Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Perut Bunyi Tapi Tidak Lapar, Apa Penyebabnya?

    Perut Bunyi Tapi Tidak Lapar, Apa Penyebabnya?

    Pernahkah Anda mendengar perut mengeluarkan bunyi meskipun tidak merasa lapar? Umumnya, bunyi perut yang kencang dianggap sebagai rasa lapar. Padahal ada banyak hal yang bisa memicu suara tersebut. Apa saja?

    Penyebab perut bunyi

    Beberapa orang mungkin menyangka bahwa suara yang berasal dari perut mereka terdengar berbeda-beda.

    Nyatanya, bunyi yang ada dengar itu hanya satu jenis dan normal terjadi pada semua orang.

    Perut tidak hanya berbunyi ketika merasa lapar, melainkan juga dihasilkan setiap saat dan disebabkan oleh beragam hal. Berikut ini sejumlah penyebab perut bunyi yang perlu diketahui.

    1. Lapar

    penyebab cepat lapar adalah

    Salah satu penyebab perut bunyi yang paling umum terjadi yaitu kelaparan. Pasalnya, rasa lapar dapat meningkatkan tingkat konsentrasi sejumlah zat di otak.

    Hal ini membuat rasa lapar mengirimkan sinyal ke usus dan perut. Akibatnya, organ pada perut pun berkontraksi dan menimbulkan suara yang sering didengar.

    2. Pembuluh darah tersumbat

    Selain rasa lapar, suara perut ternyata bisa disebabkan oleh penyumbatan pada pembuluh darah.

    Begini, pembuluh darah yang tersumbat ternyata bisa mencegah usus mendapat aliran darah yang baik.

    Ada banyak kondisi yang bisa memicu kondisi ini, seperti pembekuan darah yang menyebabkan oklusi arteri mesenterika.

    3. Penumpukan gas di perut

    penyebab gastroenteritis muntaber flu perut

    Hal yang penting perlu diperhatikan adalah membedakan perut bunyi akibat gas. Namun, hal ini bisa diiringi dengan sendawa, kembung, atau keluarnya gas usus.

    Meskipun gejala gas ini bisa terjadi bersamaan, kondisi ini biasanya tidak terjadi karena alasan yang sama.

    Normalnya, gas selalu berada di usus dan berasal dari udara yang tertelan, atau pelepasan gas dalam saluran cerna.

    Sementara itu, gas berlebih bisa bergerak maju-mundur di usus yang dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti makan terlalu cepat.

    4. Penyumbatan usus

    Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa masalah pada usus sangat berpengaruh terhadap bunyi perut, seperti penyumbatan usus.

    Suara perut akibat penyumbatan usus terjadi ketika cairan dan gas sulit melewati saluran pencernaan.

    Alhasil, usus meningkatkan jumlah gerakan peristaltik untuk membantu lewatnya cairan dan gas tersebut, sehingga perut pun berbunyi.

    5. Hernia

    penyakit hernia inguinalis adalah

    Hernia adalah kondisi yang ditandai dengan keluarnya bagian usus dari tubuh. Hal ini bisa menyebabkan sembelit dan perut keroncongan.

    Selain itu, perut yang berbunyi bisa disertai dengan gejala lainnya, seperti nyeri, bengkak, kemerahan, mual, dan muntah.

    Jika Anda merasakan salah satu gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter.

    6. Kondisi medis tertentu

    Perut bunyi sebenarnya ciri dari saluran pencernaan yang normal. Namun, ada sejumlah kondisi kesehatan tertentu yang dapat memicu suara tersebut, seperti:

    • trauma,
    • infeksi pada sistem saraf saluran cerna,
    • hipokalemia,
    • tumor pada saluran pencernaan,
    • alergi makanan,
    • peradangan yang menyebabkan diare,
    • penggunaan obat pencahar, dan
    • penyakit Crohn.

    Cara mengatasi perut bunyi

    Perlu diingat bahwa suara yang berasal dari perut adalah hal yang normal terjadi. Meski begitu, kondisi medis yang mendasari suara tersebut bisa disebabkan oleh berbagai hal.

    Berikut ini berbagai cara mengatasi perut bunyi.

    1. Pilih makanan yang sehat

    Bila suara perut disebabkan oleh perut yang lapar, tentu Anda bisa mengatasinya dengan makan, bukan?

    Usahakan untuk memilih makanan yang sehat yang kaya serat guna melancarkan buang air besar dan sistem pencernaan.

    Sementara itu, perut yang berbunyi akibat penumpukan gas tentu bisa diatasi dengan menghindari makanan pemicu gas.

    2. Makan secara perlahan

    mengunyah makanan

    Makan terlalu cepat dapat menyebabkan masalah pada usus. Alangkah baiknya bila Anda mulai makan secara perlahan guna mencegah penumpukan gas di usus.

    Tak heran bila para ahli menyarankan untuk mengunyah makanan setidaknya 32 kali demi kesehatan pencernaan Anda.

    3. Berkonsultasi ke dokter

    Bila menjalani hidup sehat tidak kunjung meredakan suara di perut dan gejala masalah pencernaan lainnya, segera periksakan diri ke dokter.

    Hal ini terutama berlaku ketika Anda mengalami perdarahan, kerusakan usus, atau penyumbatan darah. Ketiga kondisi ini memerlukan penanganan medis di rumah sakit.

    Anda mungkin akan diberikan selang yang ditempatkan di mulut atau hidung. Hal ini bertujuan membantu mengosongkan perut atau usus.

    Bagi beberapa orang, menerima cairan melalui vena dan membiarkan usus beristirahat sejenak sudah cukup mengatasi masalah tersebut.

    Sayangnya, beberapa orang yang mengalami infeksi serius atau cedera pada usus mungkin membutuhkan operasi.

    Itu sebabnya, penting berkonsultasi dengan dokter ketika Anda mengalami masalah pencernaan yang mengganggu aktivitas harian.


    Ingin mendapatkan berat badan ideal?

    Yuk konsultasikan masalahmu dengan ahli gizi atau berbagi tips bersama di Komunitas Berat Badan Ideal!


    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Moore, K. (2018). Abdominal (Bowel) Sounds. Healthline. Retrieved 31 May 2021, from https://www.healthline.com/health/abdominal-sounds 

    Brenner, D. (n.d). A Noisy Tummy: What Does it Mean?. International Foundation for Gastrointestinal Disorder. Retrieved 31 May 2021, from https://iffgd.org/gi-disorders/symptoms-causes/abdominal-noises/ 

    Vorvick, L.J. (2020). Abdominal sounds. Medline Plus. Retrieved 31 May 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/003137.htm 

    Tresca, A.J. (2020). Causes of Borborygmi (Stomach Noises). Verywell Health. Retrieved 31 May 2021, from https://www.verywellhealth.com/what-is-borborygmi-1942951

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Nimas Mita Etika M Diperbarui May 31, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro