home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Jongkok atau Duduk: Mana Posisi BAB yang Lebih Sehat?

Jongkok atau Duduk: Mana Posisi BAB yang Lebih Sehat?

Di Indonesia, toilet yang digunakan umumnya toilet jongkok dan toilet duduk. Namun, tahukah Anda posisi toilet duduk untuk BAB ternyata menyebabkan masalah kesehatan seperti wasir, sembelit, radang usus buntu, hingga serangan jantung? Benarkah?

Masalah yang bisa ditimbulkan posisi BAB duduk

waktu buang air besar

Buang air besar secara teratur merupakan salah satu kunci untuk menjaga kesehatan pencernaan. Namun, rupanya ada satu hal yang tak kalah penting dari frekuensi, yaitu posisi Anda saat buang air besar.

Kendati relatif praktis, penggunaan toilet duduk kerap dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan yang berpotensi berasal dari posisi BAB duduk. Pasalnya, posisi buang air besar yang demikian dapat menghambat keluarnya feses secara optimal.

Pada bagian ujung saluran pencernaan, terdapat rektum yang berfungsi sebagai tempat penampungan feses sebelum dikeluarkan dari tubuh. Saat rektum penuh, otot-ototnya akan berkontraksi untuk mendorong feses dan mengeluarkannya melalui anus.

Kini bayangkan sebuah saluran antara rektum dan anus. Jika posisi saluran tersebut lurus tanpa hambatan, proses pengosongan rektum akan berjalan dengan baik. Tubuh Anda juga dapat mengeluarkan feses seutuhnya dengan lancar.

Akan tetapi, jika saluran tersebut menekuk atau tertekan, otot-otot rektum tidak akan bisa mendorong feses dengan sempurna. Penyebab utama menekuknya saluran anus tidak lain adalah posisi buang air besar sambil duduk.

sitting vs squatting

Seperti yang terlihat pada gambar, posisi BAB duduk membuat saluran menuju anus menjadi tertekuk. Tak hanya itu, rektum yang terisi feses juga menekan dan menjepit saluran anus. Akibatnya, feses semakin tidak bisa bergerak menuju anus.

Sisa feses yang tertinggal di dalam rektum lama-kelamaan dapat memadat sehingga menyebabkan sembelit. Jika terus dibiarkan, sembelit dapat menyebabkan komplikasi berupa wasir, perdarahan anus, hingga fisura ani (robekan pada anus).

Posisi BAB yang benar

sembelit konstipasi susah buang air besar

Berjongkok, atau lebih tepatnya squat, dianggap sebagai posisi BAB yang lebih baik ketimbang duduk. Secara teori, posisi ini memang bisa meluruskan dan melemaskan rektum sehingga feses bisa keluar dengan lebih mudah.

Dilihat dari sisi biologis, berjongkok juga merupakan posisi alamiah yang akan dilakukan manusia saat merasa mulas dan ingin buang air besar. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa ada posisi BAB yang lebih ideal lagi dibandingkan berjongkok?

Sebuah penelitian pada 2019 menunjukkan bahwa penggunaan toilet yang dimodifikasi bisa memaksimalkan pengosongan rektum dan mengurangi kebiasaan mengejan saat BAB. Peserta menghabiskan waktu lebih singkat untuk menuntaskan BAB.

Alat tersebut berbentuk seperti kursi jongkok yang menjadi tumpuan kaki saat para peserta memakai toilet duduk. Dengan alat tersebut, para peserta dapat berjongkok dalam sudut yang ideal tanpa harus membuka kaki terlalu lebar.

Hasil penelitian di atas sesuai dengan rekomendasi dari The Continence Foundation Australia. Mereka menyebutkan bahwa posisi tubuh yang optimal ketika BAB sebagai berikut.

  • Duduk menekuk lutut dengan posisi lutut lebih tinggi dari pinggul. Maka dari itu, Anda disarankan untuk menumpu kaki menggunakan kursi jongkok atau benda sejenisnya yang cukup stabil. Kaki tidak memijak lantai secara langsung.
  • Condongkan badan dan sandarkan siku tangan ke atas lutut.
  • Rileks dan cembungkan perut.
  • Luruskan tulang belakang Anda.

Dapat disimpulkan bahwa posisi BAB yang ideal yaitu berjongkok dengan kaki lebih rendah dari posisi rektum. Posisi ini memang sulit dilakukan saat menggunakan toilet jongkok atau duduk. Jadi, Anda memerlukan tumpuan yang stabil.

Jangan terlalu lama saat BAB

Selain posisi, perhatikan juga berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk buang air besar. BAB terlalu lama, baik duduk ataupun berjongkok, dapat memberikan tekanan berlebih pada rektum sehingga mengakibatkan wasir.

Hal lain yang juga sering menyebabkan wasir adalah mengejan akibat sembelit. Jika Anda sedang sembelit, jangan paksakan diri untuk berlama-lama di toilet. Minumlah cukup air dan mengonsumsi makanan berserat sebelum mencoba buang air besar kembali.

Hindari pula kebiasaan bermain HP saat BAB atau aktivitas lainnya yang membuat Anda berlama-lama menggunakan toilet. Apabila Anda mengalami masalah buang air besar, konsultasikanlah kepada dokter untuk mendapatkan solusinya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Are you pooing properly?. (2019). Retrieved 4 February 2021, from https://www.health.qld.gov.au/news-events/news/how-to-poo-properly-sit-squat-healthy

Poor Bowel Control. (2020). Retrieved 4 February 2021, from https://www.continence.org.au/information-incontinence-english/poor-bowel-control?id=533

Modi, R., Hinton, A., Pinkhas, D., Groce, R., Meyer, M., & Balasubramanian, G. et al. (2019). Implementation of a Defecation Posture Modification Device. Journal Of Clinical Gastroenterology, 53(3), 216-219. https://doi.org/10.1097/mcg.0000000000001143

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Adinda Rudystina
Tanggal diperbarui 28/02/2021
x