home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sama-sama Bisa Atasi Asam Lambung, Ini Beda Obat Famotidine dan Ranitidine

Sama-sama Bisa Atasi Asam Lambung, Ini Beda Obat Famotidine dan Ranitidine

Beragam jenis obat untuk mengatasi asam lambung dapat mudah ditemukan di apotek. Setiap produk menawarkan keunggulan masing-masing zat untuk meredakan kenaikan asam lambung secara tuntas.

Dari pilihan yang beragam itu, Anda mungkin pernah menemukan atau diresepkan oleh dokter obat asam lambung Famotidine dan Ranitidine. Ya, keduanya merupakan yang lazim diberikan saat seseorang memiliki masalah asam lambung.

Famotidine dan Ranitidine merupakan golongan obat H2 blocker yang bekerja dengan cara mengurangi asam lambung. Obat ini juga dapat membantu meredakan gejala heartburn.

Meski keduanya berada dalam golongan obat dan memiliki efek yang sama, nyatanya tetap terdapat perbedaan di antara keduanya. Jadi, apa saja perbedaan dari Famotidine dan ranitidine?

Famotidine, obat untuk mengatasi asam lambung

Famotidine merupakan obat yang berfungsi untuk menurunkan sekresi (pengeluaran) asam lambung dengan menghambat histamin pada reseptor histamin H2. Reseptor ini, terletak pada sel yang disebut parietal, yang berada di dinding lambung.

Histamin sendiri merupakan senyawa yang merangsang sel parietal untuk memproduksi asam lambung.

Famotidine bekerja menghambat reseptor H2 dan mencegah histamin memproduksi asam lambung. Ketika produksi histamin dihambat, akan terjadi penurunan asam lambung.

Asam lambung yang berlebih dapat menyebabkan munculnya luka pada sistem pencernaan. Luka ini bisa menyebabkan gastric ulcer (tukak lambung) ataupun tukak duodenum.

Famotidine lebih sering digunakan digunakan untuk mengatasi tukak lambung daripada Ranitidine.

Tak hanya mengurangi produksi asam lambung, Famotidine juga telah disetujui oleh Food and Drug Administration untuk mengatasi masalah GERD, heartburn, dan sindrom Zollinger-Ellison.

Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam Journal of International Medical Research, menyatakan Famotidine aman digunakan. Bahkan penelitian tersebut membuktikan bahwa efek samping Famotidine paling kecil jika dibandingkan dengan obat golongan H2 blocker lainnya. Menurut riset tersebut juga, kasus yang mengeluhkan efek samping dari penggunaan Famotidine hanya sebanyak 1,2-2%, sedangkan obat sejenis lainnya mencapai 2-3%.

Anda bisa mengonsumsi ini bersamaan atau tidak bersamaan dengan waktu makan. Obat ini adalah obat oral, jadi Anda perlu meminumnya dengan bantuan segelas air putih. Biasanya, efek obat ini dapat dirasakan setelah 2-3 jam setelah diminum dan berlangsung selama 12 jam.

Ranitidine untuk mengobati asam lambung dan esofagitis erosif

Oleh karena berada dalam golongan yang sama, Ranitidine memiliki efek dan cara kerja yang sama dengan Famotidine. Kegunaannya sama-sama berguna untuk menghambat histamin yang memproduksi asam lambung. Itu sebabnya, Ranitidine juga masuk ke dalam golongan H2 blocker.

Sama seperti Famotidine, Ranitidine juga digunakan sebagai obat untuk mengatasi penyakit yang terkait dengan asam lambung berlebih, seperti Zollinger-Ellison syndrome.

Berbagai masalah asam lambung yang juga dapat ditangani dengan minum Ranitidine antara lain, tukak lambung (stomach ulcer), luka pada usus, GERD, dan heartburn.

Esofagitis erosif berbeda dengan esofagitis non erosif yang tidak mencederai dinding esofagus. Esofagitis erosif terjadi ketika asam lambung melukai dinding esofagus (kerongkongan) dan menyebabkan peradangan atau pembengkakan. Hal ini menyebabkan kesulitan dan kesakitan saat menelan, ada rasa panas pada esofagus, hingga muntah dan BAB berdarah.

Ranitidine biasanya diresepkan untuk mengatasi masalah asam lambung seperti GERD. Dosis yang diberikan umumnya 75 mg atau 150 mg sekali atau dua kali dalam satu hari. Obat ini perlu diminum 30-60 menit sebelum makan. Namun, perlu diperhatikan bahwa konsumsi Ranitidine tidak disarankan lebih dari 2 minggu, kecuali disarankan oleh dokter.

Sebenarnya, hampir tidak ada perbedaan cara kerja antara Ranitidine dan Famotidine. Meski begitu, sebuah studi menyatakan bahwa Famotidine dapat mengobati asam lambung 7,5 kali lebih kuat dibandingkan Ranitidine.

Itu sebabnya, Famotidine dapat mengobati lebih banyak kondisi yang diakibatkan oleh asam lambung yang terlalu tinggi dibandingkan dengan Ranitidine.

Famotidine juga dalam ukuran dosis tertentu dapat Anda temukan di apotek terdekat tanpa resep dokter, sedangkan Ranitidine membutuhkan resep. Jika Anda menggunakan Famotidine sebagai obat asam lambung, jangan lupa minum sesuai dengan aturan pakai dan dosis yang telah ditentukan pada kemasan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

https://www.webmd.com/heartburn-gerd/h2-blockers-how-acid-reducers-can-help-treat-gerd-symptoms. Diakses 3 Oktober 2019.

Famotidine: 6 things you should know. https://www.drugs.com/tips/famotidine-patient-tips. Diakses 3 Oktober 2019.

Famotidine. https://drugs.com/famotidine.html. Diakses 3 Oktober 2019.

Ranitidine. https://www.drugs.com/ranitidine.html. Diakses 3 Oktober 2019.

PEPCID VS. ZANTAC. https://www.rxlist.com/pepcid_vs_zantac/drugs-condition.htm#are_pepcid_zantac_the_same. Diakses 3 Oktober 2019.

Ranitidine (Zantac). https://www.medicinenet.com/ranitidine/article.htm. Diakses 3 Oktober 2019.

Erosive Esophagitis Causes and Treatments. https://www.verywellhealth.com/erosive-esophagitis-1742202. Diakses 6 Oktober 2019.

Treatments for Nonerosive Reflux Disease (NERD). https://www.verywellhealth.com/nonerosive-reflux-disease-nerd-1742334. Diakses 6 Oktober 2019.

Comparison of famotidine with cimetidine and ranitidine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/2896559/. Diakses 7 Oktober 2019.

Berardi RR, e. (2019). Comparison of famotidine with cimetidine and ranitidine. – PubMed – NCBI. [online] Ncbi.nlm.nih.gov. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/2896559/ [Accessed 7 Oct. 2019].

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Maria Amanda Diperbarui 28/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto
x