Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengulik Viral Exanthem, Ruam pada Kulit Anak Akibat Infeksi Virus

Mengulik Viral Exanthem, Ruam pada Kulit Anak Akibat Infeksi Virus

Ruam pada kulit merupakan salah satu kondisi yang kerap kali terjadi, terutama pada anak-anak. Saat terjadi pada anak, kondisi ini tidak jarang membuat orangtua menjadi panik. Ruam sendiri dapat terbagi ke dalam beberapa jenis, ada yang berbahaya dan tidak. Salah satu yang perlu diwaspadai yaitu viral exanthem.

Apa itu viral exanthem?

prosedur frenotomi

Viral exanthem yaitu ruam kulit yang terjadi sebagai gejala dari infeksi virus.

Kata “viral” sendiri berarti kondisi ini disebabkan oleh virus. Sementara itu, kata exanthem adalah istilah medis untuk merujuk pada ruam yang menyebar.

Viral exanthem dapat muncul akibat racun dari virus penyebabnya atau sebagai respons daya tahan tubuh terhadap infeksi virus.

Infeksi virus ini mudah menular dari satu anak ke anak lainnya. Oleh karena itu, anak dengan kondisi ini perlu menjalani isolasi mandiri guna mencegah penularan kepada anak lain.

Selain itu, meski dapat sembuh dengan sendirinya, infeksi ini dapat menimbulkan komplikasi yang serius. Gejala kondisi ini juga dapat menyerupai gejala dari kondisi lain.

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika infeksi ini terjadi pada anak.

Meski dapat ditandai dengan gejala yang sama, viral exanthem berbeda dari bakterial exanthem.

Seperti namanya, viral exanthem adalah ruam yang disebabkan oleh virus, sedangkan bakterial exanthem dapat terjadi akibat infeksi bakteri.

Apa saja tanda dan gejala viral exanthem?

viral exanthem

Gejala utama dari infeksi virus ini dapat terlihat pada kulit anak berupa:

Gejala-gejala tersebut dapat terasa gatal atau tidak sama sekali.

Gejala viral exanthem dapat timbul pada bagian tubuh manapun. Akan tetapi, gejala biasanya berawal dari bagian wajah atau badan, lalu menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Melansir dari Children’s National, gejala dapat muncul setelah 8 hingga 12 hari setelah terpapar virus.

Selain gejala utama, beberapa gejala lain juga dapat menyertai, yang meliputi:

  • sakit perut,
  • nyeri tubuh,
  • demam,
  • kelelahan,
  • hidung berair,
  • sakit tenggorokan,
  • sakit kepala, dan
  • kehilangan nafsu makan.

Apa penyebab viral exanthem?

Penyebab viral exanthem adalah karena adanya paparan terhadap virus tertentu.

Kondisi ini dapat disebabkan oleh banyak virus. Sejumlah virus yang sering kali menyebabkan kondisi ini, di antaranya:

  • enterovirus,
  • adenovirus,
  • virus rubella,
  • virus varicella-zoster (cacar air),
  • virus morbilivirus (campak),
  • virus parvovirus B19 (penyakit kelima),
  • virus roseola,
  • virus coxsackievirus A16 (penyakit tangan, kaki, dan mulut), dan
  • virus corona (COVID-19).

Selain itu, beberapa virus lainnya yang juga bisa menimbulkan kondisi ini, yaitu:

  • virus hepatitis,
  • virus HIV, dan
  • virus Epstein-Barr.

Seberapa cepat penularannya?

Infeksi virus ini dapat menular dengan mudah. Cara penularan setiap infeksi virus dapat berbeda-beda.

Berdasarkan Children’s National, infeksi virus umumnya bersifat menular 1—2 sebelum gejala muncul dan 3—5 hari setelah timbul ruam.

Penularan dapat terjadi secara langsung dari satu penderita ke orang lain. Namun, virus juga dapat ditularkan melalui kontak dengan benda yang telah terpapar virus, misalnya mainan, pakaian, atau alat olahraga.

Sebagian besar virus ditularkan melalui percikan air liur, seperti yang keluar saat batuk atau bersin. Akan tetapi, kondisi ini juga dapat menular melalui kontak kulit secara langsung.

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Viral exanthem dapat dikenali dari gejala yang dialami. Dengan begitu, dokter biasanya bisa langsung menentukan diagnosis.

Namun, jika diperlukan, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan lanjutan berupa tes darah atau tes swab cairan di hidung dan tenggorokan.

Bagaimana cara mengobati viral exanthem?

viral exanthem

Viral exanthem pada anak perlu ditangani sesuai dengan masing-masing jenis virus penyebab infeksi.

