Apa Yang Harus Diakukan Jika Anak Step (Kejang Demam)

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 17/03/2020 . 5 menit baca
Bagikan sekarang

Kejang pada saat anak demam atau yang sering disebut step sering membuat orangtua khawatir. Gejala yang timbul saat kejang antara lain adalah kekakuan otot, kelojotan sekujur tubuh, atau tidak merespon saat namanya dipanggil, sehingga wajar saja jika ini membuat orangtua panik. Kejang demam sering terjadi pada sekitar 2-4% anak berumur 6 bulan hingga 5 tahun. Kejadian step ini sering dihubung-hubungkan dengan kondisi epilepsi dan gangguan perkembangan anak, namun benarkah hal tersebut?

Apa itu kejang demam (step)?

Kejang demam adalah kejang yang terjadi saat ada peningkatan suhu tubuh, biasanya  di atas 380C, yang disebabkan oleh suatu proses dil uar otak. Kejang demam terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun, dengan gejala demam yang mendahului kejang. Gejala yang terjadi pada kejang demam biasanya berupa:

  • Anak tidak sadar saat kejang, setelah kejang kesadaran biasanya kembali
  • Kekakuan pada kaki atau tangan
  • Kaki atau tangan kelojotan
  • Mata mendelik, atau berkedip-kedip

Berdasarkan gejala yang timbul, lama kejangm dan jenis kejang, kejang demam dapat dibedakan atas dua jenis:

  • Kejang demam sederhana: kejang berlangsung  kurang dari 15 menit, tidak berulang dalam 24 jam, kejang terjadi di seluruh tubuh.
  • Kejang demam kompleks: kejang berlangsung lebih dari 15 menit, dapat berulang dalam 24 jam, kejang terjadi di salah satu bagian tubuh.

Apa saja yang menyebabkan kejang demam (step)?

Penyebab kejang demam adalah peningkatan suhu mendadak, yang disebabkan oleh adanya peradangan atau infeksi. Diduga faktor genetik juga berperan dalam kejadian kejang demam. Hal ini disebabkan adanya perbedaan ambang kejang pada anak, ada anak yang kejang saat suhu tubuh 38 derajat C, namun ada anak yang baru kejang saat suhunya di atas 40 derajat C.

Dapatkah kejang demam terjadi berulang?

Pada sebagian kasus, kejang demam pada anak dapat berulang. Kemungkinan kejang berulang terutama pada tahun pertama, dan faktor risiko yang mempengaruhinya adalah sebagai berikut:

  • Riwayat kejang demam dalam keluarga
  • Usia kurang dari 12 bulan
  • Temperatur yang rendah saat kejang
  • Cepatnya kejang setelah demam

Apabila ditemukan faktor-faktor di atas, maka kemungkinan kejang demam berulang sekitar 80%, sedangkan apabila tidak ditemukan faktor risiko, maka kemungkinan berulang sebesar 10-15%.

Apakah kejang demam berbahaya?

Sampai saat ini tidak ada laporan kematian anak yang disebabkan kejang demam. Kecacatan sebagai komplikasi kejang demam juga tidak pernah dilaporkan. Perkembangan mental dan kecerdasan umumnya tetap normal pada anak yang memang terlahir normal, meski pernah mengalami kejang demam. Kejang demam biasanya menghilang dengan sendirinya saat anak berusia 5 tahun. Kejadian epilepsi terjadi pada  kurang dari 5% anak dengan kejang demam, dan umumnya pada anak-anak ini terdapat faktor risiko lain, seperti:

  • Adanya kelainan perkembangan atau kecerdasan yang jelas sebelum terjadinya kejang demam pertama
  • Kejang demam kompleks
  • Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung

Setiap faktor risiko di atas meningkatkan kemungkinan terjadinya epilepsi sebesar 4-6%. Apabila ditemukan semuanya, kemungkinan epilepsi meningkat sampai 10-49%.

Tidak semua kejang yang disertai demam adalah kejang demam. Apabila kejang terjadi di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, atau setelah kejang anak tetap tidak sadar, maka dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk menentukan penyebab lain kejang seperti meningitis, ensefalitis, atau epilepsi.

Bagaimana cara menangani kejang demam?

Kejang demam merupakan kondisi yang umumnya tidak berbahaya, sehingga orangtua tidak perlu khawatir berlebihan apabila terjadi kejang. Berikut hal-hal yang dapat dilakukan saat anak kejang:

  • Tetap tenang dan tidak panik.
  • Pindahkan anak ke tempat aman, jauhkan dari barang berbahaya seperti barang pecah belah, benda tajam, atau sumber listrik.
  • Kendorkan pakaian yang ketat, terutama di sekitar leher.
  • Miringkan anak, agar makanan atau minuman dalam mulut keluar sehingga anak tidak tersedak.
  • Jangan memasukkan apapun ke dalam mulut anak.
  • Jangan menahan kaki atau tangan anak dengan paksa saat kejang, karena dapat menimbulkan patah tulang.
  • Ukur suhu anak saat kejang, amati seberapa lama kejang dan apa yang terjadi saat kejang, karena informasi ini sangat berguna bagi dokter anak Anda.
  • Tetap bersama anak saat kejang.
  • Bila sebelumnya pernah kejang, dokter biasanya membekali orangtua dengan obat diazepam yang dimasukan lewat pantat. Berikan jika anak masih kejang dan jangan diberikan bila kejang sudah berhenti.

Bagaimana cara mencegah kejang demam?

Prinsip pencegahan kejang demam adalah dengan menurunkan panas saat anak demam dengan pemberian obat, misalnya parasetamol atau ibuprofen.  Berikan anak kompres hangat, pada dahi, ketiak, atau lipatan siku. Berikan anak minum yang banyak untuk menurunkan suhu. Sebaiknya orangtua memiliki termometer di rumah agar dapat mengukur suhu anak dan dapat memberikan pencegahan seperti yang sudah disebutkan.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Bagaimana Cara Menghadapi Ledakan Amarah Anak yang Bikin Jengah?

    Kemarahakn yang muncul dari anak tanpa diketahui alasannya kerap membuat Anda jengah. Begini cara menghadapi ledakan amarah anak dengan baik.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Parenting, Tips Parenting 06/06/2020 . 4 menit baca

    Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

    Supaya anak mau mendengarkan kata-kata orangtua, Anda perlu siasat khusus. Jangan malah dimarahi atau dibentak. Yuk, simak tips-tipsnya di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Parenting, Tips Parenting 30/05/2020 . 4 menit baca

    Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

    Hewan peliharaan dan anak adalah gambaran yang menggemaskan. Namun, para orangtua perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum memilih hewan untuk anak.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Parenting, Tips Parenting 10/05/2020 . 6 menit baca

    4 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan untuk Mengatasi Demam pada Anak

    Mengatasi demam pada anak tidak boleh sembangan. Beberapa hal ini sebaiknya Anda hindari karena tidak efektif untuk meredakan demam.

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki
    Kesehatan Anak, Parenting 15/04/2020 . 3 menit baca

    Direkomendasikan untuk Anda

    Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
    mengatasi ruam popok bayi

    Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 7 menit baca
    menyikat gigi bersama merupakan salah satu cara mendorong minat si kecil dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak

    5 Tips Ajarkan Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Dipublikasikan tanggal: 16/06/2020 . 5 menit baca
    mimpi buruk saat demam

    Mimpi Buruk Saat Demam Tinggi? Inilah Penyebabnya

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 14/06/2020 . 5 menit baca