Memberikan Stimulasi Sejak Dini, Kunci Anak Cerdas dan Berbakat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12/04/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Tahukah Anda bahwa anak cerdas berasal dari orangtua yang cerdas? Ya, kecerdasan anak Anda dapat dipengaruhi oleh kecerdasan dari orang tuanya. Menurut seorang dokter spesialis anak di Indonesia, dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), Msi, kecerdasan seorang anak dipengaruhi oleh dua faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor keturunan dan faktor lingkungan.

Seorang anak yang memiliki orangtua cerdas akan menjadi anak yang cerdas juga apabila didukung oleh faktor lingkungan yang memadai, misalnya pendidikan formal di sekolah. Terpenuhinya kebutuhan pokok seorang anak seperti kebutuhan fisik biologis, kasih sayang, dan stimulasi dini juga sangat berpengaruh.

Ketiga kebutuhan pokok tersebut tentunya harus diberikan dan dipenuhi sejak bayi hingga nantinya bertumbuh besar menjadi anak-anak. Lalu seperti apa sebenarnya apa itu stimulasi dini? Apa saja stimulasi dini yang bisa orangtua berikan untuk meningkatkan kecerdasan anak? Mari kita simak pembahasannya berikut ini.

Manfaat stimulasi dini

Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak janin usia enam bulan) untuk merangsang semua sistem indra (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, dan pengecapan). Stimulasi dini hendaknya dilakukan setiap hari.

Rangsangan yang dilakukan sejak lahir secara terus menerus tersebut dapat memacu kecerdasan anak dalam berbagai aspek. Mulai dari logika matematika, kematangan emosi, kemampuan berkomunikasi dan berbahasa, kecerdasan musikal, gerak, visuospasial, seni rupa, dan lain-lain.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Joshua Jeong dan rekan-rekannya mengungkapkan bahwa stimulasi yang diberikan orangtua dapat meningkatkan perkembangan anak.

Seperti apa stimulasi dini yang tepat agar anak cerdas?

Stimulasi dini bagi setiap anak berbeda-beda, tergantung dari umurnya. Berikut stimulasi yang dapat diberikan kepada anak Anda sesuai dengan usianya.

Umur 0-3 bulan

  • Usahakan rasa nyaman, aman, dan menyenangkan untuk bayi. Misalnya dengan memeluk, menggendong, menatap mata bayi.
  • Ajak bayi tersenyum, berbicara.
  • Membunyikan berbagai suara atau musik secara bergantian.
  • Menggantung dan menggerakan benda berwarna mencolok di depan bayi.
  • Menggulingkan bayi ke kanan dan ke kiri.
  • Mendorong bayi untuk tengkurap dan telentang.
  • Merangsang bayi agar meraih dan memegang mainan.

Umur 3-6 bulan

  • Bermain “cilukba”.
  • Melihat wajah bayi di depan cermin.
  • Mendorong bayi untuk tengkurap, telentang bolak balik, dan duduk.

Umur 6-9 bulan

  • Memanggil nama bayi.
  • Mengajak bayi bersalaman dan tepuk tangan.
  • Membacakan buku cerita.
  • Merangsang bayi duduk.
  • Melatih bayi berdiri dengan berpegangan.

Umur 9-12 bulan

  • Mengulang-ngulang menyebutkan panggilan orangtua dan orang-orang di sekitarnya seperti, “Ayah”, “Ibu”, atau “Kakak”.
  • Memasukkan mainan ke dalam wadah.
  • Membiasakan bayi minum dari gelas.
  • Menggelindingkan bola.
  • Melatih bayi berdiri dan berjalan berpegangan.

Umur 12-18 bulan

  • Latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna.
  • Menyusun kubus, balok, dan puzzle.
  • Memasukkan dan mengeluarkan benda kecil dari wadahnya.
  • Bermain dengan boneka, mobil-mobilan, dan rumah-rumahan.
  • Melatih berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, naik tangga, menendang bola, melepas celana
  • Mendorong bayi agar memahami dan melakukan perintah sederhana (misalnya pegang ini, masukkan ini, ambil itu)
  • Menyebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.

Umur 18-24 bulan

  • Menanyakan, menyebutkan, dan menunjukkan bagian tubuh.
  • Menanyakan gambar atau menyebutkan nama binatang dan benda di sekitar rumah.
  • Mengajak berbicara tentang kegiatan sehari-hari.
  • Latihan menggambar garis.
  • Mencuci tangan.
  • Memakai celana dan baju.
  • Bermain melempar bola dan melompat.

Umur 2-3 tahun

  • Mengenal dan menyebutkan warna.
  • Menggunakan kata sifat dan menyebutkan nama temannya.
  • Menghitung benda.
  • Memakai baju.
  • Menyikat gigi.
  • Bermain kartu, boneka, atau masak-masakan.
  • Menggambar garis, lingkaran, atau manusia.
  • Latihan berdiri dengan satu kaki (keseimbangan).
  • Belajar buang air kecil atau besar di toilet.

Balita

Stimulasi diarahkan untuk kesiapan bersekolah seperti memegang pensil, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, memahami perintah sederhana, dan kemandirian (misalnya saat ditinggal di sekolah), berbagi dengan teman, dan lain-lain.

Kapan stimulasi tersebut diberikan?

Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi atau balita. Anda tentu dapat melakukannya kapan saja, misalnya ketika memandikan bayi, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, dan lain-lain.

Stimulasi supaya anak cerdas harus diberikan dalam suasana yang menyenangkan. Jangan memberikan stimulasi secara terburu-buru dan dengan paksaan. Jangan memaksakan kehendak Anda, misalnya ketika bayi sedang ingin bermain hal yang lain. Rangsangan emosional yang negatif seperti sedang marah atau bosan akan diingat oleh anak sehingga menimbulkan ketakutan pada anak Anda. Agar anak cerdas dan berkembang dengan baik, berikan stimulasi dini dengan penuh kasih sayang dan kegembiraan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Cara Mudah Mengatasi Ruam Susu Pada Bayi ASI Eksklusif

Para ibu mungkin sudah tidak asing lagi dengan kemunculan ruam susu atau ruam di pipi bayi. Namun, apakah ruam susu itu dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Ilmuwan Jepang Ungkap Cara Sempurna Memeluk Bayi

Baru-baru ini ilmuwan jepang menemukan rahasia cara sempurna memeiuk bayi. Bagaimana caranya agar bayi nyaman dan tenang?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Parenting, Tips Parenting 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Membentak anak dapat memberikan dampak yang buruk. Apa akibat dari anak terlalu sering dibentak dan apa yang harus dilakukan orangtua?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Parenting, Tips Parenting 22/06/2020 . Waktu baca 8 menit

Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

Mata plus sering dikenal sebagai penyakit orang tua. Padahal banyak juga kasus mata plus pada anak. Baca terus dan pelajari berbagai penyebab dan gejalanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mata, Hidup Sehat 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

orgasme tanpa disentuh

3 Hal yang Bisa Membuat Anda Orgasme Tanpa Disentuh

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14/07/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
penyebab stunting

Benarkah Cacingan Bisa Menyebabkan Stunting pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 7 menit