Anak yang Dibesarkan Oleh Ortu Narsis Tumbuh Jadi Orang Rendah Diri

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Perlu dipahami dulu bahwa narsistik yang akan dibahas di artikel ini bukanlah suatu bentuk kepercayaan diri tinggi maupun kegemaran memposting puluhan foto selfie di berbagai situs sosmed sebagai suatu bukti kecintaan pada (penampilan fisik) diri sendiri. Yang dimaksud adalah narcissistic personality disorder (NPD), gangguan kepribadian nyata yang dimiliki oleh 1% penduduk dunia.

Apa tanda narcisstic personality disorder?

Orang yang memiliki NPD biasanya menunjukkan perilaku arogan, minimnya empati terhadap orang lain, dan kebutuhan/hasrat sekaligus tuntutan terhadap puja-puji. Orang-orang dengan kondisi ini sering dideskripsikan sebagai orang yang sombong, egois, manipulatif, doyan menuntut sesuatu, dan merasa sangat yakin bahwa mereka berhak mendapatkan perlakuan khusus bak dewa-dewi dari orang di sekitarnya.

Orang yang memiliki NPD tidak bisa menerima kritik hingga ke titik mereka mungkin akan meledak marah ketika sifat mereka dikritik, atau mereka mungkin memalsukan rasa empati hanya demi mendapat poin plus dari masyarakat. Mereka mungkin saja menunjukkan penyesalan, iba, atau murah hati, tapi tidak ingin atau gagal membuat perubahan nyata dalam sikapnya.

Kepribadian narsistik ini muncul dengan konsisten di lingkungan kerja dan hubungan sosial, bahkan bagaimana mereka berperan sebagai orangtua terhadap anak-anak mereka.

Kalau Anda menunjukkan tanda-tanda ini, mungkin Anda orangtua narsis

Sama seperti karakteristik seseorang narsistik pada umumnya yang ingin terlihat lebih unggul di segala bidang daripada orang lain, orangtua narsis cenderung memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap tumbuh kembang anak mereka. Kebanyakan orangtua yang narsistik ingin memamerkan pencapaian anak dan selalu mendorong anak untuk berbuat melebihi ekspektasi mereka demi kebanggan mereka sendiri.

Ekspektasi pencapaian yang dibuat oleh orangtua narsis bukan berdasarkan niat untuk membuat anak menjadi lebih baik, namun cenderung berdasarkan keinginan dan kebutuhan mereka sendiri. Hal ini membuat orangtua tidak/kurang memperlakukan anak mereka sebagai individu secara utuh, namun sebagai cara atau “boneka” yang akan memberikan keuntungan untuk pribadi mereka.

Hobi selfie bukan ciri orang narsistik (sumber: shutterstock)

Dalam mendorong anak untuk memenuhi/melebihi ekspektasi mereka yang sudah terlalu tinggi ini, orangtua cenderung memanipulasi emosi dan pikiran anak. Mereka tidak ragu untuk menyalahkan (blaming), membuat anak merasa bersalah, membuat mereka merasa malu terhadap diri sendiri, atau memberikan tekanan mental agar anak menuruti keinginan orangtua. Perilaku manipulasi tersebut terjadi karena orangtua menganggap perhatian dan kasih sayang yang mereka berikan merupakan suatu harga yang harus dibayar dalam hubungan timbal balik, dibandingkan ekspresi pola asuh orangtua-anak seperti pada umumnya yang tanpa pamrih dan balas jasa.

Ketika anak mulai beranjak dewasa, orang tua narsistik dapat bersifat posesif. Mereka cenderung menginginkan anak mereka terus menerus berada di bawah pengaruh mereka dan dapat menunjukan sikap tidak suka ketika anak sudah mulai hidup secara mandiri.

Dampak yang dapat dialami oleh anak dari pola asuh orangtua yang narsistik

Akibat pola asuh menyimpang ini, bukan tidak mungkin hubungan orangtua dengan anak cenderung kaku karena orangtua terlalu bersikap keras khususnya ketika anak berbuat salah. Orangtua yang narsistik juga cenderung kurang memahami atau tidak memperhatikan kondisi emosi anak mereka karena memiliki rasa empati yang rendah terhadap anak.

Dampak utama yang dialami anak akibat pola asuh orang tua narsistik adalah hambatan perkembangan kepribadian yang dapat diwujudkan dengan cara yang berbeda-beda, seperti diantaranya:

Mudah menyalahkan diri sendiri. Anak yang dibesarkan oleh orang tua narsistik cenderung memiliki harga diri yang rendah. Anak yang dibesarkan oleh orangtua narsis akan lebih mudah mengalami keraguan dan kegelisahan dalam mengambil keputusan. Pasalnya, mereka sudah terbiasa untuk menyesuaikan tindak-tanduk mereka sesuai “aturan” ortu hanya agar tidak dimarahi. Akibatnya ketika mereka berbuat sesuatu, mereka cenderung lebih mudah larut dalam penyesalan dan menyalahkan diri mereka terus menerus.

Tidak memiliki pendapat sendiri. Pendapat atau pandangan pribadi akan suatu hal diperlukan untuk mengambil keputusan dan menentukan sifat. Namun jika Anak dibesarkan oleh orang tua narsistik, mereka cenderung menekan atau menunjukan sikap tidak suka ketika anak memiliki pendapat berbeda. Akibatnya ketika beranjak dewasa mereka sulit untuk memegang dan mengutarakan pendapat pribadi mereka akan suatu hal.

Orangtua narsis memanipulasi anak untuk memenuhi ekspektasi pribadi (sumber: shutterstock)

Terlalu khawatir akan hubungan dengan orang lain. Hal ini disebabkan karena kondisi emosional yang kurang stabil sehingga seseorang terlalu khawatir akan hubungannya dengan orang lain akan baik-baik saja atau tidak. Bentuk dari kekhawatiran yang berlebihan tersebut dapat membuat seseorang menghindar untuk bergantung dengan orang lain atau sebaliknya terlalu bergantung terhadap orang lain.

Terlalu bersikap independen. Hal ini merupakan salah satu cara seseorang merespon pola asuh orangtua narsistik. Dalam hal ini juga terlalu bersikap independen bukan didasari oleh sikap mandiri melainkan oleh pandangan bahwa tidak ada orang yang dapat dipercaya. Akibatnya mereka juga mengalami kesulitan untuk memiliki kedekatan emosional dengan orang alin.

Kurang memperhatikan diri sendiri. Anak yang memiliki sifat sensitif atau memiliki empati yang cukup tinggi akan merespon sikap narsistik orangtua dengan bersikap tidak memperhatikan dirinya dan selalu memperhatikan kebutuhan orang lain, termasuk orangtua dan orang terdekat. Dampak negatif dari hal ini adalah mereka kurang memperhatikan kebutuhan diri sendiri, hingga bahkan cenderung membenci dirinya sendiri karena takut membebani orang lain.

Memiliki sifat narsistik. Efek domino ini ebih mungkin dialami oleh anak dengan kepribadian yang keras kepala. Akibat mengenyam pola asuh orangtua narsis seumur hidupnya, mereka cenderung mengikuti pola asuh dan pandangan yang sama dengan orang tua mereka. Dampak lain yang mungkin terjadi jika anak tumbuh sebagai seorang narsistik adalah mereka cenderung menganggap pencapaian, karir cemerlang, atau status pekerjaan merupakan hal mahapenting dalam hidupnya yang akan menentukan harga diri mereka.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pentingnya Mengontrol Tumbuh Kembang Anak Saat Pandemi COVID-19

Tumbuh kembang anak selama pandemi COVID-19 harus tetap terkontrol meski pelayanan kesehatan anak banyak terganggu. Simak ulasan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 17/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

akibat anak terlalu sering dibentak

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 8 menit
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit
sumber stres dalam pernikahan

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit