Ketangguhan Daya Tahan Tubuh Anda Bisa Diukur dari Bakteri Dalam Usus

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 September 2017 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Beragam masalah kesehatan mulai dari alergi, obesitas, penyakit autoimun (sindrom iritasi usus besar, jerawat, kelelahan kronis), autisme, demensia, kanker, hingga depresi sebenarnya bisa dikaitkan dengan melemahnya kekebalan tubuh yang berakar dari kegagalan kerja bakteri dalam usus.

Organ pencernaan manusia tidak hanya berfungsi untuk mencerna serta menyerap zat-zat gizi dari makanan yang masuk ke dalam tubuh. Namun, di dalam usus, terdapat berbagai bakteri baik yang memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Semakin banyak jenis bakteri baik yang dimiliki seseorang, maka semakin baik dampaknya bagi kesehatan tubuhnya.

Bagaimana bakteri dalam usus memengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia?

Diperkirakan bahwa usus mengandung 100 triliun bakteri. Jumlah ini 10 kali lebih banyak dibanding tempat-tempat lainnya dalam tubuh manusia. Lewat keberagaman koloni bakteri ini, usus yang disebut sebagai otak kedua bisa berkomunikasi langsung dengan otak, pusat segala fungsi tubuh. Lewat bakteri-bakteri ini pula usus dapat merasakan dan memberikan respon langsung terhadap apa yang sedang terjadi pada tubuh. Misalnya, ketika Anda sedang panik atau tertekan saat demam panggung, tiba-tiba perut terasa sakit melilit sampai ingin muntah.

Selain berkomunikasi dengan otak, bakteri-bakteri ini juga berinteraksi dengan sistem imun manusia. Pada tubuh orang sehat, mikroba usus merangsang sistem kekebalan tubuh sesuai kebutuhan sehingga cukup baik untuk menjinakkan kuman pembawa penyakit yang masuk ke dalam tubuh (saat Anda makan lupa cuci tangan), sementara di saat yang sama juga mengekangnya agar tidak keliru melancarkan serangan balik ke tubuh.

Setiap jenis sel dari sistem kekebalan tubuh dipengaruhi oleh bakteri dalam banyak cara. Beberapa bakteri memiliki pengaruh yang kuat, sementara yang lain memiliki efek yang jauh lebih halus. Sangat sedikit mikroba yang tidak menghasilkan efek sama sekali.

Beberapa bakteri mendorong aktivitas sel tertentu, sementara yang lain menghambat aktivitas sel yang sama. Efek berlawanan ini mengindikasikan adanya mekanisme penyeimbang untuk memastikan bahwa tidak ada bakteri tunggal yang dapat mendominasi pengaruhnya terhadap sistem kekebalan tubuh. Demikian pula, beberapa bakteri meningkatkan gen tertentu, sementara yang lain menurunkan regulasinya. Ini menunjukkan bahwa mikroba dapat menyeimbangkan efek pada ekspresi genetik usus.

Adanya gangguan baik pada jalur komunikasi bakteri dan sel tubuh maupun keselarasan ragam bakteri dalam usus manusia bisa mengacaukan fungsi sistem kekebalan tubuh dan proses metabolismenya.

Terlalu banyak bakteri jahat dalam usus bikin kekebalan tubuh melemah

Bakteri usus tumbuh subur tergantung apa yang Anda makan dan hormon yang dilepaskan tubuh. Jumlah dan jenisnya bisa bertambah seiring dengan menerapkan pola makan yang baik dan gaya hidup yang sehat. Berikan mereka makanan utuh dan segar, maka bakteri usus baik akan berkembang biak, yang akan menguntungkan sistem kekebalan tubuh Anda. Berikan mereka makanan “sampah”, maka bakteri jahatlah yang akan menguasai usus Anda, mengakibatkan usus bocor, penumpukan racun radikal bebas, dan khususnya peradangan yang menjadi akar dari berbagai masalah kesehatan.

Menariknya lagi, interaksi antara bakteri usus dan sistem kekebalan tubuh berjalan dua arah: apa yang terjadi pada salah satunya akan memengaruhi yang lain. Satu studi baru-baru ini menemukan bahwa jumlah dan varietas bakteri dalam usus orang yang obesitas lebih sedikit daripada orang kurus. Penelitian lain menunjukkan bahwa peningkatan pada sekelompok bakteri usus yang disebut Firmicutes, dan penurunan pada sekelompok bakteri usus yang disebut Bacteroidetes, juga terkait dengan obesitas.

Satu penelitian terbitan jurnal Brain, Behavior and Immunity menemukan bahwa anak-anak yang mudah tantrum memiliki keragaman bakteri yang lebih besar. Meski peneliti belum yakin benar apa hubungan sebab-akibatnya, ini bisa dipicu oleh hormon stres yang dapat mengubah keasaman usus. Tingkat keasaman usus yang tak menentu dapat memengaruhi kelestarian bakteri dalam usus.

Begitu juga dengan bayi yang sering kolik. Bayi-bayi ini memiliki jumlah bakteri Proteobacteria yang lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak pernah kolik. Proteobacteria menghasilkan gas penyebab rasa sakit pada bayi, yang membuat mereka gampang menangis.

Pentingnya menjaga kesehatan pencernaan demi kekebalan tubuh yang lebih baik

Maka dari itu, jika Anda ingin memperbaiki kesehatan Anda, mulailah dengan usus Anda. Kesehatan pencernaan benar-benar bisa memengaruhi seluruh tubuh Anda. Kabar baiknya adalah bahwa koloni bakteri usus Anda bisa berubah mengikuti apa yang Anda makan.

Perkaya menu makan Anda dengan sayuran kaya serat, buah rendah gula, biji-bijian non-gluten, dan kacang polong. Perbanyak juga makan makanan kaya probiotik, seperti yogurt, kefir, kimchi asinine Korea, acar, keju, dan tempe.

Salah satu penelitian di Kanada menunjukkan konsumsi probiotik dapat menurunkan kadar gula darah puasa dan meningkatkan aktivitas sekresi hormon insulin pada orang dengan diabetes. Probiotik juga bisa membantu meringankan depresi dan Alzheimer karena kandungan bakteri baik bernama Lactobacillus. Di dalam usus, Lactobacillus bertugas untuk mengusir bakteri jahat, sehingga memperkuat sistem kekebalan tubuh dalam melawan peradangan di otak.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Memanjangkan kuku seringkali menjadi pilihan bagi kaum hawa untuk mempercantik diri. Namun, kuku yang panjang ternyata memiliki segelintir risiko.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Kulit, Perawatan Kuku 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Mengulik Agranulositosis, Defisiensi Sel Darah Putih yang Bisa Berakibat Fatal

Agranulositosis adalah kondisi langka ketika kadar granulosit menjadi sangat rendah. Ini bisa terjadi karena keturunan ataupun didapat saat dewasa.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Penyakit Kelainan Darah, Kelainan Sel Darah Putih 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Bahaya Merokok Terhadap Daya Tahan Tubuh Manusia

Kenapa perokok lebih gampang sakit? Merokok ternyata memiliki dampak berbahaya terhadap daya tahan tubuh. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Berhenti Merokok, Hidup Sehat 20 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

Direkomendasikan untuk Anda

lidah terasa pahit saat sakit

Kenapa Lidah Terasa Pahit saat Anda Sedang Sakit?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
makanan yang baik untuk usus

Ragam Makanan dengan Kandungan Bakteri yang Baik untuk Usus

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
penyakit kuku dan masalah pada kuku

Penyakit pada Kuku yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Tiara Putri
Dipublikasikan tanggal: 23 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
mencium bau

Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit