Orangtua Dengan Anak Dewasa, Berisiko Mengalami ‘Sindrom Sarang Kosong”

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 02/12/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Apakah Anda tahu bahwa setiap manusia termasuk Anda memiliki peluang untuk merasakan empty nest syndrome atau yang juga disebut dengan sindrom sarang kosong? Sindrom ini biasa terjadi pada waktu anak-anak meninggalkan rumah, baik untuk kuliah atau menikah. Empty nest syndrome biasanya akan dirasakan ketika memasuki usia dewasa madya. Sudahkah Anda bersiap memasuki fase ini?

Apa itu sindrom sarang kosong?

Sindrom sarang kosong adalah suatu istilah yang menggambarkan kondisi psikologi dan emosi yang dialami wanita dalam suatu waktu karena ditinggalkan oleh anak-anaknya baik untuk menempuh pendidikan maupun menikah.

Empty nest syndrome mengacu pada rasa tekanan, kesedihan, dan atau duka cita yang dialami oleh orang tua karena anak-anaknya meninggalkan rumah setelah dewasa atau berumah tangga. Hal ini dapat terjadi ketika anak-anaknya pergi karena kuliah atau menikah.

Hal ini bisa terjadi pada siapa saja. Semua orang pasti akan merasakan kesedihan ketika kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai dan hal ini juga terjadi pada orang tua. Sindrom sarang kosong ini lebih banyak dirasakan oleh wanita karena sebagian waktu mereka dihabiskan di rumah dan selalu berinteraksi dengan anak-anaknya.

Namun, tidak berarti bahwa pria tidak akan mengalami sindrom sarang kosong. Pria dapat mengalami perasaan yang sama. Kondisi ini bisa lebih buruk jika bersamaan dengan menopause, pensiun atau kematian pasangan.

Keadaan ini menyebabkan ada perasaan tidak diperlukan lagi peranan sebagai ibu seperti waktu sebelumnya. Sindrom sarang kosong berbeda dengan kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai.

Kesedihan pada sindrom sarang kosong sering tidak dikenali, karena seorang anak yang sudah dewasa pindah dari rumah dapat dilihat sebagai peristiwa yang normal. Keadaan ini dianggap normal, bila berlangsung hanya satu minggu setelah kepergian anaknya. Hal ini perlu mendapat perhatian bila keadaan ini berlangsung lama sampai menimbulkan stres dan bahkan sampai depresi.

Hal yang paling dikhawatirkan adalah, sindrom sarang kosong ini mungkin tidak hanya memengaruhi kualitas hidup diri sendiri, namun juga bisa memicu konflik dengan orang lain, baik dengan pasangan sendiri atau anaknya.

Gejala sindrom sarang kosong yang perlu Anda ketahui

Tidak ada ukuran mengenai ukuran wajar atau tidaknya seseorang yang mulai masuk ke dalam empty nest syndrome ini. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dia menghadapi situasi yang tengah dihadapi. Misalnya, di tahun pertama, dalam kurun waktu 6 sampai 12 bulan sangatlah wajar jika proses adaptasi masih dilakukan.

Namun, jika sudah 2 tahun berjalan, namun orangtua belum juga bisa beradaptasi. Ada kemungkinan ia mengalami sindrom sarang kosong. Berikut gejala sindrom sarang kosong.

  • Merasa dirinya sudah tidak bermanfaat lagi dan hidupnya telah berakhir.
  • Menangis secara berlebihan.
  • Merasa begitu sedih sehingga tidak mau lagi bergaul dengan teman-temannya atau bekerja kembali.

Bagaimana cara mengatasi sindrom sarang kosong?

  • Cobalah untuk mulai membicarakan mengenai kesedihan yang dialami. Jika kesedihan yang dialami sudah mendalam, ada kemungkinan membutuhkan obat antidepresan.
  • Dukungan dari orang-orang di sekitarnya serta teman-teman terdekat juga sangat membantu seseorang merasa lebih baik.
  • Menjalani kembali kegiatan hobi yang bisa membuat seseorang tidak terlalu terfokus pada anaknya.
  • Buatlah rencana liburan keluarga dan menikmati pembicaraan yang panjang serta mulailah untuk memberikan anak privasi yang lebih.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Kita Merasa Mual Saat Sedang Gugup?

Saat harus tampil di depan umum atau mau kencan pertama, tiba-tiba perut jadi sangat mual karena gugup. Mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 21/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Selain itu studi terbaru menunjukkan bahwa berpikir negatif (negative thinking) terus menerus bisa meningkatkan risiko demensia. Apa bisa dicegah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Hidup Sehat, Fakta Unik 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Sedang mengalami masa sulit yang seakan mengisap energi dan pikiran Anda ke dalam lubang hitam? Psikoterapi bisa membantu Anda mencari solusinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengatasi anak step kejang demam saat anak kejang

Apa yang Harus Diakukan Jika Anak Step (Kejang Demam)

Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Dipublikasikan tanggal: 21/07/2020 . Waktu baca 5 menit
melatih otak agar percaya diri

3 Cara Melatih Otak Supaya Lebih Percaya Diri

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 20/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 7 menit