backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan

5 Hal yang Bikin Anak Malas Mendengarkan Omelan Orangtua

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Putri Ica Widia Sari · Tanggal diperbarui 20/11/2023

5 Hal yang Bikin Anak Malas Mendengarkan Omelan Orangtua

Omelan orangtua terkadang tidak selalu direspons baik oleh anak. Entah itu anak akan membantah, bermain gadget, atau bahkan yang paling mengesalkan adalah pergi meninggalkan Anda. 

Hal ini tentu membuat Anda geram dan kesal. Namun, sebelum Anda menjadi semakin marah dan kesal, ada baiknya mengetahui terlebih dahulu penyebab anak tidak suka mendengarkan ocehan orangtua di bawah ini.

Beragam alasan anak tidak suka mendengarkan omelan orangtua

Pada dasarnya, menolak, menentang, dan melawan adalah sifat alami manusia. Apalagi saat seseorang merasa dipaksa atau dikendalikan oleh sesuatu. 

Oleh karena itu, saat Anda sedang memberikan ocehan kepada anak dan mereka tidak mendengarkannya, jangan menyalahkan siapa pun. Sebab tidak ada yang salah dalam hal ini, baik itu anak, pasangan, maupun diri Anda sendiri. 

Meskipun rasanya tidak enak ketika Anda merasa diabaikan saat memberikan nasihat, perlawanan yang diberikan anak ini sebenarnya bisa menjadi tantangan bagi orangtua, terutama bila anaknya belum memahami apa alasan Anda mengomel. 

Anda mungkin sering bertanya-tanya, apa yang salah dengan Anda atau si Kecil sampai-sampai ia begitu sulit mendengarkan dan menggubris kata-kata orangtua. 

Supaya Anda lebih memahami isi pikiran si Kecil dan bisa berkomunikasi dengan anak lebih efektif, simak alasan utama anak enggan mendengarkan omelan orangtua berikut ini. 

1. Omelan orangtua biasanya terlalu panjang dan berbelit-belit

helicopter parenting

Ketika Anda mencoba menasihati anak dengan omelan panjang lebar, anak akan kehilangan fokus di tengah-tengah.

Ini karena rentang perhatian anak-anak masih pendek. Ini tak seperti orang dewasa yang mampu mendengarkan ceramah dosen berjam-jam, misalnya. 

Maka dari itu, anak bisa lupa apa maksud pembicaraan Anda sebenarnya dan kemungkinan besar akan mengulangi kesalahan yang sama. 

Tidak hanya itu, diomeli orangtua juga membuat anak merasa bahwa orangtua tidak memedulikan pendapat atau kondisinya. Ini karena orangtua hanya mau bicara terus-terusan tanpa mendengarkan dirinya.

Jadi, merangkum dari Good Therapy, sebaiknya saat menegur anak lakukanlah dengan kalimat yang padat, jelas, dan singkat. Beri tahu anak apa yang harus mereka lakukan dan hindari membuatnya merasa bersalah. 

2. Nada bicara atau kata-kata yang dipilih orangtua kurang tepat

Melasir Connected Family, omelan orangtua yang tidak didengarkan anak bisa saja terjadi karena nada bicara atau kata-kata yang dipilih orangtua tidak tepat. 

Anda mungkin sering mengomeli anak dengan nada bicara tinggi. Meski cara ini wajar dilakukan untuk mendisiplinkan anak, anak pun akan malas untuk mendengarkannya bila omelan Anda terlalu panjang.

Oleh karena itu, sebagai orangtua seharusnya Anda menghindari penggunaan kata yang sarkasme, menyudutkan, atau bahkan merendahkan anak. 

Sebagai gantinya, tegaskan perintah Anda dengan arahan yang jelas dan dengan nada bicara rendah seperti, “Adik, masukkan tasmu ke kamar sekarang.” 

Jangan hanya mengomel dengan berkata, “Tasnya jangan ditaruh di situ, dong! Berantakan jadinya! Harus diberi tahu berapa kali, sih, kamu?”. 

Bila anak belum beranjak juga, Anda bisa menegaskan lagi dengan kalimat seperti, “Ibu hitung sampai tiga, tasmu sudah harus dimasukkan ke kamar.” 

3. Terbiasa mengancam atau membentak anak

Hati-hati kalau orangtua terlalu sering mengancam atau membentak anak.

Pasalnya, anak yang terbiasa diberi tahu dengan keras cenderung mengabaikan orangtua ketika mereka tidak bicara dengan nada biasa. 

Akibatnya, Anda harus selalu menarik urat dulu kalau ingin anak mendengarkan omelan orangtua.

Oleh karena itu, ubah kebiasaan ini secara perlahan. Bicaralah dengan suara dan nada yang sedikit pelan tapi tetap tegas.

Tahukah Anda?

Mengomel dengan cara yang salah ternyata dapat merugikan kedua belah pihak dalam banyak hal. Beberapa di antaranya sebagai berikut.
  • Rasa lelah yang dapat berdampak pada hubungan negatif antara orangtua dan anak. 
  • Anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar dari kegagalannya. 
  • Anak menjadi tidak mandiri karena kebiasaan orangtua untuk mengontrol kehidupan mereka.
  • Membuat peran orangtua menjadi kurang menyenangkan. 

4. Mengomel sambil melakukan hal lainnya 

pilih kasih terhadap anak

Jika Anda merasa anak tidak mendengarkan nasihat, coba pastikan dulu bahwa Anda dan anak sedang tidak sibuk melakukan hal lain. 

Sebab, sering kali Anda berbicara tanpa mendapatkan perhatian mereka terlebih dahulu, sehingga mereka tidak akan mendengarkan apa yang Anda katakan.

Kalau ingin anak mendengarkan kata-kata orangtua, bicaralah empat mata. Jangan bicara sambil main handphone, mencuci piring, dan sebagainya.

Mengomel sambil melakukan hal lain akan membuat anak menyepelekan omelan orangtua.

5. Orangtua tidak memberi contoh

Anak-anak akan mengikuti perilaku orangtuanya. Ya, diam-diam anak selalu memperhatikan tindak-tanduk orangtuanya sebagai tolak ukur perilaku yang bisa diterima atau tidak. 

Oleh karena itu, kalau orangtua sendiri tidak memberikan contoh yang baik seperti bagaimana caranya mendengarkan dan menghargai orang lain, anak tentu akan menirunya. 

Misalnya, pasangan Anda sedang mengoceh tentang sesuatu. Bukannya mendengarkan dengan baik dan mencari solusinya, Anda malah sibuk mengerjakan hal lain sambil terus membela diri. Kebiasaan ini akan ditiru oleh anak ketika suatu hari Anda mengomel padanya. 

Maka dari itu, jadilah teladan yang baik bagi anak. Ketika anak sedang mengomel panjang lebar, ajak anak untuk duduk bersama dan membicarakan duduk permasalahannya baik-baik.

Lama-lama anak akan belajar bagaimana caranya bersikap ketika punya konflik dengan orang lain.

Yang perlu diingat, dalam menjalin komunikasi dengan anak, penting bagi orangtua memahami bahwa omelan tidak selalu menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan pesan. 

Keterbukaan untuk mendengarkan, memahami perspektif anak, dan menemukan gaya komunikasi yang sesuai mungkin lebih bermanfaat dalam menciptakan hubungan antara orangtua dan anak serta tentunya perkembangan anak itu sendiri.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Putri Ica Widia Sari · Tanggal diperbarui 20/11/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan