergantung pada faktor penyebabnya.
Ciri utamanya adalah kulit meradang yang merupakan gejala dermatitis umum, tampak memerah, dan terasa tidak nyaman.
Kulit yang bermasalah mungkin juga terlihat basah, pecah-pecah, serta mengelupas. Apabila terjadi infeksi bakteri, kulit akan mengeluarkan bau tidak sedap.
Dermatitis intertriginosa bisa menyerang lipatan kulit mana pun yang sering bergesekan dan terasa lembap. Akan tetapi, kondisi ini lebih sering dijumpai pada:
Gejala dapat muncul pada satu atau beberapa lipatan sekaligus. Pada bayi, intertrigo biasanya terjadi dalam bentuk ruam popok. Kondisi ini bisa bertambah parah akibat kontak langsung antara kulit bayi dengan permukaan popok.
Anda sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter bila mengalami ruam kemerahan pada kulit yang menandakan intertrigo. Pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter akan membantu menentukan penyebab dan diagnosis serta mencegah infeksi pada kulit.
Dermatitis intertriginosa adalah kondisi yang disebabkan oleh gesekan terus-menerus pada lipatan kulit. Gesekan membuat lipatan kulit menjadi hangat, lembap, dan mudah teriritasi.
Lingkungan seperti ini membuat jamur, bakteri, dan ragi tumbuh subur.
Intertrigo bukanlah penyakit kulit menular. Namun, mikroba pada kulit tetap dapat menginfeksi kulit yang telah kehilangan lapisan pelindungnya.
Maka dari itu, penderita intertrigo perlu lebih waspada terhadap risiko infeksi pada kulit mereka.
Selain disebabkan langsung oleh gesekan pada kulit, intertrigo bisa berawal dari penyakit kulit berikut ini.
Dermatitis intertriginosa dapat menyerang segala kelompok usia, tapi kondisi ini lebih banyak ditemukan pada kelompok-kelompok berikut.
Dermatitis intertriginosa didiagnosis oleh seorang dokter spesialis kulit. Dokter awalnya akan memeriksa kondisi kulit Anda dan bertanya mengenai gejala yang Anda alami, termasuk kapan gejala muncul pertama kali serta seberapa parah kondisinya.
Dokter kemudian akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut bila dicurigai terjadi infeksi. Tidak ada pemeriksaan khusus untuk kondisi ini.
Dokter hanya akan mengambil sampel kulit atau cairan untuk menentukan jenis bakteri maupun jamur penyebab infeksi.
Dikutip dari salah satu penelitian dalam jurnal Clinical, cosmetic and investigational dermatology, berikut beberapa pengobatan yang mungkin akan diberikan oleh dokter.
Cara terbaik mencegah intertrigo adalah dengan menjaga kulit tetap kering. Secara umum, simak tips yang dapat Anda lakukan untuk mencegah dermatitis intertriginosa di bawah ini.
Berbeda dengan jenis dermatitis lainnya, dermatitis intertriginosa adalah peradangan pada lipatan kulit akibat gesekan terus-menerus. Kondisi ini dapat diatasi dengan menjaga kulit senantiasa bersih dan kering.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Intertrigo. (2018). Retrieved 5 January 2024, from https://dermnetnz.org/topics/intertrigo
Staff, Familydoctor. org E. (2023). Intertrigo – Symptoms, Causes, Diagnosis, Treatment & Prevention. Retrieved 5 January 2024, from https://familydoctor.org/condition/intertrigo/
Intertrigo: MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2022). Retrieved 5 January 2024, from https://medlineplus.gov/ency/article/003223.htm
Primary Care Dermatology Society. (2023). Intertrigo. Retrieved 5 January 2024, from https://www.pcds.org.uk/clinical-guidance/intertrigo
Intertrigo. (N.d.). Retrieved 5 January 2024, from https://www.aocd.org/page/Intertrigo
professional, C. C. medical. (2021). Intertrigo: What Is It, Causes, Symptoms & Treatment. Retrieved 5 January 2024, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21693-intertrigo
Metin, A., Dilek, N., & Bilgili, S. G. (2018). Recurrent candidal intertrigo: challenges and solutions. Clinical, cosmetic and investigational dermatology, 11, 175–185. https://doi.org/10.2147/CCID.S127841
Versi Terbaru
08/01/2024
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)