Orangtua Dengan Anak Dewasa, Berisiko Mengalami ‘Sindrom Sarang Kosong”

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Apakah Anda tahu bahwa setiap manusia termasuk Anda memiliki peluang untuk merasakan empty nest syndrome atau yang juga disebut dengan sindrom sarang kosong? Sindrom ini biasa terjadi pada waktu anak-anak meninggalkan rumah, baik untuk kuliah atau menikah. Empty nest syndrome biasanya akan dirasakan ketika memasuki usia dewasa madya. Sudahkah Anda bersiap memasuki fase ini?

Apa itu sindrom sarang kosong?

Sindrom sarang kosong adalah suatu istilah yang menggambarkan kondisi psikologi dan emosi yang dialami wanita dalam suatu waktu karena ditinggalkan oleh anak-anaknya baik untuk menempuh pendidikan maupun menikah.

Empty nest syndrome mengacu pada rasa tekanan, kesedihan, dan atau duka cita yang dialami oleh orang tua karena anak-anaknya meninggalkan rumah setelah dewasa atau berumah tangga. Hal ini dapat terjadi ketika anak-anaknya pergi karena kuliah atau menikah.

Hal ini bisa terjadi pada siapa saja. Semua orang pasti akan merasakan kesedihan ketika kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai dan hal ini juga terjadi pada orang tua. Sindrom sarang kosong ini lebih banyak dirasakan oleh wanita karena sebagian waktu mereka dihabiskan di rumah dan selalu berinteraksi dengan anak-anaknya.

Namun, tidak berarti bahwa pria tidak akan mengalami sindrom sarang kosong. Pria dapat mengalami perasaan yang sama. Kondisi ini bisa lebih buruk jika bersamaan dengan menopause, pensiun atau kematian pasangan.

Keadaan ini menyebabkan ada perasaan tidak diperlukan lagi peranan sebagai ibu seperti waktu sebelumnya. Sindrom sarang kosong berbeda dengan kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai.

Kesedihan pada sindrom sarang kosong sering tidak dikenali, karena seorang anak yang sudah dewasa pindah dari rumah dapat dilihat sebagai peristiwa yang normal. Keadaan ini dianggap normal, bila berlangsung hanya satu minggu setelah kepergian anaknya. Hal ini perlu mendapat perhatian bila keadaan ini berlangsung lama sampai menimbulkan stres dan bahkan sampai depresi.

Hal yang paling dikhawatirkan adalah, sindrom sarang kosong ini mungkin tidak hanya memengaruhi kualitas hidup diri sendiri, namun juga bisa memicu konflik dengan orang lain, baik dengan pasangan sendiri atau anaknya.

Gejala sindrom sarang kosong yang perlu Anda ketahui

Tidak ada ukuran mengenai ukuran wajar atau tidaknya seseorang yang mulai masuk ke dalam empty nest syndrome ini. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dia menghadapi situasi yang tengah dihadapi. Misalnya, di tahun pertama, dalam kurun waktu 6 sampai 12 bulan sangatlah wajar jika proses adaptasi masih dilakukan.

Namun, jika sudah 2 tahun berjalan, namun orangtua belum juga bisa beradaptasi. Ada kemungkinan ia mengalami sindrom sarang kosong. Berikut gejala sindrom sarang kosong.

  • Merasa dirinya sudah tidak bermanfaat lagi dan hidupnya telah berakhir.
  • Menangis secara berlebihan.
  • Merasa begitu sedih sehingga tidak mau lagi bergaul dengan teman-temannya atau bekerja kembali.

Bagaimana cara mengatasi sindrom sarang kosong?

  • Cobalah untuk mulai membicarakan mengenai kesedihan yang dialami. Jika kesedihan yang dialami sudah mendalam, ada kemungkinan membutuhkan obat antidepresan.
  • Dukungan dari orang-orang di sekitarnya serta teman-teman terdekat juga sangat membantu seseorang merasa lebih baik.
  • Menjalani kembali kegiatan hobi yang bisa membuat seseorang tidak terlalu terfokus pada anaknya.
  • Buatlah rencana liburan keluarga dan menikmati pembicaraan yang panjang serta mulailah untuk memberikan anak privasi yang lebih.

Baca Juga:

Sumber