5 Perbedaan Fisura Ani dan Wasir, Kenali Lebih Lanjut

    5 Perbedaan Fisura Ani dan Wasir, Kenali Lebih Lanjut

    Fisura ani dan wasir memang sulit dibedakan. Tak heran, keduanya sama-sama menyebabkan nyeri pada dubur dan buang air berdarah. Namun, tetap ada perbedaan mendasar antara fisura ani dan wasir. Simak lebih lanjut dalam ulasan berikut!

    Perbedaan fisura ani dan wasir

    Mengetahui perbedaan fisura ani dan wasir penting untuk mengetahui penanganan yang tepat. Anda bisa membedakan fisura ani dan wasir melalui beberapa hal ini.

    1. Kondisi anus

    penyebab anus berdarah

    Untuk mengetahui perbedaan fisura ani dan wasir, Anda harus memahami kondisi anus pada kedua penyakit ini.

    Fisura ani adalah robekan atau luka terbuka pada jaringan tipis (mukosa) yang melapisi anus.

    Sementara itu, wasir atau ambeien adalah pembengkakan pembuluh darah pada anus dan rektum bagian bawah.

    Ambeien sebenarnya serupa dengan varises, hanya saja terletak pada anus dan rektum.

    Pada fisura ani, luka atau robekan hanya muncul di bagian dalam anus.

    Namun, pembengkakan pembuluh darah pada wasir bisa terjadi pada rektum bagian dalam maupun kulit anus terluar.

    2. Gejala yang muncul

    buang air besar BAB feses berdarah

    Selain membuat buang air berdarah dan nyeri pada dubur, fisura ani dan wasir juga menyebabkan benjolan atau tonjolan pada anus.

    Meski demikian, tetap ada gejala perbedaan fisura ani dan wasir yang cukup jelas.

    Pada fisura ani, tonjolan ini hanya muncul pada bagian kulit dekat robekan. Benjolan ini muncul bila kondisi sudah parah dan tidak membaik selama lebih dari 6 minggu.

    Sementara itu, tonjolan pada wasir biasanya muncul akibat anus yang membengkak. Dalam kondisi yang lebih parah, tonjolan wasir muncul akibat rektum keluar dari anus.

    Gejala fisura ani lainnya adalah:

    • nyeri, perih, dan sensasi terbakar saat dan setelah buang air besar,
    • kesulitan buang air kecil atau terlalu sering buang air kecil,
    • anus terasa kencang saat buang air besar, dan
    • terkadang menimbulkan cairan atau nanah yang berbau dari dubur.

    Selain itu, gejala ambeien yang bisa Anda temukan di antaranya:

    • anus gatal,
    • nyeri anus, terutama saat duduk, dan
    • buang air besar dan berdarah tanpa rasa nyeri yang berarti.

    3. Penyebab

    Artikel Kesehatan Seputar Konstipasi

    Fisura ani dan wasir memang memiliki salah satu penyebab yang sama yaitu konstipasi atau sembelit.

    Namun, proses bagaimana sembelit akhirnya menyebabkan fisura ani dan wasir berbeda.

    Pada fisura ani, konstipasi menyebabkan feses menjadi kering, keras, dan besar sehingga melukai jaringan mukosa pada dubur.

    Nah, saat sembelit, akan ada kecenderungan mengejan lebih keras. Hal ini justru menekan pembuluh darah pada anus dan rektum.

    Akibatnya, pembuluh darah membengkak dan wasir pun timbul.

    Penyebab fisura ani lainnya adalah:

    • diare kronis,
    • memasukkan benda asing ke dalam dubur atau seks anal,
    • melahirkan, dan
    • gangguan otot pada anus yang membuatnya terlalu kaku.

    Beberapa pemicu wasir lainnya yang bisa Anda jumpai, seperti:

    • duduk terlalu lama,
    • mengangkat beban berat terlalu sering, dan
    • tekanan panggul akibat pertambahan berat badan saat hamil.

    4. Faktor risiko

    perbedaan fisura ani dan wasir

    Perbedaan fisura ani dan wasir juga bisa berasal dari faktor risikonya.

    Umumnya, faktor risiko fisura ani adalah masalah kesehatan yang membuat anus lebih rentan terluka.

    Sementara itu, faktor risiko ambeien adalah keluhan yang memicu pembengkakan pembuluh darah anus dan rektum.

    Faktor lainnya yang meningkatkan risiko fisura ani, yakni:

    Beberapa meningkatkan risiko seseorang terkena ambeien adalah:

    • obesitas,
    • melemahnya jaringan pada anus dan rektum akibat usia,
    • memiliki keluarga dengan ambeien, dan
    • fungsi usus yang bermasalah akibat terlalu sering menggunakan obat pencahar atau prosedur enema.

    5. Cara penanganan

    Operasi abses

    Pengobatan fisura ani dan wasir memang hampir sama, salah satunya yaitu pemberian krim anestesi lidocaine di anus.

    Meski demikian, tetap perbedaan fisura ani dan wasir dalam pengobatan yang lebih lanjut.

    Menurut penelitian dalam jurnal Australian Prescriber, inilah penanganan fisura ani yang kerap dokter berikan.

    • Nitrogliserin oles: untuk meningkatkan aliran darah agar luka cepat sembuh.
    • Suntik botoks: untuk melemaskan otot anus yang kaku.
    • Obat tekanan darah: obat ini diberikan jika nitrogliserin tidak efektif.
    • Operasi internal sphincterotomy: operasi fisura ani ini memotong sfingter anus untuk mengurangi otot kaku dan mempercepat penyembuhan.

    Mengutip studi dalam jurnal World Journal of Gastroenterology, berikut ini adalah beberapa pengobatan wasir.

    1. Pemberian obat-obatan

    Konsumsi obat minum, seperti obat flavonoid dan kalsium dobesilat mengurangi pembengkakan dan peradangan pada pembuluh darah anus dan rektum.

    Selain itu, dokter bisa memberikan obat oles kortikosteroid dan anti-inflamasi.

    2. Tindakan nonbedah

    Inilah beberapa tindakan nonbedah untuk menyembuhkan wasir.

    • Skleroterapi: penyuntikan pembuluh darah pada anus.
    • Rubber band ligation: meletakkan karet di pangkal wasir agar menghentikan suplai darah ke pembuluh darah.
    • Infrared coagulation menguapkan air di dalam sel anus dan rektum agar wasir menyusut.
    • Radiofrequency ablation: memberikan frekuensi radio pada anus dan rektum agar darah mengental dan cairan di sel-sel anus menguap.
    • Cryotherapy: pengikisan jaringan wasir dengan suhu rendah.

    3. Tindakan bedah

    Inilah prosedur bedah untuk mengatasi wasir sudah cukup parah, terutama saat pengobatan sebelumnya tidak manjur.

    • Hemoroidektomi: pemotongan wasir di bagian luar atau rektum yang keluar melalui anus.
    • Stapel wasir: menarik rektum yang keluar agar kembali ke dalam anus atau menjepit benjolan dengan alat khusus.

    Perbedaan fisura ani dan wasir yang cukup jelas adalah penyebab utamanya. Fisura ani muncul akibat luka, sedangkan wasir terjadi karena pembengkakan pembuluh darah.

    Untuk mencegahnya, mulai jalani pola hidup sehat dengan konsumsi serat dan air putih yang cukup serta olahraga rutin 30 menit per hari.

    Jangan lupa jaga kebersihan makanan dan minuman. Terapkan juga seks aman untuk mengurangi risiko infeksi penyebab diare dan infeksi menular seksual.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Why is there blood in my stool? Rectal Bleeding – Canadian Digestive Health Foundation. (2021). Retrieved 23 November 2021, from https://cdhf.ca/health-lifestyle/why-is-there-blood-in-my-stool-rectal-bleeding/

    Anal fissure – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 23 November 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anal-fissure/symptoms-causes/syc-20351424

    Anal Fissure | ASCRS. (2021). Retrieved 23 November 2021, from https://fascrs.org/patients/diseases-and-conditions/a-z/anal-fissure

    Hemorrhoids – Symptoms and causes. (2021). Retrieved 23 November 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hemorrhoids/symptoms-causes/syc-20360268

    Hemorrhoids | Piles | MedlinePlus. (2021). Retrieved 23 November 2021, from https://medlineplus.gov/hemorrhoids.html

    Anal fissure. Anal fissure – Symptoms, diagnosis and treatment | BMJ Best Practice. (n.d.). Retrieved November 23, 2021, from https://bestpractice.bmj.com/topics/en-gb/563. 

    Anal fissure. (2021). Retrieved 23 November 2021, from https://www.acpgbi.org.uk/patients/conditions/3/anal_fissure

    Haemorrhoids (piles). (2021). Retrieved 23 November 2021, from https://www.acpgbi.org.uk/patients/conditions/8/haemorrhoids_piles

    Hemorrhoids | ASCRS. (2021). Retrieved 23 November 2021, from https://fascrs.org/patients/diseases-and-conditions/a-z/hemorrhoids

    Schlichtemeier, S., & Engel, A. (2016). Anal fissure. Australian Prescriber, 39(1), 14-17. doi: 10.18773/austprescr.2016.007

    Lohsiriwat, V. (2012). Hemorrhoids: From basic pathophysiology to clinical management. World Journal Of Gastroenterology, 18(17), 2009. doi: 10.3748/wjg.v18.i17.2009

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Dec 01, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan