Punya Penyakit Asam Lambung, Boleh Makan Cokelat Tidak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Cokelat merupakan salah satu makanan yang hampir digemari semua orang. Rasanya yang manis dan khas, membuat banyak orang menyukai makanan satu ini. Namun, bagi Anda yang mungkin punya masalah lambung, tidak dianjurkan untuk makan cokelat keseringan. Kenapa demikian? Cari tahu jawabannya dalam artikel ini.

Efek samping makan cokelat terhadap lambung

Sekilas, cokelat memang menggoda. Namun, beberapa alasan ini menjadikan cokelat bukan makanan yang tepat bagi mereka yang memang memiliki masalah dalam sistem pencernaannya.

1. Cokelat menyebabkan otot sfingter esofagus melemas

Sebenarnya, cokelat sudah lama dijadikan salah satu makanan yang harus dihindari untuk orang yang memiliki masalah pencernaan, seperti refluks asam lambung (GERD). Pasalnya, makan cokelat bisa memicu gejala ketidaknyamanan dari penyakit tersebut.

Dalam keadaan normal, cairan asam lambung dicegah agar tidak mengalami kebocoran sampai ke kerongkongan dari perut oleh sekelompok otot yang dikenal sebagai sfingter esofagus bagian bawah. Otot sfingter ini berfungsi seperti katup anti-refluks yang menutup rapat agar isi perut tetap menempel pada tempatnya.

Bila otot sfingter melemah, atau tidak berfungsi dengan baik, cairan asam lambung akan terdorong ke kerongkongan yang menyebabkan sensasi heart burn atau perih di kerongkongan, dada, dan lambung. Nah, coklat termasuk di antara makanan yang diyakini dapat memicu kenaikan asam lambung dengan menyebabkan otot sfingter melemas dan asam lambung pun naik.

Dikutip dari laman Healthline, selain makan cokelat, ada beberapa hal lain yang juga bisa menyebabkan otot sfingter mengendur sehingga menimbulkan sensasi heart burn, yaitu:

  • Buah citrus (jeruk mandarin, lemon, jeruk nipis, jeruk bali, dan sebagainya)
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Tomat
  • Kopi
  • Alkohol
  • Merokok

2. Lemak yang terkandung dalam cokelat juga bisa menyebabkan refluks

Cokelat pada dasarnya mengandung lemak dalam jumlah yang berbeda-beda, tergantung pada jenisnya. Termasuk makanan yang mengandung beberapa persen cokelat di dalamnya juga bisa mengandung lemak.

Kandungan lemak ini bisa memperlambat pengosongan perut, yang bisa menyebabkan isi lambung kembali ke kerongkongan. Di samping itu, mencerna makanan yang mengandung lemak tinggi juga bisa menyebabkan perut menghasilkan lebih banyak asam yang pada akhirnya bisa menyebabkan asam lambung naik.

Milk chocolate mengandung lebih banyak lemak daripada jenis dark chocolate atau cokelat hitam. Sayangnya, dark chocolate memiliki kandungan kafein yang jauh lebih tinggi daripada milk chocolate. Dark chocolate mungkin tidak seburuk milk chocolate yang tinggi akan lemak, tapi dua hal lainnya tetap bisa memicu asam lambung karena kafein adalah  zatstimulan usus yang bisa memperburuk masalah pencernaan bagi mereka yang memang memiliki pencernaan sensitif.

Hindari segala hal yang bisa memicu kenaikan asam lambung

Refluks asam lambung sering kali dapat dengan mudah diatasi dengan kombinasi perubahan gaya hidup dan terapi obat. Namun, apabila kondisi ini tidak diobati dan dibiarkan terus menerus akan menyebabkan komplikasi serius. Pastikan untuk memberi tahu dokter Anda jika Anda mengalami gejala parah seperti nyeri dada, sakit tenggorokan kronis, atau kesulitan menelan setelah mengonsumsi cokelat.

Banyak dokter sudah menyarankan pasiennya untuk menghindari segala hal yang bisa memicu kenaikan asam lambung. Jadi, pada dasarnya kenaikan asam lambung ini tidak akan semakin parah apabila Anda bisa mengontrol segala hal yang bisa memicu gejala tersebut.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Hal yang Bisa Terjadi Pada Tubuh Jika Anda Berhenti Minum Pil KB

Pil KB berhubungan dengan hormon. Itu sebabnya, saat Anda memutuskan untuk berhenti minum pil KB akan muncul berbagai efek samping. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Seksual, Kontrasepsi 4 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

Waspadai 3 Ciri Tipes yang Sudah Parah Agar Tidak Berakibat Fatal

Tipes yang parah bisa berakibat fatal jika tidak cepat-cepat ditangani. Satu dari 5 orang bisa meninggal karena tipes. Seperti apa ciri tipes yang parah?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Penyakit Infeksi, Demam Tifoid (Tifus) 4 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit

Kenapa Beberapa Orang Cenderung Susah Mencium Bau?

Beberapa orang ada yang memiliki hidung kurang sensitif sehingga sulit mencium bau yang ada di sekitarnya. Kenapa bisa begitu, ya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Kesehatan THT, Gangguan Hidung 4 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

Kenali Tanda dan Cara Mengatasi Anak Hiperaktif

Sebagai orangtua, Anda perlu tau bedanya anak yang aktif dan hiperaktif. Yuk, kenali tanda dan cara mengatasi anak hiperaktif!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Kesehatan Anak, Parenting 4 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara pakai termometer

Mengenal 4 Jenis Termometer yang Paling Umum, dan Cara Pakainya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
obat alami dan tradisional sakit gigi berlubang

7 Obat Alami untuk Mengatasi Sakit Gigi Berlubang

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit
apa itu lucid dream

Sedang Mimpi Tapi Sadar? Begini Penjelasan Fenomena Lucid Dream

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

Mata Kucing Pada Anak? Waspada Gejala Kanker Mata

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit