home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Metabolisme Tubuh yang Terjadi Saat Anda Puasa

Metabolisme Tubuh yang Terjadi Saat Anda Puasa

Beberapa dari Anda mungkin bertanya-tanya seputar aktivitas puasa, terutama mengenai apakah puasa bermanfaat bagi kesehatan. Untuk menjawabnya, Anda perlu memahami bagaimana proses metabolisme tubuh saat Anda puasa.

Perubahan gaya hidup selama sebulan penuh, baik dalam pola makan, tidur, dan aktivitas sehari-hari, turut menyebabkan banyak perubahan pada tubuh. Anda mungkin mengalami perubahan dalam komposisi tubuh dan fungsi organ (fisiologi), darah dan cairan (hematologi), serta elektrolit darah.

Perubahan metabolisme tubuh saat puasa

manfaat puasa bagi penderita diabetes

Perubahan yang terjadi di dalam tubuh saat berpuasa akan berbeda-beda, tergantung lamanya Anda berpuasa. Secara teknis, tubuh baru memasuki “fase puasa” setelah 8 jam dari makan terakhir, yakni saat usus selesai menyerap zat gizi dari makanan.

Pada kondisi normal, glukosa (gula) dari makanan tersimpan dalam hati dan otot sebagai sumber energi utama. Sebelum memasuki fase puasa, tubuh akan membakar sumber energi ini sehingga Anda dapat melakukan kegiatan seperti biasa.

Setelah glukosa habis, lemaklah yang menjadi sumber energi selanjutnya. Tubuh Anda yang tadinya membakar glukosa kini beralih melakukan metabolisme lemak saat puasa. Dengan kata lain, puasa bisa membuat tubuh Anda membakar lemak.

Jika lemak habis, tubuh terpaksa memakai protein sebagai sumber energi. Penggunaan protein sebagai sumber energi tidaklah sehat karena protein yang dipecah berasal dari otot. Pembakaran protein lama-kelamaan bisa membuat otot menjadi kecil dan lemah.

Namun, pada puasa Ramadan, Anda hanya berpuasa selama 13 – 14 jam. Ini adalah masa ketika tubuh mulai kehabisan glukosa dan menggunakan lemak sebagai sumber energi kedua. Jadi, puasa Ramadan tidak menyebabkan pemecahan protein.

Proses metabolisme lemak saat puasa justru bermanfaat bagi tubuh karena membantu penurunan berat badan dan kolesterol darah. Penurunan berat badan yang sehat dapat membantu mengontrol diabetes dan menurunkan tekanan darah.

Sementara itu, kolesterol yang terkontrol dapat menurunkan risiko sindrom metabolik. Ini merupakan kumpulan kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke, contohnya obesitas serta gula darah yang tinggi.

Ini yang terjadi pada organ-organ tubuh saat puasa

Artikel Kesehatan Gangguan Pencernaan Lainnya

Selain metabolisme energi, fungsi beberapa organ tubuh juga sedikit berubah saat puasa. Pasalnya, organ-organ tubuh Anda berusaha menyesuaikan diri dalam kondisi rendah energi. Di bawah ini beberapa perubahan yang terjadi.

1. Kelenjar ludah

Kelenjar ludah tetap memproduksi air liur untuk mencegah mulut menjadi kering. Hal ini bermanfaat untuk menghalau bakteri dan sisa makanan yang dapat menyebabkan bau mulut serta gigi berlubang.

2. Lambung

Produksi asam lambung menurun ketika lambung kosong. Hal ini mencegah terkikisnya dinding lambung oleh asam karena tidak adanya makanan yang digiling. Pengikisan dinding lambung merupakan penyebab utama terbentuknya luka lambung.

3. Hati

Glukosa dari makanan sahur akan diubah glikogen dan disimpan dalam organ hati. Begitu glukosa darah habis, hati kembali mengubah glikogen menjadi glukosa. Proses metabolisme glukosa akan memberikan energi yang dibutuhkan tubuh saat puasa.

4. Kantong empedu

Empedu merupakan cairan yang membantu memecah lemak pada proses pencernaan. Selama puasa, kantong empedu menampung cairan empedu dan menjadikannya lebih pekat untuk persiapan metabolisme lemak pada saat berbuka.

5. Pankreas

Pada kondisi normal, organ pankreas menghasilkan hormon insulin untuk mengubah glukosa dari makanan menjadi cadangan energi. Selama puasa, produksi hormon ini menurun karena tubuh tidak mendapatkan asupan glukosa dari makanan.

6. Usus halus dan usus besar

Proses penyerapan zat gizi dalam usus halus berkurang. Usus halus hanya bergerak secara rutin setiap empat jam. Sementara itu, usus besar menyesuaikan penyerapan cairan dari ampas makanan untuk menjaga keseimbangan cairan.

Puasa memicu proses detoksifikasi

Berbagai proses metabolisme yang terjadi pada tubuh saat puasa turut memicu proses pembuangan racun dari tubuh (detoksifikasi). Menurut sebuah penelitian dalam jurnal PLos One, hal ini berkaitan dengan peran enzim tertentu dalam hati Anda.

Salah satu fungsi utama hati yakni membuang racun dari dalam tubuh. Pembatasan asupan kalori saat berpuasa ternyata membantu mendorong fungsi ini. Hasilnya, tubuh mampu membuang zat limbah dan racun dengan cara yang sehat.

Ini pula yang menjadi alasan mengapa intermittent fasting begitu populer. Selain bisa membantu menurunkan berat badan, metode diet ini juga mendukung fungsi hati dalam mengeluarkan racun dari dalam tubuh.

Meski begitu, perlu diingat bahwa tubuh manusia sebenarnya mampu membuang racun sendiri melalui sistem ekskresi. Sistem ini terdiri dari lima komponen utama, yaitu hati, ginjal, paru-paru, kulit, serta usus besar.

Detoksifikasi melalui puasa memang menyehatkan, tapi jangan melakukannya secara berlebihan. Anda juga perlu mendapatkan asupan zat gizi dan cairan dari makan sahur, tidur dengan cukup, serta menghindari kebiasaan buruk seperti merokok.

Tips agar metabolisme tubuh tetap sehat saat puasa

makanan untuk buka puasa dan sahur

Asupan zat gizi dan cairan memegang peranan penting saat puasa, sebab metabolisme dan fungsi beberapa organ tubuh sedikit berubah selama periode ini. Selain itu, Anda juga tidak mendapatkan asupan makanan selama belasan jam.

Untuk mencegah pemecahan protein otot, makanan Anda perlu mengandung cukup energi, karbohidrat, dan lemak. Asupan berbagai zat gizi ini tidak boleh kurang ataupun berlebihan karena akan mempengaruhi proses fisiologi puasa.

Begitu pula dengan asupan cairan. Penuhi kebutuhan cairan Anda dengan minum air putih setidaknya delapan gelas sehari. Cairan yang cukup bermanfaat untuk mencegah dehidrasi serta membantu ginjal agar tidak bekerja secara berlebihan.

Dengan memahami metabolisme dan perubahan tubuh saat puasa, Anda tentu mampu memenuhi kebutuhan tubuh dengan cara yang tepat. Selamat berpuasa sehat!

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Does Fasting Release Toxins in the Body?. (2020). Retrieved 9 April 2021, from https://www.healthline.com/nutrition/does-fasting-release-toxins-in-the-body#1

Eat healthy throughout all your life. (n.d.). Retrieved 9 April 2021, from https://www.emro.who.int/nutrition/healthy-eating/index.html#ramadan

Ramadan Health Guide. (2014). Retrieved 9 April 2021, from https://mcb.org.uk/wp-content/uploads/2014/06/Ramadan-a-guide-to-healthy-fasting-NHS.pdf

Lessan, N., & Ali, T. (2019). Energy Metabolism and Intermittent Fasting: The Ramadan Perspective. Nutrients, 11(5), 1192. https://doi.org/10.3390/nu11051192

Wilhelmi de Toledo, F., Grundler, F., Bergouignan, A., Drinda, S., & Michalsen, A. (2019). Safety, health improvement and well-being during a 4 to 21-day fasting period in an observational study including 1422 subjects. PloS one, 14(1), e0209353. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0209353

Attarzadeh Hosseini, S. R., Sardar, M. A., Hejazi, K., & Farahati, S. (2013). The effect of ramadan fasting and physical activity on body composition, serum osmolarity levels and some parameters of electrolytes in females. International journal of endocrinology and metabolism, 11(2), 88–94. https://doi.org/10.5812/ijem.9602

Zarrouk, N., Hammouda, O., Latiri, I., Adala, H., Bouhlel, E., Rebai, H., & Dogui, M. (2016). Ramadan fasting does not adversely affect neuromuscular performances and reaction times in trained karate athletes. Journal Of The International Society Of Sports Nutrition, 13(1). https://doi.org/10.1186/s12970-016-0130-2

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh dr. Maizan Khairun Nissa
Tanggal diperbarui 3 minggu lalu
x