Serba-Serbi Membesarkan Anak Dengan Kepribadian Introvert

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Introversion atau introvert merupakan salah satu tipe kepribadian. Mereka yang termasuk introvert cenderung fokus kepada pikiran, perasaan, dan mood yang berasal dari dalam diri sendiri alias internal, dibandingkan dengan mencari stimulasi yang berasal dari luar. Kebalikan dari introvert adalah ekstrovert, sehingga dapat dikatakan introversion dan extraversion bersifat saling bertolak belakang.

Dipopulerkan oleh Carl Jung, introversion dan extraversion menjadi salah satu teori kepribadian yang banyak digunakan saat ini. Menurut beberapa teori, seseorang bisa memiliki kedua kepribadian introvert dan extrovert, tetapi biasanya akan cenderung mengarah ke salah satunya.

Introvert secara umum terlihat lebih senang menyendiri. Tidak seperti extrovert yang akan mendapatkan energi dari interaksi sosial, seorang introvert justru merasa harus mengeluarkan banyak energi saat harus bersosialisasi. Jika seorang introvert mengunjungi suatu pesta di mana terdapat banyak orang, biasanya setelah itu mereka cenderung perlu menyendiri dan memiliki “me time” untuk me-recharge alias memulihkan kembali tenaga mereka. Meskipun sering disalahartikan sebagai pendiam, pemalu, dan penyendiri, sebenarnya seorang introvert bukan jenis orang yang selalu menutup diri dari dunia luar.

Ciri-ciri anak introvert

Beberapa ciri umum dari mereka yang berkepribadian introvert yaitu:

  • Cenderung menyimpan perasaan sendiri.
  • Terlihat pendiam atau menarik diri ketika berada di tengah-tengah sekumpulan orang yang tidak mereka kenal baik.
  • Sangat sadar diri dan memikirkan segala sesuatu sebelum bertindak.
  • Merupakan pengamat yang baik dan cenderung mempelajari situasi sekitarnya melalui pengamatan terlebih dahulu.
  • Lebih mudah bersosialisasi jika bersama dengan orang yang sudah mereka kenal baik.

Jika anak Anda termasuk dalam kategori introvert, maka besar kemungkinannya Anda akan sering menemukan anak Anda berdiam diri ketika berada ditengah banyak orang, terlebih lagi jika orang-orang di sekelilingnya merupakan orang yang belum ia kenal. Beberapa ciri lain bahwa anak Anda kemungkinan masuk dalam kategori introvert adalah:

  • Anak cenderung menghindari kontak mata dengan orang lain: anak yang introvert akan cenderung menghindari kontak mata, terutama dengan orang yang belum mereka kenal. Mereka dapat merasa malu jika berhadapan dengan orang baru dan terkesan menghindari orang tersebut, padahal sebenarnya anak Anda sedang mencoba melindungi dirinya sendiri dan tidak ingin merasa terintimidasi dengan keberadaan orang tersebut. Hal ini juga berlaku ketika anak Anda berada di lingkungan baru seperti sekolah atau tempat bermain. Ia akan cenderung untuk bermain dengan dirinya sendiri terlebih dahulu.
  • Anak lebih sering berbicara kepada dirinya sendiri: jika Anda sering memperhatikan anak Anda berbicara kepada dirinya sendiri atau kepada mainannya, Anda tidak perlu terlalu khawatir. Anak yang introvert cenderung ingin mengekspresikan perasaannya tanpa ingin merasa dihakimi sehingga lebih mudah bagi mereka berbicara kepada diri sendiri atau bahkan kepada boneka.
  • Anak rewel setelah hari yang panjang: Anda mengajak anak Anda ke berbagai tempat bermain, pesta, pertemuan, atau Anda mengajaknya pergi ke tempat yang tidak biasa, lalu setelah itu anak Anda mulai rewel tanpa alasan yang jelas? Ini bisa jadi salah satu ciri introvert. Anak yang introvert butuh waktu untuk menyendiri, di mana ia bisa mencerna pengalaman dan perasaan yang baru dialaminya. Ketika mereka dihadapkan dengan jadwal padat seharian serta diharuskan untuk berinteraksi dengan banyak orang baru, mereka tidak punya cukup waktu untuk mencerna pengalaman tersebut sehingga merasa tidak nyaman dan menjadi rewel.

Bagaimana cara menghadapi anak introvert?

Anak introvert terkadang disalahartikan sebagai anak pemalu, tetapi sebenarnya introvert dan pemalu tidaklah sama. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi anak introvert:

1. Pahami apa sebenarnya introvert itu

Hal pertama yang bisa Anda lakukan adalah mengerti betul apa itu introvert. Dengan begini, Anda mengetahui kemungkinan yang dapat terjadi, berikut tantangan yang muncul di kemudian hari. Orangtua terkadang khawatir ketika anak mereka mengurung diri di dalam kamar dan tidak mau berbicara terkait apa yang ia rasakan. Perilaku anak introvert ini terkadang disalahartikan sebagai tanda-tanda depresi, namun sebaiknya Anda jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Yang perlu Anda pahami adalah introversion bukanlah suatu respon terhadap rangsangan yang terjadi dari luar, tetapi merupakan suatu tipe kepribadian.

2. Pahami kecenderungan perilaku anak Anda

Sebagai contoh, anak introvert terkadang hanya memiliki satu atau dua orang teman dekat. Anda mungkin menjadi khawatir mengapa anak Anda tidak punya teman. Padahal ini termasuk salah satu ciri anak introvert, mereka lebih nyaman dengan lingkaran pertemanan yang kecil, bukan berada di grup penuh dengan orang. Jumlah teman yang sedikit pada anak introvert bukan selalu indikasi anak tersebut mengalami masalah bersosialisasi.

3. Jangan paksa anak Anda untuk berubah

Karena sering disalahartikan sebagai pemalu dan penyendiri, anak introvert terkadang dianggap sebagai anak bermasalah. Jika anak Anda memilih untuk menyendiri di kamar atau berbicara sendiri dengan mainannya, biarkan ia untuk melakukan hal tersebut karena saat itulah mereka merasa nyaman dengan dirinya. Jangan lupa, anak introvert butuh waktu sendiri untuk mencerna kejadian-kejadian baru yang dialaminya.

Hindari juga memaksa anak Anda bersosialisasi terutama jika berada di lingkungan baru, biarkan ia mengamati dulu sejenak sebelum ikut bergabung dengan teman-teman barunya. Memaksa anak untuk mengikuti berbagai kegiatan kelompok juga bisa jadi pedang bermata dua. Sebagai contoh, jika Anda mengikutsertakan anak introvert di klub sepakbola, kondisi ramai dan teriakan anak-anak lain dapat menyulitkan anak berkonsentrasi sehingga menimbulkan performa yang buruk dan membuat anak percaya bahwa ia adalah atlet yang buruk pula. Jika olahraga merupakan pilihan Anda, anak introvert akan cenderung berprestasi jika menekuni olahraga yang bersifat individual seperti renang atau beladiri.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Tips Menahan Diri untuk Tidak Berlebihan Memikirkan Sesuatu

Apakah Anda salah satu orang yang sering berlebihan memikirkan sesuatu? Hal ini dapat menghambat aktivitas. Lalu, bagaimana cara mengatasi overthinking?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hidup Sehat, Psikologi, Tips Sehat 10 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Mengenal Kepribadian Introvert Lebih Dalam

Pasti Anda sering mendengar orang berbicara tentang kepribadian introvert. Apa itu introvert/? Mari cari tahu tentang kepribadian tersebut di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Psikologi 2 November 2020 . Waktu baca 12 menit

Alasan Psikologis Mengapa Pria Lebih Sulit Menangis Dibanding Wanita

Perempuan identik lebih mudah untuk menangis dan mengeluarkan air mata dibanding laki-laki. Apa yang membuat seorang pria sulit menangis? Baca di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Fakta Unik 29 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Bagi korban KDRT, meninggalkan pasangan yang abusive tak semudah itu. Ini dia alasan korban KDRT bertahan meski hubungannya sarat kekerasan dan kekejaman.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

komunikasi dengan anak

Kenapa Orangtua Wajib Rutin Berkomunikasi Dengan Anak?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit
bahaya gurita bayi

Bayi Ternyata Tak Boleh Pakai Gurita. Apa Bahayanya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit
berat badan turun akibat depresi

Kenapa Berat Badan Turun Drastis Saat Sedang Depresi?

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 22 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Mengenali Ciri-Ciri Psikopat di Sekitar Anda

Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 10 November 2020 . Waktu baca 7 menit