Hingga saat ini, kebanyakan infeksi virus penyebab kondisi ini belum ada obatnya, tetapi biasanya anak akan sembuh dengan sendirinya.

Pada kondisi tersebut, penanganan bertujuan untuk meredakan gejala yang dialami. Penanganan dapat berupa pemberiaan obat-obatan seperti berikut ini.

  • Lotion atau krim, seperti krim hidrokortison dan lotion calamine, untuk meredakan gejala pada kulit.
  • Paracetamol atau obat anti-inflamasi non steroid (OAINs) untuk meredakan demam dan nyeri. (Hindari memberikan anak aspirin).

Selain itu, upaya berikut ini juga dapat dilakukan untuk membantu meredakan gejala.

  • Konsumsi cairan lebih banyak.
  • kompres ruam dengan kain dingin dan basah selama 15—30 menit beberapa kali sehari.
  • Hindari menggaruk kulit.

Infeksi ini dapat terjadi selama beberapa hari hingga beberapa minggu bergantung pada masing-masing jenis virus penyebab infeksi.

Apa komplikasi viral exanthem?

Infeksi virus ini umumnya tidak menimbulkan efek jangka panjang atau komplikasi apapun.

Namun, jika kulit digaruk terlalu keras akibat rasa gatal yang mungkin dialami, kondisi ini dapat menyebabkan luka pada kulit atau bahkan infeksi kulit.

Bisakah mencegah viral exanthem?

Untuk mengurangi risiko viral exanthem, berikut ini beberapa upaya yang dapat dilakukan.

  • Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut karena virus dapat masuk dengan mudah ke dalam tubuh melalui bagian tersebut.
  • Bersihkan permukaan yang sering disentuh, seperti gagang pintu dan keran.
  • Lakukan vaksinasi untuk virus-virus penyebab infeksi yang dapat menimbulkan viral exanthem.
  • Jaga jarak dari orang yang sedang sakit, dan jangan sentuh benda yang mereka sentuh.
  • Cuci tangan secara rutin, terutama sebelum menyiapkan makanan.

Selain itu, beberapa upaya lain juga dapat dilakukan untuk mencegah penularan kepada anak lain.

  • Hindari kontak langsung dengan orang lain.
  • Tutup hidung dan mulut saat batuk atau bersin.
  • Tinggal di rumah dan jangan pergi ke luar rumah.
  • Gunakan masker.

Kapan harus ke dokter?

Lakukan pemeriksaan ke dokter bila mengalami viral exanthem yang tidak kunjung reda.

Segera cari pertolongan medis jika mengalami gejala infeksi kulit yang meliputi:

  • demam tinggi,
  • nanah keluar dari ruam,
  • garis-garis merah pada kulit,
  • nyeri atau bengkak pada kulit,
  • area di sekitar ruam terasa hangat.

Jika masih ada pertanyaan lebih lanjut seputar penyakit ini, jangan ragu untuk bertanya lebih lanjut dengan dokter.

Verifying...


Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Viral Exanthem Treatment Reading – Causes, Symptoms & Treatments | Derma. (2022). Retrieved 25 March 2022, from https://www.dermareading.co.uk/viral-exanthem 

Viral exanthems. (2022). Retrieved 25 March 2022, from https://www.pcds.org.uk/clinical-guidance/viral-exanthems 

Viral Exanthem Rash: Symptoms, Causes & Treatment. (2022). Retrieved 25 March 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22510-viral-exanthem-rash#management-and-treatment 

A to Z: Viral Exanthem (for Parents) – Nemours. (2022). Retrieved 25 March 2022, from https://kidshealth.org/Nemours/en/parents/az-viral-exanthem.html 

Exanthems (reactive rashes) | DermNet NZ. (2022). Retrieved 25 March 2022, from https://dermnetnz.org/topics/exanthems 

Allmon A, Deane K, Martin KL. Common Skin Rashes in Children. Am Fam Physician. 2015 Aug 1;92(3):211-6. PMID: 26280141.

Viral Exanthems Rashes – Conditions and Treatments | Children’s National. (2022). Retrieved 25 March 2022, from https://childrensnational.org/visit/conditions-and-treatments/skin-disorders/viral-exanthems-rashes 

Korman, A., Alikhan, A., & Kaffenberger, B. (2017). Viral exanthems: An update on laboratory testing of the adult patient. Journal Of The American Academy Of Dermatology, 76(3), 538-550. doi: 10.1016/j.jaad.2016.08.034

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Reikha Pratiwi Diperbarui Apr 12
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto